
"Di mana kalian?”
Karena tidak mendapat jawaban, Aarav pun melakukan hal yang sebelumnya dilakukan oleh Morevo, dia membuka satu per satu ruangan yang ada di sana. Namun sayang, pujaan hati dan bawahannya itu tidak dia temukan juga.
Jika di lantai bawah tidak ada, berarti Oxanna disekap di lantai atas. Langsung saja Aarav pun berlari menuju tangga yang menghubungkan antara lantai satu dan lantai dua, tetapi baru saja dia menapakkan satu kakinya di anak tangga, teriakan Juan membuatnya menghentikan langkah.
“Berhenti Kau! Aku tidak akan pernah membiarkanmu atau pun kawananmu lolos dari sini!” teriak Juan yang datang bersama beberapa anak buahnya.
Lelaki itu segera berlari ke arah Aarav dan kembali menyerangnya. Aarav terpaksa menghentikan niatnya untuk mencari Oxanna, dia harus melumpuhkan adik tirinya itu.
Juan yang sepertinya tahu kelemahan Aarav dengan sengaja meninju lelaki itu di bagian bahunya yang terkena luka tembakan. Dan benar apa yang dia pikiran, lawannya itu luruh seketika.
“Sudah kukatakan kau bukan tandinganku!” Juan mengangkat tangan kanannya yang masih terkepal. Jemari tangannya itu dipenuhi oleh darah yang berasal dari luka Aarav, kemudian mengoleskannya ke tembok, dia benar-benar puas. Walaupun belum melenyapkan musuhnya itu, tetapi paling tidak dia bisa menyiksanya perlahan.
“Aku rasa bermain-main dulu lebih mengasyikkan, sebelum kepalamu terlepas dari badannya!” teriak Juan dengan tawa keras di akhir ucapannya.
Aarav yang memiliki jiwa kuat dan tidak mudah menyerah mencoba untuk terus memberikan perlawanan, tetapi sayang kondisinya sekarang benar-benar tidak baik. Dia kembali terpojok di bawah tangga dengan luka lebam di beberapa bagian wajahnya.
Saat tengah terpojok seperti demikian, tiba-tiba saja tubuh adik tirinya luruh ke lantai. Begitu menoleh ke atas rupanya Oxanna yang menembak Juan dengan pistolnya. Ya, Oxanna sudah berhasil bebas dengan bantuan Morevo yang berhasil menyelinap masuk.
Ketika Juan ingin kembali bergerak, Twins segera menembak kedua kakinya. Lalu, menghabisi semua anak buah Juan yang ada di dalam ataupun di luar.
“Aarav kau tidak apa?” tanya Oxanna begitu dirinya berada di dekat Aarav.
“Tidak, hanya terluka sedikit.” Aarav mengusap pelan pipi Oxanna yang begitu khawatir terhadapnya.
“Tapi bahumu terluka," sanggah Oxanna tidak percaya.
“Wajar, namanya juga lelaki,” jawab Aarav sembari tersenyum tipis.
Oxanna cemberut. “Kau ini."
__ADS_1
Dor!
Mereka semua menoleh ke satu sumber. Di mana, Kadiocy berada bersama dengan anggota organisasi yang lain.
"Hei, Oxanna. Kau tak lupa dengan janjimu, bukan?" Kadiocy menyeringai ke arah wanita itu.
Aarav hanya meliriknya dan mengambil posisi siaga. "Twins, siap? Serang pria itu jika dia ingin menyakiti Oxanna," perintahnya berbisik kepada penembak jitu. Dibalas, seruan.
"Tentu saja tidak, aku juga tidak lupa bagaimana kau dulu bermulut manis demi menyakinkanku jika Skalov lah yang membuat cerita dan menuduh jika keluargaku pengkhianat," balas Oxanna tak takut. Dia bahkan mengangkat wajahnya dengan pongah.
Kadiocy terkekeh.
"Nyatanya, kau berbohong. Ayahku lah yang menciptakan keadaan membuat Skalov memutuskan untuk menghabisi mereka," teriak Oxanna lepas kendali.
Sontak, Aarav menoleh. Dia tidak percaya dengan ucapan Oxanna.
