TIDAK DIINGINKAN

TIDAK DIINGINKAN
IX


__ADS_3

"Laki-laki yang lo sebutin ciri-cirinya itu cukup sulit buat gue cari awalnya. Tapi data kepolisian berhasil nemuin jejaknya, dia pembunuh bayaran yang udah 4 tahun menghilang setelah membunuh seorang perempuan di tangga kereta bawah tanah." Jelas Jo.


"Gue rasa laki-laki itu ada yang nyuruh. Karena ga mungkin kan kalo dia tiba-tiba nusuk lo, terlebih lagi itu jalanan yang sepi dan gelap. Gue yakin itu udah direncanain."


"Menurut lo ada yang dendam sama gue?" Jo ngangguk mengiyakan.


Gue ngeliatin foto laki-laki botak yang udah ngelukain perut gue. Dia terlihat sudah tua, mungkin seumuran sama ayahnya Geya. Jo bilang, laki-laki ini adalah pembunuh bayaran yang jadi buronan sampe sekarang. Dan gue percaya karena pria ini sempat ngomong ke gue buat hati-hati tapi gue ga ngerti harus hati-hati terhadap apa. Selain itu yang bikin gue penasaran adalah siapa yang nyuruh si pembunuh bayaran ini. Gue ga inget kalo gue punya musuh atau pernah bertengkar sama orang, kecuali Geya. Tapi gue yakin istri gue ga mungkin mau gue mati. Kalo di pikir-pikir lagi mungkin sebenernya banyak yang ga suka sama gue karena masalah jabatan dan sebagainya.


Gue minta sama Jo buat dapetin ini orang, sehingga gue bisa tau siapa yang bayar bapak-bapak ini.


"Kalo gitu gue balik dulu, masih banyak kasus yang harus gue selidiki." Jo berpamitan, tidak lama setelah Jo pergi datang dua buah paket yang dianter oleh Ergy.


Gue langsung buka paket yang dikirim oleh ayah. Sebuah foto yang menampakkan gue sama Geya, Geya super cantik banget disini. Dia mirip sama orang Belanda. Gue ngerasa kalo kita cocok banget. Haha.


"Mau gue bantu pasang, nan?"


"Boleh, tolong pasang di atas belakang kursi kerja gue aja." perintah gue.


Setelah itu gue buka kotak satunya lagi, kotaknya cukup besar tapi isinya cuma buku kecil. Gue ambil dan gue buka, mata gue melotot nyaris keluar. Jantung gue berdetak keras banget sampe-sampe gue ga bisa denger bunyi dentingan jam. Cepat-cepat gue lempar kedalam kotak lalu menyimpan kotak tersebut dibawah meja.


Keringat dingin mengalir, tangan gue tiba-tiba rasanya kesemutan. Di kotak itu gaada nama pengirimnya, apa mungkin ini berhubungan sama laki-laki botak itu. Tapi gue rasa, gue udah nyerahin semuanya ke papa. Gue ga nembak perempuan itu dengan sengaja, itu kecelakaan.


"Nan, udah selesai. Gimana? oke kan? orang-orang bakal langsung takjub waktu masuk ruangan kerja lo." gue ngangguk-ngangguk aja lalu menyuruh Ergy untuk segera keluar.


Seseorang lagi ngincar gue dengan cara ngusik masa lalu yang jadi kelemahan gue. Sekitar tiga tahun yang lalu sewaktu gue lagi pergi berlibur ke Amsterdam, gue berusaha buat nyelamatin perempuan yang nyaris di perkosa di sekitar jalanan gang gelap. Gue sempat berkelahi sama laki-laki mabuk itu, tapi dia jadiin si korban sebagai sandraan. Gue yang kebetulan bawa senjata walaupun lagi ga tugas, nodongin pistol itu. Tapi laki-laki itu ga takut melainkan melukai leher si perempuan sampe berdarah dan berteriak, terpaksa gue tembak tapi pinternya seorang penjahat yang bahkan sedang mabuk, dia menggunakan korban sebagai tamengnya.


Peluru gue nyampe tepat di jantungnya. Korban itu langsung di lempar ke jalanan dan dia lari. Gue langsung lari ke deket korban, gue masih inget kalo di mukanya itu ada luka bakar, dia terbata-bata seolah menyebut nama seseorang sampai akhirnya dia meninggal di tempat. Gue syok luar biasa, karena gue yang narik pelatuk dan nembakin peluru. Korban yang tadinya bakal jadi korban pemerkosaan jadi korban tembak karena gue.


Gue udah nyaris lupa sama kejadiaan itu karena papa bilang, itu kecelakaan niat gue menyelamatkan bukan membunuh. Dan seingat gue hanya keluarga gue dan Alifa yang tau kejadiaan ini. Ga mungkin keluarga gue nerror gue kaya gini, dan gue juga percaya sama Alifa.


"Hey~" gue menoleh ke sumber suara. Ada kepala Geya di pintu yang setengah terbuka.


"Kata anak buah kamu, kamu manggil aku. Ada apa?" tanyanya sembari menutup pintu dan duduk di sebelah gue. Si Ergy sialan, bisa-bisanya dia jailin istri gue.


"Kangen." ucap gue memeluk Geya. Dia wangi seperti biasa.


Tangan Geya menepuk-nepuk punggung gue. "Oh~ fotonya udah jadi ya." katanya baru menyadari.

__ADS_1


"Boleh ga kita pasang juga dirumah?" tanyanya melepas pelukan. Gue ngangguk membolehkan.


"Kamu kenapa? Ada masalah?"


"Kelihatan ya?"


Geya ngangguk lalu menyandarkan kepalanya ke pundak gue. "Ada apa? Apa masalahnya serius?"


