
"Woah~ aku benar-benar tidak percaya berita ini membuatku bekerja keras. Tapi apa kamu benar-benar menerima lelaki itu?"
Ku mainkan cincin pertunangan yang melingkar di jari manisku, aku mendongak melihat cermin. Disana ada pantulan wajah Arkan yang sedang menatapku, "Hm, kami akan menikah dalam waktu dekat ini." kataku sembari melihat mata gelap Arkan. Tak ada reaksi apapun dari wajahnya.
Aku berjalan keluar dari ruangan, saat sampai dibawah. Sudah banyak sekali wartawan yang menungguku, paman memperingati aku untuk menjawab "Mohon do'akan saja yang terbaik untuk kami." aku pun mengatakan demikian ketika mereka bertanya mengenai pernikahan.
"Apa benar anda sudah memiliki seorang anak? saya dengar anda adalah janda, mohon konfirmasi mengenai berita ini." aku terdiam lalu menoleh pada paman, tanpa aba-aba Arkan mendorong tubuh para wartawan itu lalu membimbingku untuk berjalan.
Aku menoleh padanya dan dia bergumam, "Saya tahu ini hanya akan membuat beritanya menjadi buruk." lagi-lagi dia berbicara formal.
Aku lolos dari desakkan para wartawan. Bagaimana bisa wartawan perempuan itu mengetahui aku seorang single parent. Aku hendak menarik rambutku namun seseorang mencegahnya. Tangan Arkan mencengkram kedua tanganku, "Hilang kan kebiasaan buruk ini." katanya menyentuh keningku lalu mendorongnya kebelakang sampai kepala belakangku menyentuh kursi. "Pejamkan mata, lalu bernapaslah dengan tenang. Jangan pikirkan apapun, hm." katanya tersenyum padaku. Dan senyumannya membuatku tenang seketika, aku mengikuti apa yang dikatakan oleh Arkan. Pada akhirnya aku terlelap dan terbangun dengan keadaan tertidur diranjang.
Aku beringsut lalu melihat jam sudah menunjukkan jam setengah empat sore. Ku singkap selimut lalu memakai sandal, dan pada saat berdiri aku baru menyadari ada Arkan yang tengah tertidur di kursi riasku. Dia tertidur dengan posisi yang tidak baik, aku mencoba untuk membangunkannya namun dia tak kunjung bangun. Saat aku hendak mengangkat tubuhnya, "Mau apa?" tanyanya membuatku kaget. Aku menceritakan semuanya namun Arkan tidak percaya. "Nona mau mencium saya, ya?" katanya berjalan kearahku membuatku mundur.
"Aku benar-benar hanya berniat untuk memindahkanmu ke ranjang."
"Untuk apa? untuk tidur bersama saya?" langkahnya semakin dekat dan membuat kakiku membentur ranjang sampai aku tertidur di ranjang. Dengan cepat Arkan mengunciku, kedua tangannya ada di sisi kanan-kiri kepalaku dan sekarang ini posisinya dia berada diatasku. Ya, Tuhan apa yang sedang dia lakukan. "Saya kan sudah pernah bilang kepada nona, barang kali nona ingin. Nona bisa bilang saja, saya siap kapanpun itu." Arkan tersenyum padaku, wajahnya semakin dekat dan bahkan hidung kami bersentuhan. Aku bisa mendengar suara detak jantungku sendiri, sebegitu kencangnya. Tak ada penolakan dalam diriku, aku tidak tahu mengapa aku diam saja.
"Mamiiiiiiiiiiiiiiiiiii~" suara Junior di balik pintu membuatku tersadar. Aku mendorong wajah Arkan yang akan menciumku untuk menjauh, sebelum aku membuka pintu aku dapat mendengar bahwa Arkan bergumam "Sialan, apa yang sudah aku lakukan."
Aku mendapati teman Junior tengah duduk di sofa, bocah kecil tersebut begitu sopan. Saat melihatku dia langsung memberi salam.
