TIDAK DIINGINKAN

TIDAK DIINGINKAN
II


__ADS_3

"Aku Alifa."


Aku tercengang setengah mati ketika perempuan ini mengaku sebagai Alifa. Wajahnya memang mirip dengan foto dikamar Arkan, hanya rambutnya saja yang berbeda. Aku tersenyum lalu memperkenalkan diri juga padanya.


"Okey cukup. Ayo kita makan malam, sudah telat karena harus menunggu tuan putri." Kata ibu menyindirku. Diam-diam aku melihat jam di handphone, menunjukkan 18:38. Apa aku benar-benar terlambat?.


Kami menyantap makanan sembari mengobrol walau sebenarnya tidak boleh.


"Gimana pekerjaan mu sebagai dokter baru, apakah menyenangkan Al?" Tanyaa ibu pada Alifa.


"Cukup sulit ternyata terjun kelapangan langsung, tapi aku benar-benar menikmatinya kok bu." jawabnya dengan sangat baik.


"Alifa kan wanita yang hebatmu." rasanya seperti ditampar ketika aku mendengar ucapan bangga Arkan untuk mantannya.


"Ibu denger menantu ibu yang bekerja sebagai dokter ini berhasil melakukan operasi ya. Ya Tuhan ibu benar-benar bangga sekali padamu Juan."


"Semuanya di lancarkan karena Tuhan, bu."


"Hah~ kamu ini selalu merendah seperti itu, itu kan berkat kamu kuliah kedokteran. Terus gimana dengan suster Layla, sudah mulai prakter di rumah sakit?"


Aku menyantap makanan sembari mendengarkan ibu yang membanggakan menantunya yang bekerja di rumah sakit. Sesekali aku melihat ke arah Arkan, wajahnya terlihat kecewa karena dia menikahi aku yang tidak kuliah. Bahkan tidak mewarisi bisnis besar apapun. Tidak ada yang bisa dibanggakan dariku. Aku merasa bersalah padanya.


"Bagaimana dengan Geya? Papa denger kamu ditawari kontrak sebagai jurnalis, apa itu beneran Geya?" Papa bertanya padaku.


"Iya, Geya di tawari untuk menjadi seorang jurnalis. Tapi Geya masih menimbang-nimbang karena Geya belum cukup banyak menguasai industri hiburan, terlebih Geya tidak kuliah." jelasku tersenyum kecut.


"Papa rasa kamu itu memang memiliki kemampuan otodidak, bahkan untuk orang yang sudah pergi kuliah pun tetap akan merasakan kesulitan bekerja. Kamu harus terima kontrak itu, iya kan Arkan?"


Aku langsung menoleh pada Arkan, dia mengangguk saja tanpa mengatakan apapun. Bahkan sekalipun papa menyanjungku, itu tidak berarti apapun untuknya.


Aku membantu bibi membereskan meja makan. "Udah non biar bibi aja, ini kan pekerjaannya bibi."


"Gapapa kok bi, lagian aku ga biasa kumpul keluarga terlebih kami berbeda."


"Sabar ya non." Aku tersenyum lalu mulai mencuci piring.


"Geya, kamu beruntung tau kamu bisa melakukan apa yang kamu mau." Aku menoleh ke sumber suara, dia adalah kakaknya Arkan.


"Maksud kak Arya?" tanyaku tidak mengerti.

__ADS_1


"Kamu bisa mengejar cita-cita kamu tanpa beban sebagai seorang jurnalis. Sementara aku, aku harus mengikuti garis keturunan sebagai prajurit. Seengganya kamu bisa mengikuti apa yang kamu mau dan sukai." Dia tersenyum padaku lalu diwaktu yang bersamaan dadaku berdetak dengan kencang, perasaan ini tidak wajar sekali.


"Ekhem~" Aku dan Kak Arya cepat-cepat melepas pandangan.


"Ayo pulang." Arkan mengajakku untuk segera bergegas. Ku bereskan dengan cepat lalu berpamitan pada papa dan ibu.


"Kamu ga pulang sama aku?" tanyaku saat Arkan menyuruhku masuk kedalam taxi.


"Aku harus anterin Alifa." katanya mendorongku masuk kedalam mobil. Rasanya, aku benar-benar hanya sebuah debu yang bisa ia tepis kapanpun.


Arkan tak pulang malam itu, bahkan dia tidak mengirimiku pesan apapun. Aku ketiduran di sofa sampai rasanya kakiku kebas untuk kedua kalinya. Sebegitu tidak pentingnya aku untuk Arkan. Dia sama sekali tidak pernah menganggapku sebagai orang yang dia kenal. Aku tidak terlalu menginginkan dirinya sebagi suami, tapi setidaknya anggap aku sebagai seseorang yang dia kenal. Bukan seperti ini. Dia lebih memilih menjemput dan mengantarkan Alifa dibandingkan aku yang sudah berstatus sebagai istrinya. Dia menyangjung Alifa tanpa merasa bersalah padaku. Dia tidak pernah mau menyentuh makanan yang kusiapkan untuknya. Setidaknya, anggap saja aku ini ada itu sangat cukup bagiku.


Aku membersihkan diri lalu mencoba mengecilkan mata yang sedikit sembab. Aku segera bergegas pergi menemui Dinar setelah dia mengirimi ku pesan.


