TUAN MUDA MANJA DARI MILAN

TUAN MUDA MANJA DARI MILAN
Maria


__ADS_3

Suasana riuh di dalam klub itu terjadi karena Aarav dan anak buahnya datang dengan cara mereka yang begitu menarik perhatian, sampai akhirnya membuat seluruh pengunjung klub mengalihkan atensinya untuk melihat rombongan pria tersebut.


“Astaga, itu Aarav!” seru Maria yang melihat langsung pria tersebut sudah berdiri di tengah klub dengan kedua mata yang begitu awas memperhatikan sekitar klub saat itu.


Seperti kamera pengawas yang menyisir satu per satu pengunjung dan mencari keberadaan Oxanna di sana. Sampai kemudian, mata Aarav berhenti di satu titik yang tidak lain adalah meja bar tempat Oxanna setengah teler sekarang.


“Anna, dia sudah melihatmu di sini. Apa yang mau kau lakukan?” Maria tahu kalau Anna masih belum mabuk benar.


“Aku …” Oxanna memutar otaknya dengan cepat dan segera mengambil jalan untuk memainkan drama khas dirinya.


Dengan tujuan, supaya dia tak perlu banyak menjawab pertanyaan Aarav yang biasanya sangat menyudutkan. Ditambah lagi dia juga tidak mau menimbulkan keributan karena perdebatan yang terjadi nanti.


“Kau lebih baik menyingkir dulu dari sini. Biar dia tak ikut mengacaukan pekerjaanmu di sini,” pinta Oxanna pada Maria.


“Kau yakin, bisa mengatasinya seorang diri?” tanya Maria balik dengan masih merasa cemas pada Oxanna.


“Dia tidak akan membunuhku, jadi kau tenang saja. Dia hanya kesal padaku.” Setelah mendapatkan jawaban itu dari Oxanna, barulah Maria mulai menyingkir dan tetap memperhatikan sahabatnya dari kejauhan.


Sementara dari ekor mata Oxanna sekarang, dia bisa melihat sosok Aarav dengan tubuh tegapnya yang begitu menonjol dan menarik perhatian banyak wanita, kemudian datang menghampiri Oxanna dengan sorot mata tajam yang siap menusuk wanita itu kapan saja.


Oxanna sendiri mulai menyiapkan dramanya dan mengubah ekspresi wajah yang awalnya serius, kini jadi setengah mengantuk dan meneguk beberapa gelas minuman keras lagi dengan asal-asalan, sampai airnya pun beberapa meleleh di sekitar mulut Oxanna. Membuat aroma minuman keras di tubuh wanita itu semakin keras tercium.


“Apa sebenarnya yang kau lakukan di sini, Anna?” tanya Aarav yang memegang tangan Oxanna cukup kuat.


“Kau tidak lihat, aku sedang apa sekarang?” tanya Oxanna balik dengan wajah memerah karena pengaruh alkohol dalam tubuhnya.


“Kau sedang mabuk dan kabur dari rumahku tanpa izin.”


“Hahaha … memangnya, ada kabur yang memakai izin? Lucu sekali kau ini!” seru Oxanna dengan nada bicara yang mulai tak jelas.


“Kau mabuk ternyata.” Aarav lantas menarik tangan Oxanna hingga pandangan mata mereka saling bertemu satu sama lain.

__ADS_1


Wajah keduanya yang mendekat dan hampir tak berjarak, membuat hangat nafas Aarav bisa dirasakan oleh Oxanna yang mulai mengerjapkan matanya sedikit demi sedikit.


“Kita pulang sekarang!” ucap Aarav tepat di telinga Oxanna.


Aarav tidak menunggu sampai Oxanna mampu berdiri dan berjalan dengan sendirinya. Dia lebih memilih menggendong tubuh Oxanna ala bridal hingga kembali menjadi pusat perhatian banyak orang di sana. Tapi seolah tak peduli, Aarav terus saja membawa tubuh Oxanna membelah kerumunan manusia yang ada di sana sekarang.


***


Begitu masuk ke dalam mobil, Oxanna dibiarkan saja tidur di pangkuan Aarav sepanjang jalan pulang.


“Apa kita perlu ke rumah sakit dulu untuk memeriksakan kondisi Nona Oxanna sekarang, Tuan?” tanya Morevo yang ikut masuk ke dalam mobil yang sama dengan Aarav sekarang.


“Tidak perlu. Aku yakin dia baik-baik saja.”


