TIDAK DIINGINKAN

TIDAK DIINGINKAN
Chapter 23


__ADS_3

Aku menutup pintu mobil sembari menggenggam seikat bunga untuk Geya. Tetapi sebelum pergi menemuinya, aku mengecek ponsel terlebih dahulu. Sekretaris Nam mengirimiku pesan yang berisikan informasi mengenai pemilik perusahaan saingan.


"Urusan kerjaan nanti dulu ah, sekarang Geya dulu." gumamku mematikan ponsel agar tidak ada yang mengganggu.


Geya tengah terduduk di sofa dengan segelas minuman penghangat tubuh. Aku langsung berhambur padanya. "Kangen." kataku manja.


"Apasih~ sana ah." Geya mendorong tubuhku untuk tidak menempel padanya.


"Aku bawa bunga buat kamu, romantiskan." ku simpan bunga itu di paha Geya.


"Kamu kesambet apaan sih, tiba-tiba kaya begini." Geya keheranan, dia menghirup aroma bunganya.


"Aku kan pengen kamu seneng, salah satunya ini."


Geya memicingkan matanya, "Pasti ada sesuatu nih." dia negatif thinking, aku menyeringai. "Biar kamu mau diajak nikah sama aku." tiba-tiba saja kedua tangan Geya sudah ada di pipiku. Dia mencubitnya dengan gemas.


"Sabar dong. Kita kan harus mulai lagi dari awal." katanya dengan wajah yang begitu cantik di hadapanku. Dan aku tidak bisa menahan untuk tidak menerkamnya.


Ku cium bibirnya sembari mendorong Geya berbaring di sofa. "Kamu lagi godain aku ya?" tanyaku diatas tubuhnya.


"Dih~ engga ya. Emang kapan aku godain kamu, gak pernah tuh." Geya membela diri.


Tanganku naik ke kepalanya lalu mengusap-usap pelan rambut Geya. "Besok masa cuti kamu berakhir ya?"


Geya mengangguk. "Jadi gimana? udah di putuskan untuk berhenti kontrak?"


"Aku sih inginnya begitu, tapi bagaimana dengan makan dan tagihan-tagihan yang lainnya. Usia Junior sudah mau 4 tahun, dia sudah akan masuk sekolah dini." jelasnya kebingungan.


"Kenapa harus bingung sih, kamu kan punya calon suami yang kaya raya. Lagian aku kan udah pernah bilang dari dulu, kamu itu ga perlu kerja. Cukup jadi ibu rumah tangga aja. Biar aku yang kerja, biar aku yang nafkahin kalian."


"Arkan sayang~ kamu itu masih calon belum jadi suami aku. Gak enak dong."

__ADS_1


"Ya kalau gitu ayo kita menikah. Sebetulnya jika kita tidak menikah juga sudah tetap jadi tanggung jawab aku untuk menafkahi kamu dan Junior. Kamu gak perlu sungkan seperti itu." aku mencoba membuat Geya mengerti. Namun, dia itu keras kepala sekali. Dia bersikeras tidak ingin merepotkan aku.


"Apa perlu aku perkosa dulu, biar kamu hamil dan menikah sama aku?"


"Gila kamu!." Geya menggerutu sembari memukul dadaku. Aku terkekeh saja melihat ekpresi kesal Geya.


Aku itu terkadang heran, mengapa Geya harus begitu cantik ketika di malam hari. Cantiknya nambah jika malam-malam begini. Ku cium lagi bibirnya, kali ini Geya tampak tenang saja seperti tak memiliki beban apapun ketika aku menciumnya.


Selesai bermesraan, Geya menggerutu karena katanya pengap.


Dia membicarakan permasalahan baru yang tidak aku ketahui. Geya menyembunyikan sesuatu yang sedikit membuatku kaget. Katanya beberapa waktu yang lalu, dia bertemu dengan Rio. Rio seperti tengah memperhatikannya namun Geya juga tidak bisa memastikan hal itu. Karena Rio berada didalam sebuah mobil, dan juga ada seorang perempuan yang keluar dari agensi lalu masuk kedalam mobil yang ditumpangi oleh Rio.


"Perempuannya cantik juga tinggi. Sepertinya dia juga seorang model." tambah Geya. Aku mengangguk-angguk saja lalu meminta Geya untuk selalu waspada dan hati-hati ketika sedang sendirian.


