
Ting!
Ponsel Oxanna berdering. Di layar tertera nama Aarav, tanpa berpikir lagi. Oxanna langsung menekan tombol warna hijau, dan mengangkat telepon tersebut.
"Pulanglah sekarang!"
Terdengar suara bariton Aarav dari ponsel milik Oxanna. Membuat wanita yang berprofesi dokter itu nampak sangat kaget.
"Dokter Oxanna, apa kamu mendengar suaraku? Cepatlah, pulang! Hari sudah semakin sore, tak baik jika kau masih saja berada di luar rumah." Aarav berkata dengan emosi.
"Iya, Sir. Sebentar lagi, kami akan segera pulang!" balas Oxanna. Tanpa basa-basi, langsung memutuskan sambungan telepon dari Aarav.
Menyadari jika Aarav yang menelpon Oxanna. Bergegas dia menghampiri dokter itu, dan mengajaknya agar segera meninggalkan acara amal tersebut.
"Wait, Morevo. Kita memang akan pulang sekarang! Tapi paling tidak, sebagai tamu undangan yang baik. Aku harus berpamitan lebih dulu, pada istri para pejabat." jelasnya sambil berlalu, menuju kerumunan orang-orang yang sedang melakukan kebaikan.
Sembari menunggu Oxanna selesai. Lantas Morevo bergegas menuju arah parkiran mobil. Sebenarnya ada perasaan tak nyaman, jika harus bergabung dengan para pejabat seperti ini.
"Apa sudah selesai, Dokter Oxanna?" tanya Morevo.
Oxanna mendaratkan tubuhnya di jok bagian depan. "Iya. Kita bisa pulang sekarang. Jangan sampai Tuan Aarav marah, karena kita pulang terlambat!" ketusnya.
Dalam perjalanan, mereka berdua hanya sibuk dengan pikirannya masing-masing. Tak ada perbincangan atau bersenda gurau. Semua terlihat kaku, terlebih Morevo sedang fokus menyetir.
***
"Kita sudah sampai!"
Suara Morevo membangunkan Oxanna, yang sempat tertidur di mobil. Oxanna mengerjapkan kedua netranya, sebab merasa ngantuk saat di perjalanan. Namun sesaat, dirinya sadar jika harus turun dari mobil.
"Thank you, Morevo." lirihnya pelan hampir tak terdengar.
Setibanya di mansion, Oxanna bergegas masuk ke dalam. Di sana, dia melihat para pelayan sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Tanpa sengaja, Oxanna melihat kepala pelayan sedang menyiapkan makan malam di mansion. Tiba-tiba terbesit sebuah ide dalam benaknya. Untuk mencari lebih tahu, tentang sifat Aarav sebenarnya.
"Apa boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Oxanna mendekati kepala pelayan tersebut.
"Maaf, ada apa, Nyonya? Apa ada yang bisa saya bantu?" jawabnya sambil menundukkan kepala.
__ADS_1
"Apa kamu sudah lama bekerja dengan keluarga Skalov? Hmm, saya hanya ingin tahu saja. Bagaimana sifat Tuan Aarav pada kalian?" pancing Oxanna.
Kepala pelayan terdiam, dia berusaha berpikir tentang pertanyaan yang dilontarkan Oxanna barusan. "Tuan Aarav sangat baik, Nyonya. Hanya saja beliau sedikit," ucapan Kepala Pelayan terbata-bata.
"Hanya saja, Tuan Aarav sedikit pemarah dan tegas, Nyonya," lanjutnya.
Oxanna menyunggingkan senyuman liciknya. Dia sudah menduga, jika Aarav memang terlihat sangat arogan dan pemarah. Terlebih lagi, tersiar kabar jika pewaris dari keluarga Skalov itu juga pemalas.
Setelah puas bertanya-tanya tentang Aarav. Lantas dia bergegas ke kamar dan berniat untuk beristirahat sejenak.
***
"Tuan Morevo, saya sudah mendapatkan alamat Kadiocy."
Jordan, orang kepercayaan Morevo. Memberikan informasi akurat, tentang di mana keberadaan Kadiocy.
"Baik. Segera kirimkan alamat lewat pesan. Saya akan pergi ke sana," sahutnya melalui sambungan telepon.
Morevo bergegas menuju rumah sakit. Dia berniat untuk mengabarkan hal ini pada Aarav. Jelas saja, jika keturunan Skalov itu pasti akan bersemangat. Apalagi jika mendengar, bahwa alamat persembunyian Kadiocy sudah berhasil diketahui.
"Apa kamu yakin, Morevo?" tanya Aarav dengan wajah terkejut.
"Saya sangat yakin, Sir."
