TUAN MUDA MANJA DARI MILAN

TUAN MUDA MANJA DARI MILAN
Bab 30


__ADS_3

Siapa yang harus Oxanna temui kecuali Juan? Dia memanfaatkan kesibukan Aarav di perusahaan demi menemui adik iparnya tengah melakukan tugas di rumah sakit sebagai pemagang.


"Aku harus bergerak cepat sebelum Aarav mengetahui keberadaanku saat ini," gumam Oxanna sedikit khawatir. Walaupun begitu, dia telah meminta izin kepada sang suami yang mengatakan ingin menjenguk pasiennya dulu. Entah, apakah Aarav benar-benar akan mengawasi dia di sana atau tidak.


Saat ini, Oxanna telah sampai di rumah sakit Skalov. Tanpa bertanya di mana Juan saat ini berada, dia menuju ruang kerja dokter magang atau intern di lantai 2. Tentu saja dia diikuti oleh bodyguardnya Aarav.


Sesampainya di ruangan tersebut, Oxanna memanggil Juan agar mereka berbincang sebentar di luar. Setelah meminta izin kepada senior, ah, lebih tepatnya dia memaksa kenalannya yang bertanggung jawab atas bangsal tersebut dan membawa Juan pergi menuju salah satu ruang pasien yang miliknya supaya bodyguard tidak curiga lalu mengadu kepada Aarav.


"Apa yang terjadi?" tanya Oxanna pelan dengan fokus membaca file resume di komputer.


Juan itu membaca itu. "Mr. Davidson telah tiada, Aarav sangat ingin bertemu dengan Kadiocy karena tujuan pria itu yang belum jelas diketahui. Aarav tak akan membunuhnya, mungkin membuat sekarat saja karena masih banyak hal yang ingin Aarav tanyakan mengenai kau, organisasi, serta masa lalu."


"Tapi aku mendengar jika Aarav akan menghabisi Kadiocy esok malam," balas Oxanna seakan-akan tak percaya dengan pernyataan Juan.


Juan menoleh ke arah Oxanna. "Really? Aarav tidak akan membunuh orang semudah itu. Dia bahkan menyiksa binatang lebih dulu sebelum mematikannya."


Oxanna menelan ludah gugup. "Apakah benar? Tapi, aku benar-benar takut jika Kadiocy dihabisi dan membongkar tujuan awal kami. Aku tidak tahu harus berbuat apa jika sendirian," katanya pelan.


Juan tersenyum tipis, "Ada yang bisa kubantu?" tanyanya lembut.


Mereka saling pandang. Sampai Oxanna lebih dulu lah yang memalingkan wajah dengan salah tingkah. "He'em. Kau tolong selamatkan Kadiocy ditempat paling aman. Aku ingin menemui pria itu."


Juan mengangguk. "Oke. Malam nanti, aku akan mengabari posisi terkini Kadiocy."


Kemudian, Oxanna membiarkan Juan pergi dari hadapannya dengan sopan. Salam dokter junior kepada sang senior.


"Aku hanya harus menunggu dengan sabar," gumam Oxanna sebelum pergi dari hadapannya.


***


Sudah hampir dini hari. Tetapi, Oxanna belum mendapatkan kabar apapun dari Juan yang kini berada di kamarnya sendiri. Dia tentu ingin berlari ke tempat pria itu, tapi terhalang bodyguard di setiap sudut depan kamarnya padahal Aarav berada di lantai 1, yang mana ruang kerjanya berada bersama Morevo.

__ADS_1


Ah, sudah lama Oxanna tidak menanyakan kabar Morevo dari Maria. Dia sedikit terkejut melihat kehadiran pria itu.


Oxanna mengambil gulungan kertas berisi informasi peta dan keluarganya lalu memasukkan ke dalam tas ransel. Saat ini, dia sudah berpakaian layaknya ninja sejak Aarav memutuskan untuk tidur di ruang kerja. Memakai celana dan baju hitam, tak lupa Oxanna memakai jaket kulit, topi, masker kain tebal, kacamata, juga sarung tangan yang serba black.


Setelah semua peralatan kabur telah siap. Oxanna nekat akan menghubungi Juan menggunakan ponsel pribadinya! Dia menelepon Juan beberapa kali. Berharap jika terangkat tapi nyatanya tidak, huh!


"Apa yang harus kulakukan?" Oxanna berjalan mondar-mandir di dalam ruangan dengan gugup. Takut jika rencananya gagal.


Sampai, bunyi pesan masuk membuatnya begitu bahagia. Sebab itu dari Juan.


