
"Hello, Oxanna. Aku sangat bahagia ketika menonton acara reality show milikmu! Engh, benar-benar mengagumkan. Sebagai perayaan dariku, bagaimana jika kita dinner nanti malam, huh? Tentu saja bersama para pria, sebab sepertinya My Love ingin berdiskusi sesuatu dengan Mr. Skalov." Isi pesan ini masuk ke dalam ponsel Oxanna yang terganggu dari tidurnya.
"Bajingan mana yang berani-beraninya mengganggu tidurku?!" Oxanna berkata kesal entah pada siapa sambil mengambil benda elektronik tersebut.
Aarav sampai terperangah ketika memakai dasi mendengar umpatan Oxanna yang kian berani.
"Stella?" gumam Oxanna membaca nama pengirim pesan. "Istri menteri keuangan itu?"
Mendengar salah satu koleganya disebut-sebut oleh Oxanna membuat Aarav mendekat ke arahnya. "Apa yang kau katakan?"
Oxanna menoleh dengan wajah bantal. "Engh?"
"Mengapa kau menyebut menteri keuangan?" tanya Aarav mengulangi kalimatnya dengan lebih jelas.
Oxanna tak menjawab, dia menguap lebar dan tak peduli jika Aarav merasa jijik dengan tingkahnya. Dia melempar ponsel tersebut mendekat ke arah pria itu. "Baca sendiri, aku mau tidur."
Aarav mendengkus. Walaupun hatinya kesal, dia tetap mengambil benda elektronik tersebut dan membaca pesan yang dikirimkan oleh Stella.
"Dia mengundang kita dinner nanti malam?" tanyanya bermonolog. Kepala Aarav mengangguk-angguk sambil mengetik balasan pesan untuk Stella.
"Baiklah, Stella. Terima kasih telah mengundangku dan suamiku. Tolong kirimkan alamat restoran yang telah kau reservasi untuk dinner nanti malam." Klik! Aarav mengirimkan pesan ini kepada Stella. Kemudian, dia menaruh kembali ponsel tersebut di dekat Oxanna.
"Bangun lah, Pemalas. Sudah siang tetapi kau masih tidur? Cih, tidak malu dengan kucing yang telah mencari makanan! Aku akan ke perusahaan, nanti sore kau akan dijemput oleh supirku dan kita akan berangkat bersama menuju restoran," kata Aarav memberitahu walaupun tak digubris oleh Oxanna.
"Ah, jangan lupa berdandan pakaian layak dan make up cantik. Jangan mempermalukanku di sana, paham?"
Kemudian, dia segera pergi dari kamar itu.
Akibat buruk dari berita miring Morevo menyebabkan saham Skalov Holding Company turun sebanyak 2%. Walaupun dikit, banyak pihak lawan yang berlomba-lomba untuk membeli saham di sana. Untung saja, hanya sedikit pemegang saham yang menjual sehingga tidak menyebabkan kerugian terlalu banyak.
Namun, saat ini Aarav tidak ke perusahaan seperti yang dia katakan kepada Oxanna. Melainkan menuju rumah sakit, dia akan menghadiri pemeriksaan rutin Morevo.
Karena berita itu juga lah, Aarav memaksa dokter untuk membuat Morevo mengingat kembali ingatan yang hilang. Walaupun mustahil, dia ingin berusaha lebih dahulu.
"Bagaimana?" tanya Aarav ketika telah sampai di hadapan Morevo yang sudah memakai pakaian pasien.
__ADS_1
"Sedang menunggu antrian, Tuan. Ada pasien kumat baru datang jadi saya mempersilakannya lebih dulu masuk," kata Morevo menjelaskan keadaan.
Aarav mendengkus. "Kau tetap tidak berubah. Mengedepankan orang lain dibandingkan dirimu sendiri," balasnya mengingat kebiasaan Morevo dulu yang selalu mementingkan dia.
Morevo meringis kecil. "Benarkah, Tuan?" .
Menunggu berapa detik, perawat ruangan membawa Morevo untuk masuk ke dalam. Waktunya pemeriksaan dirinya!
***
Tentu saja Oxanna tanpa diperintah oleh Aarav, dia akan berpakaian super rapih dan ke salon untuk make up. Dibantu oleh Maria, dia telah menjadi nyonya kaya yang begitu cantik.