Aarav tetap bertekad untuk pergi ke sana. Dengan ditemani Morevo, mereka lantas bergegas menuju organisasi yang berada di pinggiran kota.
Meskipun mendadak, tapi Aarav tidak ingin salah langkah dalam mengambil keputusan. Dia berniat menyerang tempat tersebut, dan membuat anak buah Kadiocy menyerah.
"Sir, lihat di sana? Pasti itu salah satu anak buah Kadiocy," ucap Morevo lantang.
Aarav melihat tempat yang ditunjuk oleh Morevo. Terlihat di sana, ada satu orang yang sedang berjaga. Tanpa banyak bicara, keduanya langsung menyerang anak buah Kadiocy.
Bugh! Bugh! Bugh!
Pukulan demi pukulan, dilayangkan Aarav dan Morevo ke arah Marqueel. Orang kepercayaan Kadiocy, atau lebih tepatnya asisten.
"Cepat katakan! Dimana Kadiocy berada?" teriak Aarav sambil mencekal kerah baju Marqueel.
"Lepaskan aku! Apa kalian sedang berusaha menyandera diriku, hah? Cuihhh," tantang Marqueel dengan meludah ke arah Aarav.
__ADS_1
"Sialan! Dasar bedebah! Cepat katakan atau akan aku habisa kau," ancamnya. Sedetik kemudian, Aarav mengeluarkan sebilah belati. Dan mengarahkan benda itu, tepat di bagian leher Marqueel.
Sementara itu, Morevo mengedarkan pandangannya ke segala arah. Dia menelisik, dimana keberadaan Kadiocy saat ini.
Sebab tidak mungkin, jika Kadiocy tak berada di tempat itu. Sedangkan asistennya sendiri, Marqueel berada di lokasi yang sama.
"Sir, percuma jika kita bertanya pada dia. Lebih baik, kita mencari sendiri saja. Saya rasa, Kadiocy pun sudah tahu keberadaan kita di sini," usul Morevo.
Aarav menyetujui apa yang dikatakan oleh Morevo. Dengan menyeret Marqueel yang penuh dengan luka, di sekujur tubuh. Mereka lantas memancing Kadiocy, agar segera keluar dari tempat persembunyiannya.
"Hei, Kadiocy. Lihatlah asistenmu ini! Dia sudah hampir sekarat. Apa kau tak merasa kasihan dengan nasibnya?" ancam Aarav menarik tangan Marqueel. Agar merintih kesakitan.
"Sir, lebih baik ancam dengan senjata ini saja."
Morevo memberikan senapan ke arah Aarav. Supaya dia menembak peluru ke berbagai sudut tempat.
Dor! Dor!
"Apa kamu masih tidak mau keluar dari persembunyianmu? Dasar bedebah ulung! Rupanya hanya berani di belakang saja. Lihatlah! Aku Aarav, keturunan dari keluarga Skalov berada di sini. Apa kau tidak mau menyambutku? Haha," tawa Aarav terdengar menggema di tempat tersebut.
Dia merasa puas, saat menyadari jika Kadiocy tidak berani menampakkan batang hidungnya saat ini.
Beberapa peluru, sudah berhasil ditembakkan ke berbagai sudut ruangan yang ada di sana. Aarav terlihat bersemangat, untuk menghabisi nyawa Kadiocy.
Meskipun dia tahu, rasanya tak akan puas. Jika belum melihat secara langsung, dimana mayat Kadiocy. Apakah benar jika Kadiocy terkena tembakan pelurunya?
***
Di sisi lain, Kadiocy mengintip dari celah ruangan. Kini badannya gemetar, karena melihat amarah Aarav yang memuncak.
"Sial! Sungguh benar-benar sial! Mengapa mereka bisa tahu tempat ini?" Kadiocy mengumpat.
Sebenarnya dia tak habis pikir, dari mana Aarav dan Morevo tahu alamat tersebut. Padahal seingat Kadiocy, dirinya sudah memilih tempat strategis dan susah untuk di datangi.
Tiba-tiba,
Dor! Dor!
Salah satu peluru Aarav, berhasil mengenai tepat di kaki Kadiocy. Dengan langkah tergesa-gesa, dia berusaha untuk melarikan diri dari tempat tersebut.
__ADS_1
Kadiocy bergegas pergi. Meskipun dalam keadaan kaki yang terluka, karena kena tembakan. Dia sama sekali, tak menghiraukan hal itu. Yang terpenting saat ini, dirinya harus bisa menyelamatkan diri dari amukan Aarav.
"Awas saja kau, Aarav. Cepat atau lambat, aku pasti bisa membunuhmu!" ucapnya dengan suara bergetar, menahan rasa sakit di kaki.