TUAN MUDA MANJA DARI MILAN

TUAN MUDA MANJA DARI MILAN
Menyembunyikan


__ADS_3

Oxanna langsung menghapus riwayat panggilan Jordan agar suaminya tidak tahu bahwa Jordan menghubunginya. Saat Aarav kembali, dia menatap Oxanna dengan curiga.


“Ada apa? Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?” Tanya Aarav.


“Tidak ada. Aku hanya bermain game saja dengan ponselmu. Lihatlah, ponselku mati,” ujar Oxanna sembari menunjukkan ponselnya yang sengaja dimatikan.


Aarav tak menanyakan lagi. Dia membiarkan Oxanna bermain ponselnya. Itu dilakukan Aarav agar Oxanna tidak mengatakan hal yang lain dan tidak meminta hal yang lain juga. Pria itu terlalu lelah karena membahas meeting dengan kliennya tadi.


Aarav mengajak Oxanna ke hotel untuk beristirahat.


“Oxanna, ayo kita kembali ke hotel. Aku sangat lelah,” ujar Aarav. Tanpa penolakan, Oxanna mengiyakan ajakan suaminya. Dia juga sudah lelah. Besok, wanita itu memiliki rencana agar bisa menguasai ponsel Aarav.


Setidaknya, Oxanna tidak ingin Aarav tahu soal kondisi Morevo dari Jordan.


***


Di kamar hotel, Oxanna tiba-tiba mengajak Aarav bermain catur. Dia ingin meminta imbalan jika nantinya Aarav kalah.


“Aarav, aku sangat bosan di kamar. Bagaimana jika kita bermain catur?” tanya Oxanna.


“Catur? Kau ingin bermain catur? Yakin bisa mengalahkanku?” tanya Aarav.


Oxanna tersenyum miring.


“Jika aku bisa mengalahkanmu, apa yang akan kau berikan untukku?” tanya Oxanna.


“Apapun yang kau inginkan akan aku kabulkan,” ucap Aarav. Pria itu sangat yakin bahwa tidak ada satu orang pun yang bisa mengalahkannya. Termasuk Oxanna.


Permainan pun dimulai. Oxanna awalnya berpura-pura mengalah, tetapi hanya sebentar. Setelahnya, dia menyerang Aarav dengan membabi buta. Pria itu terkejut saat mendapati Oxanna bisa memainkan catur dengan lihai.


“Dari mana wanita ini bisa bermain catur dengan begitu pandai?” tanya Aarav dalam hati.


Oxanna tersenyum. Dia sangat tahu bahwa ekspresi suaminya menunjukkan bahwa dia sepertinya terheran-heran.


“Aku harus bisa mengalahkanmu, Aarav. Ini salah satu cara agar kau bisa jauh dari ponselmu,” ujar Oxanna.


Permainan selesai dan dimenangkan oleh Oxanna. Aarav cukup takjub karena memang baru pertama kali ada yang bisa mengalahkannya.


“Baiklah, sesuai janjiku tadi, apapun yang kau inginkan akan kupatuhi. Cepat, sebutkan apa yang kau inginkan,” ujar Aarav.

__ADS_1


Oxanna tersenyum penuh kemenangan. Dia pun menyebutkan apa keinginannya.


“Aku ingin besok kita jalan-jalan ke Menara Eiffel, Disneyland Paris, dan Museum Louvee. Serta, aku akan menyita ponselmu selama kita berada si Paris,” ujar Oxanna.


Aarav sedikit terkejut dengan permintaan istrinya.


“Hah? Jika ingin berjalan-jalan, aku mungkin bisa menurutimu. Namun, kenapa kau ingin menyita ponselku? Apa harus seperti itu? Bagaimana jika ada sesuatu hal yang penting nanti? Apa tidak keterlaluan?” tanya Aarav membabi buta.


Oxanna cemberut. Dia pun menagih janji suaminya.


“Bukankah tadi kau katakan bahwa akan menuruti keinginanku? Aku menginginkan itu semua, Aarav. Alasanku menyita ponselmu karna ingin kau fokus denganku. Aku ingin mengenalmu lebih jauh lagi,” ujar Oxanna.


Aarav terdiam sejenak. Dia ingin menolak permintaan Oxanna.


Namun, pria itu tidak mungkin menolak permintaan Oxanna. Ini pertama kalinya wanita itu melakukan permintaan secara khusus seperti itu. Terlebih, ini adalah janji dia pada istrinya. Mau tak mau, dia menuruti keinginan Oxanna.


“Baiklah, aku akan menuruti keinginanmu. Tapi, dengan catatan jika nanti aku ingin menghubungi Morevo atau Jordan atau siapa pun, kau harus memberikan ponselku,” ujar Aarav.


