TUAN MUDA MANJA DARI MILAN

TUAN MUDA MANJA DARI MILAN
Bab 31


__ADS_3

Sesuai dengan permintaan Oxanna, Juan telah mengamankan Kadiocy di tempat aman bersama dengan anggota organisasi yang masih hidup. Kali ini, Juan meminta bantuan kepada seluruh preman ibukota untuk menjaga tempat itu jika sewaktu-waktu Aarav menemukan mereka dan menyerang. Bagaimanapun, mereka akan kalah dengan bodyguard terlatih tersebut.


"Aku telah memasang penembak jitu dari gedung sebelah untuk melindungimu jika Kadiocy membawa senjata atau benda tajam. Aku ada di belakangmu serta para preman bersembunyi di dalam ruangan ini agar bisa menyerang jika anggota organisasi melukai kau," bisik Juan ketika berada di depan pintu ruangan tersebut.


Oxanna mengangguk pelan, "Oke," katanya kemudian mendorong pintu hingga terbuka. Mereka masuk ke dalam.


Sekitar ada sepuluh anggota organisasi yang memiliki peran penting dan juga Kadiocy tengah duduk di tengah ruangan menghadap ke arah pintu.


"Hei, long time no see, right?!" Kadiocy tertawa sarkas dengan menggelegar.


Namun, Oxanna sama sekali tidak takut. Dia mendekati Kadiocy diikuti Juan dalam jarak aman. "Kau hidup berkat diriku," katanya sinis.


"Ya, benar. Aku begitu berjasa kepadamu, Oxanna." Kadiocy menyeringai licik. "Jadi, ada apa kau ingin berbicara denganku, Nyonya Penyelamat?"


Oxanna berdecih. "Tidak perlu berbangga, aku membawa kalian ke sini sebab Aarav akan membunuhmu besok," bentaknya kesal.


"Tapi sepertinya, aku yang akan lebih dulu membunuhmu jika kau berani berbohong," lanjut Oxanna bernada dingin. Kemudian, dia mengambil gulungan kertas kulit tersebut lalu melemparnya tepat di depan Kadiocy.


Kadiocy mengambilnya lalu membuka di atas meja hingga anggota organisasi mulai berkerumun untuk membaca itu.


"Kau berbohong padaku? Nyatanya, keluargaku lah yang memiliki masalah pada wilayah ini. Keluargaku bukan dari kalangan baik seperti yang orang-orang katakan juga dalam sejarahmu, Kadiocy! Mengapa kau tega membohongiku?!" Oxanna berteriak murka.


Kadiocy tidak membalas tatapan Oxanna yang kini telah mengeluarkan taring.


"Aku begitu percaya padamu tapi kau memanfaatkanku sebagai alat balas dendam dirimu sendiri. Lucu sekali sebab aku benar-benar termakan omonganmu selama berpuluh-puluh tahun yang lalu," tambah Oxanna tajam. Dia berusaha mengendalikan diri agar tak semakin murka.


Kadiocy tertawa pelan. Perlahan-lahan, dia menatap Oxanna dengan santai. "Kau mendapatkannya dari Aarav? Keparat itu? Astaga, My Sister! Kau percaya, huh?" tanyanya meremehkan.


Oxanna menaikkan sebelah alisnya bingung. Dia tidak tahu apakah kalimat itu menyiratkan apa. Entah kebohongan, kejujuran, atau alibi lagi.


Kadiocy berdiri lalu mendekati Oxanna hingga berada di depannya. "Untuk apa aku merawatmu jika semua itu adalah kebohongan? Skalov benar-benar membunuh ayah ibu kau karena Krovopuskov memimpin Jamaat agar menentang sengketa wilayah pada masa itu. Skalov merasa Krovopuskov adalah musuh terbesar maka dari itu membunuhnya. Aku tidak menyangkal jika ayahmu adalah pemimpin agama sesaat kala itu, tapi jangan pernah meragukan mengenai pembunuhan yang mana kau benar-benar menyaksikannya sendiri dengan sadar, Oxanna."


Apapun yang dikatakan oleh Kadiocy, Oxanna merasa ... setuju. Semua itu begitu mengerikan hingga ribuan kali, dia memimpikan hal yang sama. Ketika sang ibu melindunginya hingga kepalanya terpenggal atau saudara-saudara merenggang nyawa demi dia selamat. Semua itu karena Skalov, kakeknya Aarav yang begitu bengis.

__ADS_1


"Oxanna, mengapa kau begitu polos hingga termakan oleh informasi basi ini? Astaga, aku benar-benar kasihan padamu," gumam Kadiocy kembali sambil mengusap kepala Oxanna yang kini tercekat tanpa bisa bergerak sedikitpun.


