
"Kau mengenalnya?"
Oxanna menoleh ke arah Aarav yang menatapnya tanpa daya. Dia menelan ludah dengan gugup tetapi berusaha mungkin untuk tidak menunjukan di depannya.
"Tidak tahu, dia menculikku," kata Oxanna memalingkan wajah supaya Aarav tidak tahu jika dia tengah berbohong.
Aarav ingin membantahnya tetapi rasa sakit bekas luka tusukan di perut membuat dia memilih diam untuk menyimpan energi.
Tidak ada pembicaraan lagi sampai lift berada di lantai satu dan ketika pintu terbuka, suara pekikan dari kerumunan membuat Oxanna begitu panik hingga menutupi wajah Aarav menggunakan tangannya yang sudah ternodai darah mereka.
"Astaga, itu Sir Aarav!" seru salah seorang di antara mereka diikuti flash dari kamera tengah memotret kejadian tersebut.
"Apa yang terjadi dengan Sir Aarav?!" Seorang reporter mengajukan pertanyaan sambil merekam wajah Oxanna juga Aarav.
Oxanna menatap mereka dengan tatapan gentar. Dia sedikit gemetar karena tidak tahu harus mengatakan apapun.
"Dokter Oxanna, apa Anda yang mencelakai Sir Aarav?!"
Ckrek! Ckrek!
Oxanna memejamkan mata, berusaha menghindari sinar cahaya yang berhasil membuatnya ketakutan. Sebisa mungkin dia tidak melepaskan tangannya yang tengah menutupi wajah Oxanna.
"Jelaskan apa yang terjadi dengan Sir Aarav, Dokter!" kata mereka menuntut penjelasan.
Ketika mereka ingin menodong pertanyaan dengan cara yang kasar, Morevo segera datang bersama para bodyguard dan menghentikan kejadian tersebut.
"Dilarang mengambil potret," kata Morevo berteriak emosi. Diikuti para bodyguard mengambil kamera yang tengah dipegang oleh reporter satu persatu.
Morevo membiarkan bodyguard mengambil alih lalu berpaling ke arah tuannya dan menekan lift agar membawanya ke lantai basemen. Melihat keadaan sudah aman, Oxanna menurunkan tangannya dari wajah Aarav dan bisa bernapas dengan lega.
"Apa yang terjadi dengan Sir Aarav, Nona?" tanya Morevo menatap Oxanna tajam.
Oxanna tidak menjawab dan memilik untuk mengambil sapu tangan yang berada di saku jas Morevo lalu berusaha menghentikan pendarahan di perut Aarav. Morevo yang tersadar jika tuannya terluka parah pun tidak berdebat lagi. Sesampainya di basemen, bodyguard segera berada di posisi melindungi Aarav karena takut kalau ada serangan mendadak.
Lantas, mereka segera bergegas pergi dari sana dan menuju ke Rumah Sakit Skalov.
__ADS_1
***
Dia telah masuk ke ruang operasi sejak beberapa jam yang lalu. Aarav tertusuk dua kali di tempat yang sama yaitu di perut bagian bawah sebelah kiri, tidak terlalu dalam tapi harus mendapatkan banyak jahitan luar.
Sedangkan Oxanna, dia mendapatkan jahitan di IGD untuk luka sayatan yang tidak terlalu dalam dan tidak mengenai jaringan saraf serta aliran darah fatal di leher. Akan tetapi, dia sama sekali tak boleh mendekat ke ruang operasi atas perintah Morevo yang saat ini membatasi pengunjung masuk ke sana dan mengalihkan semua jadwal pasien yang harus di OP ke hari lain.
Tentu saja pihak rumah sakit setuju karena ini adalah milik keluarga Skalov, yakni Aarav sendiri. Bahkan, tanpa diminta pun mereka akan mendahulukannya sebagai pasien VVIP kelas 1.
Oxanna keluar dari kamar VVIP kelas 1 di lantai 5 dan tidak mendapati siapapun kecuali perawat penjaga. Dikarenakan khusus untuk lantai ini diberikan kepada keluarga Skalov, dia telah menjadi istri Aarav dan tentu saja dia dirawat pada kamar tersebut bersama dengan sang suami.
"Mrs. Skalov, Anda ingin ke mana?" Salah satu perawat bertanya dengan panik melihat Oxanna berjalan menuju lift sambil memegang infus.
Oxanna menoleh. "Ke lantai 2."
