
Aku mengemasi beberapa pakaian dan peralatan lainnya. Tidak lupa cangkir minum dan sikat gigi, itu barang pribadi yang sangat penting bagiku. Aku banyak-banyak bekal celana karena aku teringat ucapan Arkan. Tunggu, kenapa aku harus mengikuti ucapannya, dia sendiri tidak begitu penting dengan sebuah izin.
Aku menarik koper miniku keluar dari kamar. Arkan sedang berdiri sembari menatapiku.
"Oho~ aku pikir seorang prajurit kaya kamu ga bakal ngerti soal fashion." aku menyindirnya sembari sesekali membenarkan rambut.
"Sok asik." katanya membuatku ingin melempar koper ini ke wajahnya.
Arkan memberitahuku mengenai apa yang akan terjadi di mess. Seperti suara-suara sirine, suara walky talky yang terus menyala, lalu keadaan yang mencekam dadakan. Aku harus menghemat air dan hanya bisa mandi satu kali saja.
"Lalu gimana sama rambut aku nanti?" tanyaku khawatir.
"Hey bukannya harusnya itu jadi kebiasaan kamu dirumah kan?"
"Maksud kamu? Jadi kamu pikir karena aku miskin aku udah biasa hidup susah gitu? Tolong ya, aku ga semiskin yang kamu kira walaupun memang masih jauh dari kata kaya." kataku memalingkan wajah ke jendela.
"Sesekali cobalah buat dipikirin dulu sebelum bicara, kalau perlu jujur semua ucapan yang pernah kamu ucapin itu nyaris semuanya bikin sakit. Coba lah sesekali memikirkan perasaan aku, itu kan ga sulit." Aku mengeluarkan semua kekesalanku yang sudah tidak bisa disimpan lagi. Arkan sempat menatapi ku tidak percaya lalu dia kembali fokus menyetir dan tidak mengatakan apapun.
Arkan membawaku kerumah ayah, aku tidak tahu apa tujuannya karena saat ini aku tidak mau berbicara dengannya alhasil aku tidak bertanya padanya. Ayah memeluk ku erat sekali, lalu memeluk Arkan juga. Arkan menyuruhku menyiapkan makan malam, aku sedikit tidak percaya dia menyuruhku seperti ini.
Selama aku memasak, ayah dan Arkan berbincang-bincang ringan. Sesekali aku bisa mendengar mereka berdua tertawa. Aku hendak memanggil ayah dan Arkan untuk makan malam tapi aku mengurungkan niatku sejenak.
"Apa Geya bikin kamu kesusahan setelah menikah?" tanya ayah menyeruput kopi.
"Engga sama sekali." jawab Arkan.
"Ayah tau kalian belum pernah bertemu tapi sudah harus menikah. Maafkan ayah kalau latar pendidikan Geya bikin kamu malu, jangan salahkan Geya. Ayahlah yang salah karena ga bisa menguliahkannya. Ayah tau biasanya tentara itu akan menikahi seorang dokter atau pekerja rumah sakit lainnya, tapi menurut ayah itu cuma karena kata 'biasanya' aja. Ayah benar-benar sangat senang saat papamu datang dan melamar Geya untuk nak Arkan. Kaya dapet lotre karena Geya bisa menikah dengan prajurit tentara kaya nak Arkan gini. Geya itu udah ga punya ibu, ayah pikir ibunya nak Arkan akan menganggapnya sebagai anak tidak hanya menantu, ya." Aku dapat melihat ayah menangis lalu Arkan memberikannya tisu.
Begitupun dengan aku, aku menangis karena semua kalimat yang ayah ucapkan. Ayah pasti sangat-sangat kesepian setelah aku menikah. Ayah tak punya siapapun lagi selain diriku.
__ADS_1
"Terimakasih ayah." gumamku menghampus air mata lalu memanggil keduanya untuk segera makan malam.
"Ayah kangen banget sama masakan kamu, nak." katanya makan dengan lahap.
"Pasti nak Arkan makan enak tiap hari kan, secara Geya yang masakin." Aku langsung menoleh pada Arkan. Dia mengangguk dengan pelan, ini pertama kalinya dia mencicipi masakanku. Aku senang karena akhirnya Arkan memakan makanan yang aku buat bahkan sampai menghabiskannya.
