
Jordan mendapatkan perintah dari Juan untuk menangkap Kadiocy yang tengah dirawat di salah satu rumah sakit pedesaan. Seluruh pasukannya sudah mengepung wilayah ini dan siap-siap akan memberi perintah.
"Pasukan tim A, B, dan C. Apakah sudah ada di posisi masing-masing?" Jordan bertanya melalui bluetooth yang terpasang di telinga sebagai alat komunikasi mereka.
"Lapor, pasukan A sudah berada di posisi masing-masing dan siap bergerak setelah ada perintah!" Sebuah seruan menjawab pertanyaannya.
"Lapor, pasukan tim B telah memblokir jalan keluar!"
"Lapor, pasukan tim C sudah berada di jarak aman target!"
"Oke bagus! Aku dan tim Alpha akan menyerbu masuk lalu mengacak-acak barisan depan. Pasukan A dengan B segera meringkus keberadaan target sedangkan tim C bersiaga, jikalau target kabur. Segera tembak bagian tubuhnya. Bersiap dalam tiga puluh detik," kata Jordan puas. Dia menarik napas sejenak lalu mengeluarkan senjata api terkuat yang dirancang oleh Morevo, Colt M1911A1. Kemudian, dia memakai topi juga masker kain hitam agar menutupi seluruh wajahnya.
Tiga puluh detik berlalu, saat Jordan ingin memberikan perintah, seseorang menghentikannya.
"Kapten Jordan! Anda mendapatkan pesan singkat dari Tuan Aarav," katanya sembari memberikan ponsel milik Jordan.
Jordan mengambilnya, dia membaca dengan seksama pesan tersebut. Isi yang mengatakan jika dia tidak perlu menangkap Kadiocy sebab Aarav memiliki rencana sendiri.
Namun, yang membuat dia heran karena Aarav tidak akan pernah ingin mengotori tangannya untuk membunuh. Semua tugas dibebankan oleh dia dan juga Morevo.
"Ada apa, Kapt?" tanyanya kembali ketika Jordan tidak bergeming.
Jordan tersentak, "Ini benar dari Tuan Aarav?" tanyanya belum percaya.
"Iya, Kapt. Tertulis dengan jelas jika itu dari Tuan Aarav," jawabnya.
Jordan mengangguk lalu mematikan ponselnya. Dia kembali berbicara kepada anak buah. "Operasi dihentikan. Kembali ke markas dan bersiaga untuk perintah selanjutnya!"
Kemudian, dia segera pergi dari sana bersama tim alpha yang merupakan bodyguard mengawal Aarav secara dekat dan terkuat di antara pengawal yang lain.
Jordan begitu polos menuruti tanpa tahu jika pesan tersebut dikirimkan oleh Oxanna.
***
Aarav ada pemeriksaan laboratorium terakhir, sudah satu jam dia keluar ruangan dan meninggalkan Oxanna bersama dengan Juan.
Selama itu, Oxanna menyibukkan diri bermain ponsel yang menampilkan permainan game online. Sedangkan Juan? Dia mencuri-curi pandang ke arah wanita itu.
"Ehem!" Juan memecah keheningan.
Oxanna tidak menoleh tapi berharap dalam hati jika Juan tidak akan memulai pembicaraan kepadanya.
"Senior? Haha, haruskah aku memanggil kau dengan Senior Oxanna?" Juan berkata canggung.
__ADS_1
Demi menghargai karena namanya telah dipanggil, Oxanna menoleh dan menatapnya datar membuat Juan meringis malu.
"Apa kabar, Anna? Ah, bisakah aku memanggilmu dengan sebutan yang kulakukan seperti dulu, hm?" tanya Juan sambil tersenyum manis.
Sejenak, Oxanna menahan napas kala senyuman itu membuat hatinya bergetar. Oh, tidak! Dia tak boleh terlena!!
"Tidak kuizinkan. Mungkin aku harus memperkenalkan diri lagi padamu. Aku Oxanna Skalov, istri dari kakakmu, Aarav Skalov." Oxanna menolaknya mentah-mentah.
Kalimat kasar itu tidak membuat Juan sakit hati. Dia tetap mempertahankan wajah ceria dan berkata, "Memangnya mengapa? Apa aku tidak boleh akrab dengan kakak iparku sendiri? Anna bukanlah panggilan sayang seperti Baby, Honey. Atau, kau ingin kupanggil begitu?"
Oxanna memalingkan wajahnya. ****!!
"Baiklah, Kakak Ipar. Aku tidak akan melewati batas nyamanmu," tambah Juan kemudian dengan nada pelan ketika melihat mimik wajah Oxanna yang tidak nyaman bersamanya.
