
"Welcome, Maria."
"Oxanna," jerit Maria dan ingin berlari ke arah wanita itu.
Namun, Juan menarik pelatuk pistol dan diarahkan ke kepala Oxanna. "Jika kau maju selangkah, maka, jariku ikut menekan ini."
Kaki Maria langsung berhenti. Dia menatap Juan tajam lalu berkata, "Beraninya kau menculik Oxanna!!"
"Hahaha! Kenapa tidak? Wanita ini merupakan umpan sempurna untuk memancing Aarav keluar dari persembunyiannya," balas Juan sinis.
"Jadi, Juan ingin membunuh Aarav?" batin Maria bertanya-tanya.
"Hei, Maria. Aku tahu siapa kau, mucikari terbaik di Kelab malam Skalov. Kau pikir, penyamaran identitasmu begitu rapih sehingga Morevo tidak akan curiga, begitu? Kau terlalu percaya diri, Baby." Juan berjalan mendekati Maria dan mengusap kepalanya pelan.
Maria mengepalkan kedua tangannya menahan amarah. Dia benar-benar murka, tetapi tidak bisa melakukan apapun karena takut Juan mencelakai Oxanna yang tengah pingsan saat ini.
"Tenang, Ladies. Aku tak berniat menyakiti Oxanna ataupun dirimu. Yang kubutuhkan hanyalah kepala Aarav dan Morevo, mereka berdua adalah hambatan terbesar di hidupku," bisik Juan di telinga Maria.
"Kau tentu saja bisa menyingkirkan Morevo, kan? Oh, ayolah!" Juan tergelak melihat ekspresi wajah Maria yang tegang. "Jangan bilang, kau menyukai pria sialan itu, huh?"
Maria sontak menoleh. "Tutup mulutmu," desisnya.
"Ada apa? Yang kukatakan adalah benar? Untuk apa kau menyukainya? Ingat, kau hadir di hidupnya itu agar bisa mengawasi Morevo. Bukan mencintai atau menginginkan kehidupan layak bersama," ujar Juan kemudian.
"Dan, kau bisa dikenal sebagai istri Morevo karena kami. Oxanna dan organisasi yang membuat kau di sana, jangan tidak tahu diri untuk tak balas budi, Maria. Ini lah saatnya membuktikan diri jika kau berada di pihak kami," lanjut Juan lagi.
Maria terkekeh sinis. "Organisasi kau bilang?" ejeknya.
Juan menyipitkan mata tak suka.
"Kau bukanlah bagian dari organisasi, Juan. Kau hanya dimanfaatkan oleh Kadiocy untuk menyingkirkan Aarav. Bukankah kau sudah menerima pria itu sebagai kakak? Tapi mengapa, setelah kau bertemu dengan Kadiocy, kau berpaling darinya? Karena kau adalah sasaran empuk agar bisa dimanipulasi dan menyerang kakakmu sendiri—."
Plak!
Wajah Maria terhempas. Dia merasakan rasa pedih merambat di seluruh permukaan pipi dan begitu panas.
Juan menarik dagu Maria dan mencengkeram kedua pipinya dengan kuat. "Sial, seharusnya kau sadar diri. Kau bisa hidup saat ini karena perlindungan dari organisasi, Maria. Kau bisa bernapas dan berdiri sebagai istri Morevo karena organisasi yang mempertahankanmu. Sekarang, kau melupakan kami? Cih, harusnya kau membayar semua jasa-jasa organisasi karena telah memberikanmu sebuah kesempatan!!"
Dengan sekuat tenaga, Maria mendorong tubuh Juan hingga cengkeramannya terlepas. "Organisasi? Siapa mereka? Aku tidak mengenal! Aku diselamatkan oleh Oxanna, dia juga yang melindungiku, bukan organisasi keparat ini."
__ADS_1
"Oke, aku akan membuatmu berhutang budi dengan kami," kata Juan ambigu.
Belum sempat Maria membalas, Juan kembali melayangkan bogeman di wajah Maria lalu disusul pukulan lainnya hingga wanita itu terkapar di lantai dengan wajah bersimbah darah.
Juan terengah-engah. Dia mengambil sebotol air dan menyiramkan ke wajah Maria hingga membuka mata. "Hei, aku mengampuni nyawamu dengan syarat kau harus melakukan perintah kami. Atau, hidupmu akan berbahaya."
Maria menatapnya dengan mata sayu. "Coba saja, bunuh aku," bisiknya lemah.
"Hahahaha! Tidak seru jika aku langsung membunuhmu, kan? Bagaimana jika adik tercintamu? Lebih asik menontonnya sambil memakan popcorn," kata Juan kemudian.
