TUAN MUDA MANJA DARI MILAN

TUAN MUDA MANJA DARI MILAN
Sisi baik dan jahat


__ADS_3

Tubuh Oxanna rasanya begitu lelah sekali. Dia ingin berbaring di sofa empuk yang disediakan pada ruang rawat inap milik Aarav. Ketika masuk ke dalam kamar, dia yang ingin berteriak nyaring pun menjadi tertahan saat melihat sosok sakit tengah memejamkan mata dengan pulas.


Oxanna menutup pintu kembali dengan sepelan mungkin supaya tidak membangunkan pria ini, "Tidur lah?" tanyanya bergumam pada diri sendiri sembari mendekati Aarav.


"Ouh iya, tidur." Oxanna duduk di kursi sebelah brankar dan memandangi wajah Aarav sambil menopang pipinya di telapak tangan.


"Jika tengah memejamkan mata seperti ini, kau terlihat seperti singa. Tentram tapi kalau bangun langsung melahap mangsa," cibir Oxanna terkekeh kecil.


Jika orang tuanya tidak menjadi korban pembantaian tersebut, mungkin saat ini Oxanna dengan senang hati akan mencintai Aarav setulus hati serta menerima keadaan pria itu apa adanya. Tetapi, kenyataan berbeda. Dia harus mengusir jauh-jauh perasaan tersebut supaya tidak menghalangi aksinya di kemudian hari.


Karena, Oxanna tidak ingin membuat pilihan. Menghilangkan nyawa orang yang dicintai atau ketidak adilan orang tuanya.


"Aarav, mengapa harus kau?" Oxanna bertanya pada diri sendiri. Perlahan-lahan, dia mengusap punggung tangan pucat pria itu dengan sepelan mungkin supaya tidak membangunkannya.


"Kau harus membunuhnya, Oxanna! Dia penyebab kematian kedua orang tuamu!" batin jahat Oxanna berteriak hingga menyadarkan alam bawah sadarnya.


Oxanna menelan ludah kasar.


"Jangan memikirkan hal itu. Kau dan dia adalah korban dari kekejaman orang dewasa. Aarav tidak melakukan kesalahan apapun, yang melakukan kesalahan adalah orang dewasa," kata sisi baik Oxanna mematahkan kalimat si jahat.


Seakan-akan kenyataan, Oxanna dapat melihat wujud kecilnya di depan matanya saat ini. Si jahat memakai pakaian hitam serta memiliki tanduk di kepala dan si baik memakai pakaian berwarna putih sambil membawa tongkat.


"Tapi dia adalah keluarga Skalov! Keluarga terkejam di dunia," seru si jahat.


Oxanna lantas menoleh kepadanya. Dia fokus menyimak perdebatan mereka berdua yang hanya ada di halusinasinya saja.


"Ikuti kata hatimu. Tidak semua hal yang kita lihat adalah kejujuran," balas si baik.


Oxanna memikirkan perkataan keduanya dengan lamat-lamat sampai suara panggilan membuat dia tersentak.


"Oxanna?" panggil seseorang yang berbaring di atas brankar, Aarav.


Oxanna menatapnya dengan tatapan terkejut, "Kau bangun?" tanyanya canggung.


"Kau kenapa? Dari aku bangun, kau terlihat berbicara dengan seseorang tapi tidak ada suara," kata Aarav bingung.

__ADS_1


"Ah, tak apa!" Oxanna berdehem sambil memalingkan wajah. Ketika dia ingin beranjak dari tempat duduk, Aarav menahan tangannya.


"Kau ingin ke mana? Temani aku di sini," ujar Aarav meminta. Biasanya dia selalu memaksa.


"Aku," lirih Oxanna pelan dan tidak bisa melanjutkan perkataannya lagi. Kemudian dia kembali duduk di tempat itu. "A-pa?"


Aarav memiringkan tubuh ke arah Oxanna lalu mengulurkan tangan ke arah wanita itu.


"Ada apa? Kau menyuruhku untuk memijat kau?" tanya Oxanna sinis.


Aarav tertawa pelan. "Pegang tanganku!"


"Lalu?" Oxanna menurutinya dan membalas jabatan tangan tersebut.


"Aku tahu jika aku tampan. Jadi, apakah suami tampanmu ini akan mendapatkan buah-buahan yang dikupas langsung oleh istrinya?" Aarav menaik turunkan kedua alisnya menggodai Oxanna.


Oxanna mendengkus lalu menyentak pegangan tangan mereka. "Sial, kau menipuku!"


