
Arkan Pov
Ku tidurkan Junior di atas ranjang, ini pertama kalinya aku menidurkan seorang bocah. Melelahkan memang namun lelah itu terbayar oleh rasa senangku yang melimpah.
Aku senang karena akhirnya aku bisa dekat dengan Junior. Dia tidak boleh tumbuh besar seperti ayahnya ini, Junior harus menjadi anak yang baik dan dingin pada setiap wanita. Dia harus menjadi remaja yang di gemari banyak wanita namun hanya mencintai satu wanita saja seperti diriku.
Mendadak aku tidak sabar ingin segera melihat bagaimana Junior besar nanti. Aku mencoba untuk mengirimi pak Yu pesan, beliau bilang ia sudah berada dirumah. Sepertinya di rumah, Geya hanya berdua dengan pak satpam. Aku bergegas mandi dan menitipkan Junior pada mama, ku pikir Geya akan merasa ketakutan jika dirumahnya sendirian.
Ipra, bagaimana bisa dia meninggalkan Geya sendirian. Dia benar-benar tidak peka sama sekali.
Saat sampai di kawasan komplek Geya, aku melihat kerumunan orang disalah satu rumah. Disana juga terlihat ada beberapa polisi yang sedang memasang garis polisi. Aku berhenti ketika melihat pak satpam berada disini. Aku bertanya apa yang terjadi dan katanya ada pembunuhan yang mengakibatkan adik kakak meninggal dunia. Sesegara mungkin aku langsung menginjak gas menuju kediaman Geya.
Komplek ini memang sudah tidak aman sepertinya, terlalu berbahaya untuk Geya dan Junior tinggal di kawasan mewah menyeramkan ini. Ku tutup pintu mobil lalu merogoh celana untuk mengambil kunci duplikat yang kubuat diam-diam. Semua lampunya tampak menyala, aku berkeliling sejenak untuk melihat keadaan di belakang. Sepertinya tidak ada apa-apa, namun telingaku mendengar suara langkah kaki di rumput sontak aku langsung menoleh namun tidak ada siapapun.
"Mungkin hanya hewan~" gumamku kembali kedepan dan membuka pintu.
Aku masuk kedalam baru saja akan memanggil Geya ponselku bergetar. Mama mengirimi aku pesan, katanya Junior terbangun dan menangis. Ku tekan tombol panggilan dan seketika itu juga ponselku terlempar entah kemana. Kepalaku sakit luar biasa, aku meringis sembari menoleh melihat Geya tengah melotot syok.
"Aku pikir kamu orang jahat." katanya kaget, Geya langsung mendudukkan aku di sofa lalu bergegas mengambil kotak obat. Sementara itu aku meringis sakit, nyut-nyutan sekali kepalaku ini. Tidak terlalu serius namun sepertinya harus di kompres alhasil Geya membawakan aku es batu dan meletakkannya dikepala. "Aku minta maaf sekali, maaf. Aku benar-benar merasa paranoid akhir-akhir ini." Geya mengompres kepalaku dengan sangat hati-hati.
"Kamu terlihat sangat ketakutan, apa ada yang mengganggumu?" aku mengambil kompres tersebut dan mengobatinya sendiri.
"Entahlah, ku pikir aku hanya melihat bayangan orang di taman tapi ternyata itu hanyalah pohon." ucapnya sangat lesu.
Aku bergeming mengira-ngira bahwa memang ada seseorang tadi. Aku mendengar suara gesekan langkah kaki di rumput taman dan Geya melihat bayangan manusia. Sepertinya memang tidak aman jika meninggalkan Geya sendirian.
"Aku rasa kamu memang harus pindah dari sini. Kawasan ini tidak aman sama sekali, tadi sebelum aku kerumahmu aku melihat rumah pink di ujung sana ramai sekali orang. Dan katanya ada pembunuhan yang memakan korban adik dan kakak. Ini benar-benar tidak aman Geya, aku bisa membelikanmu rumah baru dan juga penjagaan yang ketat."
Geya terdiam tidak menanggapi perkataan ku untuk beberapa saat. Dia menarik napas lalu menatapku, "Sebentar lagi aku akan aman setelah menikah dengan Ipra. Aku juga akan pindah dan mungkin berakhir menjadi seorang model. Terimakasih sudah mengkhawatirkan aku." Geya tersenyum kecut padaku. Mendadak aku kesal ketika dia mengatakan itu.
