TIDAK DIINGINKAN

TIDAK DIINGINKAN
XIII


__ADS_3

Aku bersandar pada pundak Arkan, pagi tadi ia menyuapiku dan menggantikan pakaianku. Kepalaku sudah tidak sakit lagi. Aku bertanya pada Arkan, mengenai penculikan kemarin. Semua yang dikatakan oleh Julian itu benar atau salah. Dan Arkan membenarkannya.


Arkan bilang, tiga tahun yang lalu itu menjadi sesuatu yang paling rumit baginya. Dia diskors karena sudah melakukan kekerasan kepada Julian. Selama di sanksi, Arkan pergi ke luar negeri. Namun ternyata disana keadaannya menjadi sangat begitu kacau. Arkan bilang Arkan sudah menembak seorang wanita. Dia menjelaskan semuanya kepadaku. Aku benar-benar tidak tahu jika ternyata Arkan memiliki masalalu yang rumit sekali. Beruntung sekali dia tidak menjadi gila. Aku mempererat genggamannya lalu mencium lengan Arkan. "Aku sayang sama kamu." ucapku yang dibalas oleh kecupan olehnya.


"Jadi, kamu sama Julian itu teman kecil?. Tapi kenapa kamu ga inget sama dia?." aku menggigit bibirku.


"Sepertinya aku mengalami kecelakaan saat usia 7 tahun. Aku ingat pernah terbangun di rumah sakit. Tapi aku bisa mengenali ibu dan ayah, sepertinya aku bukan lupa ingatan. Mungkin terlalu lama koma jadi aku tidak terlalu ingat dengan orang-orang yang jarang berinteraksi denganku. Mungkin seperti itu." jelasku pada Arkan.


Arkan menarik napas lalu membuangnya perlahan. "Sepertinya akan bertambah lagi orang yang menyukai kamu, sayang.".


"Aku kan udah jadi istri kamu. Kamu selangkah lebih maju dari pada mereka. Lagi pula aku kan sayang sama cintanya kekamu." aku memeluk tubuh Arkan yang atletis.


Arkan mendekap tubuhku erat sekali, sampai rasanya aku sulit bernapas. "Aku sudah sepenuhnya mencintai kamu Geya. Maaf jika aku sudah jahat sekali padamu. Jangan pernah meninggalkan aku." lembutnya suara Arkan. Aku tersenyum lalu mengangguk pelan.


"Berjanjilah."


"Janji." kataku mengecup dadanya.


Hari Pernikahan Dinar dan Vino.


Pestanya meriah sekali, untung saja hari ini cerah sekali jika tidak mungkin akan berantakan oleh hujan.


Aku mengobrol dengan beberapa wanita yang hadir disini. Arkan sedang sibuk bersama teman-temannya. Aku melangkah mencari tempat yang tidak terlalu ramai, sesak sekali rasanya di keramaian. Tiba-tiba saja Ipra menyapaku, kami berbincang mengenai beberapa hal mengenai softfile film documentery.


"Tapi kamu ga di apa-apain sama Julian kan, Geya?" tanyanya khawatir.


"Aku baik-baik aja. Seharusnya kamu itu mengkhawatirkan Ergy, dia sampai harus menggunakan kursi roda seperti itu." kami memandang Ergy bersamaan. Kasihan sekali dia, karena mencoba melindungi aku, Ergy menjadi kesulitan berjalan.


"Tapi, dari mana kamu tau nama penculiknya?" tanyaku baru menyadari.


"Arkan memberitahuku." jawabnya tanpa menoleh padaku.


"Oh iya~ aku seneng karena aku tetep bisa ketemu sama kamu. Syukurlah, Arkan bawa kamu untuk tinggal dirumah dinas. Setidaknya hariku jadi lebih berbunga jika ada kamu." aku tertawa kecil.


"Ipra, aku ini sudah menikah." kataku sembari tersenyum. Pria tinggi putih tersebut menatapku cukup lama. "Aku akan tunggu sampai kamu menjadi seorang janda." aku cukup terkejut ketika Ipra mengatakan itu.


"Terserah kamu aja deh." aku tidak tahu harus melontarkan kalimat apa untuk menanggapi ucapan Ipra. Jelas sekali aku tidak ingin menjadi janda, bahkan memikirkannya saja tidak pernah. Bisa-bisanya Ipra mengatakan hal tersebut.


Mendadak semua orang menjadi berjalan menuju tempat duduk begitupun dengan aku. Arkan sudah menungguku sembari mengulurkan tangannya. Aku menjabatnya lalu kami duduk berdampingan. Ya Tuhan betapa cantiknya Dinar menggunakan gaun putih menjuntai panjang sampai menutupi karpet merah. Dia mengedipkan matanya padaku saat kami tidak sengaja beradu pandangan. Sebuah buket bunga dipegang ditangan kirinya, sementara tangan kanan menggandeng papa tercintanya.


Di ujung sana sudah ada seorang pangeran yang menunggunya. Vino tampan sekali dengan wajahnya yang begitu tegas, badannya yang tegap. Aku jadi ingat pernikahanku dulu, tidak ada yang spesial seperti 'kamu cantik sekali pakai gaun ini.' tidak ada ucapan seperti itu. Semuanya terasa menegangkan dan hambar. Namun sekarang Arkan begitu lengket padaku, setiap pagi meminta jatah untuk morning kiss, atau morning ... , aku senang karena Arkan memintanya dengan rasa cinta.