Dress tanpa lengan semata kaki dengan belahan bawah setinggi lutut dan dress tersebut begitu pas diketuk tubuh Oxanna. Rambutnya digerai begitu rapi, tak lupa dia memakai cincin nikah mereka dan kalung perhiasan sederhana tetapi bernilai jutaan dollar. Juga, dia membawa tas salah satu brand terkenal di dunia karena harganya fantastis.
Sampai Aarav tidak bisa berkata apapun lagi melihatnya turun dari mobil. Dia begitu terperangah akan penampilan Oxanna yang begitu berbeda seperti biasanya.
"Aku tahu jika aku cantik," kata Oxanna menyombongkan diri. Wajahnya terangkat dengan pongah.
Aarav tersentak lalu memalingkan wajahnya malu.
Kemudian, mereka segera masuk ke dalam restoran dan pelayan menunjukan ruangan privat yang telah dipesan oleh Stella. Sesampainya di sana, Mr. Alexander dan istri menyambut kehadiran keduanya.
"Ah, terima kasih atas undangannya," kata Aarav saat dirinya dan Mr. Alexander berjabat tangan.
"Tentu saja, Mr. Skalov. Aku berterima kasih karena Anda menerima undangan istriku agar datang ke dinner malam ini," sahut Mr. Alexander bahagia.
Sedangkan Oxanna dan Stella, mereka berpelukan ria.
"Apa kabarmu? Sudah lama kita tidak bertemu, bagaimana jika nanti menjadwalkan minum teh di taman bersama Rose dan Grace?" tanya Stella hangat.
Oxanna tertawa pelan. "Ah, boleh sekali, Stella. Mari kita buat jadwal secepatnya. Eh, tetapi, aku akan mencocokkan jadwalku yang tak sibuk yaaa," katanya sedikit menggodai.
Stella membalas tawanya. "Ah, kau bisa saja."
Aarav dan Mr. Alexander berbincang mengenai bisnis. Sedangkan para istri sibuk mencari fashion model terbaru serta berita terhangat di kalangan artis sebab Oxanna masuk ke dalam dunia tersebut.
__ADS_1
Beberapa saat mengobrol, pelayan menyajikan makan malam keduanya. Steak medium dengan daging premium serta wine 20 tahun pesanan Aarav.
Aarav melirik Oxanna yang begitu lama memotong daging steak di piringnya membuat dia mengambil milik wanita itu dan memotongkan semua bagian menjadi kecil-kecil.
"Romantisnya pasangan baru, ugh! Dulu, aku dan Alex juga seperti itu," seru Stella iri.
Oxanna tertawa renyah dan berusaha menyembunyikan salah tingkahnya. "Ah, kau bisa saja, Nyonya! Silakan honeymoon kembali jika iri."
Wanita-wanita tersebut tertawa lebar.
Oxanna makan dengan tenang, tetapi itu hanya fisiknya saja. Karena di dalam hati, dia begitu kegirangan setelah diperhatikan kecil oleh Aarav.
Selama makan dalam dengan Mr. Alexander dan juga Stella, Aarav begitu memperhatikan dirinya walaupun tengah sibuk berbincang.
Saat dia menunduk, Aarav akan melindungi kepalanya supaya tidak membentur meja. Lalu, jika Oxanna ingin berdiri, pria itu akan menarik pakaiannya yang hampir terbuka karena belahan rendah. Lain hal lagi, saat dia terbatuk-batuk dan tidak menjangkau tisu, maka Aarav akan mengambilkan benda itu sampai satu kotak juga memberikan air untuknya.
"Apa Aarav melakukannya karena mereka berada di luar?" tanya Oxanna pada dirinya sendiri.
Ya, dia berpikir seperti itu. Juga, Oxanna berpikir jika Aarav sudah mabuk.
Namun, dia salah.
Sesampainya di mansion super mewah itu, Oxanna digenggam tangannya dan menuju ke kamar.
"Mengapa kau cantik sekali malam ini, hm?" bisik Aarav berada tepat di sebelah telinga Oxanna.
Tangannya membelai tangan polos Oxanna dengan pelan. Napas pelan Aarav menggelitik lehernya membuat dia merinding.
Oxanna ingin menjauhkan tubuh Aarav tetapi kedua tangannya dicengkeram oleh pria itu. "Apa yang kau lakukan?"
Aarav menyeringai. "Aku telah menahan begitu lama, Baby. Tetapi, ini lah waktunya."
Oxanna menelan ludah kasar. "Apa yang kau katakan?!" bentaknya emosi.
"Let's play baby ...!"
__ADS_1