"Jadi sekarang, kau memilih Skalov dan membuang orang tuamu, begitu?" Kadiocy menyipitkan mata tak suka.
Tentu saja Oxanna langsung menggeleng. "Tentu saja tidak!" sanggahnya.
Kadiocy terdiam sesaat sebelum tertawa terbahak-bahak. "Lucu sekali. Apakah kau tidak merasa jijik dipanggil dengan Nyonya Skalov? Atau, kau bahagia di atas jasad seluruh warga di sini? Kau senang menjadi istri dari keluarga Skalova yang kaya itu?"
Oxanna menelan ludah gugup. Dia tahu, dia menelan ucapannya sendiri. Dulu, dia begitu membenci Aarav dan Skalova. Tetapi sekarang, dia mencintai mereka. Keluarga yang telah membunuh orang tuanya.
"Apapun alasannya, mereka tetap pembunuh orang tuamu, Oxanna. Di depan matamu, kau menyaksikan sendiri bagaimana keluargamu mengorbankan diri demi kau bisa hidup. Kini, kau tak mau membalas jasa tersebut?" Kadiocy kembali memprovokasi suasana.
Melihat Oxanna yang sudah termakan kalimat itu, Aarav segera mengambil pistolnya sendiri dan bersiap-siap untuk menarik pelatuk ke arah Kadiocy.
"Ayo, sekarang, kau buktikan jika dirimu merupakan anak berbakti dan akan membalas jasa-jasa kedua orang tuamu," kata Kadiocy kemudian.
Bertepatan dengan Aarav mengacungkan pistol ke arah Kadiocy, Oxanna mengacungkan senjata api miliknya ke arah pria itu.
__ADS_1
Aarav menoleh ke arahnya. "Oxanna ...."
Oxanna menatapnya datar. "Mengapa kau hidup dengan gelar tersebut? Mengapa aku harus mencintaimu, Aarav?"
Aarav tidak bergeming.
"Aku mencintaimu, tetapi keluargamu lah pembunuh dari orang tuaku. Aku hadir di hidupmu karena ingin membalaskan dendam tersebut," tambah Oxanna kemudian.
"Aku mencintaimu," bisik Aarav.
Air mata Oxanna menetes secara perlahan. "Maafkan aku."
Dor!
Bukan Oxanna ataupun Aarav, melainkan Kadiocy yang tumbang. Tetapi, di antara mereka tidak ada yang menembak pria itu.
"Akuu! Tepat sasaran bukan? Xixi, lagian, dia ingin menembak Oxanna," kata Twins dalam panggilan.
Aarav terkekeh lega. Dia perlahan-lahan menurunkan senjatanya dan menghadap Oxanna. "Aku akan menyingkirkan gelar itu demi kau."
Oxanna menggeleng. Tetapi, Aarav menarik pistol tersebut agar menempel di dadanya. "Apa yang kau lakukan?!"
"Percuma aku hidup jika tidak ada kau, lebih baik aku mati saja ditanganmu," kata Aarav.
Oxanna menggeram kesal lalu menendang tulang kering Aarav. "Omong kosong," balasnya kemudian membuang senjata api tersebut.
Lalu, Aarav menarik Oxanna masuk ke dalam pelukannya.
"Aku mencintaimu. Jangan pergi, maafkan semua kesalahan tetua Skalova dulu," bisik Aarav merasa bersalah karena hidup Oxanna.
Oxanna mengangguk. Lalu dia melepaskan pelukan mereka dengan paksa. "Heem. Aku juga," balasnya.
__ADS_1
“Ya sudah ayo kita tinggalkan tempat ini,” ajar Aarav kepada Oxanna dan Morevo. “Kau, tolong amankan anak buah Juan yang masih tersisa, bagaimanapun juga mereka sudah sekongkol untuk menculik Oxanna dariku,” imbuhnya yang kini ditunjukkan kepada pemimpin pasukannya.
Saat kepala pasukan hendak mengamankan Kadiocy, Oxanna memohon kepada Aarav untuk melepaskan lelaki tersebut dengan alasan sebagai kebaikan terakhirnya karena dia tidak mau memiliki urusan lagi dengan lelaki itu untuk ke depannya. Dia ingin hidup tenang.