TUAN MUDA MANJA DARI MILAN

TUAN MUDA MANJA DARI MILAN
Istri


__ADS_3

"Kau benar istri Morevo?" tanya Aarav seakan tidak percaya. Pasalnya, saat dia dan Oxanna datang ke ruang rawat inap, wanita bernama Maria ini mengaku-ngaku sebagai istri dari Morevo.


"Ya, dia yang mengatakannya sendiri, bukan? Mengapa kau tidak percaya sekali, sih?" Oxanna segera menjawab mewakili Maria.


Aarav menatap Oxanna tajam. "Aku bertanya kepada wanita ini, bukan Anda, Dokter!"


Mendengar nada suara Aarav yang naik beberapa oktaf membuat Oxanna mendengkus juga memalingkan wajahnya kesal.


"Iya, saya istrinya, Tuan Skalov. Ada yang salah?" Maria mengambil alih sebab tidak ingin melihat Oxanna dimarahi Aarav. Dia berusaha keras mengendalikan mimik wajahnya menjadi datar agar tidak ketahuan berbohong.


"Ya, saya tidak percaya. Sebab, Morevo tidak akan menutupi sesuatu dari saya. Apalagi pernikahannya," kata Aarav kemudian dengan tajam.


Maria tertawa pelan, "Aku yang meminta. Anda bisa bertanya langsung kepada Morevo ketika dia bangun," balasnya beralih.


Aarav menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Morevo memiliki seorang keluarga yaitu adik yang bersekolah di Paris. Apakah pernikahan kalian diketahui olehnya?"


Maria berpikir keras! Dia tidak menyangka dengan pertanyaan mendadak ini. Tentu saja dia tahu jika Aarav tengah mengujinya! Otaknya berputar kepada memori ketika membuka data laptop Morevo kembali. Dia berusaha mencari sesuatu dengan ingatan tajamnya.


Hingga, Maria berdehem dengan wajah sinis. "Lelucon Anda tidak lucu, Tuan! Morevo sebatang kara sejak ditolong oleh keluarga Anda," balasnya menyeringai.


Dia berhasil mengingatnya!


Aarav berpikir sesaat sambil menatap wajahnya membuat Oxanna ataupun Maria sendiri pun ikut menahan napas. Setelah beberapa saat, akhirnya dia mengangguk setuju. "Oke. Aku akan membiarkanmu berada di sisi Morevo sampai dia bangun!"


"Aku akan membuktikan jika Morevo benar-benar suamiku," kata Maria sombong lalu berlalu pergi dengan mimik wajah kesal.


"Wanita itu," geram Aarav kesal. Ketika dia ingin mengejar Maria, Oxanna menahan lengannya.


"Biarkan saja, dia istri Morevo. Biar dia berada di sisi sang suami," ujar Oxanna menasehati.


Aarav menatap sesaat sebelum mengangguk. "Oke."


***


Kondisi Morevo tidak ada kemajuan. Dokter menyatakan jika pria itu dalam kondisi koma dan ketika Oxanna mengecek sebagai seorang dokter pun, saraf-saraf Morevo di otak tidak merespon saat diberi rangsangan.

__ADS_1


Walaupun dia berniat ingin membunuh Aarav, tapi Oxanna merasa kasihan melihat keadaan Morevo yang seperti ini karena Kadiocy. Pria yang telah menyokongnya sampai saat ini.


Tanda-tanda vital Morevo dalam batas normal dalam beberapa hari ini. Ya, sejak dia koma, sudah lima hari berlalu dan tidak ada kabar apapun yang terendus ke media mengenai tumbangnya CEO SHC.


Akibat itu, Jordan menggantikan posisi Morevo dan kadang kala, Aarav ikut turun tangan jika pria itu tidak berhasil memegang kendali perusahaan.


Sedangkan di rumah sakit, Oxanna menemani Maria setelah memaksa Aarav dan dijaga oleh puluhan bodyguard yang menunggu di depan pintu kamar rawat inap Morevo.


"Bagaimana jika Morevo terbangun dan mengatakan jika aku bukan istrinya," bisik Maria begitu pelan ketika mengulurkan sebuah jus kepada Oxanna. Mereka tidak berani berbincang keras walaupun kamar ini kedap suara sebab Aarav memantau CCTV.


Oxanna tersenyum tipis, "Bagaimana jika kita membunuh Morevo?" tanyanya menutupi dengan tawa walaupun pertanyaan ini adalah serius.


Maria pun ikut tertawa. Kemudian dia memukul pelan bahu Oxanna. "Kau ini, bisa saja."