__ADS_1


Dinar dan Vino sah menjadi sepasang suami istri sekarang. "Sayang." aku menoleh ketika Arkan memanggilku, aku terkejut ketika bibir kami bertemu secara tiba-tiba. Aku melotot ketika Arkan mengecup bibirku.


"Haha~ ayo makan laper nih." Arkan tertawa dengan renyah.


"Ih~ ga lucu tau. Disini kan banyak orang." aku memukul lengannya kesal. Tapi Arkan tetap saja tertawa, dia ini benar-benar tidak bisa melihat situasi. Jika ada kesempatan pasti seperti itu. Bercandanya menyebalkan sekaligus membuatku senang juga sih.


Saat aku dan Arkan hendak mengambil beberapa camilan. Kami bertemu dengan Alifa, dia bersama suaminya. Dan yang membuatku terkejut adalah, Arkan memperkenalkan aku pada suami Alifa.


"Saya Kay, senang bertemu dengan anda." katanya mengecup lenganku. Aku tersenyum lalu memperkenalkan diri juga.


"Kalian bisa menghubungi aku jika akan melakukan persalinan." katanya.


Namun Arkan cemburu ia menjawabnya dengan kesal. "Saya akan mencari dokter perempuan. Saya tidak mau kelamin istri saya dilihat oleh lelaki mana pun kecuali saya seorang."


Kami semua terkejut dengan kalimat Arkan. Kay tertawa lalu meminta maaf.


Wajah Alifa tidak bersahabat sekali, berbeda dengan Alifa yang aku temui saat pertama kali bertemu. Dia terlihat tidak suka aku berinteraksi dengan suaminya. Oh tolong ya, aku tidak berniat mencuri suami orang seperti mu~. Gumamku dalam hati.


Arkan manja sekali hari ini. Selama di pernikahan Dinar, ia minta di suapi bahkan tidak jauh-jauh dariku sampai sekarang. Kami berendam di bathup, beberapa kali mengisi air karena airnya cepat habis akibat guncangan aku dan Arkan yang terlalu hebat di tempat sempit ini.


"Kamu tau, kamu bucin banget hari ini." kataku mengecup bibir Arkan.


"Bucin? bahasa apaan itu?" aku terkekeh karena tidak percaya bahwa Arkan tidak mengetahuinya.


"Engga itu salah, harusnya Arcin, CinGey" aku mengangkat alis.


"Arkan Cinta. Cinta Geya, selamanya." aku tertawa ketika Arkan mengatakan itu, menggelikan sekali rasanya. Seperti remaja labil saja kata-katanya. Namun Arkan cemberut, marah karena aku menganggapnya sebagai candaan. Akhirnya aku menyesal.


"Aku mau punya anak laki-laki, yang."


"Kok tiba-tiba bicarain ini sih."


"Kenapa? kamu ga mau punya anak dari aku? kamu jahat yang, masa kamu gamau punya anak dari aku." Arkan mendadak rewel sekali. Dan aku menjadi kebingungan.


"Engga, bukan gitu sayang. Aku cuma heran aja. Gimana kalo kembar?"


"Kembarnya harus enam kalo gitu, tiga cowo, tiga cewe."


"Kamu pikir aku ini induk kucing apa?!"


Arkan terkekeh.

__ADS_1


"Kita kasih nama apa ya, gimana kalo Senior Arkan untuk anak pertama dan Junior Arkan untuk anak kedua."


Aku benar-benar menepuk jidat tidak mengerti lagi dengan pikiran Arkan sekarang ini.


"Kamu pikir sekolah apa, engga ah, engga ada nama kaya gitu." lagi-lagi Arkan cemberut namun tiba-tiba saja ceria lagi.


"Kalo gitu Argestaver."


"Argestaver apa?"


"Arkan Geya setia abadi forever." mendadak tubuhku merinding seketika.


"Ih apaan sih jijik banget. Engga ya, penggabungan nama orang tua itu udah ga zaman." aku protes.


"Protes aja terus." ketusnya bergerak secara tiba-tiba membuatku mengerang kaget karena dibawah sana menggesek.


"Seksi banget suaranya~" Arkan menatapku dengan tatapan mesumnya.


Ku tampar saja wajah tampannya itu. Arkan tidak marah melainkan menciumku dan menciumi bagian lainnya. Kami melakukannya yang ke tiga kali di dalam air hari ini bahkan sampai rasanya kebas saat membersihkan diri. Arkan benar-benar menyiksaku.


Dia terlelap karena kelelahan, aku menyentuh rambut yang jatuh ke wajahnya. Menyentuh hidungnya, perlahan aku tersenyum. Ku kecup keningnya sembari bergumam,


"Tidur yang nyenyak, aku sayang kamu."


Ekstra :


Ipra Pov :


Ku pandangi rumah dinas Arkan yang gelap. Mereka tidak pulang kemari, pasti pulang kerumah milik Arkan. Ku raih kotak biru yang terdapat di saku celana. Berlian ini pasti akan sangat begitu cantik di jari manis Geya.


"Suatu saat nanti akan ku pastikan kamu menjadi milikku, Geya."


Ipra Pov End.


Tbc.....



Hari ini edisi untuk Arkan dan Geya saja ya~


Sampai jumpa hari senin dengan konflik yang semakin menegangkan ya😄.

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca Tidak Diinginkan. 🌹🌹🌹🌹🌹.


__ADS_2