
Beberapa tahun kemudian, tepatnya di bandara Internasional tampak seorang pria berkebangsaan luar negeri berjalan menuruni sebuah jet pribadi. Pria yang terlihat berbeda dengan kebanyakan orang itu berjalan dengan santai menuju pada seorang pria paruh baya.
"Selamat datang di Indonesia, Tuan Aarav!" sapa pria itu.
"Hemm," balas Aarav.
"Mari saya antar Anda ke tujuan. Ikut saya, Tuan!" lanjut pria itu.
Lalu pria tersebut pun melangkah menuju ke sebuah mobil panser hitam yang terparkir di lobi bandara. Mobil berplat khusus dan model terbaru. Sang pria tersebut ternyata adalah sopir yanh ditugaskan oleh perusahaan untuk membantu kelancaran kegiatan Aarav selama di Indonesia. Pria itu bernama Pak Agus.
"Silahkan masuk, Tuan Aarav!" kata Pak Agus ramah.
Aarav pun masuk tanpa mengucapkan satu kata pun. Lelaki itu duduk dengan elegan. Pak Agus segera menutup pintu dan kembali menuju tempat kemudi. Setelah dipastikan majikannya nyaman, maka kendaraannya pun melaju dengan perlahan.
"Bawa aku ke pusat belanja terbesar di sini!" perintah Aarav.
"Baik!"
Mobil pun segera melaju ke pusat kota, Pak Agus sengaja membawa ke sana karena menurutnya disanalah semua aset perekonomian kota berada. Mobil memasuki salah satu Mall terbesar di kota itu. Setelah memarkirkan kendaraan pada tempatnya, maka Pak Agus segera membukakan pintu untuk majikannya itu.
"Silahkan, Tuan. Apakah perlu saya tunggu?!" tanya Pak Agus.
__ADS_1
"Tidak, aku bisa pulang sendiri!" jawab Aarav.
"Baik, Tuan!"
Aarav pun melangkah meninggalkan parkiran. Kakinya yang panjang terlihat berirama menapaki jalanan mall yang telah ramai pengunjung. Decit ujung sapatu yang lancip dan mengkilat menyapa daun telinga setiap pengunjung hingga membuat beberapa pengunjung wanita berdecak kagum akan sosok Aarav.
"Tampan!"
"Sepertinya bukan orang asli Indonesia!"
Berbagai kalimat terlontar dari para pengunjung mall yang lebih dominan wanita. Aarav masih berjalan mengitari beberapa stand. Langkah kakinya tiba-tiba berhenti di depan stand busana wanita. Bola matanya membelalak sempurna kala melihat sosok yang dia kenal.
"Oxanna!" lirih Aarav menyebut sebuah nama yang sudah lama tidak dia ucapkan.
Pandangan Aarav terus memindai sosok wanita muda yang sedang memilih sebuah gaun malam. Sepertinya wanita itu tidak menyadari jika ada yang memperhatikan segala gerak geriknya. Aarav akhirnya memilih untuk memberi segelas kopi cup yang kebetulan ada stand yang dekat dengan stand yang ada wanita tersebut
"Jika memang dia Oxanna maka aku harus mendekatinya kembali. Tunggu di mana wanita itu!" gumam Aarav sambil mengedarkan pandangannya mencari keberadaan wanita incarannya.
Pandangan Aarav melihat sekitarnya, hingga berhenti pada sosok wanita yang sedang berjalan mendekat pada posisinya. Aarav mulai berpikir keras cara untuk menyapa wanita itu. Aarav mengerutkan dahi, otaknya tiba-tiba susah untuk diajak berpikir cepat.
Langkah wanita yang diduga sebagai Oxanna itu sudah semakin dekat jaraknya, membuat detak jantung Aarav berpacu semakin kencang. Tubuhnya bergetar akibat rindu yang membuncah. Sungguh hal yang sangat diluar dugaan dan membuat Aarav bagai tertimpa bulan.
__ADS_1
"Mmbak ... Mbak, maaf!" ucap Aarav terbata mencoba menyapa wanita itu.
"Ada apa ya, mengapa Anda tiba-tiba menghentikan langkahku dan meminta maaf?" tanya wanita itu dengan mimik wajah yang bingung.
"Boleh saya tahu nama Anda, Mbak?" tanya Aarav.
Wanita itu semakin bingung dengan tingkah Aarav. Sungguh dia tidak menyangka ada seorang lelaki yang menghadangnya hanya sekedar bertanya nama saja. Ini sangat aneh bagi wanita tersebut.
"Saya tidak kenal Anda, buat apa?" tanya wanita itu datar.
"Wajah dan cara jalan Anda mengingatkan saya pada kekasihku yang lama hilang," jawab Aarav jujur.
"Lalu sekarang Andi mengira sayalah wanita tersebut, begitu? Aish, enak saja," decih wanita itu.
Ara adalah nama wanita itu, dia merasa aneh dengan sosok lelaki yang menyapanya saat ini. Biasanya jika ada lelaki yang tidak dia kenal dan pura-pura baik, Ara akan menghindar. Namun, pada Aarav hal itu tidak terjadi. Justru Ara semakin terlihat nyaman berbicara dan menjawab semua pertanyaan si lelaki.
Bahkan saat ini Ara telah duduk satu meja dengan lelaki itu yang Ara tahu bernama Aarav. Entah bagaimana cara Aarav mengajak Ara untuk duduk satu meja hingga hal itu mampu mengembalikan dunianya. Aarav begitu gembira. Sorot mata yang suram kini sudah berganti cerah.
"Terima kasih, Anda sudah mau menemani saya minum kopi sore hari. Bolehkah lain hari saya mengajak Anda untuk makan malam atau menikmati kota ini bersama?" tanya Aarav.
"Apakah tidak apa jika Tuan selalu keluar menikmati hari bersama dengan saya?" tanya balik Ara.
__ADS_1
"Ara, nama kamu Ara 'kan tadi?" tanya Aarav.
"Benar, Tuan. Panggil saja saya Ara!"