
“Astaga! Ada apa ini Tuan? Apa yang sebenarnya terjadi di sini?” tanya salah seorang bodyguard dengan mata terbelalak, tatkala melihat istri dari atasannya terkulai lemas dengan darah segar mengucur dari bagian perutnya.
“Jangan banyak bicara. Cepat panggilkan perawat dan brankar darurat!” teriak Morevo memberikan titah kepadanya.
“Baik.” Lelaki berbadan tinggi besar itu segera menjalankan titah walaupun sebenarnya dia masih merasa bingung dengan apa yang terjadi, padahal beberapa menit sebelumnya istri atasannya itu baik-baik saja dan tidak ada yang terjadi padanya.
Kebetulan sekali, baru saja dia berjalan beberapa langkah, dua perawat di lorong rumah sakit terlihat tengah membawa brankar kosong, tentu saja dia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dia segera memanggil dua perawat tersebut untuk membantu istri dari atasannya.
“Ikut aku ke ruangan sekarang juga, atasanku membutuhkan kalian.”
“Baik Pak,” jawab para perawat itu dengan mimik wajah yang tidak dapat ditebak.
Tidak membuang waktu lagi, begitu bodyguardnya datang bersama brankar yang dibutuhkan, Morevo pun segera membopong tubuh istrinya yang kini sudah basah dengan darah segar.
Hati Morevo benar-benar tidak keruan, selain khawatir dia pun merasa heran akan sikap istrinya yang tiba-tiba saja datang dan menanyakan perasannya. Dari mana istrinya itu mendapatkan belati? Serta apa alasan yang membuat dia nekat menusukkan belati itu ke tubuhnya sendiri. Apa karena dia tidak puas dengan jawaban yang dirinya berikan?
“Tidak, tidak mungkin! Pasti ada alasan lain yang membuat Maria berbuat nekat seperti ini,” batin Morevo menerka-nerka pasalnya semua berjalan begitu cepat dan di luar kendali.
Tiba di depan ruang UGD, langkah Morevo terhenti karena perawat yang membantu mendorong brankar istrinya itu meminta dia untuk menunggu di luar. Tentu saja dia mengetahui aturan umum tersebut, tetapi rasanya sukar sekali untuk melakukan hal tersebut. Dia ingin melihat dan memastikan kalau istrinya baik-baik saja.
“Mohon maaf Pak, yang namanya aturan tetap aturan dan itu wajib untuk dijalankan. Bapak bisa menunggu di depan ruangan, jika ada sesuatu kami pasti akan segera memberitahukannya.”
“Baiklah, tapi usahakan yang terbaik untuk istri saya. Saya akan membayarnya berapa pun tagihan yang kalian berikan.” Akhirnya Morevo pun luluh dan membiarkan suster membawa istrinya yang sudah tak sadarkan diri ke ruangan menakutkan itu.
Saat tengah bergelut dengan pikirannya, tiba-tiba terdengar bunyi notifikasi dari tas Maria yang saat ini dipegang oleh Morevo. Mendengar itu Morevo seperti mendapatkan angin segar, dia baru sadar, untuk menemukan jawaban atas puluhan tanya di dalam benaknya itu dia bisa menemukannya di dalam benda pipih berteknologi canggih tersebut. Ya, Morevo yakin sekali di sana pasti ada petunjuk atau paling tidak sedikit bukti mengenai kegilaan yang baru saja istrinya itu lakukan.
Morevo segera membuka tas selempang berwarna silver di genggamannya itu, kemudian mengambil ponsel Maria untuk mengeceknya.
Lagi-lagi Dewi Fortuna memihak kepadanya, ponsel Maria tidak dikunci, itu artinya dia bisa dengan mudah menggeledah semua aplikasi yang ada di dalamnya.
Aplikasi pertama yang dia buka tentu saja aplikasi pesan karena dia tahu betul istrinya itu menggunakan aplikasi tersebut dalam kesehariannya.
__ADS_1
Benar saja apa yang ada di kepala Morevo. Dalam aplikasi tersebut terdapat sebuah nomor yang tidak tersimpan di kontak, nomor tersebut terlihat mengirimkan beberapa pesan yang sama sekali belum dibuka oleh istrinya.
Bak tersambar guntur di siang hari begitu melihat pesan-pesan yang orang tersebut kirimkan. Semua pesannya berisikan ancaman dengan kata-kata kasar. Dengan rasa emosi yang sudah menggerogoti hati, Morevo menggeser jemarinya untuk terus membaca pesan-pesan sebelumnya.
Emosi Morevo kini sampai di ubun-ubun begitu mengetahui siapa orang yang melontarkan ancaman kepada istrinya itu, Juan. Ya, seseorang tersebut adalah Juan.
“Keparat!” cela Morevo tanpa memedulikan di mana dia berada saat ini.
Sebuah pesan kembali masuk ke dalam ponsel Maria.
