TIDAK DIINGINKAN

TIDAK DIINGINKAN
Chapter 10


__ADS_3

Hari ini hujan turun cukup deras. Aku memasangkan jaket pada Junior, cuaca diluar dingin sekali bahkan sampai menusuk kedalam rumah.


Ku raih satu payung lalu membeberkannya, aku menggendong Junior di tangan kiri. Jarak menuju garasi cukup jauh dari rumah, saat aku sampai Arkan tertawa katanya "Mengapa nona repot-repot kesini, pak Yu dan saya bisa menjemput nona didepan pintu."


"Aku tidak suka menunggu." ketusku membuka pintu mobil lalu memasukkan Junior terlebih dahulu. Sebelum aku masuk kedalam pintu, aku menatap Arkan sejenak.


"Bisa kamu melipat payungku?" tanyaku, baru saja Arkan akan menjawab aku langsung menyodorkan payung tersebut lalu masuk kedalam mobil dan menutup pintu sedikit pakai emosi.


Di dalam mobil aku menemani Junior belajar menghafal nama-nama hewan dan warna. Aku terpaksa membawa Junior ketempat kerja karena keadaan rumah masih tidak aman, aku tidak bisa terus-terusan menitipkan Junior pada ayah mengingat beliau sudah harus menikmati masa tuanya.


Ayah tak lagi membuka studio foto, kali ini beliau bercocok tanam membuat kebun di belakang rumahnya. Saat ku tawari rumah baru, ayah menolaknya. Beliau bilang, beliau tidak ingin meninggalkan rumah yang mengisi banyak sekali kenangan. Aku setuju dengan perkataan ayah, rumah itu memang memiliki kenangan yang berlimpah.


Kenangan saat aku dan Arkan foto pernikahan, ketika kami melaksanakan malam pertama. Dan, kenangan saat bersama dengan ibu ayah. Rumah itu terlalu indah untuk ditinggalkan. Aku menatapi Arkan dari kaca spion, wajahnya yang tegas itu mengingatkan aku ketika dia menggunakan seragam tentara birunya. Matanya yang memicing tajam, lalu tutur bicaranya yang membuat orang sakit hati. Aku merindukan masa-masa sulit untuk mencintai sosok Arkan.


Aku kesulitan beradaptasi dilingkungan mewah Arkan, dimaki oleh ibu, dicampakkan oleh suami sendiri. Saat itu aku benar-benar menjadi wanita menyedihkan dan mungkin sampai sekarang.


Seharusnya aku tidak memiliki rasa menyesal sudah berpisah dengan Arkan. Keputusanku adalah keputusan terbaik mengingat Arkan membunuh ibu, namun semakin aku terus menyalahkan Arkan justru diriku lah yang semakin terpuruk. Mengapa harus sesulit ini~


"Nona, saya tahu saya tampan. Nona tidak perlu menatap saya seperti itu." kata Arkan membuat semua pikiranku tadi buyar, mendadak dia berubah menjadi menyebalkan seperti ini.


Dia sedang mempermainkan aku lagi?.


Ketika kami sampai di tempat pemotretan, semua orang menatap kearahku dengan tatapan membelalak. Sontak, aku langsung menoleh kearah kanan dan kiri juga kebelakang mendapati Arkan tengah menggendong Junior. Jantungku bergerak maju mundur tak beraturan, Arkan tampan sekali, dia begitu seksi ketika sedang menggendong Junior. Pantas saja orang-orang disini menatap takjub.


Saat aku duduk dimeja rias, paman menegurku. "Bukankah aku sudah bilang untuk tidak membawa bocah itu ke tempat bekerja? aku sudah memperingatkan mu saat pemotretan di pantai. Orang-orang tidak boleh tahu bahwa kamu ini sudah memiliki anak Geyaaa!~." gumam paman pelan sekali.


