TUAN MUDA MANJA DARI MILAN

TUAN MUDA MANJA DARI MILAN
Bab 44. Aku mencintaimu


__ADS_3

Aarav duduk santai di dalam mobil dengan Morevo yang berada di belakang kemudi karena mobilnya itu sudah dia setel menggunakan kaca yang aman dari peluru, sedangkan anak-anak buah Juan yang keras kepala saat ini sedang ditangani oleh pasukannya, dia tidak perlu mengotori tangannya itu untuk para cecunguk yang dikendalikan oleh adik tirinya.


Biarlah tangannya itu dia gunakan untuk berhadapan langsung dengan atasan mereka.


"Mereka tidak sebanding dengan kita," kata Aarav senang. Pemikiran psikopatnya telah kembali.


"Tentu saja, Tuan. Bodyguard Skalov telah terlatih dan memiliki pengalaman berharga. Bahkan kini, si kembar yang merupakan penembak jitu telah siap pada posisi untuk melindungi Anda dari serangan Juan. Serta, Buldoser sudah ada di dalam gedung, dia melaporkan telah memasang beberapa bahan peledak di sana," jawab Morevo.


Aarav menyeringai. Dia sangat kenal siapa twins dan Buldoser. Mereka adalah bodyguard bayangan jika mereka sedang berperang seperti ini.


Twins dan Buldoser hidup bebas, jika tidak ada tugas, mereka akan liburan serta mengambil beberapa tugas lain asal nyawa tak melayang. Saat Aarav memanggil, liburan mereka telah selesai.


"Oh, sampaikan salamku pada mereka," kata Aarav.


Sebagian besar anak buah Juan yang maju telah tumbang, bodyguard Aarav melesak maju hingga beberapa meter lagi mereka sampai di pintu masuk utama gedung ini.


Ketika Morevo memerintahkan mereka untuk semakin mendesak, beberapa anak buah Juan mundur karena tuannya keluar dari dalam markas. Lelaki berpakaian serba hitam itu keluar dengan senyum tipis dan tepukan tangan.


Anak buah Juan memberikan perlindungan karena melihat Juan yang sepertinya ingin berjalan maju.


"Berikan jalan, dia adalah bagianku," gumam Aarav. Dia langsung siap-siap untuk turun, mengambil senjata dan menyembunyikan di balik jaketnya.


"Baik." Morevo mengangguk, kemudian memberikan perintah melalui earphone. "Buka jalan!"


Bodyguard Aarav memberikan jalan agar Juan bisa sampai ke mobil Aarav. Tetapi mereka tetap waspada.


Juan menyeringai lebar. "Turunlah, Kakak. Aku tidak sabar melihatmu," katanya.


Sebelum turun, Morevo memberikan satu buah earphone kepada Aarav. "Pakai ini, Tuan. Jika Anda ingin memberikan perintah kepada Twins atau Buldoser, Anda bisa menyebutkan nama mereka."


Aarav segera memasang benda tersebut. "Oke."

__ADS_1


Melihat hal tersebut Aarav yang sudah emosi bergegas turun, dia tidak ingin mengulur waktu lagi, dia harus segera membebaskan Oxanna apa pun yang terjadi.


"Wahh, aku memiliki tamu spesial yang datang terlalu cepat, nih. Bagaimana ya, aku belum menyediakan hidangan utama untukmu," kata Juan memancing emosi Aarav. Dia menyilangkan kedua tangannya di dada dan melayangkan tatapan jenaka.


“Di mana Oxanna, Bajingan?!” cecar Aarav begitu keluar dari mobil.


“Oh, kau sudah tahu siapa penculik wanita itu. Wah, awalnya, aku menganggap dia terlalu percaya diri karena yakin jika kau akan datang. Hm, aku terlalu meremehkan cinta kalian ya?" Juan lalu tertawa puas.


Ketika Juan ingin mendekati Aarav sambil mengeluarkan sebilah belati yang sama seperti milik Maria, Morevo segera maju dan melindungi Aarav.


"Ouh, rupanya kau masih hidup, ya? Ah, si bodoh Maria mengorbankan dirinya demi kau?" ujar Juan mengejek.


