TUAN MUDA MANJA DARI MILAN

TUAN MUDA MANJA DARI MILAN
Kelab Malam


__ADS_3

"Sudah jam berapa ini?" ucapnya lirih.


Kemudian menatap jam di layar ponselnya. Oxanna terbangun dari tidurnya. Lantas bergegas menuju dapur, untuk mengambil segelas air dingin di kulkas.


Dia melangkah dengan rasa malas. Sebab merasa terkurung, berada di lingkungan mansion yang mewah. Sebab bagi Oxanna, kebebasan adalah segalanya. Hingga membuat dokter itu, ingin segera pergi dan lari dari cengkraman Aarav.


Saat melangkah menuju dapur. Seketika Oxanna berhenti, tepat di dekat pintu menuju ke arah ruang tamu.


"Kita harus benar-benar menjaga Nyonya Skalov. Jika tidak? Maka tamatlah riwayat kita di sini." ancam Jordan penuh penekanan.


"Baik, Bos. Siap. Saya sudah pasti akan menjaga beliau," jawab salah satu bodyguard.


Oxanna mengintip dari celah pintu. Dia begitu terkejut, saat melihat ada beberapa orang bertubuh kekar dan berotot di sana.


Bukan hanya itu saja, yang mengejutkan dirinya. Tapi setelah melihat, jika banyak bodyguard yang ditugaskan untuk menjaga dirinya. Agar tidak bisa lari ataupun kabur dari mansion tersebut.


Pada akhirnya, Oxanna tidak melanjutkan langkahnya untuk pergi ke dapur. Dia berbalik arah, lalu menuju kamarnya lagi.


Banyak pikiran yang berkecamuk dalam benak Oxanna. Dia memang sangat bodoh! Karena terjebak dalam permainan Aarav, dengan menikah dan tinggal bersama orang yang paling dia benci.


"Aku bersumpah, Aarav! Suatu hari nanti, kau pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal. Atas semua perbuatan yang kamu lakukan hari ini padaku," geram Oxanna mengepalkan kedua tangan.


Setelah berada di kamar, Oxanna kembali merebahkan dirinya di atas kasur. Tak lupa, dia meraih ponsel yang terletak di atas nakas.


Ting!


Baru saja Oxanna menggenggam ponsel miliknya. Terdengar suara notifikasi pesan masuk, yang berasal dari nomor tak dikenal. Karena merasa penasaran, lantas dia membuka isi pesan tersebut.


"Pergilah ke rumah kosong yang ada di timur kota. Kadiocy sedang berada di sana sekarang! Cepatlah datang, Oxanna! Jika tidak? Maka nyawa Aarav berada dalam bahaya!"


Sederet pesan ancaman masuk ke nomornya. Jelas saja! Oxanna sudah dapat menebak, siapa orang yang mengirimkan pesan tersebut.


Meskipun memakai nomor yang tak dikenal dan seakan misterius. Lantas tak membuat Oxanna merasa takut, dengan pesan tersebut.


"Apa Kadiocy sendiri yang mengirimkan pesan ini? Apa maksudnya? Hah! Dia pikir, aku akan datang ke sana? Dasar bodoh!" umpatnya kesal.

__ADS_1


Walaupun begitu, Oxanna masih tetap memandangi pesan berisikan ancaman tersebut. Bagaimana jika benar, Aarav akan menjadi tumbal dan celaka? Hanya karena dirinya, yang sama sekali tak mengindahkan pesan tersebut.


Setelah berpikir panjang, Oxanna memutuskan untuk kabur dari tempat tersebut. Seperti halnya sesuai keinginan dirinya. Inilah kesempatan bagus, untuk melarikan diri.


Secara diam-diam, Oxanna berjinjit pelan dan mencari keberadaan Jordan beserta bodyguard yang di utus oleh Aarav.


Dimana di tempat ruang tamu, hanya ada Jordan saja yang sedang beristirahat. Sementara para bodyguard yang berbadan kekar, sama sekali tak terlihat oleh dirinya.


"Aku harus bisa segera pergi dari sini," lirihnya pelan.


Bukankah ini kesempatan emas dan langka bagi Oxanna? Orang suruhan Aarav, yang bertugas untuk menjaga istrinya. Justru lengah, serta gagal menjalankan tugas.


"Ini kesempatan yang bagus!" ujar wanita itu tertahan.


Perlahan Oxanna berjalan dibelakang Jordan. Lalu tiba-tiba,


Bugh!