Geya sudah tidak mau menerima apa yang aku berikan, akhir-akhir ini dia lebih banyak memikirkan Ipra saat bersama denganku. Aku benar-benar sudah tersingkirkan.
Aku mengangguk dan mencoba untuk mengerti saja, lagi pula aku ini sudah bukan siapa-siapanya lagi.
"Sebelum hari pernikahanmu aku ingin membawamu ke suatu tempat. Kamu bersedia?" tanyaku berharap bahwa Geya mengangguk.
"Kemana?"
"Rahasia."
"Kalau begitu aku tidak mau. Aku perlu izin dari Ipra." lagi-lagi Ipra.
"Oh~ ayolah. Kamu ini belum menikah dengannya, jangan terlalu menurut. Untuk terakhir kalinya kita berkencan, ya? ya? ya?." aku memohon seperti anak kecil. Geya terkekeh lalu mengangguk.
Aku langsung bersorak senang karena akhirnya aku bisa pergi berdua saja dengan Geya.
Sebelum tidur aku mencari kemana ponselku terlempar dan ternyata benda itu berada dibawah sofa. Disana ada pesan dari mama, 'Mama mendengar semua percakapanmu dengan Geya. Bersenang-senanglah~ mama akan menjaga Junior selama kalian pergi. ❤'
Aku tersenyum membaca pesan dari mama. Aku ingat jika dulu mama merindukan Geya, katanya beliau rindu memarahi Geya. Mama memang ada-ada saja.
Esoknya dua hari sebelum pernikahan Geya dan Ipra. Aku membawa Geya pergi kesebuah pedalaman, sebuah desa yang selalu ingin aku kunjungi bersama dengan seseorang yang dicintai. Yaitu, Geya.
__ADS_1
Aku menoleh padanya untuk memastikan jika Geya senang jalan-jalan denganku.
"Kamu senang?" tanyaku.
"Hm~ seharusnya sekarang ini aku mengurus pernikahanku tapi aku malah pergi jalan-jalan denganmu. Memang tidak ada akhlak." katanya tertawa begitupun dengan aku, aku ikut tertawa.
Coba saja dahulu aku sedekat ini dengan Geya. Pernikahanku pasti akan menjadi yang paling harmonis melebihi pernikahannya Glenn dan Chelsea.
Kami menginap di sebuah rumah kecil yang memiliki dua buah kamar. Jika perlu jujur aku ingin sekali tidur dengan Geya, namun aku perlu tahu di mana batasanku.
Kami berkeliling di alun-alun sampai akhirnya menemukan restoran yang cocok untuk perut Geya. Aku tersenyum ketika berpikir bahwa ini adalah sebuah honeymoon yang tertunda 4 tahun lalu. Hah~ mendadak aku ingin menikahi Geya disini. Dia menyantap makanannya dengan lahap, kami berbincang ringan mengenai pertumbuhan Junior. Lalu memikirkan karakter seperti apa yang akan terbentuk pada Junior remaja nanti.
"Aku berharap Author membuatkan cerita untuk Junior, nanti." gumam Geya membuatku tertawa terbahak-bahak.
Sebuah alunan musik dilantunkan, beberapa pasangan berdansa. Dan itu membuatku tergiur untuk melakukannya bersama dengan Geya. Ku tarik tangannya lalu kekecup sembari terkekeh karena geli. Awalnya Geya menolak untuk berdansa namun akhirnya mau juga.
Kami menautkan jari-jari, dan mulai melangkah kesana kemari dengan perlahan. Wajah kami dekat sekali, aku dapat melihat bibir Geya yang mengkilap karena lipstick. Aku ingat saat dulu dia selalu menggunakan lipstick yang berasa buah-buahan.
"Kamu cantik." bisikku ditelinganya. Terlihat sekali jika Geya menggeliat karena napasku.
"Aku menyesal karena dulu tidak mencintaimu lebih awal." kataku melangkah mundur.
"Aku benar-benar ingin kembali ke masalalu dan mengubah sebuah cerita menyakitkan menjadi kebahagiaan." tambahku, Geya tidak menjawabnya dia hanya menatapi aku dengan senyuman tipisnya.
