
Di sisi lain, Kadiocy telah selesai di operasi. Meski harus berada di rumah sakit ilegal. Dia sudah mulai membaik dan kini kesadarannya berangsur-angsur pulih
"Sial! Oxanna memang sudah kurang ajar! Busuk, aku tidak terima dengan kejadian ini," cetusnya sangat merasa kesal.
Kadiocy berang, sebab ulah bodoh Oxanna yang sudah menusuk dan meninggalkan beberapa luka di bagian tubuhnya.
Hal ini tentunya membuatnya Kadiocy, semakin membenci Aarav. Karena dia, hingga membuat dirinya terluka dan terbaring di tempat ini.
Tidak hanya itu saja. Kadiocy murka besar, karena sudah di khianati oleh Oxanna. Seorang dokter yang harusnya membunuh Aarav. Justru dengan bodohnya, menikah dengan pewaris tunggal dari keluarga Skalov.
Padahal dia dengan Oxanna, sudah mempunyai perjanjian. Jika target yang harus mereka bunuh adalah Aarav. Tapi sekarang? Justru Oxanna malah menikam dirinya dengan senjata tajam.
"Tak akan aku beri ampun! Kalian harus menerima akibatnya," geramnya dengan sorot tatapan mata yang tajam.
Mengingat kebencian kadiocy pada keluarga Skalov. Hingga akhirnya, menginginkan Aarav tewas dengan mengenakan.
Tapi semua malah berbanding terbalik dan menyerang dirinya sendiri. Kadiocy benar-benar tak habis pikir, mengapa pada akhirnya bisa sampai seperti ini?
Dengan wajah kesal, Kadiocy memanggil salah anak buahnya. " Sini kau! Mendekatlah di dekatku," titahnya memberikan perintah.
"Ada apa, Tuan?" tanya anak buahnya dengan tangan bergetar.
"Kau harus menghubungi Oxanna sekarang juga! Perintahkan dia, untuk segera membunuh Aarav secepat mungkin. Paham?!" bentak kadiocy kasar.
"Baik, Tuan."
Kadiocy tersenyum puas, kala anak buahnya langsung memenuhi perintah tersebut. Terlihat jelas, jika anak buah yang diberikan perintah barusan. Dengan sigap, langsung menghubungi nomor Oxanna.
Tut! Tut!
"Maaf, Tuan. Nomor Dokter Oxanna tidak dapat di hubungi!" lapornya pada Kadiocy.
"Coba lagi! Hubungi terus nomor Oxanna, hingga panggilan itu tersambung. Aku tidak mau tahu! Pokoknya wanita itu, harus ikut bertanggung jawab. Atas semua yang terjadi hari ini. Dasar brengsek!" Kadiocy hanya bisa mengumpat berkali-kali. Untuk meluapkan segala kekesalannya pada Oxanna, yang belum berhasil menjalankan misi.
__ADS_1
Tut! Tut!
"Maaf, Tuan. Masih belum tersambung sama sekali," kata anak buah Kadiocy memberitahu.
Sementara itu, Kadiocy merasa sangat kesal. Sebab setelah apa yang dilakukan oleh Oxanna. Dia malah menghilang, dan tanpa meninggalkan jejak.
Kadiocy menghela nafas dalam-dalam. "Saya tidak mau tahu bagaimana cara kalian menemukan Oxanna. Tapi kamu semua, harus bisa katakan pada dokter itu. Kalau dia harus cepat melenyapkan Aarav," perintahnya bersungut-sungut.
Para anak buah Kadiocy, hanya saling melemparkan pandangan. Sebenarnya mereka sudah tahu persis, dimana akan menemukan keberadaan Oxanna. Yang tidak lain, pasti Dokter itu berada di rumah sakit.
"Tunggu sebentar! Bodohnya saya, haha. Pergi kalian ke rumah sakit dimana Oxanna bekerja. Dia juga terluka, pasti sekarang dia ada di sana," tukasnya penuh percaya diri.
Bergegas dua orang anak buah Kadiocy, pergi ke rumah sakit. Untuk menyampaikan hal tersebut pada Oxanna.
Tak perduli ramainya jalan raya, tapi mereka tetap melakukan tugas dari atasan yang terkenal kejam dan beringas itu. Jangan sampai! Justru keadaan, berbalik pada mereka dan nyawa sendiri sebagai ancaman terbesar.
Setelah tiba di parkiran, kedua anak buah Kadiocy bergegas ke bagian lobby rumah sakit. Kemudian menanyakan dimana kamar Oxanna di rawat.
