
Oxanna kabur dari sana. Dia seakan-akan buta arah. Seharusnya, dia menekan tombol buka pintu ruang rahasia milik Aarav yang terletak tepat di samping sakelar lampu. Tetapi, dia berjalan tanpa arah untuk mencari tempat tersebut.
Ketemu!
Oxanna menghidupkan lampu sekaligus membuka pintu. Matanya baru bisa menatap dengan normal keadaan ruangan di sana. Dalam cahaya terang, dia dapat melihat jelas tangannya yang berdarah-darah akibat membunuh monster di lantai bawah tanah.
Tanpa sadar, dia meneteskan air matanya dalam diam. Oxanna menarik napas dalam-dalam dan berusaha tegar. Dia segera menuju kamar mandi di dalam ruang rahasia lalu mencuci tangannya dengan kuat. Jauh di dalam lubuk hatinya, dia merasa jijik pada diri sendiri yang tega membunuh orang lain.
Dia terlalu kasar melakukan hal itu membuat Oxanna tidak sengaja melukai tangannya sendiri. Napasnya terengah-engah lalu dia menatap diri sendiri di depan cermin.
"Apa yang kau lakukan, Oxanna?" Dia memukul pipi-pipinya sendiri supaya menyadarkan atas kegilaan yang dia lakukan.
Oxanna menarik napas dalam-dalam. "Oke. Tenang, hadapi semua dengan pikiran terbuka supaya nanti bisa menghadapi Aarav tanpa canggung," gumamnya.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, Oxanna menghela napas kasar karena sudah menguasai pikiran lalu matanya menatap sekeliling dengan tajam. Ini adalah kesempatan terakhir untuknya bisa menjelajahi ruang rahasia tanpa pengawasan.
"Oke. Sekarang aku berpikir rasional," katanya sambil menatap sekeliling dengan tatapan tajam.
Kemudian, Oxanna mulai menjelajah. Pertama, dia menuju brankas sebesar lemari yang ada di sudut ruang kanan. Dia segera menekan angka apapun yang berarti di hidup Aarav. Tanggal pernikahan mereka, karena salah, dia memasukkan sandi lainnya yaitu tanggal lahir mereka berdua. Dan, berhasil.
Bukan tanggal lahir Aarav, melainkan Oxanna.
Matanya melebar sejenak ketika melihat banyak berkas di sana juga ada gulungan surat berbahan dasar kulit. Oxanna mengambil beberapa gulungan dengan acak salah satu di antaranya. Kemudian, dia menuju meja untuk membaca.
Gulungan pertama adalah sebuah peta dengan nama negara wilayah ini. Sebelah alis Oxanna terangkat saat melihat tahun yang tertera.
"Tahun ketika pembantaian dimulai?" Oxanna bertanya pada diri sendiri dengan bingung. Dia berpikir sesaat sebelum dia teringat pada tahun tersebut.
__ADS_1
Oxanna menelan ludah kasar. Dia ingin menutup kembali tetapi tak kuasa untuk membacanya. Dia menarik napas dalam-dalam sebelum memutuskan untuk membukanya.
Dia membaca dengan teliti semua gulungan yang dibawa. Selain peta, ada deskripsi mengenai kondisi yang ada. Air mata Oxanna merebak ketika mendapati nama keluarganya tertulis di sana.
Hatinya mencelos membaca kenyataan yang telah ditanda tangani oleh cap negara berarti semua kejadian tersebut adalah kenyataan.
"Apakah semua ini telah terjadi?" Oxanna menggelengkan beberapa kali dengan kuat.
"Tidak! Semua ini bohong," teriak Oxanna emosi sembari melempar gulungan di atas meja dengan sembarangan. Oxanna tidak peduli jika Aarav akan mengetahui kalau dia telah membuka brankas dan tak peduli kalau harus dihukum.
Karena itu adalah kenyataan yang terjadi. Jika keluarganya merupakan ketua agama terbesar yang melakukan aliran sesaat di negara ini. Juga, ayahnya yang menggerakkan seluruh masyarakat penganut keluarga mereka untuk bisa melawan keluarga Skalov ketika ingin mengambil dunia dulu.
Semua kenyataan ini berbeda dengan sejarah yang Kadiocy ucapkan. Pria itu mengatakan jika Skalov memiliki dendam dan membunuh keluarganya dengan brutal.
__ADS_1