TIDAK DIINGINKAN

TIDAK DIINGINKAN
Chapter 11


__ADS_3

"Ma..mi.. o...om, bel....lisik~" gumamnya sembari menguap. Aku tidak tahu kapan aku mendorong tubuh Arkan, yang pasti dia sudah terduduk di lantai.


Aku tidak peduli dengannya, ku gendong Junior lalu kembali masuk kedalam kamar. Pada akhirnya aku tidak cuci muka sebelum tidur, dan itu menimbulkan jerawat di bagian keningku. Aku menggerutu pagi-pagi, kesal karena mengapa harus ada jerawat yang menonjol.


"Semuanya karena lelaki menyebalkan itu, andai saja dia tidak menggangguku semalam sudah pasti jerawat ini tidak akan ada disini." aku berusaha untuk memecahkan jerawatnya tapi tidak bisa karena masih kecil dan belum matang.


Ku raih masker lalu memasangnya, "Andai saja ada masker untuk dahi." kataku meraih kunci mobil lalu melemparnya pada Arkan yang masih terduduk mengantuk di sofa.


Dia langsung segar ketika aku melempar kunci tersebut. Ku tuntun Junior menuju garasi. Hari ini adalah ulang tahunku, aku perlu menyiapkan banyak makanan untuk merayakannya maka dari itu aku mengajak Arkan ke super market. Aku tahu hari ini seharusnya dia libur bekerja tetapi aku tidak mengingatkannya akan hal itu. Mendadak aku berbuat jahat pada Arkan untuk tidak pergi berkencan dengan Lucy. Dan untungnya dia tidak ingat.


Aku mendorong troli sementara Arkan menggendong Junior. Sesekali kami berdebat mengenai bahan makanan, Arkan bilang aku ini terlalu sering membuat sayur-sayuran dan dia bilang dia bosan. "Tak usah geer ya, toh aku memasak sayuran juga bukan untukmu." kataku memasukkan sawi kedalam troli.


"Aku hanya berkata jujur untuk 4 tahun yang lalu."


"Seharusnya saat itu kamu bilang saja jika kamu bosan dengan masakkan buatanku."


"Walaupun aku bosan aku tidak mungkin mengatakannya pada istriku tercinta ini, mana boleh seorang suami menyakiti perasaan istrinya." katanya sembari tersenyum dan mengangkat-angkat alisnya.


Aku memutar bola mata, "Kamu bilang mana boleh suami menyakiti istri? Kamu sedang mencoba untuk lupa ingatan ya? bukankah ketika kamu menikah denganku setiap hari kamu menyakiti aku? Alifa~ Alifa~ dan Alifa~" kataku menjadi kesal.


"Hey~ itu kan hanya beberapa bulan setelah itu aku menjadi bucin dirimu." jawab Arkan tidak setuju dengan perkataanku. Aku tidak menjawabnya melainkan mengulum senyuman karena mendadak senang.


"Bukan kah berbicara informal seperti ini itu sangat nyaman?" tanyaku pada Arkan, dan Arkan mengangguk.


"Kalo begitu tetaplah seperti ini, tidak perlu formal aku tidak suka. Ah~ dan juga aku ingin kamu konsisten dengan sikap, aku tidak mau melihat dirimu berubah 5 menit kemudian. Menjadi Arkan yang dingin, marah-marah tidak jelas, aku benar-benar tidak suka." tubuhku bergidik ketika mengingat sikap Arkan yang berubah tempo hari.


"Kamu ini bukan pria labil lagi kan, mengapa harus berubah-ubah setiap harinya." sedari tadi Arkan tidak menjawab perkataanku, aku menoleh untuk melihatnya namun Arkan tidak ada disisiku. Dia masih tertinggal di belakang. Lagi-lagi dia membuatku kesal, aku berbicara panjang lebar tetapi tidak di dengar sama sekali.