"Ina, kah?" tanyaku dan anak perempuan tersebut mengangguk. Bibi Ahn bilang, Ina sudah berada disini dari jam sepuluh siang. Aku kaget sekali, karena katanya orang tua Ina tidak menghubungi sama sekali. Karena sudah mendekati makan malam, terpaksa kami mengantarnya malam-malam. Untung saja Ina hafal dengan alamat rumahnya.
Aku dan Arkan mengantar Ina pulang, rumahnya terlihat sepi sekali. Bahkan lampu tamannya tidak dibiarkan menyala, rumah sebesar ini minim sekali penerangannya.
Aku mengetuk pintu dan yang membuka adalah seorang pria paruh baya, beliau adalah kakeknya Ina. Alamat yang diberikan Ina bukan alamat orang tuanya. Beliau mengajak kami untuk mampir terlebih dahulu, kakek Ina bercerita mengenai ayah dan ibu Ina yang sedang di ambang perceraian. Beliau bilang, sebuah keretakan rumah tangga itu hanya akan membuat anak menjadi korban. Anaklah yang akan jauh lebih tersakiti ketika tahu bahwa ayah dan ibunya tidak bersama. Mereka akan memberontakan ketika remaja nanti.
"Kelak~ kakek do'akan agar rumah tangga kalian selalu baik-baik saja. Terlihat sekali jika kalian sama-sama saling mencintai." katanya membuat aku dan Arkan hanya tersenyum kecut.
__ADS_1
Di perjalanan pulang, tak ada suara apapun kecuali klakson. Aku merenungi apa yang dikatakan oleh kakek, Junior tak pernah tahu jika Arkan adalah ayahnya. Apa mungkin akan berdampak buruk ketika ia besar nanti?.
"Tak perlu dipikirkan, nona kan akan menikah dengan Ipra. Beruntung Junior masih kecil sehingga ia akan menganggap Ipra sebagai ayahnya sampai besar nanti." kata Arkan sembari memutar setir ke arah kiri.
"Ya mungkin memang akan seperti itu. Tapi, aku tidak ingin menyembunyikan apapun pada Junior. Ku pikir Junior berhak tahu bahwa kamu adalah ayahnya."
"Nona, saya sudah sangat senang bisa dekat dengan Junior. Saya tidak mau mengganggu kehidupan nona nanti, jika Junior tahu maka Ipra lah yang akan merasa sakit hati."
"Itu sudah menjadi resikonya Ipra." jawab ku mengalihkan pandangan pada jalanan.
"Sebelum pernikahan, aku akan memberitahu Junior bahwa kamu adalah ayahnya." Arkan mengangguk saja tidak berkomentar apapun.
"Nona?"
"Hm?"
Butuh beberapa menit untuk Arkan bertanya, "Apa nona benar akan menikah dengan Ipra?"
"Jika tidak rela, mengapa tidak mencoba untuk membatalkannya?" tanyaku membuat Arkan terkejut.
"Bagaimana bisa saya berlaku seperti itu, saya tidak memiliki hak untuk itu."
Aku mengangkat alis ketika dia berkata demikian. Aku membuang napas lalu mengubah topik pembicaraan. "Kamu tidak lupa kan dengan ulang tahunku?"
Arkan terdiam.
"Jahat sekali, aku pikir kamu akan memilih aku dibandingkan Lucy." mendadak wajahku menjadi masam ketika mengucapkan nama asistenku itu.
"Maaf."
__ADS_1
"Andai saja malam kemarin kamu tidak pergi berkencan dengan Lucy, ku pikir lamaran itu tidak akan terjadi."
"Nona salah, lamaran tersebut tetap akan terjadi. Ada atau tidak adanya saya, tidak berpengaruh terhadap kejadian itu."