Karena sepertinya mulai sekarang aku tidak bisa terus-terusan mengawal Geya, mengingat aku harus mulai fokus pada perusahaan. Disisi lain, aku juga harus mengurus ibu yang sedang mencoba menjodohkan aku. Bagaimanapun juga, aku harus segera menikah dengan Geya. Agar beberapa masalah terselesaikan, aku tidak mau Geya sakit hati lagi. Setidaknya jika dia sudah menjadi milikku, aku sedikit bisa mengendalikannya agar tidak berbuat ceroboh.


Pertama-tama aku pergi mengunjungi ayahnya Geya. Mengobrol untuk mendapatkan restu, tak lupa menjelaskan apa yang sudah terjadi dengan Ipra, aku dan Geya. Ayah tidak melarangku untuk kembali menikahi Geya, karena katanya itu semua keputusan Geya, ayah ikut saja. Jika dilihat-lihat juga ayah sudah tidak mau ambil pusing, dia fokus pada masa tuanya. Berkebun adalah caranya untuk menghilangkan stres, sesekali pergi berjalan kaki ke makan istrinya. Ayah begitu setia pada ibu Geya.


Kedua, aku mengajak Geya makan malam bersama dengan mama dan papa. Kali ini mereka menyambut Geya dengan riang hati, bangga juga rindu. Mama memeluk Geya cukup lama, beliau juga mengkhawatirkan Geya ketika penculikan beberapa waktu yang lalu. Tak lupa dengan Junior, papa bersikeras ingin menggedong cucu pertamanya itu sampai-sampai pinggangnya terasa sakit karena memaksakan diri. Kami semua tertawa melihat kejadian lucu ini. Aku tidak pernah merasa sebahagia ini dan sepertinya Geya juga. Terlihat sekali dari wajahnya bahwa dia sangat-sangat senang dengan keadaan harmonis ini.


Mengingat kedua kakakku yang sibuk dengan karirnya, mereka belum mendapatkan momongan sampai sekarang. Dua pasangan itu terlalu egois, sudah jarang sekali berkunjung menemui papa dan mama. Mentang-mentang aku menjadi duda, mereka menitipkan orang tuanya pada adik bungsunya ini.


"Jadi kapan nih papa punya cucuk kedua?" pertanyaan papa membuat Geya tersedak. Aku tersenyum kecil sembari memberinya segelas air.


"Mami bilang, mami mau buat kakek. Tapi mami belum beli bahan-bahannya." Junior semakin lancar berbicaranya.


"Beli bahan-bahan?" papa mengulangi kalimat akhir. Geya menyunggingkan giginya malu.


"Istilah pa. Papa ini suka pura-pura gak ngerti." kata mama membuat Geya tersipu malu.


Pada akhirnya mama lebih setuju aku untuk kembali dengan Geya. Mama ini memang perlu dibujuk sembari membawa orangnya. Bahkan sekarang ini dua wanita terhebatku tengah mengobrol riang, membicarakan produk make up. Mama juga sedikit menggoda Geya untuk menjadi model dari produknya, tetapi Geya tidak bisa setuju begitu saja. Itu perlu dibicarakan dengan managernya.

__ADS_1


Sementara mereka tengah mengobrol bagaikan ibu-ibu sosialita. Aku menggendong Junior, agar tertidur. Mendadak bocah ini manja sekali ini digendong sampai terlelap. Sebelum tidur Junior sempat berbisik, dan kalimatnya itu membuat aku meluncur sampai keluar angkasa. "Junior sayang papi, selamat malam." katanya masih terngiang-ngiang sampai sekarang.


Ternyata memang benar, bahagia itu sangatlah sederhana. Sumber bahagiaku hanyalah Geya dan Junior, aku benar-benar tidak bisa hidup tanpa keduanya.


Tbc......


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk mampir ke naskah yang lainnya ya.



7 Years I love you - adalah kisah cintanya Junior dan Nila.


Teman bahagia - sebuah fanfiction BTS.


Taehyung Ice Daddy - Chat Story


Vivid Dream - End Story ( 2 chapter)


Menikah Muda - Proses


Kita yang tidak saling mengenal - proses



Untuk sementara Author fokus pada naskah tidak diinginkan ya.


Barang kali ada yang ingin berteman dengan Author di sosial media lainnya, bisa dm untuk saling follow yak Love 😉❤.


Insta : Megarianaa_

__ADS_1


Twt : @ditelanrasa


__ADS_2