TUAN MUDA MANJA DARI MILAN

TUAN MUDA MANJA DARI MILAN
Acting sempurna


__ADS_3

"Sial, Aarav benar-benar membuatku bagaikan orang bodoh." Oxanna bergumam emosi ketika pria itu baru saja keluar dari kamar rawat inap setelah seenaknya menghina masa lalu dia yang sensitif.


Sudah beberapa hari berlalu setelah Aarav menekankan jika dia merupakan seorang tawanan yang harus patuh kepada tuannya. Sampai hari ini, sekitar tiga hari, Oxanna dibuat makan hati karena ucapan pria itu yang menyebalkan.


Oxanna sudah bisa berjalan sedikit-sedikit, dia saat ini telah berdiri dan ingin menuju ke kamar mandi sendirian pun harus mengurungkan niat ketika seseorang mengetuk pintu kamar rawat inap miliknya lalu membuka dari luar. Dia sedikit waspada karena takut jika itu adalah Aarav lagi.


Ternyata adalah Maria!


"Hei, kau masih hidup?" Oxanna menyapa dengan sinis. Sebab, Maria baru memunculkan batang hidungnya saat ini padahal dia telah meminta Morevo untuk mengirim wanita itu agar dia ada teman mengobrol.


Maria terkekeh pelan tapi dia menaruh jari telunjuk di depan bibir. Memberi isyarat, salahnya, Oxanna tidak peka akan hal itu.


"Ada apa, *****? Kau sariawan?" tanya Oxanna tak paham dengan kode itu.


Maria memutar kedua bola matanya malas lalu mendekati Oxanna dan menyentil pelan dahinya. Kemudian, dia mengeluarkan ponsel dan mengetikkan sesuatu di sana. Setelah itu, baru lah dia menunjukkan kepada wanita di hadapannya ini.


"Aku membawa penyadap dari Morevo," kata Maria yang tertulis di ponsel. "Jadi, tutup mulut brengsekmu itu, *****!"


Oxanna baru paham! Dia ber o panjang tanpa suara dengan ekspresi mengejek.


"Eh, *****. Bantu aku ke kamar mandi, mau pipis," ujar Oxanna kemudian sambil mengangguk pelan. Selain dia benar-benar ingin ke toilet, dia harus mengatakan sesuatu kepada Maria.


"Iya, *****!" Maria menaruh tasnya di pojok ruangan, lebih tepatnya dekat pintu supaya jauh dari jangkauan mereka. Lalu, dia membantu Oxanna berjalan menuju kamar mandi.


"Di sini ada?" Maria berbisik pelan.


Oxanna menggeleng. Kemudian, dia fokus untuk membuang air kecil. "Ah, lega!"


"Cih," decak Maria kesal tapi tak urung juga membantu Oxanna.


"Apa yang terjadi?" tanyanya lagi.


Oxanna menghela napas pendek. "Aarav membuat jebakan, aku terperangkap. Itu tidak penting! Mengapa kau tidak mengabari aku jika Morevo telah memiliki ingatannya? Hubungan kalian bagaimana?!" tanyanya mengubah topik pembicaraan.


Sebelah alis Maria terangkat. "Apa katamu? Aku dan Morevo tidak memiliki masalah, kami hidup dengan normal dan bercinta dengan panas."

__ADS_1


"****," umpat Oxanna keceplosan ketika mendengar kalimat terakhir Maria.


Maria tertawa pelan. "Iya, sungguh. Morevo minum obat darimu dengan lancar, dia masih menganggap aku sebagai istrinya. Justru itu aku ingin bertanya padamu, mengapa kau bertanya mengenai Morevo?"


Oxanna menggeleng pelan, dia tengah berpikir sesuatu. "Apakah masih berpura-pura lupa ingatan merupakan salah satu siasat mereka supaya kita masuk ke dalam jebakan?" tanyanya membagikan pemikiran.


Maria menatapnya dengan terkejut. "Benarkah? Tapi, dia masih menciumku—."


Kalimat Maria terhenti sebab Oxanna menutup mulutnya dengan cepat.


"Stt, aku mendengar seseorang berada di dalam kamar," bisik Oxanna kemudian. Maria menelan ludah kasar lalu mengangguk kuat.


Oxanna mendengar langkah kaki mendekat ke arah kamar mandi. Dia melepaskan bekapan Maria lalu mengangguk pelan.


Maria merangkul lengan Oxanna dan mereka berjalan menuju pintu. Bertepatan dengan dia ingin membukanya, seseorang telah menarik pintu dari luar.