Keningku mengkerut, aku menatap Arkan yang sedang membuka sabuk pengaman. "Jadi kamu sudah tahu sebelumnya bahwa Ipra akan melamar aku?"
"Hm~"
"Apakah itu yang membuat kamu berubah kemarin-kemarin? kamu bilang kamu akan membujukku untuk rujuk, tapi nyatanya apa? kamu sama sekali tidak berjuang untuk hal itu." mendadak suaraku naik.
"Ku pikir nona terlalu ambil hati, sekarang ini saya hanya ingin bekerja tidak ingin apapun."
"BERHENTI MENYAKITI DIRI SENDIRI!" Aku membentaknya, aku membentak Arkan. Dia tampak terkejut.
"Aku tahu kamu sedang membohongi dirimu sendiri, sekarang aku tahu alasan semuanya. Kamu jadikan Lucy untuk pelampiasan karena kamu tahu Ipra akan menikahi aku. Perlu kamu tahu aku menerima Ipra karena terpikir kencanmu dengan Lucy, karenamu aku menerima Ipra. Seandainya kamu ada di perayaan ulang tahunku, sudah ku pastikan lamaran itu tak pernah terjadi." jelaku pada Arkan. Jantungku berdetak cukup kencang, mendadak tubuhku menjadi dingin. Mataku tak henti menatap Arkan.
"Lamarannya bisa juga tidak terjadi walaupun tidak ada aku disana. Kamu bisa menolaknya kan, bukankah menolak itu mudah bagimu? Apa karena disana banyak orang? atau karena kamu kasian pada Ipra? ah~ atau mungkin karena kamu mencintai Ipra maka dari itu ku menerimanya?. Ku beritahu padamu, berhenti membuat keputusan dari emosi. Aku tidak mau kamu menyesal untuk kedua kalinya." Arkan menarik napas lalu melanjutkan perkataannya.
"Aku memang masih sangat mencintai dirimu, aku hanya ingin tahu apa mungkin kamu juga mencintai aku dengan cara jawaban apa yang kamu berikan kepada Ipra~. Dan ternyata kamu menerimanya. Aku tahu kamu menaruh rasa sedikit untuk Ipra tetapi hatimu masih menyimpan aku. Sekarang kamu akan menikah dengan Ipra, ku pikir aku sudah tidak bisa berjuang jika begini." Arkan menarik tanganku lalu menatapku dalam-dalam. Aku mengginggit bibir menahan air mata. "Seperti yang pernah aku katakan dulu, aku akan selalu berada disisimu meskipun sebagai orang lain." Untuk permata kalinya aku melihat Arkan menangis sembari tersenyum, dan itu menyayat hatiku. Pada akhirnya air mataku jatuh juga, Arkan menangkup wajahku lalu mengusap setiap tetesan air mata yang jatuh ke pipi.
"Berhenti menangis, dan lihat aku." tangan Arkan menyentuh daguku lalu membuatku mendongak menatapnya.
"Selamat ulang tahun." katanya dengan senyuman yang sangat luar biasa indah. Tangisku semakin menjadi, aku tak bisa mengontrol emosi jiwaku saat ini. Mengapa aku harus sesembrono ini, aku benar-benar wanita terbodoh yang ada di muka bumi. Aku sadar aku masih mencintai Arkan, bahkan sangat mencintainya. Tapi mengapa aku harus menerima Ipra karena rasa kasihan.
"Apa yang harus aku lakukan~" lirihku menarik-narik rambut. "Aku bodoh~" Arkan menarik kedua tanganku lalu memelukku. Dia menenangkan aku dan berkata,
"Ikuti lah apa kata hatimu."
TBC........
__ADS_1
Pesan apa yang bisa kalian petik dari chapter ini? tidak ada wkwk😂❤.
Btw, aku lagi kepikiran untuk bikin cerita Fanfiction. Kira-kira kalau castnya Kim Taehyung, setuju ga? komen dibawah ya sekalian kasih saran juga untuk genre ya😉.