TUAN MUDA MANJA DARI MILAN

TUAN MUDA MANJA DARI MILAN
Korban


__ADS_3

Dor!


Suara tembakan tersebut menggema kuat di ruangan bawah tanah ini disusul getaran singkat yang berasal dari senjata api milik Oxanna kepada pria berbentuk monster tersebut. Saat ini, hanya itu senjata pelindung diri miliknya setelah pedang yang sebelumnya dipakai untuk melawan telah terbelah menjadi dua akibat monster ini.


Tidak ada yang mendengar keributan di sini, Oxanna berspekulasi sebab tak ada satupun bodyguard Aarav datang ke bawah sini setelah kelakuannya. Apa disengaja?


Total, ada 6 monster berbentuk manusia yang telah Oxanna lenyapkan. Dengan tubuh gemetar pelan, dia menelusuri setiap penjara untuk mencari tahu apakah ada lawan lagi atau tidak.


Sampai diujung ruangan, Oxanna melihat sebuah pintu besi. Dia berusaha membukanya dengan sekuat tenaga. Berhasil!


"Laboratorium?!" Mata Oxanna membelalak melihat ruangan tersebut adalah sebuah tempat penelitian sesuatu. Perlahan-lahan, dia melangkah lebih jauh ke dalam untuk mendapatkan hal besar lainnya.


Oxanna melihat beberapa orang memakai jubah putih dan peralatan pengaman. Dia segera sembunyi di balik meja tinggi yang menampung alat-alat kimia.


"Itu siapa? Aku seperti mengenalnya," gumam Oxanna memicingkan mata agar penglihatannya semakin tajam.


Orang itu tinggi dan berbentuk manusia normal, err, tidak seperti monster di depan yang saat ini tengah meracik sesuatu dengan bahan-bahan kimia. Oxanna memperhatikan dengan detail.


"Apa yang mereka lakukan?!" Oxanna hampir saja kelepasan berteriak ketika salah satu peneliti tersebut mengambil ramuan telah jadi lalu menghampiri ruangan kaca di tengah-tengah ruangan yang terdapat satu monster sedang diikat.


"Sial. Mereka mengembangkan virus monster?" Oxanna berdiri dan menarik pelatuk pistol. Ketika dia ingin menembak ke arah ruang kaca tersebut, monster yang tadi memberontak dan disuntik lama kelamaan melemah lalu pingsan. Dia menghentikan pergerakannya dan mengamati dalam diam.


"Apa yang terjadi?" gumam Oxanna pelan. Dia menunggu beberapa saat tapi tidak ada pergerakan yang signifikan.


"Ah sial. Terserah lah," ucapnya kesal kemudian menembakkan peluru ke arah atas dan berjalan dengan percaya diri mendekati mereka.


Tembakan tersebut membuat para peneliti begitu terkejut dan ketakutan. Apalagi saat melihat Oxanna yang berjalan masuk dengan tatapan tajam.


"Apa yang kalian lakukan?!" bentaknya emosi. "Siapa monster-monster itu? Terbuat dari apa mereka?!"


Para peneliti saling pandang satu sama lain, seakan-akan bertukar pikiran dari tatapan. Belum sempat mereka membuat rencana, Oxanna menarik salah satu peneliti yang paling dekat dengannya lalu menodong senjata ke kepalanya.


"Jawab," bentak Oxanna emosi.

__ADS_1


Namun, tidak ada suara yang dikeluarkan. Oxanna semakin geram, dia menarik kuat pelindung diri peneliti hingga menampilkan sosok aslinya. Seorang wanita yang memiliki wajah bukan khas wilayah ini.


Sebelah alis Oxanna terangkat. Ketika dia ingin bersuara, terdengar suara ringisan yang berasal dari ruang kaca tersebut. Bukan hanya dirinya, seluruh peneliti pun menoleh ke sana lalu berjalan mendekat.


"Tetap di sini dan pakai ini," kata wanita tadi sambil menyerahkan masker yang masih baru di dalam box steril untuk Oxanna dan juga dirinya.


Oxanna kebingungan tapi tetap mengikuti saran wanita itu.


Monster yang tadinya begitu agresif dengan mata merah kini menatap Oxanna bingung. Wajahnya layu dan telah menjadi normal.


"Mereka membuat vaksin virus?" gumam Oxanna bingung karena monster tersebut berbeda dengan yang dia lihat diawal tadi.


Para peneliti mengecek kondisi viral monster yang telah berubah normal tersebut juga mengambil sampel darah. Oxanna mengikuti wanita yang membawa darah itu ke tempat lain. Lebih tepatnya, ruang pemeriksaan analisis darah.