Oxanna setuju. Dia hanya perlu mencari cara agar nantinya Aarav tidak menghubungi orang-orangnya. Oxanna ingin Aarav tidak mengetahui tentang keadaan Morevo.


***


“Halo, Maria, apa kau sibuk?” tanya Oxanna.


“Tidak, kenapa?” tanya Maria.


“Ada yang harus kau lakukan Maria, kumohon berpura-puralah menjadi istri Morevo. Aku mendapat kabar dari Jordan, anak buahnya Aarav bahwa Morevo diserang dan saat ini sedang kritis. Penyerangan itu adalah rencanaku. Aku ingin kau mengawasi Morevo dari dekat dan memberitahuku perkembangan pria itu. Jadi, tolong lakukan permintaanku,” ujar Oxanna panjang lebar.


“Jadi, kau ingin aku berpura-pura menjadi istri Morevo agar bisa melihat kondisinya secara langsung?” tanya Maria.


“Tepat sekali. Aku ingin kau melakukan itu. Bagaimana? Apa kau bisa melakukannya? Kurasa, Jordan tidak akan mengetahui bahwa kau bukan istrinya Morevo,” ucap Oxanna.


“Baiklah, aku setuju. Ya sudah, aku akan mengabarimu nanti soal keadaan Morevo,” ujar Maria.


Setelah meminta Maria melakukan tugasnya, Oxanna langsung mematikan ponselnya dan menghapus riwayat panggilan.


***


Keesokan harinya, Oxanna mengajak Aarav untuk ke Menara Eiffel dan tempat lain yang disebutkan wanita itu sebelumnya.

__ADS_1


“Aarav, ayolah kita pergi. Dan satu lagi, ke marikan ponselmu. Aku tak ingin kau melanggar janji,” ujar Oxanna.


“Hem ... sebentar Oxanna, aku ingin menghubungi Morevo dulu. Setelahnya, baru aku memberikan ponsel ini padamu,” ujar Aarav.


Oxanna bertingkah dan marah pada Aarav. Dia lalu berusaha mengalihkan Aarav dari pikiran untuk menghubungi Morevo.


“Aarav, apakah sebegitu penting berbicara dengan Morevo? Aku hanya ingin jalan-jalan bersamamu keliling Paris. Kenapa kau malah menolaknya? Lagian, kau sudah janji kemarin. Laki-laki sejati adalah dia yang menepati janjinya. Kenapa kau tak menepati janji yang kau buat?” tanya Oxanna penuh emosi.


AArav mengusap wajahnya kasar. Dia memang sudah berjanji pada Oxanna. Mau tak mau, pria itu memberikan ponselnya pada Oxanna.


“Ya, aku tahu sudah berjanji padamu. Nanti saja mungkin aku menghubungi Morevo. Kita bisa pergi dulu keliling Paris,” ujar Aarav..


OXanna merebut ponsel suaminya dan tersenyum penuh kemenangan.


***


Keduanya pun berjalan ke menara Eiffel. Oxanna sangat antusias dan sepanjang perjalanan menggandeng Aarav ke manapun dia pergi. Aarav merasa sedikit aneh, tetapi kemudian membiarkan Oxanna melakukan hal tersebut.


“Kau kenapa, Oxanna? Tidak seperti biasanya kau bertingkah seperti ini,” ujar Aarav.


“Tidak apa-apa, Aarav. Apa aku tidak boleh mendekati suamiku atau menggandengnya?” tanya Oxanna.


“Boleh-boleh saja. Namun, sangat aneh rasanya. Ya sudahlah, setelah ke menara Eiffel, kau mau ke mana lagi?” tanya Aarav.


“Ke museum,” ucap Oxanna.


***


Di rumah sakit, Maria melakukan aksinya. Dia berpura-pura cemas saat mendapati kabar bahwa Morevo masuk rumah sakit.


“Aku ... aku istri Morevo. Bagaimana keadaan suamiku?” tanya Maria pada Jordan.


Jordan sempat mengernyitkan dahinya. Dia tidak pernah tahu bahwa Morevo sudah menikah, tetapi Jordan membiarkan Maria masuk.


“Dia ... dia sedang kritis. Hanya boleh satu orang saja yang merawatnya di dalam. Apa kau benar-benar istrinya?” tanya Jordan.


Maria gelagapan. Namun, dia kemudian berubah marah.


“Apa aku harus menunjukkan bukti bahwa Morevo adalah suamiku? Baiklah, aku akan buktikan bahwa dia adalah suamiku.” Maria menunjukkan sebuah foto pernikahan dia dan Morevo yang sebenarnya hanya editan.

__ADS_1


Jordan langsung percaya dengan foto tersebut dan membiarkan Maria masuk. Di dalam ruang rawat inap Morevo, terlihat seorang pria sedang terbaring tak berdaya. Morevo benar-benar sekarat saat ini.


__ADS_2