"Haha, apakah aku akan mendapatkan kabar bahagia, Maria? Ayo cepat-cepat beritahu, bagaimana kabar Morevo saat ini? Apakah suami tercinta kau itu sudah terkapar tak berdaya?" kata Juan dalam pesan.
Tangan Morevo mengepal kuat. "Berani-beraninya bajingan ini ...!"
"Dia juga yang menculik Oxanna," gumam Morevo geram.
Bukti kuat sudah Morevo kantongi. Dia pun mengeluarkan ponselnya dan bergegas menghubungi Aarav yang kini tengah mencari keberadaan Oxanna di seluruh kota.
“Ada apa? Katakanlah,” jawab seseorang di seberang sana singkat.
“Maria menusuk dirinya sendiri dengan belati Tuan dan kau harus tahu alasan apa yang membuatnya melakukan hal konyol tersebut. Maria di diancam oleh Juan, dia memberikan dua pilihan kepada Maria untuk membunuhku atau Maria sendiri yang akan menjadi korban," kata Morevo menggebu-gebu.
“Juan?!” Aarav berteriak terkejut.
“Ya, dan Tuan pun harus tahu kalau lelaki itu juga yang sudah menculik Nyonya Oxanna. Saya mengetahui hal tersebut dari pesan-pesan yang Juan kirimkan ke ponsel Maria," sahut Morevo.
"Sial. Sudah kukatakan, jangan berikan kesempatan bagi rubah licik itu menikmati kebebasan!! Jika dulu kau tidak membantunya setelah kuusir, dia tak akan berbuat seperti itu saat ini," bentak Aarav emosi.
Morevo tidak bereaksi. Karena, dia mengaku salah. Hanya saja, dulu, dia merasa kasihan dengan Juan setelah diusir oleh Aarav. Pria itu hampir saja mati di tangan gangster jika saja Oxanna tak membantunya, setelah itu, baru lah dia berperan memberikan uang bulanan sampai uang pendidikan sebagai dokter.
Hanya saja, Morevo tahu jika Juan tidaklah seberani itu. Dia adalah adik kecil yang pengecut. Hal ini yang membuat Morevo keheranan.
__ADS_1
"Bajingan!! Bagaimana bisa Juan memiliki tekad besar? Pasti ada seseorang di belakangnya," ujar Aarav setelah beberapa saat meredakan emosi dan berpikir rasional.
Dia dan Aarav satu pemikiran! Karena, tak ada yang lebih mengenal Juan dibanding mereka.
"Sepertinya, ada seseorang yang menjadi dalang dibalik pemberontakan Juan, saya yakin juga jika Juan bukanlah pemberani, Tuan," kata Morevo.
"****! Terserah, aku tidak peduli siapa dalangnya. Jika saja dia berani menyakiti Oxanna, aku akan menghabisi mereka semua," umpat Aarav tajam. Dia menghela napas kasar. Emosinya kembali naik saat memikirkan keadaan Oxanna.
“Sekarang kau tetap di sana untuk menjaga Maria biarkan aku yang mengurus semuanya. Aku akan mengerahkan pasukan untuk memberinya pelajaran. Dia sudah salah memilih lawan!” Nada bicara Aarav naik beberapa oktaf, kentara sekali jika saat ini dia tengah emosi.
“Baik Tuan.” Morevo memutus sambungan telepon. Lalu, dia mengirimkan alamat lengkap gudang tempat Juan menyekap Oxanna.
Morevo mendesah kasar. "Aku sedikit menyesal telah membesarkan rubah kecil itu dan membahayakan Tuan Aarav," gumamnya merasa bersalah.
Ketika dia tengah gelisah di depan ruang operasi, Jordan datang menghampiri.
"Sir!" sapa Jordan.
"Hei, kau di sini? Bukankah kau masih di ruang perawatan penelitian?" Morevo menatapnya terkejut. Efek dari virus tersebut jangka panjang dan walau fisik telah sembuh, jika ada situasi yang menyebabkan gejala. Bisa membuat penyakit itu muncul sehingga Jordan bagaikan bom waktu. Dia bisa berubah menjadi monster kapan saja.
"Aku membawa ini," jawab Jordan sembari menunjukkan koper mini dan berisi suntikan cairan penawarnya.
Morevo mengangguk lega. "Oke. Bagaimana kau tahu jika aku di sini?" tanyanya.
"Aku akan menunggu di sini, Sir. Lebih baik kau turun langsung dengan Tuan Aarav. Aku tidak yakin jika Juan akan melakukan pertarungan jujur," balas Jordan khawatir.
"Aku pun. Kalau begitu, tolong jaga Maria sampai aku kembali, oke?"
Jordan mengangguk yakin. Kemudian, Morevo segera pergi dari rumah sakit untuk bergabung bersama dengan Aarav.
***
__ADS_1
.