"Ah, ayah. Aku sama Geya kesini mau menginap sebelum besok pergi bekerja. Kebetulan sekarang Geya kerja jadi Jurnalis." Ayah terkejut saat mendengar aku sudah menjadi seorang jurnalis. Aku lupa memberitahu beliau. Ayah mendoakanku dengan sangat melimpah, dan tentunya beliau mengizinkan kami untuk menginap.
"Disini cuma ada satu kamar." ucapku memberinya handuk. Arkan melebarkan handuk tersebut.
"Barbie?"
"Itu punya aku, udah di cuci kok~ sana mandi~. Aku mau ganti baju." aku mendorong tubuhnya keluar dari kamar.
Aku menghembuskan napas. "Jadi, aku dan Arkan bakalan tidur satu kamar dan satu ranjang? Kenapa aku gugup gini sih." Aku menampar-nampar kedua pipiku lalu bergegas berganti pakaian. Aku masih menyimpan beberapa pakaian tidur dikamar ini. Sepertinya ayah sering membersihkan kamarku, bersih sekali bahkan di atas meja atau lemari tidak ada debu sama sekali. Aku mendapatkan pakaian tidur yang diberi oleh Liona.
"Laki-laki memang seperti ini ya, benar-benar jorok." kataku meraih handuk lalu menggantungkannya. Aku kembali mencari cardingan namun tidak ketemu sama sekali. Ku tutupi bagian dadaku dengan peniti lalu dengan satu tarikan napas aku mencoba berjalan ke ranjang tanpa gugup.
"Kamu mau tidur di kursi?" tanyaku saat hendak menarik selimut.
"Duluan aja, aku gimana nanti nyamannya aja." aku mengangguk lalu memunggunginya. Tidak butuh lama untuk tidur aku rasa aku sudah terlelap tapi tiba-tiba saja aku terbangun oleh Arkan.
Napasnya tersenggal-senggal saat aku menoleh padanya. Dia sudah diranjang. "Kamu kenapa?" tanyaku beringsut duduk.
"Kamu tau, punggung kamu jauh lebih bikin aku tergoda dibandingkan dada kamu yang kamu tutup-tutupin." katanya mencium bibirku.
Aku terdiam karena benar-benar sangat terkejut. "Geya~" panggilnya membuatku tersadar. Arkan tersenyum lalu mecium ku lagi. Seperti ini kah perasaan malam pertama?.
Rasanya tubuhku panas sekali membuat napas memburu. Tubuhku bekerja sendiri tanpa aku sadari. Senyumnya, bisikannya membuatku tergila-gila pada Arkan.
__ADS_1
Yang dapat kudengar saat ini hanyalah suara napasku dan napas Arkan. Sesekali juga mendengar Arkan berbisik memanggil namaku, sampai pada akhirnya ponsel Arkan berdering.
Saat dia menempelkan ponselnya ketelinga dengan cepat Arkan mendorongku. Dia menatapku tapi lalu menatap ke arah lain.
"Kamu dimana sekarang?" tanyanya khawatir.
"Aku bakal jemput kamu sekarang." dia mematikan panggilan lalu memakai kembali kaosnya. Arkan menuruni tubuhku ke ranjang.
"Kamu mau kemana?" tanyaku dengan nada bergetar.
"Aku harus jemput Alifa, dia bertengkar sama suaminya. Aku ga bisa membiarkannya sendirian."
"Terus, gimana sama aku? kamu tega kalau aku yang sendirian?" mataku berkaca-kaca. Dadaku sesak.
"Aku gabisa ngebiarin Alifa."
"Gimana kalau aku ga izinin kamu buat pergi?"
"Tolong jangan kekanakan kaya gini, okey? Alifa bakal tetep jadi nomor satu buat aku. Aku ga suka kamu ngerengek kaya gini." Arkan membentakku, dia mengacak-acak rambutnya, menatapku sejenak lalu keluar dari kamar. Air mataku pecah, bahkan saat sedang seperti ini pun ia tetap memilih Alifa. Arkan lebih memilih menyakiti aku dibandingkan menyakiti Alifa. Aku membungkam mulutku agar tidak berteriak, aku takut ayah mendengar tangisanku.
~
(Edit)
(Edit)
__ADS_1