TIDAK DIINGINKAN

TIDAK DIINGINKAN
XIV


__ADS_3

Tadi subuh Arkan mengajakku pulang kerumah dinas, katanya ada yang harus dikerjakan secepat mungkin. Aku menyapu halaman rumah, sesekali merapikan tanaman. Para ibu-ibu menyapaku ramah sekali. Mereka sedang berolahraga ringan di jalanan komplek.


Anak-anaknya merengek meminta uang jajan lebih sebelum berangkat sekolah. Aku tersenyum, apa mungkin akan seperti itu juga jika aku dan Arkan memiliki seorang anak. Arkan akan menyempatkan dirinya untuk mengantar anak kami kesekolah. Hah~ aku sudah tidak sabar ingin memiliki seorang anak sekarang.


Kami semua berkumpul di lapangan, hari ini adalah hari perpisahan Tim Jurnalis dan para Tentara.


"Sayang banget, kita ga bisa lebih lama. Padahal gue masih pengen disini."


"Gue masih nunggu peperangan sampe sekarang biar film documentery nya rame."


Semua orang bersedih, beberapa dari mereka mengalami cinta lokasi. Cinta sesaat, setelah berpisah mereka melupakannya begitu saja.


Aku tidak melihat Arkan disini, bahkan dia tidak pulang siang tadi. Yang lebih menyebalkan adalah Arkan tidak menghubungiku. Tiba-tiba saja ponselku berdering, panggilan tidak dikenal.


"Halo?"


"Nona Geya, ini bibi pembantu dirumah Tuan muda Arkan. Tolong nyonya, nyonya bilang wajahnya sakit dan gatal. Bibi sudah telfon Anak-anak nya dan menantunya tapi mereka bilang mereka sedang sibuk. Tolong cepat kemari." Suara bibi bergetar, aku juga dapat mendengar suara kesakitan ibu. Tanpa pikir panjang aku langsung pergi kerumah ibu, perjalanannya cukup jauh sekali. Perlu satu jam untuk sampai kerumah ibu.


Aku mencoba menelpon Arkan untuk memberitahunya. Namun tidak ada jawaban sama sekali darinya. Terimakasih Tuhan engkau sudah melancarkan jalanan, tidak macet sama sekali. Ku beri jumlah uang yang cukup banyak kepada supir taksi tersebut. Aku tutup pintu mobil lalu berlari kedalam rumah. Aneh sekali, tidak ada para penjaga dirumah megah ini. Apa mereka sedang istirahat? tapi mengapa tidak bergantian.


Aku langsung membuka pintu membuat kaget ibu dan bibi. Napasku tersenggal-senggal bahkan jika boleh aku ingin minum. Mataku jatuh pada ibu yang sedang duduk di lantai sembari menggaruk wajahnya. Ibu memandangku dengan tatapan bingung. Aku duduk tepat dihadapannya, memandangi luka yang sudah mulai meradang di bawah matanya. Mata ibu bengkak juga merah, luka itu basah. Sudah pasti ibu merasakan perih. Tangan ibu terus mengucek luka tersebut, aku menariknya meminta ibu untuk tidak menggaruknya karena akan berakibat semakin buruk. Namun ibu marah padaku, "Ngapain kamu disini? Kenapa kesini? Kamu tidak akan membantu saya sama sekali. Jangan sentuh-sentuh saya. Kamu juga, ngapain panggil perempuan miskin ini. Saya kan sudah bilang panggil menantu-menantu dokter saya. Sekalian panggilkan Alifa juga, saya percaya pada mereka. Mereka itu berpendidikan, mereka bisa mengobati sakit saya sekarang ini." Ibu membentak-bentak bibi. Aku sakit hati ketika ibu memarahi bibi, bibi sudah begitu baik kepadaku. Bahkan rasanya seperti bibilah yang ibu mertuaku.


"Saya tahu saya tidak berpendidikan. Saya tahu saya miskin. Tapi tidak berpendidikan dan miskin itu tidak menghalangi saya untuk selalu membantu juga menghargai orang tua. Saya tahu saya bukan dokter seperti menantu ibu yang lainnya, menantu yang selalu ibu sanjung, menantu yang selalu ibu harapkan bisa membantu kapanpun itu tidak ada disini sekarang ini. Mereka tidak datang kemari ketika ibu membutuhkannya. Saya akan membawa ibu kerumah sakit dengan cepat agar rasa sakit yang ibu derita bisa cepat teratasi. Saat ini yang terpenting adalah kesembuhan ibu, berhentilah marah-marah dulu. Ibu bisa melanjutkannya nanti setelah ibu pulih." Ibu terdiam tidak mengatakan apapun. Aku menopang ibu kedalam basement, alangkah terkejutnya aku ketika melihat banyak sekali mobil berjejer disini. Mobil-mobil mewah nan mahal.


"Semuanya milik Arkan, pakailah." Dan aku merasa jika rahangku jatuh kelantai. Semua mobil ini adalah milik suamiku sendiri. Aku benar-benar menikahi seorang anak kaya.


