TUAN MUDA MANJA DARI MILAN

TUAN MUDA MANJA DARI MILAN
Morevo


__ADS_3

“Besok aku akan pergi ke Paris. Ada perjalanan bisnis ke sana. Kau di rumah saja Oxanna. Aku harus pergi karena itu perjalanan penting.” Aarav mengatakan bahwa dia harus pergi ke Paris.


Oxanna awalnya diam, tetapi kemudian wanita itu berpikir untuk ikut ke sana. Wanita itu ingin sekali mengikuti kemanapun Aarav pergi. Dia sedang merencanakan sesuatu untuk kembali membunuh suaminya.


“Aku akan ikut, Aarav. Aku tidak ingin tinggal di sini sendirian. Kau harus membawaku.” Oxanna meminta untuk ikut ke Paris.


Aarav menolaknya mentah-mentah. “Tidak bisa. Aku tak akan membiarkanmu ikut. Kau di sini saja. Ada banyak pelayan di rumah. Jadi, tak ada alasanmu kesepian. Aku harus melakukan perjalanan penting, Oxanna. Kumohon mengertilah.” Aarav berusaha untuk memberi pengertian pada Oxanna.


Namun, Oxanna tetap ingin ikut. Dia ingin membuat sebuah rencana dan menemukan kekurangan Aarav nantinya.


“Tidak Aarav. Aku ingin ikut. Jangan menolakku. Apa kau tidak percaya padaku?” tanya Oxanna.


AArav mengusap wajahnya kasar. Dia sama sekali tidak tahu harus berkata apa. Dia tak mau Oxanna membuat kekacauan karena perjalanan bisnis ini sangat penting bagi Aarav dan perusahaannya.


“Oxanna, kumohon mengertilah. Jangan ikut dan tetap di rumah. Ini keputusan final. Jangan membantahku,” ujar Aarav. Dia terpaksa tidak membiarkan Oxanna ikut karena rapat ini harus dipimpin olehnya sendiri dan demi kelangsungan projek besar SHC.


Oxanna cemberut. Dia lalu meninggalkan suaminya begitu saja dengan kesal. Wanita itu memikirkan bagaimana caranya agar bisa ikut perjalanan ke Paris. Dia tidak mau ditinggal sendiri, terlebih memang Oxanna sedang merencanakan sesuatu pada Aarav agar bisa menghancurkan perusahaan suaminya itu.


“Aku harus pergi dengan Aarav. Bagaimanapun caranya, aku harus ikut. Aku ingin mengikuti ke manapun dia pergi agar mengetahui rahasia perusahaannya dan bisa menghancurkan keluarganya,” ujar Oxanna.


***


Keesokan harinya, Aarav sudah bersiap-siap akan pergi ke Paris. Dia sudah membawa kopernya dan tidak menemukan Oxanna di kamar. Pria itu melihat ke sekeliling dan tidak menemukan keberadaan istrinya.


“Di mana Oxanna? Kenapa tidak ada di sini?” tanya Aarav dalam hati.


Dia mencari Oxanna kembali ke dapur, tetapi tidak ada juga di sana. Aarav mengernyitkan dahinya. Tidak ada siapa pun di sana.


“Di kamar tidak ada, di dapur juga tidak ada. Ke mana perginya Oxanna?” tanya Aarav.


Pria itu mencoba menghubungi Oxanna. Tapi, tidak ada jawaban dari istrinya.


“Tidak ada jawaban. Apakah wanita itu marah?” tanya Aarav.


Aarav melihat jam tangannya. Jika terus mencari keberadaan Oxanna, Aarav akan terlambat ke bandara. Jadi, dia memutuskan untuk pergi saja dan akan mencoba menghubungi Oxanna lagi saat sudah sampai di Paris.


Aarav masuk ke dalam mobil menuju bandara. Tanpa dia sadari, Oxanna sudah berada di mobil suaminya.

__ADS_1


Ya, Oxanna bersembunyi di kursi belakang dengan menutupi tubuhnya menggunakan selimut.


Saat akan sampai di bandara, Oxanna baru menampakkan tubuhnya.


“Pagi Aarav, aku akan ikut bersamamu ke Paris.” Oxanna tersenyum manis.


Aarav langsung terperanjat karna tak sadar bahwa istrinya sejak tadi ada di mobilnya.


“Sejak kapan kau di sini?” tanya Aarav dengan nada terkejut.


“Sejak tadi. Kenapa? Bukankah sudah kukatakan bahwa aku akan ikut? Aku harus ikut, Aarav. Aku tak mau ditinggal,” ujar Oxanna.


