
“Aku ingin sekali membunuhnya kali ini! Siapkan mobilku, aku akan segera ke sana untuk mematahkan batang lehernya!” ujar Aarav, membuat Oxanna gemetar mendengarnya.
Bulir keringat pada kening Oxanna terjun bebas, saking gemetarnya ia mendengar ucapan Aarav yang terdengar tidak memiliki pri kemanusiaan. Padahal, Oxanna hanya melakukan akting, dan tidak menganggap semuanya nyata. Namun, reaksi Aarav sungguh mengejutkan. Ia sendiri sampai gemetar mendengarnya.
“Emm … apa kau yakin akan mematahkan batang lehernya?” tanya Oxanna, Aarav memandangnya dengan sinis.
“Kau ini bicara apa? Selain batang leher, aku juga akan memberikan kenangan pada sesuatu miliknya, agar tidak bisa menghasilkan anak dan keturunan lagi! Aku jamin, semuanya akan terjadi padanya! Bajingan yang tidak tahu diuntung!” ujar Aarav geram, sontak membuat Oxanna semakin mendelik saja mendengarnya.
Tak sengaja Oxanna menelan salivanya, karena merasa sangat takut dengan ucapan Aarav. Ia tidak menyangka, aktingnya kali ini sangat berhasil, sehingga membuat Aarav menjadi sangat agresif seperti itu.
__ADS_1
Namun, Oxanna tidak bisa membiarkan Aarav melakukan hal itu. Ia hanya ingin melihat reaksi Aarav, ketika ia mengatakan hal seperti itu di hadapannya.
“Ucapanmu menakutiku, Aarav. Aku benar-benar takut sekarang!” ujar Oxanna, yang malah berputar-putar pada keadaan ini, membuat Aarav menjadi bingung jadinya.
“Kau kenapa? Aku tidak menakutimu. Aku hanya ingin membalas semua yang pria itu lakukan padamu. Si bajingan itu, layak mendapatkan apa yang akan aku lakukan padanya!” geram Aarav, membuat Oxanna semakin takut saja.
“Jangan lakukan itu, Aarav. Aku tidak ingin kau melakukan sesuatu yang buruk pada adikmu sendiri.” Oxanna berkilah, ia harus bisa membuat situasi menjadi aman kembali seperti semula.
Tak disangka, ucapannya malah membuat Aarav naik pitam. Kalau sudah seperti ini, ia bahkan tidak bisa melakukan apa pun. Ia hanya bisa diam, sembari menunggu keajaiban datang untuk mereka.
__ADS_1
“Cepat, siapkan mobilku!” suruh Aarav yang benar-benar tidak mengerti kesehatannya sendiri.
Oxanna menghela napas pajang, “Kau tidak tahu keadaanmu sekarang? Lukamu saja belum pulih, kau sudah melakukan hal yang di luar nalar. Kau ini manusia, atau robot?” tanyanya sinis, membuat Aarav memandangnya dengan sinis pula.
“Kau adalah istriku, aku tidak akan membiarkan siapa pun melakukan apa pun padamu! Tak terkecuali adikku sendiri.”
Perkataan Aarav membuat Oxanna cemas. Ia tidak mengerti, akan jadi seperti apa mereka nanti, dengan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi sama sekali dengan dirinya dan juga Juan.
Sekali lagi, Oxanna berusaha untuk menahan Aarav senatural mungkin. Ia tidak ingin sampai Aarav benar-benar melakukannya, karena hal itu pastinya akan memperkeruh keadaan.
__ADS_1
“Emm … setidaknya kau pulihkan lebih dulu keadaanmu. Kau boleh melakukan apa pun yang kau inginkan, asalkan kau mampu. Aku tidak menjamin, di luar sana musuhmu akan bertindak apa padamu, ketika tubuhmu lemah seperti ini. Aku tidak yakin.” Oxanna masih berkilah, berusaha untuk menahan dan mengulur waktu agar Aarav tidak melakukan hal bodoh.
Mereka terdiam sejenak, dengan Aarav yang berusaha untuk berpikir keras dengan keadaan ini. Namun, rasa emosinya masih lebih besar daripada rasa lemasnya, membuatnya semakin bertekad lebih kuat untuk melakukan apa pun pada Juan.