"Engga kok, ga ada apa-apa." bohong gue. Gue gabisa cerita sama siapa-siapa lagi soal ini, bukan gue ga percaya sama Geya. Tapi ini cerita jelek dan gue ga mau dia tau.


"Aku memang belum lama sama kamu, tapi aku udah bisa menyadari kalo ada sesuatu yang ganggu pikiran kamu. Jangan bohong, cerita aja." gue tersenyum saat Geya mengatakan itu. Seberapa jauh dia merhatiin gue? seberapa tahu dia tentang gue?.


"Beneran kok, ga ada apa-apa."


Geya menatap gue dengan cemberut, "Kamu ga percaya sama aku ya, makanya ga mau cerita. Ya udah gapapa deh, lagian kita kan pasangan yang ga ada per.." Gue langsung mencium Geya, sebelum dia mengatakan kata-kata yang udah ga mau gue denger lagi.


"Jangan pernah bilang kaya gitu lagi, kamu menang Geya. Aku udah jatuh ke kamu, malam kemarin yang kita lakukan itu bentuk cinta aku sama kamu. Kamu masih ga percaya sama aku? Mau kita lakuin disini? Kayanya sih kedap suara. AW!" Geya mukul kepala gue pake tangannya.


"Kok mukanya merah? pasti lagi mikirin mau pake gaya apa ya kalo disini."


"Ih kamu ini! bisa ga sih gausah bahas-bahas itu disiniiiiii!" Kesalnya mencubit perut gue.


Awalnya gue pikir Geya hanya akan menjadi beban bagi kehidupan gue nanti. Dia udah menghancurkan rencana hidup gue yang nyaris sempurna, keluarganya yang miskin akan mempermalukan gue sebagai Letnan Kolonel saat pertemuan. Gue selalu memikirkan martabat sampai akhirnya gue tahu bahwa gue kekurangan rasa bersyukur. Dan Geya lah yang membuat gue bisa bersyukur, bersyukur mendapatkannya.


"Kamu ga lagi main-main sama aku kan?" tanyanya menunduk. Gue sentuh dagunya lalu menggerakannya kepalanya keatas untuk menatap mata gue. Gue menelan ludah, "Aku mau punya anak dan hidup bahagia sama kamu." Gue mendaratkan bibir ke bibirnya Geya. Lipstiknya yang manis selalu bikin gue pengen terus menjilatnya.


Impian gue sekarang cuma satu, selalu bersama-sama.


ooOoo


Aku menutup kedua mataku ketika Arkan menciumku. Aku benar-benar merasa dicintai olehnya. "Arkan, aku sayang sama kamu." Batinku, mengerluarkan air mata bahagia.


.


.


Tim produksi film mengalami masalah internal. Bos perusahaan kami tidak setuju kami melakukan documentery, dia meminta kami untuk menghentikan proyek film ini. Lalu ada masalah antar orang tua akademi yang beberapa waktu lalu anaknya mengalami usus buntu, orang tuanya tetap ingin anaknya melanjutkan akademi sementara akademi sudah selesai dan hanya akan dibuka tahun tahun berikutnya lagi.

__ADS_1


Ipra menyodorkan ku sebotol air minum. Ia menggunakan pakaian serba cokelat. Katanya hari ini akan ada acara perayaan atas naik pangkatnya salah satu tentara. Ipra bertanya padaku apakah mau ikut atau tidak.


"Apa Arkan juga di undang?" tanyaku sembari meminum minuman.


"Kayanya Arkan bakal pergi sama Alifa, kamu pergi sama aku gimana?" aku bergeming.


"Nanti aku jemput ya." Ipra langsung pergi begitu saja.


Tapi rupanya Arkan menjemputku ke mess, dia juga sempat memarahi Dinar karena sudah merusak tembok mess dengan stiker.


Arkan menggunakan pakaian yang sama dengan Ipra hanya pangkatnya yang berbeda dan juga Arkan lebih tinggi dari Ipra. Aku pikir perayaannya akan jauh tapi ternyata kami cukup berjalan kaki saja. Di pinggir Komp rupanya ada sebuah lahan serba guna sehingga jika ada acara mereka akan mengadakannya disini. Banyak sekali lampu-lampu tumblr berkerlap-kerlip, aku berjalan di belakang Arkan. Sesekali Arkan menoleh.


"Selamat atas naik pangkatnya, anda." Arkan memberi selamat pada lelaki yang sudah berumur.


"Terimakasih, terimakasih. Letnan Kolonel ini masih menjadi yang termuda bersama Letnan Ipra. Pertahankan itu. Lalu siapa perempuan yang anda bawa?"


Arkan menarik tanganku lalu memperkenalkan aku kepada rekan-rekannya.


"Ini istri saya, Geya." aku tersenyum pada mereka.


"Cantik sekali, apakah seorang dokter?"


"Tidak, Geya seorang jurnalistik." mereka tampak terkejut mendengar jawaban Arkan.


"Ya, aku rasa tentara memang tidak melulu harus menikah dengan dokter."


"Ya itu benar, terlebih cantik seperti ini. Siapa yang tidak mau?" mereka tertawa seolah itu lelucon yang lucu.


Arkan melarangku untuk meminum anggur, dia memilih untuk pergi membeli air putih. Aku menunggunya sembari menikmati beberapa camilan yang di sediakan. Sesekali aku juga dapat mendengar apa yang dibicarakan oleh sekumpulan ibu-ibu.


"Aku dengar, Dr. Alifa akan bercerai dengan suaminya karena Letkol Arkan."


tbc..


Mohon maaf jika banyak sekali typo😢🙏


__ADS_1


(Pakaian menghadiri acara perayaan naik pangkat.)


__ADS_2