Aarav menghela napasnya panjang. Pria itu ingin memutar balik, tetapi saat melihat jam, dia merasa akan terlambat. Jadi, mau tak mau Aarav membawa Oxanna ke Paris.


“Baiklah, kau akan kubawa ke sana. Namun, jangan sampai membuat masalah. Aku tak akan segan-segan mencekikmu jika kau membuat masalah,” ujar Aarav dengan tegas.


Oxanna setuju. Dia tersenyum sumringah karena akhirnya suaminya bisa setuju membawanya ke Paris.


***


Mereka kini sudah tiba di Paris. Aarav langsung memesan hotel untuk beberapa hari. Dia hanya memesan satu kamar. Awalnya, Oxanna protes karena suaminya hanya memesan satu kamar saja, tetapi Aarav tidak peduli.


“Aku tak menyuruhmu untuk ikut, Oxanna. Jika kau keberatan, silakan kembali ke rumah. Aku tak memaksamu bahkan sudah menolak agar kau tak ikut ke Paris.” Aarav berjalan lenggang setelah mengambil kunci kamarnya.


Oxanna bersungut. Dia mau tak mau ikut dengan suaminya dan sekamar dengan Aarav.


Di kamar, Aarav memberitahu Oxanna bahwa dia ada meeting di restoran hotel.


Jadi, dia meminta Oxanna untuk berdiam diri di kamar.


“Aku harus menemui client. Kau di kamar saja. Jika bosan, kau bisa berkeliling. Tapi, jangan mengikutiku,” ujar Aarav.


Oxanna diam saja. Dia tak menanggapi ucapan suaminya. Setelah mengatakan hal tersebut, Aarav langsung pergi dan menemui kliennya.


Tak berapa lama, Oxanna bersiap dan mengikuti Aarav. Dia mengamati suaminya, kemudian menghampiri Aarav setelah suaminya dan sang client duduk di restoran itu.


“Hai sayang, ternyata kau di sini,” ucap Oxanna.

__ADS_1


Aarav terkejut. Dia langsung menghela nafas panjang karena Oxanna benar-benar keras kepala.


“Ehm ... ini istriku, Sir. Namanya Oxanna.” Aarav memperkenalkan Oxanna pada sang clien.


“Senang bertemu denganmu, Nyonya Oxanna,” ujar sang clien.


“Aku juga begitu. Tak apa-apa kan jika aku ikut bergabung?” tanya Oxanna dengan senyuman manis.


Sang clien tersenyum. Dia sama sekali tidak keberatan jika Oxanna ikut bergabung dalam meeting mereka.


“Tentu. Aku tak keberatan,” ujar sang client.


Walaupun dalam hati, Aarav begitu geram dengan tingkah Oxanna, dia tetap membiarkan saja wanita itu ikut bergabung dalam rapat pentingnya kali ini.


***


Di Milan, Morevo sedang diserang oleh organisasi Kadiocy. Mereka bertengkar hebat. Pasukan organisasi Kadiocy sangat banyak dan terus menghajar Morevo tanpa ampun. Sementara Morevo hanya seorang diri.


“Kau harus mati, Morevo!” ujar salah satu penyerang.


“Aku tidak akan menyerah. Kalian harus mendapat balasannya,” ujar Morevo.


Pria itu sudah berlumuran darah dan jatuh pingsan. Setelah memastikan Morevo tak berdaya, pasukan Kadiocy langsung meninggalkan pria tersebut. Morevo mengalami kritis.


Seseorang membawa Morevo ke rumah sakit dan pihak rumah sakit langsung menghubungi Jordan.


“Halo, ini dari pihak rumah sakit. Saya ingin mengabari bahwa pemilik ponsel ini mengalami kritis dan harus segera dioperasi. Mohon segera ke rumah sakit untuk menandatangani surat perjanjian operasi,” ujar pihak rumah sakit.


Jordan langsung ke rumah sakit untuk memastikan keadaan Morevo. Benar saja, Morevo dalam keadaan kritis. Jordan menandatangani surat perjanjian operasi, setelahnya menghubungi Aarav.


***


Aarav sedang sibuk berbincang dengan kliennya. Tak sengaja, Oxanna melirik ponsel Aarav dan melihat bahwa itu adalah Jordan. Saat Aarav mengantar kliennya ke depan, dia langsung mengangkat ponsel Aarav.


“Halo, Aarav, gawat, Morevo kritis dan harus dioperasi. Sepertinya, dia diserang oleh organisasi Kadiocy. Kau di mana sekarang?” tanya Jordan.


“Aarav sedang sibuk. Dia ada pertemuan bisnis. Nanti akan kusampaikan,” ujar Oxanna.

__ADS_1


Namun, wanita itu tak memberitahu Aarav soal kabar Morevo.


__ADS_2