Kedua mata Maria langsung membulat. Dia berusaha berdiri. "Tolong jangan!!"
"Adikmu hanya punya kau, sebagai kakak, kau akan melakukan apa saja demi nyawanya, kan?" Juan melemparkan belati kecil di dekat Maria. "Bunuh Morevo."
"Atau .., dirimu?"
***
Maria kembali ke rumah sakit setelah anak buah Juan mengobati lukanya agar Morevo tidak curiga. Dia pergi dengan membawa belati tersebut.
Apakah dia akan melenyapkan Morevo dari dunia ini? Tentu saja jawabannya adalah tidak. Maria tidak bisa melakukan apa yang diperintahkan oleh Juan.
Entahlah, Maria pun bingung dengan sikap Morevo. Apakah dia juga memiliki rasa yang sama kepadanya atau hanya bersikap palsu?
Namun, setiap perlakukan yang pria itu lakukan, Maria sama sekali tidak merasakan adanya kepalsuan.
"Apa yang terjadi padamu? Kau ke mana saja, Maria?" Morevo menarik tubuh Maria lalu mencengkram bahunya dengan tatapan khawatir. "Sudah kukatakan, jangan ke mana-mana! Di luar bahaya!"
Maria menatapnya datar. Kemudian, dia berkata, "Tinggalkan aku dan Morevo sendiri."
Bodyguard yang menjaga di sana saling lirik.
"Keluar!"
Morevo mengangguk samar untuk memberikan kode yang langsung dipatuhi oleh pengawalnya.
"Ada apa? Kau ingin bicara sesuatu?" tanya Morevo setelah di dalam ruangan hanya ada mereka berdua.
Maria mencengkram belati yang disembunyikan di balik pakaiannya, dia menatap Morevo dengan penuh arti. "Apa kau menyukaiku?"
__ADS_1
"Ya, tentu saja. Kau istriku," jawab Morevo bingung.
"Jika aku bukan lah istrimu, apa kau tetap menyukaiku?" Maria kembali mengulang pertanyaannya.
"Ya, tentu saja. Kau istriku," jawab Morevo bingung.
"Jika aku bukan lah istrimu, apa kau tetap menyukaiku?" Maria kembali mengulang pertanyaannya.
"Kau kenapa, Sayang? Apa ada yang mengganggumu? Mengapa kau bertanya seperti itu," kata Morevo tidak menjawab pertanyaan Maria.
Ketika Morevo ingin meraih lengannya, Maria mundur. "Jawab saja pertanyaanku. Jika kita tidak menjadi pasangan suami istri, apa kau tertarik untuk mengenalku lalu mencintaiku?"
Morevo diam. Dia pun tidak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan tersebut.
Maria menunggu beberapa saat sebelum terkekeh pelan. "Diammu adalah tidak, benar?" sinisnya.
"Aku bingung harus menanggapi apa, Sayang. Jika kita bertemu, tentu saja aku akan menyukaimu," ucap Morevo kembali.
Namun, waktu yang diberikan Maria telah habis. Dia menunduk dalam dengan tubuh semakin menjauh dari Morevo.
Maria menjadi tersadar setelah mendengar jawaban itu. Dia mengingat kembali perkataan Juan. Perlahan-lahan, dia menarik belati dari tempat persembunyiannya lalu mengacungkan ke arah Morevo.
"Sayang, apa yang kau lakukan?!" bentak Morevo terkejut.
"Jangan berani mendekat," ancam Maria saat Morevo ingin melangkahkan kakinya mendekat.
"Hei, ada apa? Dari mana kau mendapatkan belati ini?" Morevo bertanya khawatir.
Maria tersenyum tulus. "Aku mencintaimu," balasnya.
Morevo dan Maria saling menatap dalam.
"Aku bahagia menjadi istrimu. Sebagai balasan atas perhatian yang kau berikan, aku akan menggantikan dirimu, Morevo. Tetap lah berbahagia," tambah Maria kemudian.
"Apa yang—MARIA!" Mata Morevo melebar melihat kejadian yang berlangsung cepat tersebut.
Maria memejamkan matanya, dia tetap tersenyum sembari menusukkan belati tersebut di perutnya sendiri.
Teriakan Morevo mengundang tanda tanya dari bodyguard yang tanpa perintah masuk ke dalam ruangan tersebut.
__ADS_1
"Sayang!!" Morevo tidak sadar meneteskan air matanya. Dia menarik Maria masuk ke dalam pelukan. "Jangan tinggalkan aku ...."