"But, terima kasih karena kau telah menyelamatkan nyawa kami," tambahnya kemudian dengan seringai licik.


Ketika Kadiocy sudah berbalik. Tetapi, seakan-akan dirinya teringat sesuatu, dia kembali menoleh ke arah Oxanna lalu mengusap pipi wanita itu pelan dengan tatapan mengerikan.


"Tetapi, Oxanna. Sudah berapa lama kau menjadi istri Aarav, hm? Apakah 3 bulan telah berlalu? Mengapa aku tidak mendengar kabar wafatnya pria keparat itu?" desis Kadiocy menatap Oxanna dingin dan tajam.


Oxanna menelan ludah gugup. "Aku—AKH!"


Secara tiba-tiba, Kadiocy mencekik Oxanna kuat. Dia menatap Juan yang ingin menghampiri lalu berkata, "Aku akan mematahkan lehernya jika kau melanggar mendekat."


Juan langsung berhenti di tempat.


Oxanna memukul-mukul pelan tangan Kadiocy. Saat teringat benda tajam yang dia bawa, Oxanna berusaha mengambil sesuatu di kantung celana bagian belakang. Ketemu! Pisau kecil yang dia ambil dari ruang rahasia Aarav.


"Ah, aku tidak menyangka jika kau pandai berbohong," kata Kadiocy kemudian.


Oxanna melihat Kadiocy lengah pun segera menusuk ke arah lengan Kadiocy sehingga cekikkan di lehernya terlepas. Dia terbatuk-batuk dengan parah di atas lantai berdebu itu.


"Arghh!! Sialan, Oxanna!!" Kadiocy berteriak menggelegar.


Namun, Oxanna tak peduli. Dia berusaha kabur dari sana dan kepalanya menabrak kaki seseorang. Dia mendongak lalu mendapati Aarav.


"Aarav," lirihnya tanpa sadar.


Aarav berjongkok. Kemudian mengelus kepala Oxanna pelan. "Sudah berburunya, Sayang?"


Setetes air mata Oxanna turun. Aarav ingin kembali berkata tetapi saat melihat leher wanitanya begitu merah berbekas juga lecet membuat emosinya tersulut.


"Ini adalah bagianku. Pejamkan mata dan tutup telinga jika berisik," bisik Aarav menyeringai bak psikopat mendapatkan mangsa. Kemudian, dia menatap Kadiocy yang sudah merangkak menjauhi mereka.


Aarav berjalan ke arah Kadiocy dengan pelan sambil mengambil senjata api yakni pistol.

__ADS_1


Dor! Dor! Dor!


Satu persatu, anggota organisasi tersebut ditembak oleh Aarav yang kini tertawa puas. Sampai, dia telah sampai di belakang Kadiocy.


Aarav menodong tepat kepala bagian belakang Kadiocy yang kini mematung. "Ingin kabur ke mana, Kadiocy?" bisiknya menyeramkan.


Tanpa menunggu jawaban, Aarav menarik leher Kadiocy begitu keras sehingga pria itu terlempar ke tengah ruangan.


Kadiocy terbatuk-batuk kesakitan.


Dor!


"Arghh!!" Kadiocy berteriak kesakitan ketika Aarav menembak kakinya dari jarak 10 meter.


"Anda tidak tepat sasaran, Tuan." Morevo berkata meremehkan.


Aarav terkekeh singkat. "Ya, aku begitu payah jika menembak dari jarak dekat begini. Haruskah menjauh?" Lalu, dia mundur beberapa meter dari mereka.


Lantas ... dor!


Kadiocy kembali berteriak kesakitan ketika Aarav menembak lengannya yang terluka karena Oxanna.


"Haha! Dikit lagi, Tuan." Morevo bersorak gembira. Aarav kembali melanjutkan kesenangannya.


Melihat Kadiocy yang terluka, belum lagi Aarav tidak ada niatan untuk berhenti membuat Oxanna sedikit panik.


"Tidak, Kadiocy tidak boleh mati," gumam Oxanna memutuskan. Dia berdiri dan berjalan tertatih-tatih menuju Kadiocy tanpa disadari oleh Aarav.


Sedangkan Aarav dan Morevo sudah berada dijarak 25 meter oleh Kadiocy setelah melayangkan 3 tembakan. Kali ini, Oxanna yakin jika mereka akan mengincar kepala Kadiocy.


"Tidak!" Oxanna segera berlari ke arah Kadiocy saat Aarav menarik pelatuk.


Dor!

__ADS_1


__ADS_2