
Oxanna terkesiap mendengar ancaman yang keluar dari mulut Kardiocy. Karena tidak mau suaminya mendapatkan celaka, akhirnya Oxanna menyanggupi permintaan Kardiocy untuk membunuh Aarav.
"Bagus, Oxanna! Gadis pintar! Tunggulah di luar rumah, beberapa menit lagi akan ada seorang kurir yang membawakan pil itu untukmu. Aku ingin kau mencampurkan pil itu ke dalam minuman Aarav! Ingat, jangan pernah bertindak curang kepadaku karena aku mempunyai banyak mata dan telinga untuk mengawasi dirimu!" Kardiocy mengancam Oxanna.
"Iya, iyaa. Baiklah!" Oxanna kemudian mengakhiri panggilan suara di telepon selularnya itu begitu saja tanpa menunggu Kardiocy berbicara lebih banyak.
Setelah itu, Oxanna bergegas keluar rumah untuk menunggu kurir yang telah disebutkan oleh Kardiocy tadi, dan benar saja, tak berselang lama datanglah seorang kurir yang mengantarkan sebuah pil yang dimasukkan ke dalam sebuah plastik kecil dan langsung di terima oleh Oxanna yang langsung bergegas kembali ke dalam rumah sebelum ada orang yang melihat aksinya.
Oxanna bergegas menyimpan pil itu ke dalam saku celana yang dia pakai saat itu, tangannya terlihat gemetar karena menyadari bahwa dia harus membunuh suaminya sendiri atas perintah seseorang yang hanya ingin memanfaatkan dirinya semata.
Sementara itu, tanpa Oxanna sadari, sebenarnya sejak tadi Aarav mengawasi semua gerak gerik Oxanna, istrinya dari kamera cctv yang sengaja dia sebar di tempat- tempat tersembunyi di selruh penjuru rumahnya. Dia pun sudah tahu jika istrinya dahulu begitu ingin membunuh dirinya karena dia telah menyebabkan kematian kedua mertuanya.
Dengan langkah lebar dan senyum misterius yang tergambar di bibirnya, Aara melangkah keluar dari kamar kerjanya sambil meremas saku celananya pria itu berjalan menuju ke ruang keluarga di mana Oxanna berada.
__ADS_1
"Oxanna, apa yang sedang kau lakukan?" Aarav menegur Oxanna yang terlihat melamun padahal dia sedang duduk di depan televisi yang tengah menayangkan sebuah acara kesukannya.
"Oh, eh, tidak. Aku sedang menonton acara kesukaanku. Ada apa? Apa kau ingin bergabung denganku di sini?" Oxanna sedikit tergagap menjawab pertanyaan suaminya
Aarav tidak menjawab pertanyaan istri ya dengan kata- kata, melainkan langsung meletakkan bobot tubuhnya di samping istrinya yang duduk di sofa panjang. Aarrav lalu menoleh ke arah istrinya dan ditatapnya wajah cantik yang terlihat sedikit pucat itu.
Dengan tersenyum, Aarav meraih tangan wanitanya dan menarik tangan itu ke arah bibirnya dan dikecupnya dengan lembut. Aarav lalu meminta Oxanna untuk mengambilkam segelas minuman untuknya.
Merasa mempunyai kesempatan besar untuk mengerjakan perintah Kardiocy, Oxanna pun lekas berdiri dan mengambil segelas minuman untuk Aarav dan menyerahkan gelas itu kepada suaminya.
Oxanna terpaku mendengar perintah Aarav, wanita itu merasa ketakutan. Dia takut jika perbuatannya tadi diketahui oleh suaminya. Tanpa dia sadari, kedua belah tangannya terlihat gemetaran. Aarav yang rupanya menyadari akan hal itu dengan sikap biasa saja mengambil kedua belah tangan istrinya dan memegangnya erat.
"Tanganmu gemetar, ada apa? Ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku, Sayang? Apa kau sakit?" tanya Aarav sedikit menyerempet
__ADS_1
Syuuh!
Wajah Oxanna seketika berubah lebih pucat daripada sebelumnya. Wanita itu merasa tubuhnya begitu lemah tidak berdaya, seakan di dalam tubuhnya tidak ada lagi tulang yang menyangga tubuhnya dan darah yang mewarnainya.
Aarav mengamati setiap perubahan gerak gerik yang terjadi pada istrinya itu dan dia paham betul jika wanita itu merasa sangat ketakutan karena kelakuannya tadi. Namun, Aarav tetap bersikap biasa saja seakan tidak mengetahui rencana istrinya, Oxanna dan Kardiocy yang ingin membunuhnya.
"Kenapa kau diam saja, Sayang? Apa kau sakit? Wajahmu terlihat sangat pucat? Ada apa dengan dirimu?" Aarvav mengulangi lagi pertanyaannya pada Oxanna.
Oxanna menggelengkan kepalanya lalu menjawab, "tidak. Aku tidak apa- apa, Sayang. Hanya merasa sedikit kurang enak badan, kenapa, Sayang?"
"Mendekatlah padaku, Sayang, aku ingin menyampaikan sesuatu pada dirimu," ujar Aarav seraya mendekatkan tubuh Oxanna ke arahnya. "Aku tahu beberapa waktu ini hubungan kita merenggang dan kau sering merasa ketakutan saat berdekatan dengan aku. Aku minta maaf karenanya."
Aaraav menghela napas berat sebelum melanjutkan kembali kata- katanya, "untuk itu, sebagai permintaan maaf yang tulus dariku. Aku menghadiahkan Skalov Holding Company, milikku kepada dirimu. Urusan balik nama dan segalanya telah usai, perusahaan itu telah resmi menjadi milikmu, Sayang."
__ADS_1
"Tap-tapi kenapa, Sayang? Kenapa kau lakukan hal itu?" tanya Oxanna, hatinya bagaikan teriris pisau yang sangat tajam.
Aarav hanya tersenyum mendengar pertanyaan wanita halalnya yang begiu dia cintai itu. Aarav mencondongkan badannya ke samping untuk mengambil gelas minuman pemberian Oxanna tadi dari atas meja.