
Sejak peristiwa itu, hubungan antara Aarav dan Oxanna semakin lama semakin merenggang. Aarav tidak suka dengan sikap Oxanna yang terlihat semakin membangkang kepadanya, sementara Oxanna sejak peristiwa pencekikkan yang dilakukan oleh Aarav semakin membuat dirinya merasa ketakutan.
Jika berada di dalam satu ruangan yang mengharuskan dia hanya berdua saja dengan Aarav, maka Oxanna lebih memilih untuk menjauh atau pergi dari ruangan itu demi mengurangi resiko berdekatan dengan Aarav.
Setiap kali berpapasan atau berada satu ruangan dengan Oxanna, pria itu selalu dengan sengaja menatap tajam manik milik Oxanna untuk mengintimidasi perempuan itu.
Hal tersebut berlangsung selama beberapa bulan lamanya, hingga pada suatu hari para ilmuwan di Skalov Holding Company berhasil menemukan sebuah obat berupa pil yang digadang- gadang bisa membunuh makhluk hidup hanya dalam dua detik saja. Kardiocy yang mengetahui itu pun gegas menelepon Oxanna.
"Halo," sapa Oxanna saat mengangkat panggilan suara yang masuk ke dalam telepon genggamnya. Dia tidak melihat siapa yang meneleponnya.
"Halo, Oxanna. Kau ingat siapa aku bukan?" Terdengar suara berat seorang lelaki di seberang, mengejutkan Oxanna.
"Kau?! Darimana kau bisa tahu nomor teleponku!" Oxanna berseru kaget, suaranya sengaja ditahan supaya tidak terlalu keras dan menimbulkan kecurigaan bagi yang lainnya.
Lelaki di seberang saluran teleponnya tertawa terbahak- bahak mendengar pertanyaan Oxanna yang dia nilai sangat konyol dan sebenarnya tidak perlu lagi dipertanyakan.
Oxanna bergidik ngeri mendengar tawa lelaki lawan bicaranya. Tawa itu terdengar begitu licik dan mengancam. Oxanna ingin segera mengakhiri pembicaraannya dengan pria itu karena dia sudah tahu kemana arah pembicaraan laki- laki itu nantinya.
__ADS_1
"Kau tidak perlu tahu darimana aku mendapatkan nomor teleponmu, Sayang. Seorang perempuan terkenal sepertimu, tentu sangat mudah mendapatkan berbagai informasi mengenai dirimu." Pria itu kembali tertawa setelah mengatakan hal tersebut.
"Katakan apa mau?!" Oxanna membentak lawan bicaranya. "Katakan, Kardiocy!"
Pria yang dipanggil dengan nama Kardiocy itu pun semakin mengeraskan suara tawanya. Dia tahu jika Oxanna mulai merasa ketakutan dan sedikt terintimidasi.
"Kau sungguh- sungguh merasa ingin tahu apa yang aku mau darimu, Cantik?" tanya Kardiocy, karena tidak mendapatkan jawaban dari Oxanna, pria itu pun kembali melanjutkan perkataannya. "Apakah kau sudah mengetahui berita terbaru dan terpanas dari Skalov Holding Company?"
Oxanna seketika itu langsung terdiam begitu saja. Dia tidak berniat dan tidak berminat menjawab pertanyaan yang tadi diajukan oleh Kardiocy mengenai berita terbaru dari perusahaan keluaraga Skalov.
Oxanna menggeleng, dia benar- benar tidak ingin berurusan lagi dengan pria bernama Kardiocy itu. Dia sudah membuat keputusan untuk menjauh dari laki- laki itu.
Kardiocy masih menunggu jawaban dari Oxanna dengan sabar. Lelaki yang menjadi ketua sebuah organisasi itu terus bersabar, tetapi lama kelamaan kebisuan Oxanna rupanya membuat kesabarannya semakin lama semakin menipis. Kardiocy beberapa kali batuk- batuk sebagai kode bagi Oxanna agar segera menjawab pertanyaannya tadi.
Karena merasa sangat kesal dengan Kardiocy, Oxanna pun mendengus kasar setiap kali mendengar lelaki berusia paruh baya itu kembali memberi kode kepadanya.
"Sudahlah, Kardiocy. Katakan saja apa keinginanmu, tidak usah berbelit- belit lagi. Aku sudah muak dengan caramu yang seperti ini," sentak Oxanna.
__ADS_1
"Well, baiklah. Aku yakin kau sudah mengetahui berita terbaru dari Skalov Holding Company yang telah berhasil membuat sebuah obat yang mampu membunuh makhluk hidup dalam waktu hanya dua detik saja. Aku ingin kau membunuh Aarav dengan pil itu."
Oxanna tersentak mendengar perintah dari Kardiocy, seketika wanita itu teringat dengan rencananya enam bulan lalu dimana dia menginginkan kematian Aarav dan meminta bantuan pada Kardiocy untuk menghabisi Aarav.
Wanita mengusap wajahnya kasar, dia tidak menyangka keinginannya itu akan terus diingat dan dimanfaatkan oleh organisasi milik Kardiocy yang memang membenci dan menginginkan kematian Aarav, suaminya.
Oxanna mendengar embusan napas Kardiocy dari corong telepon selularnya, dia tahu jika pria itu tidak akan pernah berhenti mengejarnya demi mewujudkan kematian Aarav.
"Bagaimana, Oxanna? Kau tidak akan menolak tugas itu, bukan? Bukankah kau mempunyai rasa dendam kepadanya karena telah menyebabkan kematian kedua orang tuamu?" desak Kardiocy.
"Tidak, aku tidak mau, Kardiocy. Rasa dendam itu telah hilang dari diriku saat ini, aku sudah tidak menginginkan kematian Aarav lagi," sanggah Oxanna.
"Well, well, well. Bagaimana bisa? Sebuah rasa dendam hilang lenyap begitu saja tanpa bekas? Apa yang sudah Aarav lakukan kepada dirimu, Cantik, sehingga rasa dendam dan sakit hatimu bisa hilang begitu saja," sindir Kardiocy.
Oxanna hanya diam tidak menjawab, hal itu rupanya membawa satu peluang bagi Kardiocy untuk menekan Oxanna supaya mau mengikuti perintahnya.
"Bagiamana, Oxanna? Kau patuhi perintahku membunuh Aarav dengan tanganmu sendiri atau kukirim seseorang untuk membunuhnya!
__ADS_1