Meski agak khawatir melihat kondisi Oxanna sekarang, tapi Aarav masih punya keyakinan bahwa gadis di pangkuannya sekarang tidak dalam kondisi sakit. Kecuali mabuknya yang cukup parah dan entah akan berpengaruh apa keesokan harinya.


***


Oxanna yang sebenarnya pura-pura mabuk, merasakan semua perlakuan Aarav padanya sejak semalam. Dari mulai Aarav yang menggendong tubuhnya dan membawanya ke dalam kamar untuk di selimuti dan diperiksa kondisinya lebih dulu.


Sejujurnya, Oxanna merasa agak bersalah pada Aarav, karena meskipun dia sangat menyebalkan dan selalu membuat masalah untuk pria tersebut. Aarav hampir tak pernah marah dan memaki dirinya atau menyiksa Oxanna. Memang Aarav akan marah dan berdebat dengan Oxanna, tapi dia jarang sekali menggunakan kekerasan fisik pada wanita itu.


Selain merampas kebebasan Oxanna sendiri sebagai seorang manusia, tidak ada yang bisa dilakukan Aarav sekarang.


Setelah bangun dari tidurnya, Oxanna mencoba untuk memikirkan cara apa yang bisa dia gunakan untuk bisa lebih bebas dan tak dikurung seperti sekarang.


Sampai akhirnya, sebuah ide melintas di dalam kepala Oxanna.


“Apa sebaiknya aku berusaha membuatnya jatuh cinta padaku saja ya?” gumam Oxanna pada dirinya sendiri. “Tapi sekarang … dia pasti sedang marah padaku.”


Tok tok tok!

__ADS_1


“Nona Oxanna, anda dipanggil oleh Tuan untuk sarapan bersama di bawah,” kata seorang suruhan dari Aarav yang diyakini adalah Morevo.


“Makan bersama?”


Oxanna bergegas pergi menuju ke pintu dan membuka pintunya dengan cepat, sampai dia menemukan Morevo sudah berdiri di depan pintu kamarnya dengan raut wajah serius yang cukup membuat Oxanna merasa kurang nyaman.


“Anda diminta untuk turun, Nona.” Morevo mengulangi ucapannya.


“Apa dia sudah turun sekarang?” tanya Oxanna balik.


“Belum. Mungkin sebentar lagi,” jawab Morevo.


Sedetik kemudian, Oxanna mengenakan gaun tidurnya yang diikat kencang pada bagian pinggang dan bergegas menuju dapur. Morevo terkejut dan mengikutinya dari belakang, sampai akhirnya Morevo melihat Oxanna yang tampak sibuk di dapur untuk ikut menyiapkan sarapan pagi bagi Aarav dan juga dirinya.


“Apa yang sedang anda lakukan sekarang, Nona?” tanya Morevo.


“Ku tidak lihat? Aku sedang membantu menyiapkan sarapan untuk Tuanmu.”


Tanpa banyak menggubris ucapan Morevo yang coba untuk menghentikannya. Kini Oxanna terus fokus untuk menyiapkan sarapan pagi dan mengantarkannya langsung ke meja makan, sampai Aarav yang baru saja turun untuk makan pagi pun merasaagak kaget dengan perubahan sikap Oxanna saat ini.


“Oxanna, apa yang sedang kau lakukan?” tanya Aarav.


“Menyiapkan sarapan untukmu tentu saja. Apalagi?”


Dengan sangat percaya diri dan senyum lebar di wajahnya yang menimbulkan banyak tanda tanya, kemudian Aarav hanya memandangi Oxanna yang mulai menatap satu per satu piring yang dia bawa ke atas meja.


“Sepertinya …,” ucap sang sekretaris di telinga Aarav yang terhenti seketika.


“Dia sedang mencoba mengambil hatiku.” Aarav sudah lebih dulu menebak. Dan dia membiarkan saja, saat Oxanna berusaha keras melakukan semua itu.


“Tuan tenang saja. masakannya, adalah masakan dari juru masak biasa. Hanya Nona Oxanna yang membantu dalam penyajiannya. Jadi bisa dijamin kalau makanannya, pasti aman untuk dikonsumsi, Tuan.”

__ADS_1


Aarav mendapat laporan itu dari Morevo dan hanya mengangguk saja.


“Ya sudah, aku akan tetap makan bersama dengannya. Setelah itu kita ke rumah sakit untuk melakukan kontrol.”


__ADS_2