"Okey, sekarang kita adalah rekan kerja jadi ga perlu bicara formal okey. Yuk, kita survei." katanya dengan aksen logat yang lucu.


Dia menutupi lengan bertatonya dengan jaket denim. Dinar lebih cocok menjadi seorang model dari pada jurnalis. "Disinilah kita, berbaur dengan keringat para lelaki kekar. Huh, menggairahkan sekali." gumamnya membuatku tertawa.


"Akhirnya lo dateng juga, lama banget sih." katanya berhambur pada kami.


"Ah, ini Geya. Bagian fotografer, anak baru." Dinar memperkenalkanku pada yang lainnya. Mereka semua ramah sekali, aku rasa aku akan cepat berbaur.


Pertama-tama kami diberi penjelasan oleh ketua, dibagian mana saja kami akan melakukan shoot. Dan tentunya selama membuat documentery film, kami tidak diperbolehkan pulang. Aku rasa aku harus memberitahu Arkan mengenai ini.


Aku dan Dinar bersamaan menuju mess putri, kami berkenalan lalu mereka menyarankan kami untuk tidur dibagian kasur bawah, tapi aku dan Dinar memilih di kasur atas. Aku berpamitan untuk mencoba kamera. Disini cukup ramai, beberapa dari mereka sedang melakukan latihan, terlebih lagi ada anak-anak akedemi yang baru masuk. Aku mengambil beberapa gambar, karena cuacanya panas alhasil hasil fotonya jadi sangat begitu kasar. Aku mencoba mengontrol kecerahan dan sebagainya lalu mulai memotret lagi.


Namun tiba-tiba saja seseorang menegurku.


"Anda dilarang mengambil foto bagian akademi." katanya, namun aku mendapatkan angle foto yang bagus. Sialnya kameraku diambil begitu saja, dan aku lupa mengalungkannya ke leher. Aku hendak menggerutu namun tidak jadi.


"Arkan?!" kataku tidak percaya.


Arkan memutar bola matanya lalu menghebuskan napas dengan keras.


"Ngapain disini?" tanyanya ketus.


"Kerja, memangnya apalagi. Balikin kamera aku." Namun Arkan tidak memberikannya.


"Kamu ngikutin aku kan?"

__ADS_1


Aku mengkerutkan dahi, "Seriusan aku lagi kerja, balikin! biar aku bisa kasihin hasil foto aku ke ketua."


Arkan masih tidak mau mengembalikannya, justru dia memijat-mijat kameraku. "Kamu bisa foto yang lain, asal ga foto bagian akademi." katanya melenggang pergi.


"Balikin dulu kameranya!." Aku berteriak dan aku tidak tahu jika suaraku akan menggema seantariksa. Keadaan jadi cukup hening, ketua melihatku lalu melotot begitupun dengan Arkan. Dia terdiam menatapku tidak percaya.


Lalu semuanya kembali kesemula.


"Gila, siapa ini suara teriakannya narik perhatian banget." segerombolan laki-laki datang mendekatiku dan Arkan.


Arkan menutupi wajahnya, dan aku bisa melihat dari celah jari-jari dia melotot padaku.


"Oh~ ini kan istrinya Letkol Arkan."


"Wah~ jadi, tadi itu kalian lagi bertengkar ya?"


"Pertengkaran dari pengantin baru mah udah biasa."


"Kok lo ga bilang sama gue sih kalo istri lo cantik kaya begini. Gue mah pasti udah betah diem dirumah."


"Ah terserah lo semua aja deh." Arkan meninggalkanku dengan teman-temannya.


Mereka menanyai namaku, umurku, mengapa bisa disini, mengapa mau menikah dengan Arkan, lalu mereka juga bertanya mengenai apa Arkan hebat di malam pertama. Ya Tuhan aku tidak tahan lagi dengan mereka semua. Dan tiba-tiba saja Arkan kembali lalu menarik tanganku keluar dari lingkaran para bawahannya.


"Jadi yang papa bilang itu bener?" aku mengangguk.


"Kamu bakal tinggal disini?"


"Ya~ kalo kamu ngizinin, kalo engga, aku bakal pulang pergi aja." kataku hati-hati.


"Kenapa harus minta izin sih, itu kan terserah kamu." dan akhirnya aku tidak bisa berkata apapun selain merasa memang begitu tidak pentingnya diriku. Bagiku sebuah izinnya itu penting, tapi sepertinya itu tidak berlaku untuknya.


"Lain kali jangan pake pakaian kaya gini, disini itu cowo semua. Kalo kamu di apa-apain nanti papa bisa marah sama aku." Arkan memberiku sebuah celana trening, apa dia menyuruhku untuk memakai ini?.


"Pake itu, terus kita pulang buat ambil beberapa barang dirumah." rasanya aku dibuat plin-plan oleh Arkan. Terkadang dia membuat hatiku sakit tapi dia memulihkannya lagi dengan cepat.


"Dan satu lagi, turunin rambut kamu."


"Kenapa? pertama kamu udah rusak fashion aku, sekarang kamu mau rusak rambut aku?" tanyaku tidak suka.

__ADS_1


"Yaudah gausah." jawabnya lebih tidak suka.



__ADS_2