Walaupun dia menggerutu, tapi tak urung Oxanna menuruti keinginan Aarav yang ingin memakan buah dari tangannya sendiri. Sedangkan Aarav, dia begitu bahagia melihat wajah merenggut milik sang istri.


Perhatian mereka terhenti karena ketukkan pintu terdengar di kamar.


Seseorang membuka pintu dari luar kemudian masuk, dia salah Juan. Binar bahagia di wajah Oxanna seketika sirna dan digantikan dengan mimik wajah datar.


"Aarav," sapa Juan sembari mendekat.


"Ya." Aarav mengangguk kecil pertanda mempersilakan Juan berada di sisinya. "Ada apa ke mari? Mengganggu kencanku dengan Oxanna saja."


Juan terkekeh. "Aku ingin melaporkan sesuatu, Kak."


"Ouh, apa?"


"Aku menemukan keberadaan Kadiocy saat ini. Dia baru saja dioperasi kemarin di salah satu rumah sakit pedesaan," kata Juan memberitahu.


Aarav sedikit terkejut. "Dari mana informasi yang kau dapatkan?"

__ADS_1


"Kak, aku ini merupakan lulusan kedokteran dan saat ini tengah magang di rumah sakit, tahu? Hal mudah mendapatkan rekam medik seseorang hanya berdasarkan nama," ucap Juan menyombongkan diri.


Oxanna memutar kedua bola matanya mendengar itu. Tidak Aarav, tak Juan, sama saja! Sifat sombongnya mendarah daging.


"Hahaha, sial. Ada untungnya aku menyuruhmu, ya! Cepat, seret pria brengsek itu ke hadapanku. Dalam keadaan hidup ataupun mati," perintah Aarav kejam.


Juan mengangguk pelan. "Baik, Kak. Aku akan menyerahkan penjemputan tersebut kepada Jordan," balasnya.


"Ya."


Gawat! Oxanna berusaha keras supaya tidak ketahuan jika dia tengah panik. Dia berdehem kemudian menaruh telat berisi buah di meja yang juga ada ponsel Aarav. Dia mengambil benda elektronik tersebut, kemudian mengantonginya dengan gerakan natural, dan berjalan ke toilet.


Setelah mengunci pintu, barulah Oxanna dapat menghembuskan napas lega.


"Sial, aku lupa jika Juan jauh cerdas dibanding Aarav. Dia memiliki koneksi orang-orang bawah yang dalam sekejap bisa mendapatkan seseorang. Cih, dia terlalu beralibi jika mencari keberadaan Kadiocy dari rekam medik. Sedangkan pria itu dirawat bukan di Skalov Hospital," cibir Oxanna kesal.


Dia tahu karena Juan pasti meminta bantuan kepada gangster terbesar di negara ini dan merupakan musuh terbesar organisasi Kadiocy. Juan mengenal mereka setelah diusir dari rumah oleh Aarav.


Serta, itu lah awal pertemuannya dengan Juan.


Masa itu, ketika dia baru saja pulang dari pemakaman orang tuanya, dia menemukan Juan yang tergeletak tak berdaya setelah diserang oleh anak buah gangster.


Dia merawatnya. Ketika sembuh, Juan terus kembali menantang gangster tersebut dan setelah beberapa bulan kemudian, dia menang. Juan menjadi bagian dari mereka.


Ya, seperti itu lah pertemuan mereka. Dan, Oxanna telah melupakan Juan sampai kemudian, mereka dipertemukan sebagai senior dan junior di kampus kedokteran.


Oxanna memukul pelan kepalanya saat perlakuan Juan kembali teringat. "Fokus!!" tekannya pada diri sendiri.


Dia berdehem beberapa kali lalu mengambil sebuah kabel data dari saku celana dan menyambungkan antara ponsel Aarav dengan miliknya. Oxanna telah diajari oleh Maria cara menghack benda elektronik seseorang.


Setelah tersambung. Oxanna membuka ponselnya sendiri dan mengetik pesan untuk Jordan yang nantinya akan terkirim melalui ponsel Aarav serta akan hilang secara otomatis setelah dibaca untuk keduanya.


"Tidak perlu menyelidiki lagi tentang Kadiocy. Aku telah menemukan cara untuk membunuhnya sendiri. Dia adalah bagianku, kau jangan ikut campur." Kirim, Oxanna segera mengirimkan pesan ini kepada Jordan.


Oxanna menunggu dengan cemas. Dia tidak mungkin mengembalikan ponsel ini sebelum Jordan membacanya. "Ayolah-ayolah!"

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, baru lah Jordan membacanya dan pesan terhapus.


"Oke, bagus!"


__ADS_2