Oxanna tak memberikan reaksi apapun.
"Aku hanya ingin mengatakan, jaga kakakku ya. Dia memiliki begitu banyak musuh baik di luar ataupun di dalam dan aku tidak akan bisa melindunginya. Kesempatan sedikit bisa membuat nyawa Aarav melayang," kata Juan mengutarakan niatnya.
Kalimat itu begitu telak menyindir Oxanna. Dia termasuk musuh Aarav yang menginginkan nyawa pria itu, bukan? Apakah Juan tahu mengenai niatnya?
Oh, dia lupa! Juan telah mengenalnya sejak dulu. Pria itu sedikit tahu bagaimana orang tua Oxanna meninggal dunia dan tujuan hidup dia saat ini.
Oxanna berpikir keras bagaimana caranya menjauhkan Juan dari Aarav.
Saat Juan membuka pintu yang bertepatan Aarav berada di baliknya dan tengah duduk di atas kursi roda. "Sudah selesai?"
"Kau mau ke mana?" tanya Aarav basa basi.
"Aku harus bekerja," jawab Juan jujur.
"Ya."
Percakapan singkat tanpa ada kemajuan setelah beberapa saat yang lalu, Aarav memuji Juan luar biasa. Oxanna memperhatikannya dari jauh.
Setelah Juan pamit pergi, Oxanna mendekati Aarav dan mendorong masuk kursi roda tersebut.
"Bagaimana hasilnya?" tanyanya.
"Baik. Dalam satu jam, aku sudah bisa pulang," jawab Aarav.
Kemudian, tidak ada perbincangan apapun lagi. Lebih tepatnya, Oxanna yang tak mampu membalas tatapan intens Aarav.
"Kau mengenal Juan lebih dulu?" tanya Aarav secara mendadak.
__ADS_1
Oxanna mendongak. Pasti Aarav mendengar pembicaraan mereka!
"Mengapa kau bertanya seperti itu?" tanya Oxanna berusaha berdalih.
"Aku tanya, apa kau mengenal Juan lebih dulu?" Aarav menatapnya dingin.
Sebisa mungkin, Oxanna menyembunyikan kegugupan—ouh! Apakah dia harus mengambil kesempatan ini untuk menyingkirkan Juan dari Aarav supaya dia tidak ketahuan?! Ide bagus!
Mimik wajah Oxanna berubah menjadi sendu, "Ya. Dia adalah masa lalu terburuk yang pernah kualami," lirihnya sedih.
Aarav seakan tidak menduga jawaban itu pun tersentak. "Apa?!"
Oxanna menghela napas kasar lalu memalingkan wajah, bertingkah sok menolak.
Namun, Aarav segera menarik pipinya sampai tatapan mereka beradu. "Katakan!"
Oxanna menyentuh tangan Aarav yang ada di pipinya. "Itu menyakitkan."
"Maaf," kata Aarav spontan sambil melepaskan tangannya. Dia berpikir sesaat sebelum menaikkan sebelah alisnya. "Kau sakit karena cengkeramanku atau ...?"
"Aku belum bisa mengatakan yang sejujurnya," jawab Oxanna berakting begitu sedih.
"Katakan. Aku memaksamu," ujar Aarav tak suka.
Oxanna mengumpat dalam hati. Aarav bukannya merayu malah mengancam!
Dia menunggu beberapa detik. Kemudian, Oxanna berkata, "Aku mengenal Juan sejak di kampus. Dia adalah juniorku. Tapi dulu, dia suka padaku dan kami yah memiliki sebuah hubungan. Hubungan kami tak bertahan lama karena dia berniat ... emm!"
Oxanna menghentikan kalimatnya dan berdiri. Dia berjalan menuju jendela dengan punggung gemetar. Dia mencubit telapak tangannya sendiri hingga lecet dan dirinya mengeluarkan air mata.
Akting yang totalitas!
Aarav tidak peduli jika tangannya mengeluarkan darah akibat infus yang tertarik. Dia mendekati Oxanna dan mengusap punggungnya pelan. "Ada apa?"
"Dia melecehkanku," lirih Oxanna sedih.
Tubuh Aarav mematung. "Sial. Bajingan itu?!" bentaknya.
Oxanna mengangguk lirih. "Iya," balasnya.
Aarav mengepalkan kedua tangannya.
Oh tuhan! Maafkan Oxanna yang mengucapkan kalimat itu tanpa pikir panjang. Dia tidak tahu jika saat ini Aarav begitu ingin mematahkan leher Juan walaupun pria itu berstatus sebagai adiknya.
__ADS_1