TUAN MUDA MANJA DARI MILAN

TUAN MUDA MANJA DARI MILAN
Sasaran Baru


__ADS_3

"Kau lapar, huh? Ingin minum atau makan? Ayolah, Oxanna. Aku akan membelikan apapun untukmu," kata Juan tersenyum lebar kepada Oxanna yang tengah terikat di atas kursi tengah ruangan lembab tersebut.


"Atau, kau ingin bertemu dengan kakakku, huh? Rindu? Hahaha! Jangan terpedaya oleh tipu muslihat dia, Oxanna. Aarav mempermainkan hatimu supaya sewaktu-waktu dia bisa menyingkirkan kau dengan mudah," tambahnya kemudian.


Oxanna menatap Juan tajam.


"Hei, aku berkata jujur. Aku lebih mengenal Aarav daripada kau. Dia itu psikopat, kejam, dan misterius. Kau bahkan tidak tahu 1% dari sikap aslinya, yakin masih menyukai kakakku?" Juan menyeringai licik.


Walaupun kalimat Juan menggiringnya untuk murka, sebisa mungkin, Oxanna menahan segala emosi supaya tidak kalah. Dia harus memikirkan sebuah siasat yang malah akan menghancurkan tikus-tikus keparat ini.


"Aku berikan sebuah penawaran padamu, setelah Aarav mati nanti, kau bisa mengelola Skalov Hospital, Oxanna. Jadilah ketua di sana dan aku akan memberikan 5% saham SHC untukmu," timpal Juan kembali.


Oxanna terkekeh sinis. "Ya, tentu saja. SHC akan jadi milikku. Mati atau tidaknya Aarav sebab dia begitu mencintaiku," balasnya tak ingin kalah.


Juan menggeram. Dia mencengkeram leher Oxanna, "Sialan. Dia tidak mencintaimu!"


"Haha, tahu dari mana kau? Aku telah menaklukkan kakakmu itu. Jika dia mati, seluruh aset SHC akan menjadi milikku, bukan kau," ujar Oxanna.


Melihat Juan yang marah membuat Oxanna tersenyum puas. Rencananya telah berhasil.


"Juan, aku tidak tahu, atas dasar apa kau ingin membunuh Aarav. Yang pasti, kau tidak akan pernah bisa menyentuhnya tanpa bantuan Kadiocy," bisik Oxanna tersenyum sebelah.


Tangan Juan yang tengah berada di leher Oxanna pun melemah dan akhirnya terlepas.


"Kau pengecut. Maka dari itu, sejak kecil kau tidak bisa melawan Aarav. Kau mampu menghabisi seluruh musuh di luar sana, tetapi tidak dengan kakakmu sendiri. Kau tidak sebanding dengan dia. Kau rendah, pecundang, dan tidak diharapkan," hina Oxanna berteriak.


Plak!


Wajahnya terhempas ke kanan dengan pipi memanas. Oxanna merasakan perih di sudut bibirnya.


"Hahaha! Tindakanmu padaku membuktikan jika kau tidak lebih dari sekedar tikus bau! Beraninya melawan wanita yang terikat? Ouh, tentu saja kau berani sebab kau akan terkencing-kencing jika melawan Aarav," ejek Oxanna kembali.


Plak!


Oxanna tak masalah jika pipi sebelahnya terkena tamparan dengan sangat kuat selagi dapat mencela harga diri Juan yang telah terpancing.

__ADS_1


"Cuih!" Oxanna meludah yang sebagian besar darah dan terkena sepatu Juan.


"Hei, Pecundang. Lebih baik kau memohon ampun kepada Aarav supaya diterima menjadi kacung kami. Karena, kau bahkan tidak berhak menginjakkan kaki di Skalova Castel," umpat Oxanna kembali.


"Diam!!!" teriak Juan murka. Dia menarik rambut Oxanna hingga kepalanya mendongak. Kemudian, dia mengambil pisau yang terbungkus aman di pinggang lalu mengacungkannya ke leher wanita itu. Juan menekannya kuat hingga leher Oxanna terluka dan meneteskan darah.


Oxanna sekuat tenaga menahan ringisan.


"Cepatlah memohon ampun, Oxanna. Jika tidak, aku akan memutuskan kepalamu ini," desis Juan gelap mata.


Yang diancam malah terkekeh mengejek. "Coba lah. Cepat bunuh aku dan rasakan penderitaan, bagaimana kau memohon untuk mati daripada memilih hidup," bisiknya dengan nada meremehkan.


Sebab, Oxanna yakin jika Aarav tengah mencarinya saat ini. Dia berharap banyak untuk suaminya menolong dan melenyapkan Juan.


