
"Kau memimpin rapat projek Skalov Castel nanti siang," kata Aarav mengulangi kalimatnya dengan lebih bertenaga.
Jordan tidak berekspresi.
Oxanna menyimak dengan seksama pembicaraan begitu menarik ini. Pada file yang dikirimkan oleh Maria tertulis jika projek ini akan terealisasi pada tahun 2030, di mana beberapa tahun lagi. Tetapi mengapa sekarang? Atau, dia yang tak paham tata kerja perusahaan?
Aarav berusaha duduk dibantu oleh Oxanna, "Tenang saja, kau di sana tidak perlu melakukan sesuatu dan hanya menyimak pembicaraan dari dewan direksi lalu biarkan manager yang memimpin rapat," jelasnya kemudian.
Oxanna melihat ekspresi Jordan yang sedang ingin menolak tetapi takut pun segera berkata, "Biarkan aku saja!"
Aarav menatapnya dengan sebelah alis terangkat.
"Ehem! Jordan sudah dikenal sebagai asisten Morevo, lalu kau diangkat sebagai CEO baru. Tidak mungkin kan jika Jordan yang memimpin? Hell, bagaimana jika pejabat-pejabat di sana memprotes lalu menarik aliansi dengan SHC?" Oxanna kembali berkata dan menakut-nakuti Aarav.
Aarav ikut memikirkan pendapat Oxanna. Lantas, dia mengangguk setuju. "Baik lah, kau saja yang hadir di sana ditemani oleh Jordan. Hari ini rapat perdana projek besar milik Skalov yang beraliansi dengan perusahaan internasional dari seluruh dunia. Kuharap, kau bisa menjaga sikap dan profesional di sana," katanya menasehati.
"Siap!" Oxanna tersenyum lebar demi menyakinkan Aarav. Kemudian, dia diberi arahan lainnya oleh pria itu agar biasa menguasai materi rapat nanti.
***
Sekitar ada dua puluh pejabat yang membuat Oxanna melongo. Bukan karena ketampanan, melainkan dia tahu siapa mereka yang selama ini selalu bolak-balik di layar televisi.
Ada dua orang terkaya di dunia, pemimpin perusahaan raksasa di bidang teknologi asal negara gingseng, selain itu ada juga mantan presiden dari dengan populasi terbesar di dunia. Yang paling membuat Oxanna terkejut adalah satu penyanyi paling melegenda, terkenal, serta memiliki panutan hampir seluruh umat di dunia ini.
Mereka berlomba-lomba demi mendapatkan projek Skalov Castel ini!
Hingga, sebuah pemikiran hinggap di benak Oxanna. Seberapa pengaruhnya Skalov Castel demi kelangsungan hidup klien naratama ke depannya? Mengapa mereka begitu ingin tinggal di daerah jauh dari asal?
Semua pertanyaan itu, dijawab oleh manager penanggung jawab yang tengah mempresentasikan proposal.
"Castel ini akan dibangun di atas wilayah yang subur akan tanaman, segar, serta rawan terjadinya bencana alam. Di daerah tersebut tidak terlalu padat penduduk juga tidak banyak pengunjung padahal memiliki kekayaan alam melimpah. SHC membangun castel ini di sana dengan harapan jika selain mendapatkan pengunjung wisata Skalov, kami menginginkan seluruh investor membuka cabang perusahaan di sana juga."
"Seluruh klien naratama akan mendapatkan pelayan terbaik dengan 20% saham atas penjualan castel nanti," lanjutnya menutup akhir dari presentasi.
__ADS_1
Oxanna berdehem untuk menutupi rasa terkejutnya, apalagi ketika para jajaran pejabat tersebut menatap ke arahnya. Dia bingung!
"Em, ya? P-rojek ini akan dilaksanakan dalam waktu dekat," kata Oxanna gugup sampai terbata-bata sampai menatap ke arah manager untuk mendapatkan bantuan.
"Benar. Projek ini akan dilangsungkan dalam waktu tiga bulan lagi," katanya membantu Oxanna. "Lalu akan selesai, maksimal dua tahun pengerjaan. Akan ada uji kelayakan, surat perizinan pemerintah, serta periklanan yang akan kami selesaikan."
Para pejabat di sana mengangguk paham dan mulai berdiskusi masalah lainnya yang akan timbul setelah pembangunan. Oxanna begitu sulit mencerna pembicaraan mereka karena selama ini yang dia tahu hanyalah belajar anatomi fisiologi tubuh manusia!