"Aku tidak bisa membiarkan Junior sendirian dirumah, walau disana ada bibi Ahn tapi keadaan rumah masih belum aman." jawabku mencoba membuat paman mengerti. Namun, aku tidak tahu dimana letak otak paman berada dia benar-benar tidak berperasaan, "kamu bisa menitipkan dia di penitipan anak."


"Aku tidak mau." kataku menekan dan itu membuat paman frustasi.


Saat aku melakukan pemotretan dengan Junior di pantai saat itu paman marah besar karena aku sudah lancang membawa Junior. Yang di ketahui orang-orang selama ini aku adalah wanita single yang tak pernah menikah dan belum memiliki seorang anak. Itu agar menjaga performaku sebagai model. Perusahaan Julian sudah menipuku mereka mengatakan peraturannya setelah aku menandatangani kontrak. Karena saat itu aku benar-benar membutuhkan penghasilan mau tak mau mengikuti saja apa yang diinginkan Julian.

__ADS_1


"Woah~ anak siapa ini lucu sekali. Apa dia juga ikut pemotretan?" tanya salah satu kru.


"Ah~ dia adalah anak pengawal pribadinya Geya." celutuk paman membuatku membelalak bahkan alat maskara yang sedang dipakai menusuk mataku. Aku juga dapat mendengar suara batuk-batuknya Lucy, tampaknya dia juga sama terkejutnya seperti aku.


Mataku perih dan mengeluarkan air mata. Sialan, ini gara-gara paman.


Mataku menjadi sedikit bengkak karena tadi aku tidak berhenti menguceknya. Bahkan ketika pemotretanmu mataku masih bengkak, aku tidak tahu hasilnya akan bagus atau mungkin buruk. Masa bodo lah dengan itu, toh ini adalah kesalahannya paman.


Aku mencari keberadaan Arkan, staff bilang dia tengah istirahat di ruangan make upku. Dan benar, dia tengah tertidur bersama dengan Junior yang menindih tubuhnya. Aku membangunkan Arkan dengan sangat pelan sekali, dia membuka matanya dengan sekali sentuhan di pundaknya. Aku mengatakan padanya bahwa aku sudah selesai, Arkan mengangguk lalu dia memindahkan Junior ke kursi sofa disebelahnya yang kosong setelah itu dia menyandarkan kepalanya di pundakku. Rasanya tubuhku terstrum ketika tubuh kami saling bersentuhan. "Apa yang~~"


"Ssttt~ aku ngantuk. Biarlah begini untuk beberapa saat, hm?" Arkan berkata seperti melindur, dia kembali tidur setelah mengucapkan itu.


Aku berdiam diri dengan posisi yang tidak nyaman sekali, "Ge~ ap....pa~ i...pa.." keningku bertaut menjadi satu mencoba memahami kata-katanya Arkan. Namun, aku tidak mengerti apa yang dia ucapkan itu. Tiba-tiba saja suara tangisan Junior membuat aku terkejut, bahkan Arkan langsung terbangun dan dengan sigap dia menggendong Junior lalu menepuk-nepuk bokong bocah itu. Tak butuh waktu lama, Junior sudah kembali terlelap.


Kami pulang kerumah ketika waktu menunjukkan jam set 6 malam. Bibi Ahn sudah pulang kerumahnya, dia juga sudah menyiapkan makan malam untuk aku dan Junior. Karena aku takut sendirian dirumah besar ini, dengan rasa gengsi yang besar sekali aku meminta Arkan untuk menginap. Aku pikir dia akan menolaknya namun Arkan langsung mengatakan iya tanpa pikir panjang.


Aku menyuruh Junior untuk memakan makanannya sendiri dan dia menurut.


"Tidak, aku masih belum baik dalam perihal mendidik Junior. Bibi Ahn dan ayah lah yang sudah membesarkan Junior sampai sepintar ini." jelasku menyantap makanan.


"Apa Junior begitu cengeng saat bayi?"


"Semua bayi itu cengeng tidak ada yang tidak."


"Apa saya boleh tahu nona mengidam apa saja saat hamil?" pertanyaan Arkan membuatku terkejut.