Aku memilih mobil Mclaren, ini salah satu mobil berkecepatan tinggi. Aku menyetir sekencang mungkin membuat ibu dan bibi berteriak. Jika tidak cepat aku takut luka ibu semakin parah. Ditambah keluar nanah cukup banyak.


Sebelum masuk kedalam ruangan, ibu sempat menatapku. Aku takut ibu kenapa-napa, takut jika lukanya tidak bisa hilang seperti luka ibuku sendiri. Aku duduk dengan lemas bersama bibi. Bibi menangis sedari tadi, beliau begitu menyayangi ibu.


Aku berhasil menghubungi Arkan, dia tiba bersama papa setelah dokter berhasil menangani ibu.


"Apa yang terjadi? ibu kenapa, yang?" tanyanya khawatir begitupun dengan papa, beliau melontarkan banyak sekali pertanyaan padaku.


"Ibu keracunan make up, wajahnya sedikit melepuh di bagian bawah mata. Dokter bilang yang lebih membahayakan adalah saraf matanya yang sudah kena. Kemungkinan ibu akan buta parsial." jelasku.


Papa ambruk jatuh ketempat duduk. Syok. Begitupun dengan Arkan, dia memelukku sembari menatapi ibu dibalik kaca luar.


Sedih sekali rasanya melihat ibu yang angkuh dan pemarah kini berbaring diranjang tak berdaya seperti ini.


"Makasih, udah mau membantu ibuku." gumamnya.

__ADS_1


"Aku ini kan anaknya ibu juga, kamu ga perlu berterimakasih." Arkan tersenyum saja mendengar kalimatku.


Keesokkan harinya, aku meletakkan bunga lavender di lemari kecil sebelah ranjang ibu. Ibu sudah siuman namun ia tidak bicara apapun padaku. Papa masih tertidur di sofa, beliau semalaman bergadang menemani ibu. Menangis karena sudah lalai.


Arkan tiba dengan sekantung buah-buahan. Dia tersenyum padaku. Pakaian 'Army blue' nya selalu cocok setiap hari di tubuh Arkan. Negeri paman sam cerah sekali hari ini. Burung-burung berkicau sembari menari kesana kemari.


"Lavender? aku jadi teringat dengan suster yang selalu memberiku bunga lavender yang baru setiap hari rabu. Dan ini adalah hari rabu, kebetulan sekali." ucapnya membuatku mengulum senyuman.


"Aku sudah lihat rekaman cctv di rumah. Sudah 3 hari tidak ada bodyguard yang berjaga dirumah kecuali satpam. Aku juga sudah dengar dari kakak, kalau papa memecat beberapa bodyguard. Kenapa?" tanyanya penasaran sekali pada ibu.


"Apa ada masalah mengenai keuangan? bukankah ibu sudah membuka bisnis? lagi pula membayar para bodyguard itu tidak seberapa. Aku juga dapat kabar dari kakak, mengenai papa yang menjual restoran di Korea. Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?" Arkan benar-benar menekan ibu.


"Arkan, aku pikir ini keterlaluan. Ibu sedang tidak sehat sekarang, kamu bisa tanyakan ini nanti."


"Engga, aku tahu betul bagaimana keadaan keluargaku sekarang. Seseorang tengah mengusikku yang merembet pada keluargaku. Apa si brengsek itu datang kerumah?" Ibu menatapku lalu melotot pada Arkan. Seolah memberitahu sesuatu.


Aku tidak mengerti dengan keadaan yang dimaksud oleh Arkan. Jika dipikir-pikir lagi keluarga Arkan penuh dengan teka-teki. Dari ucapan bu Jung hingga Julian semuanya membuatku pusing. Aku menyuapi ibu makan siang sebelum minum obat. Beliau tidak banyak bicara, berubah 98%. Ibu menerima semua yang aku lakukan terhadapnya. Semoga saja akan seterusnya seperti ini. Papa bangun ketika Arkan berpamitan untuk pergi bekerja.


Aku menghirup udara segar sejenak bersama ibu. Ibu bilang matanya sudah semakin memburuk, aku mengatakan padanya untuk istirahat namun ibu tidak mau.


"Terimakasih." sontak aku langsung menoleh pada ibu. Apa barusan aku tidak salah dengar? atau mungkin ada orang lain mengatakan itu?.


"Terimakasih sudah membantu dan merawat saya. Saya tersentuh dengan kekhawatiranmu, namun tolong untuk tidak membawa saya mati. Kamu terlalu cepat membawa mobilnya, saya merasa jantung saya tertinggal dibelakang saat mobilnya melesat, sampai-sampai saya lupa dengan rasa sakit luka ini."


"Aku sayang pada ibu~" ku kecup pipi kiri ibu. Aku senang sekali karena ibu mengatakannya dengan tulus. Tidak ada ibu yang membenciku, tidak ada ibu yang selalu menindasku.


