
πΌ Happy Reading π
...
Bersamaan dengan Alex yang mengganti kaca ajaibnya ke mode normal.
Marissa melepaskan kacamata dan mengurai rambutnya. Tak lupa dia mengunci pintunya.
Dia merapikan bajunya yang sedikit basah. Dan mengeringkan rambutnya dengan tissue. Yang tadi dia bilas karena tumaphan air teh. Setelah dia rasa cukup kering. Marissa kembali mengepang rambutnya dan kembali memakai kacamata hitamnya.
"fiuhhh hari pertama sudah kena bully.." gumam Marissa.
"siapa sih itu nenek lampir!!" gerutu Marissa. Lalu mengambil ponselnya.
"Kak.. cari tau siapa yang tadi tumpahin air teh ke bajuku" chat Marissa ke Maria.
"Baik Nona.." dengan cepat Maria membalasnya.
Tok tok tok...
Suara pintu Marissa di ketok seseorang.
Marissa bergegas mengecek kembali penampilannya. Merasa sudah ok. Dia membuka pintu.
"Ya Pak Tommy?" sapa Marissa.
Tommy kaget melihat pakaian Marissa basah di bagian bahu kirinya.
"Baju kamu kenapa basah begini ??" tanya Tommy.
"ahh ini tadi ada sedikit kecelakan di kantin Pak" Marissa sedikit berbohong karena merasa tidak perlu menjelaskan ke Tommy.
"ahh iya bener juga..kok gw bisa lupa" gumam Tommy dalam hati mengingat kejadian di kantin.
"Waduhhh gimana dong. Kita ada meeting jam 2..tidak mungkin dong kamu pakai baju yang basah gitu?" seru Tommy.
"Jadi gimana Pak?" tanya Marissa balik yang ikutan bingung.
"yah gak tau. kamu cari akal biar bisa kering dengan cepat!" seru Tommy.
"Baik Pak.."pasrah Marissa.
Tinggg..
Tiba - tiba pintu lift terbuka.
"permisi pak.. ini pesanan Tuan Alexavier" ujar salah satu staff wanita yang bernama Melissa.
"Ahh iya..sini biar aku yang berikan ke Tuan Alex.." ucap Tommy dan mengambil paper bag dari tangan Melissa.
"saya permisi pak" pamit Melissa.
"ok.. thank you Melissa " balas Tommy sambil mengedipkan mata ke Melissa.
Ternyata di dalam ruangan Alex kembali mengaktifkan kaca ajaibnya. Dan melihat percakapan Tommy dan Marissa.
Alex segera menelpon salah satu staff bagian fashion apparel untuk dibawakan satu set pakaian untuk sekretarisnya.
*flashback 10 menit yang lalu*
"Iya Tuan Alexavier" jawab seorang wanita di seberang.
"Bawakan satu set pakaian untuk sekretaris saya" titah Alex.
"Baik Tuan, mohon maaf Tuan. Ukurannya ?" tanya staff tersebut dengan sopan.
"hmmm mungkin Small saja" seru Alex sambil melihat Marissa dari balik kaca.
"Baik Tuan. Segera saya siapkan"
Staff wanita yang berada di bagian fashion itu menyiapkan satu set pakaian sekretaris yang menurutnya sangat cantik.
Dengan segera dia mengantarkannya ke Lantai 18.
__ADS_1
*flashback off*
"Ok.. Marissa kamu siapkan dokumen untuk meeting siang ini" ujar Tommy sambil menyerahkan map biru ke Marissa.
"Baik Pak Tommy.." jawab Marissa dan kembali ke ruangannya.
"Tuan Alex.. ada titipan dari Melissa bagian Fashion Apparel" Seru Tommy ke Alex yang sedang asik mengetik.
"ahh.. taruh saja di atas meja." jawabnya santai.
"Baik Tuan.. sebentar kita ada meeting dengan Klien dari Indonesia" ujar Tommy.
"ok Tom.."
Tommy pun keluar dan kembali masuk ke dalam ruangannya untuk menyiapkan bahan materi persentasi untuk meeting siang ini.
bip bip bip
Bunyi intercom Marissa.
"Iya Tuan Alex ?" Sapa Marissa
"Masuk ke ruangan saya" titah Alex.
"Baik Tuan"
Tok tok tok
"masuk"
Marissa pun membuka pintu dan masuk ke ruangan Alex.
"iya Tuan Alex ?"
"ambil paper bag disana dan ganti pakaian kamu" seru Alex.
"Kenapa harus ganti pakaian Tuan?" tanya Marissa bingung.
"Kamu mau pakai baju yang basah itu?" ujar Alex.
"Ganti! Kita ada meeting siang ini. Klien ini merupakan tamu penting." ujar Alex.