***
Tubuh lunglai Oxanna berjalan tanpa arah menuju ruangan Morevo. Seharusnya dia menuju kepada Aarav yang tengah menunggu kabar baik darinya setelah rapat, tapi dia tak ingin melihat wajah pria itu dalam waktu dekat ini.
Saat pintu terbuka, Oxanna menatap datar ke arah pemandangan di mana Maria tengah menyuapi Morevo makanan dengan mesra. "Menghayati peran, huh?" sindirnya malas.
Kedua mata Maria membulat. "Kau gila? Bagaimana jika Morevo paham?!" katanya tanpa suara kepada Oxanna.
Namun, Oxanna tidak peduli dan berjalan menuju ke sofa diikuti Maria yang telah meminta izin kepada Morevo terlebih dahulu.
Oxanna memutar kedua matanya malas. "Kau menyukai pria itu?"
Maria mendengkus. "Permisi, Nyonya. Aku istrinya!"
Lantas, Oxanna tertawa mendengar sindiran pedas tersebut. "Ya ya, maaf, Nyonya Morevo. Jadi, bagaimana hari Anda sebagai seorang istri, hm?"
Maria mendekatkan wajah kepada Oxanna, "Kau bilang, Morevo ini pria kaku. Tetapi, telingaku sangat panas karena seharian dia bertanya tanpa henti," bisiknya tak suka.
"Namanya bertanya kepada istri itu tidak masalah," jawab Oxanna bercanda.
Maria melipat kedua lengannya di depan dada. "Haduh! Malas sekali aku berbincang denganmu dalam keadaan badmood ini!"
Oxanna mengerucutkan bibirnya. Dia pun mendekatkan diri ke arah Maria dan memberitahukan semua kejadian hari ini kepada wanita itu. Ah, ngomong-ngomong, semenjak Aarav percaya jika Maria adalah istri Morevo, pria itu tidak memantau CCTV kamar rawat inap tersebut dan tak ingin mengganggu mereka.
Lebih tepatnya, ini atas permintaan Oxanna yang mengatakan jika Aarav harus meminta maaf karena tidak percaya kepada Maria, sih.
__ADS_1
"Hell, mereka jadi membangun di atas perumahan kumuh itu?" Maria melebarkan matanya.
Oxanna mendengkus. "Iya! Aku kesal sekali, mengapa harus tempat itu? Kan masih banyak tempat lain," balasnya tak suka.
"Benar. Jadi, apa langkahmu selanjutnya? Apa jika Aarav mati, projek itu akan berhenti?" tanya Maria penasaran.
"Aku malah ingin bertanya padamu, Maria! Apa yang harus kulakukan? Jika Aarav mati, Morevo atau CEO selanjutnya pasti akan melanjutkan projek itu sebab 80% keuangan Skalov Holding Company dipakai untuk melancarkan pembangunan tersebut. Aku tafsirkan jikalau mereka akan habis ratusan triliun dollar!" Oxanna memberitahukan pendapatnya.
"What the hell! Triliun dollar?!" Maria berteriak terkejut sampai Morevo menatap ke arah mereka. "Ouh, tak apa, Baby. Aku hanya terkejut dengan uang bulanan Madam Oxanna."
Morevo lalu kembali tertidur.
"Sekalian saja pakai speaker supaya seluruh rumah sakit ini tahu," sindir Oxanna kesal.
Maria tersenyum lebar hingga menunjukkan giginya. "Ya, maaf. Bagaimana kalau kau lupakan dendam dan mengambil semua harta itu? Aku bersedia membantu demi ribuan triliun dollar!"
Kesal dengan saran Maria, Oxanna memukul pelan pipi wanita itu. "Aku akan membunuhmu," kesalnya.
"Hehe. Jadi, bagaimana? Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Maria penasaran.
Oxanna menaikkan bahunya acuh. "Tolong beri aku saran."
Maria berpikir sesaat. "Hm, apa pemilik rumah di kawasan itu mendapatkan benefit?" tanyanya.
Oxanna mengangguk. "Iya. Rumah susun dan uang."
"Loh, iya kah?!"
"Mengapa?" tanya Oxanna bingung.
"Kalau begitu, ya biarkan saja, Oxanna! SHC membayar mereka dengan uang sepantasnya. Kukira mereka mengambil tanah tersebut dengan paksa," kata Maria tak merasa bersalah.
Oxanna memutar kedua matanya malas. Dia memutuskan untuk pergi dari sana. Niatnya meminta pendapat bukan untuk membatalkan projek itu. Melainkan, bagaimana caranya menghancurkan Aarav melalui itu.
__ADS_1