"Ah~ kekanakkan sekali. Saya kan hanya mengucapkan kata-kata yang seharusnya, itu bukan berarti saya suka padamu."


"Bohong." kataku memeluk ibu tambah erat.


Satu Minggu kemudian, keadaan ibu memburuk. Mata kanannya benar-benar sudah tidak bisa digunakan. Namun tidak ada tangisan dari ibu, bahkan ibu memberitahunya dengan santai. Arkan dan papa hendak mendaftarkan ibu untuk mendapat mata baru atau operasi lainnya. Namun ibu tidak mau, beliau benar-benar tidak mau.


"Apa ibu tidak malu bertemu dengan media nanti? bagaimana mungkin seorang pembisnis make up memiliki wajah seperti ini. Orang-orang tidak mau memakai produk ibu lagi." Juan bersungut-sungut.


"Sudahlah, kita obati mata ibu sekarang juga."


"Antrean untuk mendapatkan donor mata itu panjang sekali. Banyak orang yang lebih membutuhkan dari pada ibu. Yang terpenting ibu masih bisa tetap melihat kalian semua." Juan terdiam, kami semua terdiam mendengar ucapan ibu.


Benar-benar seperti bukan ibu.


Arkan sendiri heran dengan perubahan ibu. "Mungkin karena ibu memiliki model yang cantik-cantik, beliau jadi tidak terlalu khawatir dengan bisnisnya." Arkan menoleh padaku sejenak lalu kembali fokus menyetir.

__ADS_1


Pa satpam membuka gerbang rumah. Arkan benar-benar memperketat keamanan dirumah kami juga rumah ibu. Sementara untuk dirumah dinas memang sudah pasti ada yang menjaga, dia tidak terlalu khawatir.


Aku masuk kedalam kamar terlebih dahulu untuk membersihkan tubuh. Sementara Arkan, dia bilang dia mau membuka paket yang menumpuk. Setelah beberapa jam kemudian, aku mencari Arkan namun ia tidak ada dirumah. Penjaga depan bilang, Arkan sedang berada di belakang membakar sesuatu.


"Kenapa paketnya dibakar?" tanyaku meraih satu buku. Namun dengan cepat Arkan merebutnya lalu melemparnya kedalam tungku api.


"Kenapa aku ga boleh liat?"


"Bukan urusanmu." ketusnya, melempar semua buku-buku yang cover dan ukurannya sama.


"Apa isinya?" aku ngotot ingin tahu.


"Sudahku bilang ini bukan urusan kamu. Kamu ga perlu tau."


"Aku gaboleh tau? Apa? Apakah isinya album foto kamu sama Alifa?" tiba-tiba saja tubuhku tersentak kaget ketika Arkan melempar kardus dengan kencang.


"Ga bisa kah kamu percaya sama aku sekarang ini? Aku sudah tidak punya perasaan apapun pada Alifa. Aku bekerja dan sebagainya untuk kamu. Bahkan sekarang ini aku sedang mencoba melindungi kamu."


Aku mengkerutkan kening, "Melindungi apa? Apa aku dalam bahaya? Kalo begitu biarkan aku untuk lihat isi bukunya, biar aku mengerti." Aku mencoba meraih satu buku yang tersisa, namun Arkan langsung melemparnya hingga buku itu terbakar.


Dia langsung menarikku kedalam pelukannya, "Aku akan selalu membuatmu tetap berada disisiku."


Ekstra :


Arkan Pov :


Gue membuka beberapa kotak paket yang dikatakan Geya. Semua isinya sama, isi mengenai kronologi penembakan wanita di Amsterdam. Gue mencoba mencari tahu siapa yang ngirim ini semua ke gue, nihil gue ga nemuin apapun petunjuk mengenai pengirimnya.


Gue menyuruh bodyguard gue untuk mencari tahu di cctv, dan katanya paket itu dilempar dari tembok yang cukup tinggi sehingga tidak kelihatan siapa yang orang yang melempar. Lalu satpam mendeteksi kardus apa itu, karena takutnya adalah bom.


"Kalo gitu tolong dapetin rekaman cctv dari rumah depan atau ga rumah yang mana pun yang dekat dengan akses tembok." perintah gue.


"Baik pak."


Terlebih gue kepikiran sama ucapan yang dikatakan papa. Julian, si brengsek itu, gue yakin dia dalang dari semuanya. Dia kenal dengan Geya. Tiba-tiba gue kepikiran tentang penculikan Geya, dia ga melakukan apapun ke istri gue.


Geya baik-baik saja saat itu. Lantas apa yang dia lakukan kepada Geya?.


Arkan Pov End.


__ADS_1


Halo Love~ Tidak Diinginkan ini akan menjadi Sekuel. Nanti kan Naskah barunya yaa~


Gimana nih, udah semakin bingung sama ceritanya? udah semakin kesal dengan alur dan karakternya?. Semuanya akan terjawab nanti ya, simak terus ya Love, karena setiap bagiannya adalan sebuah konflik besar di akhir, bye-bye😄.


__ADS_2