TUAN MUDA MANJA DARI MILAN

TUAN MUDA MANJA DARI MILAN
Pergi Lagi


__ADS_3

Solusi yang terbaik supaya Oxanna dapat memantau keadaan yang kian memburuk adalah dengan menyetujui keinginan Aarav untuk memanggil Juan agar datang ke kamarnya padahal pria itu baru saja keluar dari sana beberapa waktu lalu.


Dia berusaha keras untuk menyembunyikan ekspresi khawatir dan berharap jika Juan tidak pernah datang. Mulanya, memang Oxanna ingin menyingkirkan pria yang mengetahui masa lalunya itu tapi dia sedikit tidak tega, mungkin? Walaupun hatinya diliputi oleh dendam, Oxanna masih tahu bagaimana caranya membalas budi pada orang yang pernah menolongnya dulu.


Entah Aarav benar-benar akan menyingkirkan Juan atau tidak karena perkataannya. Yang pasti, Oxanna sedikit ingin mempertahankan pria itu supaya tetap hidup. Err, demi dia bisa tidur nyenyak?


Hell, dapatkah dia dipanggil pembunuh jika itu benar-benar terjadi? Oxanna tidak pernah bisa membayangkannya!


Sekitar dua puluh menit, Aarav menunggu dengan tatapan dingin dan tengah mengotak-atik benda elektronik di genggaman tangannya. Sedangkan Oxanna? Dia tengah berusaha mengalihkan degup jantungnya berdebar kuat dengan mengunyah buah-buahan yang telah dia kupas.


"Astaga, semoga Juan tidak datang," gumam Oxanna penuh harap sambil melirik ke arah jam dinding.


Dewi seakan-akan tidak ingin mengabulkan keinginannya. Baru saja mulutnya tertutup, pintu kamar rawat inap Aarav terbuka lalu menampilkan Juan masuk ke dalamnya dan disambut ponsel melayang ke arahnya. Hampir saja benda berat tersebut menghantam wajah Juan jika saja pria itu tidak memiliki reflek yang bagus!


"Apa yang kau lakukan, Kak?!" Juan berteriak kesal dengan mata melebar.


Aarav menatap Juan dengan tajam. "Keparat!"


Melihat mimik wajah Aarav yang pernah kakaknya tampilkan sewaktu mengusirnya dulu, Juan melemas. Dia tidak berekspresi apapun sambil berjalan mendekati tempat tidur.


"Ada yang mengganggumu, Kak?" Juan bertanya ketika berada di samping Aarav. Nada suaranya begitu sopan serta dingin.


Jika ini di dunia anime, mungkin akan ada laser yang keluar dari mata mereka masing-masing dan menghancurkan benda apapun di sekitarnya. Sayangnya, hanya Oxanna yang menjadi ngeri hingga perlahan-lahan berjalan mundur.


"Kau," panggil Aarav sambil memberikan isyarat Juan untuk semakin mendekat ke arahnya. Dia menurut dan mendekatkan wajahnya ke arah sang kakak. "Menjadi adikku tidak membuatmu bisa selamat karena kau telah memasuki batas teritorial milikku!"


Juan tidak mengerti. Dia sungguh tak paham dengan kalimat Aarav yang kemudian menghantam perutnya beberapa kali sehingga dia mundur lalu terjatuh ke atas lantai. Bahkan, Aarav tak perlu bersusah payah untuk bergerak demi menyakiti seseorang. Benar rumor yang beredar di luar sana, tubuh Aarav terlalu berharga untuk melakukan apapun.

__ADS_1


Oxanna menutup mulutnya terkejut.


"Tapi, karena kau telah menyelamatkan nyawaku, sekali. Maka, aku akan mengampuni kau setelah mendengar penjelasanmu," tambah Aarav kemudian.


Juan terbatuk-batuk dengan kening menyerit.


"Oxanna, kau keluar dari kamar ini," perintah Aarav tak ingin dibantah. Tetapi, Oxanna tak bergeming membuat pria itu menoleh ke arahnya. "K.e.l.u.a.r!"


Oxanna tersentak, dia menoleh ke arah Aarav lalu meninggalkan kamar tersebut.


Selepas kepergian wanita itu, Aarav kembali menatap Juan dan tatapannya berubah sedikit melunak. "Bangun," perintahnya.


Juan perlahan-lahan bangun lalu mendekat ke arah Aarav. "Bisa jelaskan apa salahku, Kak?" tanyanya pelan dan menahan nyeri.