"Baik Tuan"
Tak bisa menolak. Mau tidak mau Marissa berjalan mengambil paperbag dari atas meja Alex. Karena alasan Alex masuk akal, tidak mungkin dia menerima tamu dengan keadaan seperti ini.
"Pakai ruangan disitu untuk berganti.." seru Alex sambil menunjuk ke salah satu pintu.
"Baik Tuan.." Marissa berjalan ke pintu tersebut. Dan membukanya. Ternyata ini adalah ruang istirahat Alex.
Marissa pun mengunci pintu. Lalu mengambil pakaian yang ada dalam paperbag tersebut.
"astagaaaa!!" shock Marissa melihat pakaian tersebut.
"hmmm cantikkk. Tapi...ini bukan gaya Marissa. Habislah aku..!" Gumam Marissa.
Mau komplain tidak mungkin kan. Bisa - bisa dia ngeluarin tanduk si Bos.
"fiuhhh.." akhirnya Marissa mengganti pakaiannya.
Dia melihat dirinya di cermin.
"hmmm semoga baik - baik saja." gumamnya. Lalu keluar dari ruangan.
"Tuan Alex..terimakasih " seru Marissa. Dan berjalan ke arah Alex.
Alex tertegun melihat penampilan Marissa. Dia merasa keadaan sekarang seperti Dejavu. Dimana jantungnya berdegup begitu kencang melihat seorang wanita.
Baju kemeja brokat putih dan rok selutut warna biru emerald begitu pas dipakai Marissa.
Kulit putih Marissa bercahaya dengan pantulan sinar matahari yang masuk dari balik kaca.
__ADS_1
"Tuan ??" tegur Marissa karena Alex hanya diam menatapnya.
"Ahh.. iyah.. bersiaplah ! sepuluh menit lagi kita ke ruang meeting" seru Alex menutup kegugupannya.
"Baik Tuan.. saya permisi" Marissa berjalan keluar dan kembali ke ruangannya untuk menyiapkan dokumen-dokumen yang tadi dia kerjakan.
Kini Alex, Tommy dan Marissa berada di meeting room.
Pertemuan dengan Klien dari Indonesia berjalan lancar.
Marissa tak pernah membuat kesalahan sedikitpun. Walaupun ini adalah hari pertamanya bekerja. Itu membuatnya mendapatkan pujian dari salah satu tamu tersebut.
"Mr Alex.. you have a wonderful secretary (Tuan Alex, kamu memiliki sekretaris yang luar biasa)!" Seru Reza.
"Thank you Mr. Reza!" balas Alex.
Alex hanya melihat bagaimana dengan mudah nya Marissa berbaur dengan Tamu-tamunya.
Membuatnya lumayan kagum.
*****
Suasana di Apartment Audie...
Kini Vivian dan James tampak sibuk dengan segala keperluan Audie sebelum mereka kembali ke Rotherham.
James tidak mau sedikit pun ada kesalahan dengan Audie.
James telah menganggap Audie seperti putri kandungnya.
Tiga belas tahun hidup bersama Vivian dan Audie membuat James begitu bahagia.
Dengan identitas baru yang di buat oleh James untuk Vivian dan Audie atas permintaan terakhir Sydney. Membuat Vivian dan Audie bisa hidup dengan tenang dan damai.
Namun, Sekarang sudah waktunya Audie mengambil hak miliknya.
Selama tiga belas tahun ini. James menyelidiki kasus kematian sahabatnya Sydney dan mengawasi gerak - gerik David.
Kini James telah mengumpulkan banyak bukti untuk menjerat mereka semua ke jeruji besi.
Dan sekarang adalah waktu Audie untuk membereskan mereka satu per satu secara perlahan.
"James.."
"hmm sayang?" jawab James.
"apakah Audie akan baik-baik saja?" ujar Vivian khawatir yang akan meninggalkan Audie disini.
"tenang saja sayang..Ada Maria, Ferdinand, Lily, ada aku yang selalu menjaganya, dan jangan kamu lupakan.. Alex.." jawab James.
"hmmm benar.. ada Alex.." ujar Vivian dan tersenyum.
"kenapa kamu tidak bilang ke Audie tentang Alex, James ?"
"hmmmm.. iseng..hahahhaha" gurau James.
"ckckckc kamuu.."
James berjalan ke arah Vivian dan mengecup lembut bi birnya. Dan berkata..
"Tenang saja sayang, mereka telah terikat sejak kecil...hmmm.. biarkan Alex menyadarinya sendiri... " ucap James dan kembali me lu mat bi bir sang kekasih hatinya.
Vivian hanya tersenyum dan mengangguk perlahan.
.
.
.
Gemoyyy banget sihhh Uncle James dan Mommy Vivian π₯Ίπ₯°
Jangan Lupa Klik Tombol Like dan tinggalkan jejak di kolom komentarr please π₯Ίπ
__ADS_1
Biar Mama semangat update hehehhe..
Jangan lupa Klik favorit ya.. β€