
"Maafkan aku, aku hanya ingin berada di ruang rahasia karena mengagumi semua senjata yang kau miliki. Akan tetapi, tanda sengaja menekan tombol lift itu. Kukira—." Kalimat Oxanna terhenti karena Aarav mengangkat tangannya dengan wajah pongah.
"Sudah, tidak perlu menjelaskan padaku," kata Aarav datar. Kemudian, dia fokus melihat rekaman CCTV di monitor waktu Oxanna tengah memusnahkan semua monster yang ingin menyerang.
Oxanna menaikkan sebelah alisnya dengan kebingungan. Saat ini, dia berpikir keras untuk mengartikan kalimat Aarav barusan serta di telepon tadi. Apakah diamnya pria itu karena murka akibat dia mengacaukan rencana mereka? Atau, Aarav tidak peduli apapun yang terjadi? Hell!
"Aarav," panggil Oxanna lirih. Dia berjalan mendekati Aarav dengan pelan.
Aarav menoleh ke arahnya. "Ada apa?"
Oxanna menelan ludah dengan kasar, "Kau marah? Aku siap menerima hukuman karena Jordan yang mereka jadikan tumbal," katanya sambil mengangkat kedua tangannya.
Aarav terkekeh pelan. "Untuk apa marah? Kau tidak melakukan kesalahan apapun, Sayang."
Oxanna terdiam.
Dia mendekati sang istri dengan menyeringai pelan. Tangan Aarav mengusap pipi Oxanna secara lembut lalu berkata, "Wajar saja jika istriku ini memusnahkan mereka yang merupakan monster. Mengapa aku harus marah jika yang kau lakukan adalah hal benar?"
"Selain itu, sebut saja ini latihan membunuh seseorang sebelum kau mempraktikkan dengan orang normal sungguhan," tambah Aarav dengan tersenyum sebelah sinis.
"Huh?" Oxanna hanya bisa terperangah mendengar jawaban itu. Dia sungguh tak menyangka apalagi ketika Aarav tertawa bagaikan psychopat sambil mengusap seluruh wajahnya dengan agresif. Dia menelan ludah susah payah, hanya untuk bernapas saja pun takut!
Aarav mengecup pelan kening Oxanna, "Sudah, tidak perlu memikirkan Jordan. Dalam beberapa hari, dia akan membaik," balasnya.
Kemudian, Aarav pergi dari hadapan Oxanna yang melemas bagaikan jelly. Untung saja ada kursi di belakangnya sehingga dia tidak terduduk di lantai.
"Astaga, pria ini mengerikan," gumam Oxanna berusaha menahan takut. Sedikit ada sesal di dalam hatinya karena telah membunuh para monster tersebut tapi dia bersyukur sebab dia mendapatkan sebuah informasi yang ditemui akibat memasuki ruang rahasia tersebut.
"Aku harus menemui Juan. Dia pasti tahu yang sebenarnya," kata Oxanna menambahkan lalu keluar dari dalam kamar. Dia menuju lantai bawah menggunakan tangga! Oh, katakan saja jika Oxanna sedikit trauma menggunakan lift. Dia rela kakinya sakit karena turun dari lantai 4 menuju ke lantai 1.
__ADS_1
"Juan," teriak Oxanna saat berada di lantai dua kepada Juan yang tengah di lantai satu. Err, bersama dengan Aarav!
Aarav dan Juan menoleh ke arahnya. Mereka sama-sama melihat dengan tatapan berbeda. Jika sang adik penuh bertanya-tanya, maka sang kakak menatapnya tajam.
Oxanna menyengir, dia segera turun sambil berlari. "Aku hanya ingin menanyakan keberadaanmu," katanya mengonfirmasikan penuh kebohongan saat sampai di hadapan dua pria tersebut.
Aarav menatap datar lalu menaikkan sebelah bahu dengan acuh. "Ikut aku ke rumah sakit. Kau harus mendapatkan pemeriksaan menyeluruh sebelum terinfeksi," perintahnya kemudian berlalu pergi setelah mengusap kepala Oxanna pelan.
Dia pergi diikuti bodyguard meninggalkan Juan dan Oxanna yang kini menatap pria itu dengan tuntutan.
"Apa yang terjadi?" bisik Oxanna penuh tanda tanya karena bingung atas perubahan sikap Aarav saat ini.
Juan menghela napas pendek. "Akan kuceritakan nanti."
Oxanna mengangguk dan Juan segera pergi dari hadapannya. Dia berdecak kesal. "Sial, mengapa ini terjadi dengan begitu cepat, sih?!"