"Yes. Berhasil! Eh, UPS!" ucapnya melompat kegirangan. Oxanna memukul Jordan tepat di bagian kepala, hingga lelaki itu pingsan dan tak sadarkan diri.


Rencana selanjutnya, dia akan pergi ke suatu tempat. Dimana bukan untuk menemui Kadiocy, melainkan Oxanna berniat untuk pergi ke Kelab Malam Skalov.


Meskipun merasa senang, karena berhasil melumpuhkan Jordan. Tapi Oxanna tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan bagus ini. Lantas dia bergegas, untuk menemui sahabatnya.


"Maria, kau masih di sana bukan? Tunggu aku! Aku akan segera ke sana. Ada sesuatu hal yang harus aku bicarakan sekarang."


Pesan terkirim. Sebelum pergi ke sana, Oxanna sengaja mengirimkan pesan terlebih dulu pada Maria. Kemudian bergegas pergi dari tempat tersebut.


***


"Jadi kau benar-benar datang ke sini?" sambut Maria pada Oxanna.


Dia beranjak dari tempat duduknya. Kemudian menghampiri sahabatnya itu, lalu menyuruh Oxanna duduk di sampingnya.


"Tentu saja, Maria. Aku sangat rindu padamu," oceh Oxanna.

__ADS_1


Maria hanya tersenyum, melihat tingkah Oxanna yang sudah sah menjadi istri Aarav. Pewaris tunggal dengan memiliki begitu banyak kekayaan.


"Jangan berpura-pura di hadapan aku, Oxanna. Kita sudah bersahabat sejak lama. Aku sudah sangat paham, bagaimana karakter kamu yang sesungguhnya." ucap Maria menatap tajam ke arah sahabatnya itu.


Di sisi lain, Oxanna hanya menahan tawa. "Baguslah! Jika kau memang masih mengingat kebiasaan diriku, Maria."


Setelah mengobrol basa-basi. Mereka berdua berniat, untuk memesan minum di sana.


"Apa kau mau Jack Daniels?" tawar Maria sambil membawa dua botol minuman.


"Aku pesan yang lain saja, Maria," balas Oxanna.


Keduanya nampak begitu akrab, antara satu sama lain. Saling bercanda dan bersedia gurau bersama. Baik Maria, maupun Oxanna layaknya sahabat yang sudah bertahun-tahun tak bertemu.


"Jadi angin apa yang membawa kamu, untuk datang ke sini?" tanya Maria langsung tertuju pada alasan kedatangan Oxanna yang mendadak.


Sedangkan dokter itu, hanya tertawa lirih. Sesekali menunjukkan senyuman miringnya, lalu berubah kembali. Seperti biasa saja, dan tak terjadi apa-apa.


"Silakan, Nona."


Seorang pelayan, mengantarkan minuman beralkohol rendah pesanan Oxanna. Berbeda dengan Maria, dia justru memesan alkohol kadar tinggi.


"Thank you."


Setelah minuman datang, terpaksa mereka menghentikan obrolan tentang tujuan Oxanna datang ke Kelab.


Maria dan Oxanna, lebih memilih untuk minum minuman mereka terlebih dulu. Setelah merasa puas, Maria beralih menatap ke arah Oxanna yang sedang sibuk dengan gelas di tangannya.


"Hentikan dulu, kau belum sempat bercerita. Ada angin apa, yang sudah mengundang kau datang ke sini, Oxanna?" Maria meraih gelas yang ada di dalam genggaman Oxanna.


Sementara itu, Oxanna menarik nafas dalam-dalam. "Aku ingin meminta bantuanmu, Maria. Hanya kau, yang pasti bisa memenuhi rencana ini."


Maria menatap Oxanna tak percaya. Mengapa wanita baik seperti Oxanna, lebih memilih dirinya untuk membantu permasalahannya?


"Aku ingin kau mencari celah di kelab ini, Maria. Tapi tidak hanya itu saja, aku berharap kau mau mendekati Morevo. Hanya dengan cara itu, aku bisa menjalankan rencanaku," jelasnya panjang lebar, sembari tersenyum miring ke arah Maria.

__ADS_1


Maria terdiam. Tampaknya dia sedang berpikir, tentang tawaran menarik dari Oxanna. "Baiklah. Aku setuju, Oxanna. Tapi ingat? Ada harga yang harus kau bayar," ucapnya tegas.


Dalam hati Oxanna tertawa puas. Kini langkah awalnya, mulai berjalan mulus. "Kita lihat saja. Bagaimana aku akan menghancurkanmu secara perlahan, Aarav!"


__ADS_2