"Tapi, Anda tidak diperbolehkan untuk bergerak lebih dulu, Mrs."
"Yang sakit adalah leherku, bukan kakiku," kata Oxanna menatapnya datar kemudian masuk ke dalam lift. "Katakan pada Morevo jika pasienku menunggu."
Sebelum perawat menjawab, pintu lift segera tertutup dan Oxanna turun ke lantai 2. Di mana, bangsal Neurologi berada. Dia hanya rindu kepada rekan-rekan kerja sesama kesehatan di sini.
"Dokter, Anda tidak apa-apa?!" tanya asisten perawatnya, Camille.
Oxanna memeluk Camille singkat, "Aku baik-baik saja," jawabnya.
Tak lupa, dia menyapa dokter residen ataupun profesor di ruangan mereka. Lalu setelah itu, Oxanna menuju bangsal ICU Neurologi bersama Camille, di mana pasien yang telah dia rawat selama beberapa bulan lalu dan saat ini masih dalam keadaan yang sama, yakni koma.
"Bagaimana dengan Mrs. Xanzie?" tanya Oxanna sambil mendekati tempat tidur pasien pertama.
Mrs. Xanzie, korban kecelakaan maut di jalan raya tol. Tepatnya satu tahun lalu dan hingga kini belum membuka matanya. Sang suami begitu setia mendampingi juga tak ingin melepaskan peralatan penyambung hidupnya.
"Belum ada kemajuan yang signifikan, Dok. Sistem saraf di otak tidak terdeteksi pada terapi yang dilakukan setiap sore," jawab Camille mengungkapkan kondisi Mrs. Xanzie.
Oxanna menghela napas pelan, "Lalu, ke mana Anne?" tanyanya lagi kepada pasien lain yang kini bednya kosong.
Anne, remaja berusia 20 tahun yang menjadi pelaku kecelakaan karena mengendarai mobil dalam keadaan mabuk.
__ADS_1
Camille menatap Oxanna sedih. "Telah menghembuskan napas terakhir pada dini hari tadi, Dok."
Oxanna pun ikut emosional. Saat dia ingin bertanya lagi, bodyguard Aarav mendekati mereka.
"Nona, Sir Aarav telah sadar!"
Mendengar itu, Oxanna segera pergi dari sana.
Disisi lain, Morevo menggeram emosi ketika membaca sebuah berita di internet dari media baru.
"Berita terkini! Mr. Skalov, Aarav Skalov dalam keadaan kritis setelah ditemukan terluka bersama dengan sang istri, Dokter Oxanna pada malam tadi!"
Seluruh sosial media digemparkan oleh berita yang dimuat oleh media Sky Entertainment mengenai kondisi Aarav dan Oxanna di lift. Mereka pun membagikan potret keduanya dalam kondisi berdarah-darah.
Entah dari mana media tersebut mendapatkan berita itu, yang pasti, Morevo telah mengerahkan seluruh anak buahnya untuk mendapatkan CEO Sky dan mengancam seluruh media supaya tidak menyebarkan berita seperti ini lagi.
"Sial, temukan brengsek ini dan hancurkan perusahaannya!" perintah Morevo tak ingin dibantah.
Kemudian, Morevo pergi dari depan ruang operasi dan menuju rooftop. Dia mengeluarkan seluruh emosi yang dipendam akibat kejadian-kejadian yang menimpa Aarav maupun SHC.
"Sir, akibat dari media massa itu, beberapa pemegang saham mempertanyakan kebenarannya," kata sekretaris Morevo, Jordan.
Morevo menatap tajam ke bangunan-bangunan menjulang di depan sana, "Siapa Oxanna sebenarnya?" katanya mengacuhkan kalimat Jordan.
Jordan tidak menjawab.
"Mengapa setelah dia hadir, kehidupan Sir Aarav ataupun Skalov Holding menjadi kacau?" lanjutnya dengan mengepalkan kedua tangan erat.
"Sir," panggil Jordan setelah beberapa saat tidak ada pembicaraan. "Aku akan menyelidiki Nona Oxanna kembali dengan teliti."
Morevo berdehem yang bernada dingin, "Cari siapa yang membantu Oxanna selama ini dan tuntaskan siapa pemilik kekayaan itu!" perintahnya.
Jordan mengangguk patuh.
Morevo tidak akan melepaskan Oxanna jika dia mendapatkan sesuatu dari masa lalu wanita itu yang dapat mengancam kehidupan SHC.
__ADS_1