Mereka berpura-pura sebagai kerabat dari pasien. Hingga memudahkan perawat, dan mengelabui pihak rumah sakit. Agar bersedia menunjukkan ruang rawat inap gadis itu.
Sedangkan anak buah Kadiocy, hanya tersenyum miring. Sebab dengan mudah, bisa bertemu secara langsung dengan Oxanna.
"Lihatlah! Apa dia benar Dokter Oxanna?" tunjuk salah satu dari mereka.
Bergegas kedua anak buah Kadiocy, berjalan cepat ke arah Oxanna. Berharap mereka bisa segera, menyampaikan pesan tersebut pada gadis itu.
***
"Aduh, rasanya aku ingin segera bebas dari kediaman Skalov," gerutu Oxanna dalam hati.
Bukan tanpa sebab, dia mengatakan hal itu. Oxanna hanya tidak ingin, terlalu dalam dan membiarkan dirinya sendiri terjebak dalam keadaan yang tak dia inginkan.
Awal pernikahan dengan Aarav Skalov, hanya sebatas jebakan dan tipuan belaka. Oxanna mulai sadar, jika alasan Aarav menikah dengan dirinya. Pasti lelaki itu, memang sedang menginginkan sesuatu atau ada hal dalam dirinya yang dia ketahui.
__ADS_1
Oxanna berencana pergi menemui Aarav di kamar VVIP pilihan rumah sakit ini. Namun seketika matanya membulat, saat melihat dua orang dari arah berlawanan dan sedang berjalan menuju kamar inapnya.
"Siapa mereka? Sebentar, sepertinya aku tak salah lihat. Bukankah mereka anak buah Kadiocy?" ucapnya lirih.
Secara spontan, Oxanna berbalik arah dan kembali menuju kamarnya. Dia hanya tidak ingin, jika anak buah Kadiocy justru akan membuat rencananya gagal dan berantakan begitu saja.
"Hei, tunggu!" teriaknya ke arah Oxanna.
Tapi suara tersebut, sama sekali tidak di gubris. Bahkan Oxanna mengabaikan panggilan mereka, dan menelusup ke ruangannya sendiri.
Namun mau di kata apa lagi. Sebab kedua orang itu sudah tahu. Dimana letak kamar inap, yang di tempati oleh Oxanna.
"Mau apa kalian, hah? Apa Kadiocy yang menyuruh kalian ke sini?" Jawab!" desis Oxanna dengan geram.
"Bukalah sebentar pintu ini. Saya hanya itu ingin menyampaikan pesan dari dari Tuan Kadiocy," balasnya menatap Oxanna yang sedang kebingungan.
Hingga akhirnya, kedua anak buah Kadiocy diperbolehkan masuk ke dalam oleh Oxanna. Terpaksa, daripada harus ketahuan oleh Aarav maupun Morevo.
Oxanna menarik lengan kedua pria yang kini ada di hadapannya. "Ada apa kalian kemarin? Bisakah Tuan Kadiocy menunggu sebentar saja? Jika seperti ini caranya, maka semua bisa ketahuan!" ancamnya sungguh-sungguh.
"Maaf, kami hanya sedang menjalankan tugas dari Tuan Kadiocy. Sebab tadi, nomor Anda tidak bisa di hubungi," balas anak buah Kadiocy dengan tenang.
"Jadi apa yang kalian lakukan di sini? Apa perintah Tuan Kadiocy pada kalian, yah? Cepat katakan sekarang juga!" bentak Oxanna secara kasar.
Rasanya Oxanna sudah lelah dengan tekanan dari Kadiocy. Bukan berarti dirinya, akan menentang kembali perintah dari lelaki itu. Hanya saja dirinya punya cara sendiri, untuk melumpuhkan kesombongan dan ego tinggi bagi seorang Aarav.
"Kami hanya menyampaikan pesan dari Tuan Kadiocy. Agar kau segera membunuh Aarav secepat mungkin."
"Sial!" Oxanna berdecih kesal.
"Katakan pada Tuan Kadiocy. Urusan Aarav saat ini, sudah menjadi tugasku. Dan aku mohon, untuk Tuan Kadiocy harap tetap bersabar," lanjutnya menatap kedua anak buah orang licik itu.
Kedua anak buah Kadiocy mengangguk. Mereka sepakat untuk pergi, dan meninggalkan Oxanna di ruangannya sendiri.
__ADS_1
"Aku berjanji! Akan melenyapkan Aarav secepat mungkin. Tapi tidak sekarang," ungkapnya tersenyum sinis.