Ku pukul lengannya karena kesal tetapi ada sesuatu yang lengket menempel ditangan basahku. Saat aku melihat tangan Arkan disana terlihat sedikit coretan, aku menatap kearahnya. Arkan langsung mengatupkan bibirnya, "Kamu punya tato?!" kataku tak percaya.

__ADS_1


"Sejak kapan? kenapa kamu merusak tubuh bagusmu ini. Ah~ astaga Junior tidak boleh lihat ini." Aku langsung berlari kearah Junior yang sedang melihat-lihat kepiting.


"Apa tatonya besar?" tanyaku dan Arkan mengangguk dengan ragu.


Aku marah padanya, bahkan sampai memukul dan mencubit tubuhnya.


Ketika dirumah, aku menghakimi Arkan. Aku kembali memarahinya, ku beritahu dia bahwa tato itu bisa menyebabkan kanker. Aku juga bilang bahwa aku tidak suka kepada laki-laki yang memiliki tato. "Aku bertato bukan untuk membuatmu terkesan." katanya membuat mulutku menganga tidak percaya.


"Hah~ benar-benar tidak habis pikir." gumamku menarik tisu basah dengan kasar dan mulai menghapus cover lotion yang ada di lengannya. Aku semakin terkejut ketika mengetahui tatonya sangat besar. Arkan memberitahuku mengenai tatonya, dia bilang dia membuat tato sejak sma dan keluarganya tahu.


"Kenapa kamu menyembunyikannya dari aku?" tanyaku menyimpan tisu bekas di meja.


"Karena ini tidak penting, aku tidak menyembunyikannya untukmu tetapi untuk ketentaraan." katanya menyandarkan kepalanya ke sofa. Aku menatapi dengan seksama tato yang ada di lengan Arkan, sepertinya aku pernah lihat tato ini. "Bagaimana? tato ini cocok kan untukku?" tanyanya dengan percaya diri.


"Kamu yang menabrakku waktu itu dilobi kan? aku ingat dengan jelas tato ini. Saat itu kamu pakai-pakaian serba hitam juga memakai masker." Arkan terdiam untuk beberapa saat. "Yah~ aku ketahuan."


"Sejak aku di penjara, aku menyuruh orang untuk selalu memperhatikanmu. Aku perlu tahu apa yang kamu lakukan, maaf sudah berlebihan." katanya menyesal. Aku tidak marah sama sekali melainkan aku senang.


Tiba-tiba saja seseorang membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu, aku menoleh bersamaan dengan Arkan, disana Ipra tengah berdiri dengan sekantung kresek besar di kedua tangannya. Senyum lebar yang ada diwajah Ipra pudar ketika dia melihat Arkan duduk disebelahku. Arkan bangkit lalu meraih jasnya dan berpamitan untuk pulang.


"Hey~" sapaku pada Ipra. Ipra tersenyum lalu mencium pipiku dan mengatakan bahwa dia rindu padaku.


Tumben sekali Ipra tidak bertanya Arkan sedang apa disini, batinku meraih kresek yang dibawa olehnya.


Walaupun disini ada Ipra pikiranku tetap pada Arkan. Selama menyiapkan masakan untuk nanti malam, otakku berputar berimajinasi kencan seperti apa yang dilakukan Arkan dan Lucy, kejutan apa yang akan dia berikan untuk Lucy. Pasti begitu romantis.


Menjelang malam hari para tamu mulai berdatangan, tak banyak yang ku undang. Aku hanya mengundang beberapa orang yang memang begitu dekat denganku. Junior ku titipkan pada pak Yu, miris sekali menjadi diriku bahkan aku tidak bisa mengakui anakku sendiri.


Aku berjalan menuruni tangga, di ujung tangga Ipra sudah menungguku sembari mengulurkan tangannya. Ah~ setelah ini pasti akan keluar banyak sekali berita mengenai aku dan Ipra. Aku tersenyum kaku ketika Ipra mengecup tanganku. Semua orang menyanyikan lagu ulang tahun untukku, saat aku meniup lilinya semua orang bertepuk tangan dan mendoakan diriku.