"Kau dan Oxanna memiliki sebuah hubungan di masa lalu?" tanya Aarav langsung pada intinya. Dia menatap Juan dengan tatapan mengintimidasi dan menuntut jawaban.


Juan menelan ludah kasar. "Mengapa kau bertanya seperti itu?"


Memikirkan sesaat, Juan akhirnya mengangguk pelan. "Dulu, Oxanna pernah menyelamatkanku ketika dirundung oleh preman. Dia menampungku sampai aku bisa balas dendam dan menjadi ketua preman di sana," jawabnya jujur.


"Lalu?"


"Aku menyukainya sampai mengikuti jejak Oxanna untuk berkuliah di kedokteran. Kami dekat sebagai senior dan junior. Pernah sekali aku mengungkapkan perasaan tapi dia ingin kami sebagai teman dekat saja. Sejak itu, aku berusaha memantaskan diri dan mengenal kehidupan Oxanna lebih dekat lagi. Sampai, dia lulus dan pindah ke sini," ucap Juan dengan menatap Aarav dalam supaya kakaknya percaya.


Aarav tidak mengatakan apapun, dia tengah menelisik ucapan Juan. Saat ini, dia dalam persimpangan. Dia ingin percaya ucapan Oxanna tetapi dia belum tahu seluk beluk istrinya yang dapat dipercayai. Serta, dia tahu sampai mana batas Juan dapat berprilaku kepada wanita. Walaupun Morevo menyembunyikan pendidikan adiknya, tapi Aarav masih diberi kabar selama ini tentang aktivitas keseharian pria itu.


Sampai, Aarav mengangguk pelan. "Oke, aku akan percaya ucapanmu, Juan. Jika kau berani berbohong, maka aku akan memotong tanganmu karena berani-beraninya mengarang cerita di depanku!"

__ADS_1


Aarav lebih memilih untuk mempercayai Juan. Alasannya hanya satu, dia tidak suka orang pembohong dan akan memberikan hukuman kepada seseorang itu. Karena itu, Aarav tidak tega jika harus menghukum istrinya sendiri.


Alasan simpel, bukan?


***


Aarav memang lebay!


Dia sangat keras kepala dan ingin dirawat selama 3×24 jam dan diurus 24 dokter spesialis abdomen karena diare ringan! Astaga, Oxanna sampai menggelengkan kepalanya saat para rekan dokternya meminta tolong kepada dia untuk merawat sang suami sendiri sebab, dua jam sekali, Aarav akan memanggil dokter jaga dan juga dokter senior untuk memeriksa.


Mereka tentu tidak akan menolak keinginan pemilik rumah sakit, bukan?


Demi keselamatan, Aarav membeli kursi roda untuk dibawa pulang agar dia tidak kesakitan berjalan dari pintu utama sampai kamar. Kursi roda paling canggih yang dimiliki Skalov Hospital dan bisa bergerak melalui kontrol suara serta sensor memahami lingkungan yang ingin dituju.


"Kau ingin makan apa? Akan kubuatkan," kata Oxanna saat mereka berada di depan kamar.


"Hm, apa ya? Aku ingin pizza," jawab Aarav setelah berpikir sesaat.


Oxanna mencibir, "Kau ingin diare lagi, huh?!"


Aarav melebarkan matanya lalu menggeleng beberapa kali. "Oh tentu tidak, dong!"


"Ya sudah, aku akan buatkan bubur saja!" Melihat Aarav ingin memprotes, Oxanna segera pergi dari sana. Tetapi baru beberapa langkah, dia melihat Jordan menghampiri sang suami. Dia segera berlindung di balik tembok untuk menguping.


"Tuan, ada kabar dari Mr. Wijaya dari Indonesia. Mereka setuju untuk memenuhi syarat projek Skalov Castel kita dan meminta jadwal rapat ulang di negara mereka. Kebetulan, Anda ada meeting dengan investor pertambangan terbesar yang terletak di Kalimantan, Indonesia pada minggu depan. Jika Anda setuju, saya akan memasukan kedua jadwal tersebut dalam satu waktu," kata Jordan memberitahu.


Kedua mata Oxanna berbinar-binar. Dia bahagia karena Aarav bisa saja pergi keluar kota selama beberapa hari, bukan?! Dia berusaha mengintip ke tempat Aarav.

__ADS_1


Terlihat, Aarav berdiri dari kursi roda. "Oke. Segera atur semuanya, aku akan pergi setelah berpamitan kepada Oxanna."


Seringai Oxanna benar-benar mengembang. Dia tak sabar!


__ADS_2