Kemudian, Oxanna tertawa puas. Suaranya begitu menggelegar hingga bodyguard di luar bisa mendengarnya. "Silakan hubungi Aarav dan minta datang ke mari. Bukankah itu yang kau inginkan? Ah, aku tidak sabar melihat suamiku mencabik-cabik organ tubuh busukmu ini!"


Bugh!


Juan tidak tahan lagi melihat mimik wajah wanita itu. Dia memakai senjata api untuk memukul Oxanna dipukul dengan kuat di bagian kepala hingga akan pingsan.


Juan menggeram, dia menendang kursi yang ditempati Oxanna hingga terjatuh.


"Kau pikir aku bodoh?" Juan berbisik. Lalu, dia mengambil ponsel. "Permainan tidak menarik jika diakhiri begitu cepat." Sebuah pesan singkat serta foto keadaan wanita itu terkini dikirimkan kepada seseorang yang kini mengkhawatirkan keadaan Oxanna.


***


"Sebuah truk menabrak kami dari arah berlawanan. Saat itu, aku terluka cukup parah hingga pingsan. Menurut warga setempat, di sana hanya ada aku dan sopir saja, Oxanna tidak ada. Anehnya, truk yang menabrak kami entah hilang ke mana, seakan-akan kami mengalami kecelakaan tunggal." Maria menjelaskan kejadian yang sebenarnya pada Aarav dan Morevo.


"CCTV bagaimana?" tanya Aarav pada Morevo.


"Tidak ada. Menurut penjaga pengawas keamanan syber, kamera CCTV di daerah itu telah rusak sejak beberapa bulan lalu. Sempat diganti tetapi selalu rusak, ini adalah ke-3 kalinya ganti," jawab Morevo.


Aarav menghela napas kasar. Dia terus mendiskusikan masalah dan mencari solusi agar menemukan Oxanna segera.


Saat tengah menyimak pembicaraan mereka, ponsel Maria bergetar. Dia mengambilnya diam-diam.

__ADS_1


"Hei, Nyonya Skalova ada padaku, tahu! Hahaha, kau tidak penasaran dengan keadaannya, huh? Jika iya, ke mari lah. Aku dengan senang hati akan menunggumu datang." Isi pesan dari nomor tidak dikenal masuk ke ponsel Maria.


Maria menggenggam ponsel tersebut dengan kuat, matanya melebar, "Sial, siapa dia?!" umpatnya dalam hati.


Ketika Maria tengah memikirkan pelaku penculikan Oxanna, Morevo memanggilnya beberapa kali.


"Maria!" Morevo mengguncang bahu Maria.


"Hah?!" Maria tersentak.


"Kau kenapa?" tanyanya lagi.


Maria menelan ludah takut. Ketika dia ingin memberitahukan isi pesan tersebut, sebuah notifikasi kembali muncul. Lagi, pengirim anonim tersebut mengirimkan pesan.


"Ah, tidak asik jika kau memberitahu Aarav, kan? Ayolah, permainan harus terus berlanjut. Aku akan mengambil salah satu jadi Oxanna sebagai hadiah kalau kau berbicara, setuju?!" katanya dalam pesan.


"Brengsek," umpat Maria tanpa sadar meninggikan suaranya.


"Ada apa?" tegur Morevo bingung.


Maria langsung tersadar, dia menggeleng beberapa kali. "Tidak, aku hanya membaca salah satu artikel mengenai Skalova. Siapa tahu ada yang mengujar kebencian dan ternyata dia pelaku," katanya berdalih sempurna.


"Oke. Kalau gitu, aku dan Aarav akan pergi mencari Oxanna dulu. Kau di sini saja, jika ingin pulang, bersama bodyguard," perintah Morevo tak ingin dibantah.


Maria mengangguk kuat. Dia menatap dengan harap saat Morevo dan Aarav berjalan keluar dari kamar tersebut. Dia bisa bernapas lega dan turun dari ranjang, tak lupa melepaskan infus.


Sebelum pergi, Maria berganti pakaian dulu. Hitam-hitam mencerminkan misterius, dia memakai jaket, celana denim, masker, topi, dan sarung tangan hitam. Walaupun kepalanya diperban serta tangan, tapi Maria tidak peduli.


Tidak ada cara lain untuk pergi, Maria menerobos keluar lewat pintu depan.


"Nyonya! Anda—," katanya tidak sempat selesai sebab Maria memukul tengkuk bodyguard tersebut sampai pingsan. Begitu pula dengan pria di sebelahnya.


"Sorry!" Maria menuju lift, dia tidak peduli dengan CCTV. Malah berani turun secara terang-terangan.


Karena, dia berharap jika Morevo dan Aarav melacak keberadaannya saat ini dan menyelamatkan mereka.

__ADS_1


__ADS_2