__ADS_1


Aku senang namun mungkin akan sangat lebih senang lagi jika dirayakan bersama Arkan, Junior, ayah dan foto ibu. Aku menerima banyak sekali hadiah hari ini, apa lagi Shon memberikanku sebuah mobil klasik sebagai hadiah. Aku benar-benar merasa keberatan di beri hadiah yang berlebihan.


Aku berjalan ke taman dibelakang rumah, menikmati angin malam untuk beberapa saat. Disini memang sangat dingin namun aku begitu nyaman. Tiba-tiba saja Ipra datang dan memberikan jasnya padaku. Kami mengobrol banyak hal bahkan bercerita saat pertama kali bertemu. Saat dimana aku dicampakkan oleh Arkan dan Ipra lah yang menghimburku, Ipra selalu ada disampingku ketika aku kesulitan dan sendirian. Dialah yang menemani aku selama empat tahun ini, dan sekarang "Izinkan aku untuk menemanimu selamanya, ku pikir ini adalah waktu yang tepat untukmu membuat lembaran baru bersama denganku. Kamu tidak akan lagi sendirian membesarkan Junior, dan aku sepenuhnya bisa melindungi dirimu. Will You Marry me?" aku terdiam tak bisa berkata apa-apa. Ipra melamarku?.


Aku tak sadar jika sekarang ini banyak orang yang sedang melihat kami, mereka berseru padaku untuk menerima lamaran Ipra. Saat aku menatap kesekeliling, aku mendapati ayah. Beliau sedang memandangiku, dan aku tak bisa membaca raut wajah ayah.


Aku kembali menatap Ipra, wajahnya menyimpan banyak harapan padaku. Tangannya bergetar karena gugup. Ku akui Ipra sudah banyak sekali membantu, bahkan dia tidak pantang menyerah untuk mendapatkan aku. Ini bukan pertama kalinya dia melamarku, aku sudah sering menolaknya. Dan, aku pikir aku sudah begitu kejam pada Ipra tapi disisi lain perasaanku terhadap Arkan tak pernah luntur.


Jawaban apa yang harus aku berikan untuk Ipra, mendadak pikiranku melayang pada Arkan dan Lucy. Benar, Arkan saja berani untuk jatuh cinta lagi begitupun dengan aku.


Aku tersenyum kepada Ipra, "Yes I Will." kataku membuat Ipra melongo tidak percaya. Dia terdiam untuk beberapa saat sampai pada akhirnya teman-teman Ipra berhambur memeluknya dan mengatakan selamat.


"Akhirnya, nikah juga lu~"


Aku tertawa melihat teman-temannya bangga pada Ipra. Dia melepas pelukan dari temannya lalu berjalan lagi kearahku, Ipra mencabut cincin yang menempel di kotak lalu memasangkannya di jari kelingkingku dengan perlahan. Setelah itu kami berpelukan.


Maaf. Batinku, mengingat perasaanku tidak bahagia sama sekali walaupun aku tersenyum lebar. Aku tidak merasakan emosi bahagia sama sekali, aku sudah membohongi diriku dan Ipra. Ku pejamkan mata lalu berkata dalam hati 'Kelak aku akan mencintai Ipra, perlahan~' aku terus mengulangi kalimat tersebut agar aku terdoktrin.


Menjelang subuh aku masih belum tidur, aku bahkan tidak merasa ngantuk sama sekali. Cincin tunangannya ku lepas lalu ku letakkan di atas nakas, ku raih ponsel dan mengecek sosial media sejenak. Foto yang keluar paling atas adalah postingan yang dikirim oleh Arkan, disana dia tengah makan romantis dengan Lucy. Aku tidak memberinya love, ku klik kolom komentar dan mendapati beberapa komentar yang mendoakan hubungan Arkan dan Lucy.


Ku tatap langit-langit dengan tatapan yang kosong, aku tengah bertengkar dengan isi kepalaku yang jahat.


Setelah ini aku harus bagaimana?....


TBC ........



__ADS_1


__ADS_2