Namun, tak urung dia mengikuti jejak Aarav untuk pergi dari rumah dan memasuki mobil.
Serangkai pemeriksaan dilakukan oleh Oxanna. Mulai dari pemeriksaan laboratorium darah, hasilnya negatif. Dia tidak terinfeksi virus tersebut yang menularkan virus melalui darah. Dilanjut, pemeriksaan mental pada psikiater. Aarav takut jika Oxanna terlalu stres dan menyebabkan tekanan pada mentalnya sehingga mengalami gangguan jiwa karena memikirkan telah membunuh monster tersebut.
"Apa yang telah kau lakukan, Dokter Oxanna? Suamimu begitu perhatian sekali karena takut kau terluka, xixi." Psikiater yang merupakan teman seangkatannya mengejek setelah hasil pemeriksaan keluar. Oxanna dinyatakan normal!
Oxanna mendesah kasar sambil melemaskan tubuh ke kursi empuk di ruang pemeriksaan dokter psikiater. "Aku bertanya-tanya, haruskah aku yang diperiksa atau dia?"
"Mengapa? Apakah suamimu kelainan pada ranjangnya? Suka BDSM, mungkin?" tanyanya menaikkan sebelah alisnya menggodai.
Oxanna memalingkan wajah. Hell, dia akan suka jika Aarav melakukan BDSM. Nyatanya, dia sama sekali tidak pernah disentuh sejak pernikahan! Eh, bukan berarti dia menginginkan mereka tidur bersama, ya!
"Ouh, benar?" Psikiater tersebut mendekati Oxanna. "Kau tidak sanggup ya melayaninya??"
__ADS_1
"Berhentilah sebelum aku mengadukan kepada Mr. Carlos," kata Oxanna kesal.
Psikiater tersebut tertawa sebab Oxanna membawa-bawa nama sang suami agar dia berhenti. Karena kasihan melihat wajah temannya yang merenggut, dia pun berhenti. "Ok-ok. Aku tidak akan memperpanjangnya lagi. Tapi, Oxanna, hasil skor penilaian psikologismu mendekati gangguan skizofrenia. Kau tahu kan bagaimana ciri-ciri fisiknya?"
Mereka saling pandang.
"Apa ada yang tengah kau takuti sehingga ketakutan itu menjadi nyata? Atau kenyataan yang kau hadapi membuatmu berpikir jika itu ilusi?" tanyanya kemudian.
Oxanna menghela napas panjang sebelum mengangguk. "Yang kedua. Tapi aku akan berusaha keras untuk melupakan semua kejadian yang terjadi padaku," gumamnya.
"Bagus. Aku tidak ingin kau menjadi pasienku di sini, Oxanna."
Dia tersenyum, "Iyaa!" katanya lalu pamit pergi dari sana. Saat keluar ruangan, di sana tidak ada penjagaan sama sekali. Sebelah alis Oxanna terangkat.
"Ke mana Aarav?" Oxanna bertanya pada diri sendiri. Saat ini, dia ada di depan lift, dia menatap lama ke arah pintu besi tersebut sebelum memutuskan untuk menuju tangga darurat. Untung saja saat ini dia berada di lantai dua.
Oxanna turun dengan tubuh lelah. Saat hampir saja dia sampai di lantai satu, dia mendengar seseorang berbicara di telepon.
"Kau menemukan Kadiocy?"
Mata Oxanna membulat saat orang tersebut yang suaranya sangat dia kenali menyebut nama Kadiocy. Itu adalah suara Aarav. Sontak, Oxanna kembali mundur ke belakang agar tidak ketahuan tengah menguping.
"Bawa dia ke markas besar Skalov, bersama dengan seluruh antek-anteknya besok malam. Aku sendiri yang akan menghabisi dia," kata Aarav tajam. Hanya mendengar saja, Oxanna sudah merinding!
"Ya. Awasi Oxanna, jangan sampai dia berkomunikasi dengan Kadiocy," tambah Aarav kemudian lalu memutuskan sambungan telepon.
Oxanna segera berbalik dan keluar dari sana dengan langkah pelan. Takut jika Aarav melihatnya di dalam tangga darurat. Dia menyentuh dadanya yang berdebar kuat sambil bersandar di pintu.
"Astaga, aku lupa jika Aarav telah tahu siapa aku," gumam Oxanna tersadar. Dia menggeleng kuat.
__ADS_1
"Aku harus membuat rencana untuk malam ini. Aarav tidak boleh bertemu dengan Kadiocy," lanjutnya dengan mantap.
Terpaksa, dia harus membunuh satu orang lagi hari ini.