
Sementara di tempat lain, Aarav yang murka dengan kelakuan adik tirinya segera memanggil kepala bodyguard untuk berdiskusi mengenai rencana penyerangan sebelum pergi ke markas Juan. Aarav menyiapkan semuanya dengan matang dan sempurna karena dia yakin lawannya kali ini bukan lawan biasa. Dia dan Juan sebelas-dua belas liciknya.
Dia sangat mengenal Juan.
"Ingat, tim A berjaga di Utara, B di Timur, C di selatan, dan D ikut masuk bersamaku. Kita akan menyerang melalui pintu depan," kata Aarav menutup pembicaraan mengenai strategi mereka.
"Baik, Tuan!"
Setelah memberi instruksi kepada anak buah serta mempersiapkan semuanya, Aarav dan pasukan pun turun menuju garasi di mana mobil-mobil mewah kepunyaannya berjajar.
Namun, begitu tiba di bawah dia tercengang melihat kedatangan Morevo. Bukankah tadi dia memerintahkan Morevo untuk tinggal di rumah sakit? Kenapa dia bisa ada di depan rumahnya sekarang?
Apalagi kini, pria itu telah memakai pakaian pelindung peluru dan membawa beberapa senjata api.
“Morevo? Kenapa kau ada di sini?” cecar Aarav meminta penjelasan.
“Maaf Tuan, tapi saya ingin ikut bersama Anda. Perihal Maria, saya sudah mengerahkan beberapa bodyguard dan Jordan menawarkan diri untuk menjaganya di rumah sakit,” jawab Morevo seolah mengetahui kebingungan yang ada di benak atasannya.
Aarav menyipitkan kedua matanya. “Kau yakin akan ikut denganku? Kau bisa mati."
Morevo terkekeh pelan. “Tentu saja, Tuan. Ini bukan sekali dua kali saya mengikuti pertempuran dengan Anda. Beberapa tahun yang lalu, kita bersama-sama membantai mafia di Selatan, bukan?"
Aarav tertawa. "Ya, benar. Tapi kali ini, mafianya adalah adikku."
"Dan aku pun tak segan-segan menyingkirkan bajingan kecil itu," sahut Morevo penuh arti.
Aarav menyeringai lebar. “Baiklah.” Dia menyetujui permintaan Morevo, akhirnya mereka pun segera bergerak menuju ke markas Juan untuk memberikan pelajaran kepada lelaki licik itu.
Mereka telah jalan menuju gudang persembunyian Juan dengan lebih dari 200 pasukan dan 100 pasukan sudah mengepung di sekitar daerah sana.
__ADS_1
Tadi pun, Aarav telah bekerja sama dengan para gangster lokal untuk menjaga di pusat kota. Berjaga-jaga siapa tahu Juan kabur.
Sepanjang perjalanan, Aarav terus berdoa agar Oxanna tidak kenapa-kenapa. Dia tidak akan memaafkan Juan jika sang istri lecet.
Waktu terus berjalan, tidak terasa Aarav, Morevo dan pasukannya tiba di markas Juan. Mereka pun segera mengepung bangunan bergaya kuno tersebut di setiap sisi.
Walaupun sebelumnya Juan tidak menyangka akan kedatangan musuhnya, tetapi anak buahnya yang tak kalah banyak itu selalu berjaga di setiap sisi bangunan, sehingga begitu Aarav dan Morevo datang, mereka sudah stand by.
"Mereka menghalangi kita, Tuan," adu sopir mobil Aarav.
"Juan terlihat?" tanya Morevo.
"Tidak, Tuan. Hanya preman-preman saja."
Aarav mengambil salah satu pistolnya untuk bersiaga. "Apakah anak buah kita telah mengambil posisi?"
"Sudah, Tuan," jawab Morevo menyampaikan informasi.
"Oke bagus, tujuan kita hanya satu yaitu Juan. Berikan satu kesempatan para preman itu pergi, jika menolak, maka habisi," perintah Aarav.
Morevo mengangguk yakin.
“Aku tidak memiliki urusan dengan Kalian! Menyingkirkanlah, jangan sampai pistolku ini bersarang di kepala dan dada kalian!” kata Aarav begitu anak buah Juan mendekat ke arah mobilnya.
Bukan takut, tetapi Aarav memang tidak memiliki urusan dengan orang-orang tidak berguna tersebut. Semua hanya akan membuang-buang waktunya saja.
"Kepala Anda begitu mahal, Tuan Skalov. Kami tentu tidak akan menyia-nyiakan uang tersebut," balas anak buah Juan berteriak nyaring.
"Tabrak saja," kata Aarav tajam.
__ADS_1
Sopir mobilnya menekan klakson berkali-kali dan mengancam akan menabrak jika mereka tak menghindar.
Namun, bukannya menyingkir pria-pria berbadan tegap itu malah makin mendekati mobilnya, dan mau tidak mau adu kelihaian pistol pun terjadi di antara anak buah Aarav dan anak buah Juan.
***
"Lihatlah, pahlawanmu datang," bisik Juan di telinga Oxanna yang sudah lemah.
Oxanna perlahan-lahan membuka matanya. Dari kejauhan, dia dapat mendengar bunyi tembakan senjata api dan suara teriakan kesakitan seseorang. Tetapi, dia tak melihat tanda-tanda kemunculan dari Aarav.
"Hm, bagian apa dulu yang perlu aku lumpuhkan, ya? Sebagai seniorku, kau ingin memberikan saran? Tidak asik bukan jika aku menyerang jantungnya," kata Juan bermain-main.
Oxanna menarik napas dalam-dalam. "Tutup mulutmu," desisnya.
"Haha, ada apa? Bukankah kau juga menginginkan nyawa Aarav?" Juan menyeringai. Ketika dia ingin kembali berbicara, Kadiocy muncul dari belakangnya. Yang kemudian menyiramkan air ke kepala Oxanna agar sadar sepenuhnya.
"Kau lupa, Oxanna? Bagaimanapun bentuk perasaanmu kepada pria itu saat ini, kau harus melaksanakan janji dirimu," kata Kadiocy bernada dingin. Dia berdiri tepat di hadapan Oxanna yang kini membalas tatapannya dengan tajam.
"Salah atau tidak salahnya orang tuamu dulu, mereka tidak berhak membunuh seluruh keluarga kau," tambahnya kemudian. Lalu, dia menyamakan tinggi dengan tubuh Oxanna.
"Aku yakin jika kau menginginkan keadilan untuk orang tuamu, kan?" Kadiocy tersenyum lebar sambil mengusap kepala Oxanna yang basah.
Tubuh Oxanna bergetar pelan. Dia tidak bisa menjawab apapun pertanyaan tersebut. Dia begitu ingin memberikan keadilan kepada orang tuanya tetapi, sebagian hatinya melarang. Dia takut terjadi sesuatu kepada Aarav.
Kadiocy mendekatkan wajah ke telinga Oxanna lalu berbisik, "Aarav hanya memanfaatkanmu. Untuk apa dia mempertahankan kau setelah tahu yang sebenarnya? Dia tidak sebodoh yang kau kira hanya demi cinta, Oxanna. Pria itu meminta kau di sisinya demi mempertahankan harta saja. Skalov Holding Company adalah segalanya."
Apakah .., benar?
Oxanna ingin menyangkal, tetapi wajah serius dan tulus Kadiocy membuatnya sedikit percaya dengan ucapan itu. Sebab, dia belum tahu perasaan Aarav yang sebenarnya
__ADS_1