"Aku pernah mengidam agar kelak Junior tidak mirip seperti dirimu. Tapi ternyata lihatlah, dia begitu mirip denganmu. Matanya, warna rambutnya, Junior sudah seperti cloningan dirimu."


"Saya senang karena itu artinya Junior benar anakku."


Aku membelalak, "Apa kamu berpikir bahwa aku melakukannya dengan banyak laki-laki? lantas jika saja Junior tidak mirip denganmu kamu akan berpikir bahwa Junior bukan anakmu?"

__ADS_1


"Hm, mungkin." jawabnya santai.


Mendadak nafsu makanku hilang, "Menyebalkan." gerutuku meminum air putih.


Saat selesai makan malam, aku menemani Junior sampai terlelap. Kami menempati lantai satu karena aku takut penerorror itu muncul lagi.


Saat aku hendak mencuci muka aku mendapati Arkan sudah terlelap di sofa. Ku pakaikan ia selimut, rambutnya jatuh kewajahnya menutupi mata. Tanpa ku suruh tanganku bergerak dengan sendirinya, aku menyapu rambut tersebut keatas namun itu membuat Arkan terbangun. Kami bertatapan untuk beberapa saat. "Apa ada yang terjadi nona?" tanyanya membuatku langsung mengalihkan pandangan.


"Tidak, tidak ada apapun."


"Lantas mengapa nona terbangun?"


"Aku memang belum tidur, lebih tepatnya tidak bisa tidur." kataku sembari menyentuh tengkuk leherku yang pegal.


"Mau tidur bersama saya?" aku terdiam karena tidak habis pikir dengan setiap ucapan ngaconya Arkan.


"Nona baru akan bisa tidur jika sudah kelelahan, mau berolah raga sedikit? saya tidak keberatan jika harus melakukannya disofa ini." Arkan menepuk-nepuk sofa tersebut. Dia benar-benar sedang menggodaku.


Ingin sekali aku meninju wajahnya yang mesum itu, namun aku mengurungkan niatku tersebut karena tidak mau merusak wajah Arkan yang tampan.


"Terserah kau saja, aku hanya mau memberikan selimut." kataku melenggang pergi, saat aku hendak masuk kedalam kamar mandi "Jangan sampai nona olah raga sendirian di kamar mandi ya~" kali ini aku benar-benar kesal sekali dengan mulutnya tersebut. Ku raih botol sampo lalu melemparnya dan membuat dia berteriak. Terdengar langkah kakinya yang mendekati kamar mandi, dan saat aku melihat tubuhnya aku segera masuk kedalam toilet lalu mencoba untuk menutup pintu. "Ish Arkan sana pergiiiiii~" kataku terus mendorong pintu namun kekuatan tubuh Arkan jauh lebih besar alhasil pintunya berhasil kembali terbuka.


"Lihat apa yang sudah kamu lakukan padaku?" katanya, aku tertawa ketika melihat isi sampo sudah berserakan di kaos abunya.


Aku tertawa lepas sekali dan sepertinya itu membuat Arkan gemas. Dia mencubit kedua pipiku sembari berkata, "Bersihin, ini kan gara-gara kamu samponya jadi kemana-mana."


"Apasih~ kalo perkataan kamu ga bikin aku kesel udah pasti aku ga akan lempar botol sampo itu. Udah sana pergi~" sekali lagi aku mendorong tubuh Arkan untuk keluar dari kamar mandi. Arkan tidak ada hentinya untuk usil, dia menarik tanganku sehingga dada kamu bertabrakan dan Arkan memelukku. Saat aku memberontak, Arkan semakin mempererat pelukkannya. "Diem." gumamnya begitu lembut.


Untuk beberapa saat kami berdiam diri dengan keadaan seperti ini, sampai pada alkhirnya pintu kamar tamu terbuka dan menujukkan Junior tengah menatap kami berdua yang sedang berpelukan...


TBC.......

__ADS_1


__ADS_2