
"Ara, nama yang indah. Aku akan mengembalikan semua ingatan kamu, Sayang!" batin Aarav sambil menatap bintang di balkon kamar hotel.
Setelah perkenalan itu, Aarav semakin gencar mendekati Ara, wanita yang dia duga sebagai Oxanna. Aarav sangat yakin jika wanita itu benar-benar Oxanna-nya. Kini Aarav kembali memutar ingatannya beberapa hari yang lalu saat pertama kali melihat sosok wanitanya itu.
"Kau masih terlihat cantik dan menarik, Oxanna. Bukan, bukan itu lagi nama kamu sekarang. Ara, iya Ara. Nama yang sangat pas untuk sosok mu saat ini. Aku begitu merindukan kehangatan pelukanmu dan aroma tubuhmu, Sayang!" lirih Aarav.
Lelaki itu masih asyik melihat bintang di langit malam hingga matanya terasa perih dan ingin terpejam. Maka Aarav pun melangkah menuju ke ranjang dan mulai merebahkan tubuhnya. Sesaat hanya sesaat, mata lelaki itu terpejam sempurna.
Hari terus berlalu, sudah hampir tiga bulan hubungan Ara dan Aarav semakin dekat. Sedikit demi sedikit Aarav membuka setiap kenangan dia bersama Oxanna pada Ara. Lelaki itu dengan sabar menuntun Ara agar segera ingat akan kenangan mereka berdua, mulai dari makanan favorite hingga pakaian dan warna kesukaan Oxanna dulu.
Namun, sekarang berbeda, Ara merasa ada perbedaan pada lidah pengecapnya. Wanita itu kini lebih suka masakan Indonesia. Entah mengapa wanita itu enggan meninggalkan negara Indo. Malah kini dia sudah menyewa sebuah apartemen untuk mendukung kehidupannya sehari-hari. Terdengar suara bel berbunyi.
"Iya, tunggu sebentar!" teriak Ara sambil berjalan mendekat pada pintu dan membukanya.
Senyumnya mengembang kala melihat sosok Aarav berdiri di depan flatnya sambil membawa setangkai mawar merah yang masih segar. Ara meraih bunga tersebut sambil mengucapkan terima kasih dan tidak lupa mempersilahkan Aarav masuk ke dalam.
"Wah, flat yang lumayan luas. Tidak apakah kamu tinggal sendiri di sini Oxanna?" tanya Aarav.
"Ara, panggil aku Ara, Aarav!" tegas Ara.
"Oh, maaf, kelepasan!" jawab Aarav.
__ADS_1
"Kamu benar, flat ini lumayan luas untukku dan bisa membuatku nyaman," balas Ara.
Aarav pun beranjak dari duduknya dan berjalan mengitari seluruh ruangan itu. Pandangannya menyapu sekitarnya, lalu bibirnya melengkung membentuk sebuah kurva yang indah. Lengkungan yang membuat debaran jantung Ara semakin kencang berdetak.
"Senyuman itu, aarrgghh!" teriak Ara sambil memegang kepalanya.
Aarav terlihat bingung melihat sikap Ara yang mendekap kepalanya, gegas dia mendekat pada pada wanita itu. Kemudian dia meraih tubuh wanita dalam dekapan, dan mencoba menenangkan Ara. Aarav kini membelai lengan Ara lembut dan wanita itu semakin memasukkan kepalanya pada dada bidang lelaki itu.
"Jangan dipaksa untuk ingat semua, Sayang. Bagaimanapun keadaan kamu, aku tetap ada untukmu!" kata Aarav.
"Jangan tinggalkan aku lagi, Aarav!" lirih Ara.
Ara semakin merangsek masuk kedalam pelukan lelakinya, sungguh perasaan yang telah hilang kini terasa kembali. Ara mengusap lembut dada lelakinya. Kepalanya mendongak keatas menatap dagu milik Aarav. Dan lelaki itu pun menunduk menatap wanitanya lembut.
"Aku ... Aku sudah ingat, semua!"
Aarav tersenyum bahagia, lalu mendekap erat tubuh wanitanya. Dengan lembut dia mendaratkan kecupan lama pada dahi Ara sambil mengucapkan terima kasih. Dan kembali mendekap erat.
"Ara atau Oxanna jika aku memanggilmu, Sayang?" tanya Aarav.
"Ara, sebaiknya panggil aku Ara. Jangan Oxanna, Aarav. Aku ingin melupakan semua tentang Oxanna. Kini aku terlahir lagi sebagai Ara, ingat itu!" tegas Ara pada Aarav.
__ADS_1
Aarav tersenyum, lelaki itu menganggukan kepalanya tanda setuju. Kemudian keduanya berbincang mengenai perjalanan mereka hingga terdampar di negara yang sama. Ara tidak mau kembali lagi ke negaranya semula, untuk menuruti keinginan wanitanya maka Aarav mengambil keputusan untuk membangun sebuah perusahaan di Indo.
"Iya, iya, maaf. Mulai hari ini akan aku ingat namamu, Sayang. Jadi benar kamu tidak ingin kembali ke Skalov?" tanya Aarav untuk menegaskan keputusan Ara.
"Iya, aku ingin hidup di sini hingga menua!" jawab Ara
"Aku akan menemani kamu hingga memutih rambutmu dan kita menua bersama. Melihat tumbuh kembang anak cucu kita, bercanda bersama dan mengurai duka hingga senyum selalu terbit pada mereka anak turun kita. Maukah Engkau seperti itu, Sayang?" tanya Aarav.
Ara menatap sendu lelakinya, bibirnya mengulas senyum tipis lalu melangkah menuju jendela. Matanya menatap suasana sore melalui jendela apartement yang menampilkan lalu lalang kendaraan para pekerja kantoran yang sudah jam pulang. Aarav mendekat pada posisi kekasihnya bahkan dulu sudah menjadi istrinya. Kemudian tangannya melingkar pada punggang ramping Ara.
"Apa yang kamu lihat, Sayang?" tanya Aarav sambil menyandarkan kepalanya pada bahu kanan Ara.
"Mimpi, sebuah mimpi indah bersama kamu, Aarav. Mungkinkah mimpi ini terjadi?" tanya Ara.
"Aku menginginkan kamu agar selalu ada di sisiku untuk selamanya! Maka dari itu aku akan berusaha mewujudkan mimpi indah itu, apa kamu mau?"
"Aku mau! Aku mau berada di sisi kamu selamanya dan menggapai mimpi indah bersamamu."
Setelah segala macam rintangan yang terjadi, Aarav dan Ara akhirnya bisa bersama jua. Segala sesuatu indah tidak akan mudah di gapai sebelum kita melewati dulu rintangannya. Pun dengan kisah cinta Aarav dan Ara yang tidak mudah hingga kini Tuhan mempersatukan mereka.
TAMAT...
__ADS_1