TIDAK DIINGINKAN

TIDAK DIINGINKAN
Chapter 7


__ADS_3

Panas matahari tidak terlalu terasa karena cuaca pegunungan yang dingin hanya saja karena jarak tempuh yang jauh membuat aku dan Arkan kelelahan. Jalanan yang bebatuan membuat sakit kaki. "Dimana ponselmu?" tanyaku.


"Aku meninggalkannya di Vila."


"Idiot." cercaku membuat Arkan marah, dia menarik tanganku lalu melotot. "Aku tidak akan panik jika bukan anakku yang masuk rumah sakit."


"Setidaknya kamu harus ingat pada barang yang begitu penting." aku bersungut-sungut.


"Bagaimana mungkin aku bisa ingat pada ponsel sementara dirimu sangat gelisah. Aku lebih ingat pada Junior dan dirimu." katanya melepas cengkeraman lalu frustasi sendiri.


Kami berjalan tanpa berbicara sama sekali, sesekali Arkan menendang-nendang batu lalu dia menemukan sebuah gelang masih bagus. Sementara itu disini yang terdengar hanyalah langkah kaki dan suara-suara burung. Sampai pada akhirnya kami sampai di petunjuk jalan, dan benar saja petunjuk jalannya berubah. Arkan bilang kemarin malam petunjuknya mengarah ke kiri dan sekarang sudah mengarah ke kanan.


Setelah menelusuri jalannya aku bisa mengenali jalan yang ini. Dan kami yakin ini jalan menuju kota, aku dan Arkan terus berjalan sampai pada akhirnya kakiku tergelincir bebaturan sampai terkilir. Arkan mencoba menggendongku namun karena keadaan tanganku yang patah alhasil dia memangku ku layaknya sepasang suami isteri yang baru menikah.


"Rasanya seperti dejavu, sepertinya aku pernah bermimpi seperti ini saat aku sedang dipenjara dulu." katanya sembari melangkah dengan hati-hati.


Aku terdiam saja tidak menanggapi Arkan.


"Aku juga bermimpi menemanimu persalinan. Ah~ kebetulan sekali aku ingat, apa alasan kamu menamai Junior karena usulan dariku saat kita mandi bersama?" Arkan menoleh padaku.


"Hm~." gumamku mengiyakan.


"Apa kita bisa mandi bersama lagi seperti dulu?" aku memukul dadanya dan dia terkekeh.


Saat kami sudah berjalan cukup jauh, kami sampai di sebuah warung kecil. Disana juga tengah ramai dengan anak-anak muda. Ketika kami mendekati warung tersebut, semua orang disana memandangi syok. Lalu pemilik warung bertanya, dan Arkan menceritakan semuanya.


"Kamu haus?" tanyanya.


"Setelah berjalan berkilo-kilo kamu baru sempat menanyakan itu padaku? keterlaluan sekali, sudah jelas aku haus." aku menggerutu marah padanya, dan Arkan malah terkekeh.


Kami beristirahat sejenak diwarung ini, aku juga mendapatkan pijatan kecil dikaki yang terkilir. Sementara itu Arkan dengan maksud tidak mau lancang terpaksa harus meminta kaos karena sedari tadi dia berjalan bertelanjang dada.

__ADS_1


Aku ingin bersujud syukur karena bisa menemukan orang-orang baik seperti ini. Mereka mengantar aku dan Arkan sampai ke kota. Sebelum berangkat ke rumah sakit, aku perlu membersihkan diri terlebih dahulu. Keadaan rumah sepi, bahkan pak Yu tidak ada.


Aku kesulitan sekali membuka pakaian, sampai mau tidak mau aku meminta Arkan untuk membukakannya. Dan Arkan mau dengan wajah yang sumringah, aku memintanya untuk menutup mata dan dia menurut.


Setelah selesai, aku melempar kunci mobil pada Arkan dan dia menangkapnya. Saat berjalan menuju ruangan yang di katakan oleh suster resepsionis, aku dapat melihat Ipra dan ayah disana. Ipra berlari ke arahku lalu memelukku, "Aw~" ringisku.


"Apa yang terjadi dengan tanganmu?" tanyanya begitu khawatir, lalu saat aku akan menjawab Ipra langsung mencengkeram kerah baju Arkan. Cepat-cepat aku menyanggah pertikaian yang akan terjadi.


"Ceritanya sangat panjang, aku janji aku bakal bercerita nanti." kataku, dan Ipra langsung melepas sembari mendorong tubuh Arkan.


Begitu pun dengan ayah dan bibi Ahn, mereka bertanya padaku apa yang terjadi sampai-sampai tidak bisa hubungi. Arkan menceritakan semuanya, namun Ipra tidak percaya dia marah dan berkata bahwa semuanya karena Arkan. Aku mencoba meyakinkan Ipra bahwa semuanya murni kecelakaan walaupun masih banyak teka-teki. Aku sempat terpikir bahwa ini adalah ulah Julian dan Alifa, karena mereka mengizinkan aku untuk pergi bahkan memberi pinjam mobil.