"Sayang~ aku tidak bisa melakukan itu. Tuhan memiliki rencana lain untuk kita, semoga saja aku bisa tetap bahagia setelah melihatmu menjadi milik orang lain." aku tersenyum dibalik lampu-lampu yang meredup. Mataku dan mata Geya masih bertaut, aku dapat melihat mulai ada air mata dikelopak mata Geya.
"Kamu harus bahagia Arkan." katanya menangis, dia memelukku sangat erat. Tanganku naik keatas lalu menyentuh kepala Geya dan mengusap-usapnya. "Kamu juga~" gumamku mencoba untuk menenangkan Geya yang menangis. Jantungku dan jantung Geya seperti sedang berlomba, ritme detaknya sama-sama kencang.
Dua orang yang sama-sama menyesal dan dua orang yang tidak bisa bersama.
ooOoo
Hari pernikahan
Aku memakai pakaian yang sama dengan Junior dan ayahnya Geya. Tuxedo hitam dengan warna dasi kupu-kupu yang berbeda. Sesekali ayah bercanda padaku mengatakan bahwa seperti akulah yang calon pengantin pria.
Aku keluar dari mobil sembari menuntun Junior, beberapa pasang mata menatap kearah kami. Hah~ aku sudah bosan di tatap takjub seperti ini. Aku tersenyum ketika melihat Lucy menggunakan dress mini berwarna hijau. Menurutku Lucy kurang baik dalam hal fashion. Dia menyapaku dan menyapa Junior.
"Kamu tampan sekali." pujinya malu-malu. Aku terkekeh saja ketika melihat wajah Lucy jadi merah merona.
Sementara itu Junior sibuk memainkan robot iron man yang di berikan oleh mama. Keluargaku akan datang menyusul nanti, aku tidak mengawal dulu hari ini karena harus menjaga Junior.
Aku pergi menghampiri Ipra, dia mengenakan pakaian serba putih. Dia terlihat gugup sekaligus senang. Aku memberikannya semangat juga selamat, terlihat sekali jika Ipra tidak nyaman ada aku disini. Sesekali dia mengobrol dengan Junior namun kali ini Junior lah yang tidak nyaman oleh Ipra.
Acaranya ramai sekali apalagi Geya seorang model. Beberapa aktris dan aktor menghadiri acara pernikahannya. Dulu ketika menikah denganku di gedung sekarang Geya memilih di tempat terbuka seperti hutan begini.
"Upacaranya belum di mulai ya?" tanya mama padaku ketika baru saja sampai.
"Belum. Tapi mungkin seharusnya sudah dimulai." ralatku ketika melihat jam sudah menunjukkan jam delapan lewat.
Aku melihat sekeliling dan semuanya baik-baik saja. Manager tengah berbisik pada Lucy lalu Lucy pergi kedalam ruangan dimana Geya berada.
__ADS_1
Tiba-tiba saja walkie talkieku berbunyi, salah satu pengawal keamanan perusahaan memintaku untuk memindahkan beberapa mobil yang menghalangi mobil pengantin. Sesegera mungkin aku menurutinya, ku titipkan Junior pada mama dan papa yang baru saja datang.
Rasanya aku menjadi tukang parkir dadakan. Jika mereka tahu bahwa aku anak seorang sultan sudah ku pastikan mereka tidak akan berani menyuruh seperti ini.
"Ah~ akhirnya selesai." gumamku keluar dari mobil.
Bukan kata terimakasih yang aku dapat melainkan sebuah pukulan yang mendarat tepat di wajahku. Wajahku terus di pukuli tanpa aku tahu siapa yang memukuli. Aku mencoba untuk menghindar agar tahu siapa yang memukulku dan dia adalah Ipra.
Raut wajah Ipra luar biasa merah karena marah. Dia menarik kerah kemeja, "Dimana Geya? Lo kan yang nyembunyiin dia?!" tanyanya sangat menekan.
Aku tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh Ipra. Aku melihat kesekeliling, banyak sekali kamera yang sedang mengshoot diriku dan Ipra.
"Gue gak tahu. Memangnya apa yang terjadi?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Geya menghilang."
Tbc..........
__ADS_1