"Kau?" Benar saja, di hadapan mereka ada Aarav yang mencari keberadaan Oxanna.


Oxanna langsung acting. "Haruskah aku menikah dengan Maria? Yang sigap membantu ke toilet, memakai pakaian, dan juga makan!" ketusnya menyindir.


"Hei, hei. Mengapa aku berada di tengah situasi pasangan suami istri seperti ini?" Maria mengangkat tangannya ke udara.


"Hm. Ada apa kau kembali lagi? Bukankah ada rapat yang sangat penting di perusahaan, huh?" tanya Oxanna kesal kepada Aarav.


Aarav berpikir sesaat sebelum menjawab, "Ya. Maria, jangan kau pergi dari ruangan ini sebelum kami datang."


Kami?


Pertanyaan itu muncul di benak Oxanna dan juga Maria. Ketika mereka ingin bertanya apa maksud, Aarav langsung meninggalkan kamar rawat inap tersebut.


"Apa yang terjadi?" Maria dan Oxanna saling pandang lalu mengedikkan bahu tak mengerti.


"Oke, tak perlu memikirkan itu." Maria mengajak Oxanna kembali masuk ke dalam kamar mandi, tetapi sebelum itu dia menyetel musik sekencang mungkin dari televisi supaya penyadapan Morevo tak berhasil.


Setelah sampai di dalam kamar mandi, keduanya bergegas menyusun rencana agar bisa mengelabuhi Aarav dan juga Morevo.

__ADS_1


***


Hari ke-5, Oxanna sudah diperbolehkan pulang. Luka operasinya telah kering dan dia sudah bisa berjalan lancar. Kali ini, dia pulang bersama dengan Aarav walaupun didampingi oleh Maria serta Morevo, ah juga Juan.


Oxanna duduk di kursi roda dan Aarav mendorongnya. Mengapa dia mengeluarkan tenaga susah payah? Sebab, di lobby rumah sakit sudah dipenuhi oleh seluruh reporter yang menginginkan berita terpanas dari pewaris utama Skalov Holding Company.


"Tersenyum maka aku akan mengabulkan satu permintaanmu," bisik Aarav sesaat sebelum pintu lift terbuka.


Namun, ketika pintu terbuka, Oxanna tidak bisa untuk memikirkan ekspresi di depan kamera karena flash berkedip-kedip begitu cepat membuatnya memejamkan mata sambil menundukkan kepala.


Aarav paham itu lantas menutupi wajah sang istri dengan kedua tangan. "Tolong matikan flash Anda, istriku tidak nyaman," katanya memerintah tapi tetap sopan.


Para reporter di sana pun mengerti dan menuruti keinginan Aarav lalu kembali mengabadikan momen tanpa menganggu kenyamanan Oxanna.


Aarav tersenyum, dia mengusap kepala Oxanna pelan. "Sayang, sudah, tidak apa-apa," katanya begitu lembut.


Oxanna perlahan-lahan mengangkat kepalanya. Dia berdehem sambil melirik Aarav singkat.


"Nyonya Skalov, apa yang terjadi pada Anda? Benarkah jika ada ******* yang menculik dan mencelakai Anda?!" tanya salah satu reporter.


*******?! Pertanyaan ini membuat Oxanna menoleh ke arah Aarav yang kini tersenyum penuh arti.


"Nyonya Skalov tolong beri pertanyaan," sahut yang lainnya.


Oxanna tidak menjawab karena bingung harus mengatakan apa. Aarav langsung mengambil alih, "Kami akan merilis pernyataan menyusul. Saat ini, aku ingin Oxanna sembuh dulu dan tidak memikirkan apapun."


Siapapun tidak akan menduga-duga apa yang akan dilakukan oleh Aarav. Karena pria itu tiba-tiba mengecup kening Oxanna lama lalu membawanya pergi dari reporter yang kian menggila karena kejadian itu.


"Kau gila?! Psikopat tak punya hati," rutuk Oxanna menggeram emosi sambil berbisik dan mencubit lengan Aarav yang kini tertawa puas.


Sebelum masuk mobil, Aarav kembali berbuat hal gila. Jika tadi dia mengecup kening Oxanna, kini dia mencuri satu kecupan hangat di bibir sang istri dan baru lah mereka pergi dari sana.


"Arghh!! Psikopat pencari perhatian," teriak Oxanna sedikit menahan salah tingkah. Bahkan pipinya tengah memerah.


Aarav meraih tangan Oxanna dan berkata, "Sudah? Hanya di depan kamera, harus terbiasa."

__ADS_1


__ADS_2