"Mana alat memanipulasi CCTV?" tanya Oxanna kembali.


"Di toilet," jawab Maria lalu mulai makan buah-buahan.


"Aku ke toilet dulu, Sist. Jaga Morevo," kata Oxanna kembali pada suara normal agar Aarav yang tengah memantau di luar sana mendengar. Diam-diam, dia melirik singkat ke Aarav CCTV yang mengeluarkan sinar kedipan merah.


Kemudian, dia segera keluar dan meninggalkan alat tersebut di sana lagi. Walaupun tidak menghidupkan di depan CCTV langsung, tapi alat tersebut telah berfungsi dari jarak 10 meter.


"Sudah, Sist?" tanya Maria mengejek.


Oxanna mendengkus dan berjalan mendekatinya. "Sialan. Aku benar-benar muak berada di dekat Aarav!"


Maria tertawa puas. Obrolan mereka dilanjutkan dengan asik untuk mengatur strategi agar bisa mencelakai Aarav. Hingga, suara lenguhan dari tempat tidur menyita perhatian mereka.


"Dia bangun?!" Maria terlonjak dari tidurnya. Dia dan Oxanna saling pandang lalu berjalan ke arah brankar. Benar saja, di tempat tidur Morevo sudah membuka mata dengan perasaan bingung.


Oxanna dan Maria bertukar pesan melalui tatapan.


Kemudian, Maria segera mengubah ekspresinya menjadi menahan tangis. "Syukurlah kau sudah bangun, Suamiku! Aku sangat sedih beberapa hari ini!"


Morevo menatap Maria dengan bingung yang kini menangis di atas dadanya. Tangisan tanpa air mata!

__ADS_1


Oxanna berdehem, "Aku bahagia jika kau telah sadar. Apa kau ingat denganku, Morevo?" tanyanya memancing. Dia sangat berharap jika pria ini melupakannya.


Seakan-akan, Tuhan mewujudkan keinginan Oxanna. Setelah mengatakan itu, Morevo menggeleng pelan.


"Kau siapa?" tanyanya pelan. Mendengar itu, Oxanna dan Maria bungkam. "Aku siapa?"


Mereka saling pandang. Saat ini, Oxanna sangat ingin bersorak bahagia karena Morevo kehilangan ingatannya.


"Ehem! Aku istri dari tuanmu, Aarav Skalov," kata Oxanna memberitahu.


"Tuan Aarav? Bukankah tuan sedang berada di pelatihan Militer bersama Tuan Juan?" tanya Morevo kebingungan.


Apalagi Oxanna! Dia bahkan tidak tahu siapa Juan. Tetapi dia segera menggeleng, "Tidak! Itu sudah beberapa tahun berlalu," balasnya berbohong.


"Aku telah menikah dengan Aarav. Kau bahkan yang mengurus pernikahan kami. Lalu wanita ini adalah Maria, istri yang kau sembunyikan selama setahun belakangan," kata Oxanna menekankan pernyataan yang tidak fakta.


"Istri yang begitu kau cintai. Alasan kau menyembunyikannya karena kau bingung harus mengatakan apa kepada Aarav sebab dulu kalian menikah karena Maria hamil. Kini, istrimu keguguran dan kau sangat menjaganya begitu ketat." Oxanna kembali melanjutkan perkataannya.


Morevo tentu saja terkejut. Apalagi dia baru sadar dan harus berpikir membuatnya meringis nyeri merasakan kepalanya sakit.


Dengan sigap, Maria membantu mengusap dahi Morevo pelan. "Sayang, jangan berpikir dulu. Aku di sini akan membantumu mengingat semua kenangan manis kita."


"Sayang, aku begitu mencintaimu," kata Maria kembali.


Morevo memejamkan mata erat saat sebuah kilasan-kilasan wajah wanita yang buram melintas di otaknya. Dia semakin erat mencengkram kepalanya sendiri.


"My Baby, tenang lah. Jangan panik supaya tidak terlalu sakit," lanjutnya kemudian.


Oxanna mengamati dalam diam.


Walaupun tidak percaya, Morevo tidak mengatakan apapun lagi. Diam-diam, Oxanna mundur dari posisinya lalu ke kamar mandi setelah mengambil ponsel milik Maria. Dia merasa harus melakukan sesuatu!


Sesampainya di kamar mandi, Oxanna segera mengirimkan pesan kepada seseorang.


"Siapkan obat itu. Aku memiliki seseorang yang bisa dijadikan kelinci percobaan!" Isi pesan ini kemudian dikirimkan kepada orang tersebut.

__ADS_1


__ADS_2