Oxanna berada di sisinya. "Setelah ini, kau jelaskan padaku!" ancamnya kesal.


Dia melirik Oxanna singkat. "Yes, Madam."


"Kau bisa saja alirkan ke closed, mengapa harus dibakar?" tanya Oxanna bingung.


"Aku akan jelaskan setelah ini." Jawaban tersebut mengisyaratkan kekesalan tetapi permintaan karena wanita itu lantas kembali masuk ke dalam ruang kaca dan memberitahu hasilnya.


Mereka berunding sesaat. Lalu, kembali ke pekerjaan masing-masing. Oxanna mengikuti wanita itu yang mengajaknya untuk berbincang.


"Jadi, ada apa?" tanya Oxanna tidak sabar.


"Anda tahu kan, Lembaga Ilmuan Skalov? Tentu saja, karena Anda adalah dokter terkemuka sekaligus istri Tuan Aarav," katanya sarkas.


Oxanna mendengkus. "Lalu?!"


"Beberapa tahun yang lalu, mereka menemukan sebuah virus di kedalaman 45 km bawah laut. Virus monster yang kebal akan air dan hanya bisa musnah jika di bakar. Selama itu, kami di bawah pengamanan Tuan Aarav, berusaha menemukan vaksinnya. Orang-orang yang Anda bunuh adalah pasien kami yang harusnya telah selamat," kata wanita tersebut menatap Oxanna datar, sedatar nada bicaranya yang menyalahkan dia.


Kedua mata Oxanna melebar. Dia telah membunuh manusia yang tidak bersalah?!

__ADS_1


"Tapi, Anda adalah istri Tuan Aarav. Maka, Anda akan terbebas dari hukuman, bukan?" Wanita tersebut kembali berkata lalu berdiri. "Maka dari itu, harus ada yang menggantikan hukumanmu."


Oxanna begitu bingung dengan ucapan itu. Tapi, rasa penasarannya terjawab saat melihat Jordan berjalan ke arah para peneliti dan sebelumnya melirik kepada dia.


"Jordan? Dia ingin membawaku ke atas?" tanya Oxanna pada dirinya sendiri dengan pelan. Saat dia ingin memanggil pria itu, tiba-tiba salah satu peneliti menyuntikkan obat ke lehernya.


Jordan langsung bereaksi hebat. Matanya membulat sempurna dan berubah menjadi merah tapi dia berusaha melawan obat yang sepertinya virus tersebut!


"Jordan!" teriak Oxanna terkejut. Ketika dia ingin berlari menghampirinya, si wanita peneliti segera menarik tangan Oxanna untuk keluar dari laboratorium.


"Apa yang kalian lakukan, Keparat?!" Oxanna berteriak murka.


Wanita itu menatap Oxanna tajam. "Kami melakukan tugas yang sebenarnya, Madam! Jika saja kau tidak mengacau, kami tak akan kehilangan pasien eksperimen kami! Tuan Aarav telah memberikan wewenang, siapapun yang mengacau maka nyawa sebagai balasan. Tapi, Anda dibebaskan karena istri Tuan kami. Maka dari itu, harus ada yang menggantikan, bukan?"


Tubuh Oxanna didorong keluar lalu pintu laboratorium ditutup rapat. Dia menelan ludah takut.


"Aku harus mengabari Aarav," gumamnya kemudian dan berlari masuk kembali ke dalam lift.


Dia kembali ke dalam ruang rahasia Aarav dan ke kamar. Oxanna mencari ponselnya yang tergeletak di sembarang, hampir saja tidak menemukan jika saja tidak ada dering telepon masuk.


Itu dari Aarav!


Oxanna segera mengangkatnya. "Hallo?!"


"APA YANG KAU LAKUKAN, SIALAN?" Oxanna menjauhkan telepon dari telinga saat suara Aarav menggelegar walau dari kejauhan.


Tubuh Oxanna gemetar sesaat. "Aku tidak tahu! Yang pasti, Jordan disuntik virus oleh peneliti gila itu," katanya dalam satu tarikan napas.


Oxanna tidak mendengar balasan Aarav lagi dalam beberapa saat kemudian. "Apa yang harus kulakukan? Dia berubah karenaku," katanya.


"Biarkan saja," balas Aarav kemudian. Saat Oxanna ingin menimpali, panggilan terputus sepihak.


Apakah ini dimaksud Aarav tengah membuang Jordan?

__ADS_1


__ADS_2