Setelah menceritakan apa yang terjadi aku pergi menemui Junior, dia terbaring lemas. Kata bibi Ahn, Junior terus-terusan menangis memanggil namaku. Aku juga merasa sakit ketika Junior kesakitan, anakku yang begitu ceria dan aktif kini tertidur lemas dengan mata yang sembab. Bibi Ahn menyuruh Arkan untuk masuk, dia meraih tangan Junior lalu menciuminya sesekali juga menghampus air matanya yang nyaris jatuh.


Aku ketiduran karena lelah juga sudah menangis, Ipra membangunkan aku karena katanya tanganku perlu di periksa. Dan kata dokter semuanya sudah tertangani, aku salut karena Arkan bisa memutar pas tanganku. Jika tidak mungkin aku sudah tidak akan memiliki tangan kiri.


ooOoo


Aku tidak bisa lagi menahan amarah, sehingga saat pintu ruangannya terbuka aku langsung memukul wajahnya.


Julian tampak begitu kebingungan.


"Gue tau, kali ini pasti ulah lo juga. Lo sengaja kan memutar petunjuk arah jalan dan nyimpen jebakan lalu kasih pinjem mobil agar gue sama Geya masuk kedalam jurang." kata ku menarik tubuhnya yang tergeletak di lantai.


"Jurang, petunjuk arah? apa yang lagi lo bicarain, gue beneran ga ngerti." Julian menepis tangan ku


"Lo gausah ngelak, gue yakin lo udah ngerencanain ini semua kan? rencana lo itu rapih tapi gue udah hafal." aku melempar bukti yang aku ambil dari tkp.


Julian mengkerutkan keningnya, "Gue benar-benar gatau dengan apa yang terjadi sama lo dan Geya. Gue pikir lo dan Geya udah dateng dari kemarin malam."


"Lo yakin lo gatau dengan semua ini?" aku menatapnya dengan garang. Dan Julian mengangguk dengan mantap, aku langsung mengambil kembali bukti itu.

__ADS_1


"Kalo sampai ini semua ulah lo, gue benar-benar akan membunuh lo." kataku mengancam lalu melenggang pergi dari ruangannya.


Aku benar-benar tidak tahu ulah siapa ini, pertama itu adalah pegunungan, selama aku berjalan aku tidak menemukan cctv sama sekali dan juga tidak ada benda-benda mencurigakan yang aku temui dijalanan kecuali gelang huruf yang masih bagus.


Ditambah lagi jika itu memang kecelakaan, petunjuk jalan yang aku lihat tidak akan berputar sendiri. Dan ketika melihat reaksi kaget Julian, aku merasa dia memang tidak melakukan ini semua. Sepertinya dia memang sudah bertaubat. Aku merasa sesuatu yang tidak beres akan terjadi.


Aku pergi mampir ke tempat buah-buahan, aku membeli apel juga jeruk dan beberapa camilan juga membeli satu buah boneka woody kecil.


Aku mengetuk pintu lalu membukanya, aku tersenyum ketika mendapati Ipra tengah duduk disamping ranjang Junior. 'Apa dia tidak punya pekerjaan yang harus dikerjakan? mengapa terus-terusan menempel pada Geya.' batinku.


"Om pengawal bawa buat jeruk dan apel untuk, Junior." kataku menyodorkan keresek bening tersebut pada Geya. Geya memberikan ekspresi aneh padaku.


"Junior tidak suka buah-buahan." ucap Ipra membuatku terkejut.


"Ah~ aku pikir Junior menyukainya, em~ kalo begitu ini. Om pengawal juga membawakan boneka Woody untuk kamu ganteng." Junior tersenyum ketika aku memberikan boneka sherrif tersebut. Dia langsung memeluknya dan memainkannya dengan mainan yang lain.


Saar aku keluar ternyata Ipra juga ikut keluar. Kami berdiam diri dibangku kolidor, menikmati angin malam. Ipra membicarakan kecelakaan di gunung, dia juga berterimakasih padaku karena setidaknya aku bisa diandalkan.


Ipra memberitahu aku bahwa dia akan melamar Geya tepat ketika ulang tahun Geya. Aku sangat terkejut karena menurutku seharusnya Ipra tidak perlu menceritakan ini padaku. Karena bagaimanapun, aku ini adalah mantan suami Geya. Aku mencoba untuk berpikir bahwa Ipra memang pantas untuk Geya, Ipra bisa membahagiakannya. Alhasil aku memberi semangat untuknya.


Mungkin, sudah seharusnya aku membuka lembaran baru.


TBC.......


Versi Geya 👇



Versi Alifa 👇


__ADS_1


__ADS_2