"Segera siap-siap di balkon. Aarav telah kubius, begitu pula dengan bodyguardnya. Aku akan menunggu di lantai bawah dan kau terjun dari sana menggunakan tali tambang," kata Juan di pesan.


Sebelah alis Oxanna terangkat. Dia segera membalas, "Jika semua orang tertidur. Mengapa aku harus berusaha payah untuk kabur dengan cara sialan ini?"


Tak perlu menunggu waktu lama, Juan membalas, "Lol. Kau pikir, CCTV bisa tidur? Cepat lah ke balkon, aku sudah memasang tali dan kau tinggal terjun saja."


"Ah, pria sialan ini. Kau pikir aku kupu-kupu?!" Oxanna berdecak kesal membaca jawaban itu. Dia pun tak membalas lagi lalu mengambil tas pelarian dan menuju balkon.


"Woah, pria ini benar-benar niat sekali membuatku terbang," gumam Oxanna sinis saat melihat tali telah terpasang erat di balkon lantai 4 sampai ke lantai dasar. Ketika dia menunduk, dapat Oxanna lihat Juan melambai-lambaikan tangan ke arahnya. "Cih!"


Oxanna melempar tasnya ke arah Juan yang tepat mengenai wajah pria itu. Untung saja tidak berat. Kemudian, dia menutup jendela kamar dan mulai turun dari atas lantai 4 dan berusaha tanpa bersuara sebab dia akan melewati ruang kerja Aarav, nanti.


"Ayoo," seru Juan semangat saat Oxanna sudah berada di lantai dua.


Oxanna menendang-nendang udara kesal sebab suara Juan dapat membangunkan orang lain. Tapi, dia tetap turun dengan cepat juga aman. Hingga, setelah sampai di hadapan pria itu, Oxanna memukul kepalanya kesal.


"Brengsek! Aku benar-benar trauma dengan tali tambang," umpat Oxanna kesal dan berjalan meninggalkan Juan menuju mobil yang siap pergi dari sana.


"Haha. Kau marah? Yeah, ini terakhir kalinya." Juan menyusul Oxanna lalu mereka segera meninggalkan mansion Aarav.


***

__ADS_1


Mereka pikir, semua rencana akan mulus bagaikan jalanan ibukota. Nyatanya, Aarav lah yang mengalah demi mendapatkan ikan besar!


Ya, benar. Aarav dan Morevo sedari tadi mengamati interaksi antara Oxanna dengan Juan yang jauh lebih akrab dibanding pertama kali bertemu dulu.


"Tuan, Anda yakin membiarkan Nona Oxanna bersama Juan?" tanya Morevo.


"Apa anak buah kita sudah mengikuti mereka?" tanya Aarav mengacuhkan Morevo.


"Ya, Tuan. Mereka telah berada diposisi masing-masing di setiap jalan." Morevo mengangguk patuh.


"Kalau begitu, ayo ikuti!" Aarav dan Morevo segera pergi mengikuti keduanya.


Morevo telah sembuh, seluruh ingatannya kembali berkat Aarav. Tetapi, dia tetap bersama dengan Maria.


Aarav tidak akan pernah mempercayai orang lain kecuali Morevo yang telah ada bersamanya selama ini. Maka dari itu, dia membuat jebakan untuk Oxanna.


"Bagaimana istrimu itu?" tanya Aarav mengejek.


Morevo tersenyum sebelah. "Seperti biasa, Tuan. Tapi, aku memiliki perasaan aneh," katanya.


"Ada apa? Kau ada kelainan di hati setelah mengkonsumsi obat penelitian kita?" Aarav segera bertanya beruntun.


Morevo menggeleng dan mengangguk. "Ketika bersama Maria, jantungku berdegup tak karuan, keringat dingin muncul, tangan dingin hingga gemetar, nafasku tercekat, dan paling parah, aku selalu melemas saat melihat Maria berbicara. Mengapa ya, Tuan? Apakah ini efek samping? Aku tidak memperhatikannya."


Aarav ikut berpikir keras demi jawaban itu. Sampai-sampai, supir pribadinya melirik ke arah Morevo yang tak kalah serius.


"Sepertinya ada sesuatu di jantung, hati, dan paru-paru kau. Besok, kau harus periksa," kata Aarav memutuskan.


"Itu namanya jatuh cinta, Tuanku," sahut supir dengan entengnya.


Aarav dan Morevo sontak menoleh. "Jatuh cinta?!"

__ADS_1


__ADS_2