“Tidak usah basa-basi. Sekali lagi aku tegaskan, lepaskan Nyonya Oxanna sekarang juga jika kamu dan pasukanmu tidak ingin terluka!” ancam Morevo bertindak.


"Bagaimana kabar Maria? Apakah dia selamat? Kau meninggalkannya sendiri? Haha, untung saja, mempermudah tugas anak buahku," balas Juan mengacuhkan ancaman tersebut.


Morevo menaikkan sebelah alisnya. Dia bingung dengan jawaban itu, tetapi, sesaat setelah paham. Dia sedikit kurang fokus.


"Diam! Jika kau masih sayang nyawamu, sekarang, lepaskan Oxanna," tambah Aarav menekan satu persatu kalimatnya dengan geram. Saat ini, dia sangat ingin meledakkan kepala Juan!


Bukannya menjawab Juan malah tersenyum lebar, seolah menertawakan ucapan yang keluar dari mulut kakak tirinya itu. Bagaimana dia memiliki kekuatan, sedangkan penyemangatnya sedang dia tahan di dalam ruangan tersembunyi yang ada di markasnya.


Melihat tanggapan Juan, Aarav pun melangkahkan kakinya ke arah dalam, dia sengaja menabrak bahu Juan ketika berpapasan.


Seharusnya, ketika memutuskan untuk maju, Aarav segera mengambil pistol yang telah dia siapkan. Tetapi, pergerakan Juan lebih cepat.


Melihat Aarav lengah, Juan segera mengambil pistol dari balik pakaiannya, sedetik kemudian dia mengarahkan pistol yang sudah dipakaikan peredam suara itu ke tubuh sang kakak dan sebuah tembakan pun tidak bisa Aarav hindari walaupun dia sempat mengelak, tetapi bahunya tetap terkena tembakan.


Morevo dan anak buah Aarav tertegun, mereka tidak menyangka Juan akan berbuat demikian kepada Aarav. Pengecut sekali dia, menyerang dalam keadaan musuh lengah. Bukan hanya mereka, twins yang berada di tempat hampir saja melesatkan tembakan laser jika saja Aarav tak memberikan aba-aba.


“Tuan!” teriak Morevo yang di tangannya terdapat dua pistol—pistolnya dengan pistol sang tuan.

__ADS_1


Aarav mengangkat tangannya ke arah Morevo dan anak buahnya, tanda jika dirinya baik-baik saja, padahal semua tahu jika dirinya terluka. Sehebat apa pun seseorang, jika tubuhnya tertembus peluru, dia pasti akan merasa sakit.


Namun, dia berusaha menahannya. Aarav menarik napas dalam-dalam untuk mengusir rasa sakit itu lalu menatap Juan datar.


Kemudian, dia tertawa pelan. "Ah, rubah kecil. Aku tahu sedari dulu jika kau akan menusukku dari belakang, maka dari itu, aku membuang kau sejak dulu. Kau beruntung karena diselamatkan oleh Morevo. Ternyata, kau tidak belajar dari pengalaman ya? Setelah kau menjadi penguasa, kau pikir kau setara denganku? Hei, Pecundang. Kau tak lebih dari sampah, tak sebanding dengan Skalov."


Juan mengepalkan kedua tangannya erat-erat. "Apa kau kata ..?!"


"Benar-benar tidak berguna! Apa kau pikir, setelah menyingkirkanku, kau mendapatkan SHC? Jangan harap, Juan. Anak haram tidak memiliki hak kepada harta warisan yang diturunkan hanya untuk anak sah," ujar Aarav menginjak-injak harga diri Juan.


Dia tahu, jika itu adalah kelemahan terbesarnya.


“Apa peduliku, hah? Yang ada di pikiranku hanya kemenangan. Dan, kemenangan itu akan tercapai jika aku bisa memenggal kepalamu dengan tanganku sendiri.” Setelah menyelesaikan ucapannya, Juan segera menyerang Aarav yang sedang terluka. Karena dengan terlukanya Aarav, peluangnya untuk menang makin besar.


Di luar dugaan, walaupun dalam keadaan terluka, tetapi Aarav masih bisa menghadapi serang-serangan Juan.


Sebenarnya Morevo hendak membantu tuannya itu, tetapi Aarav memberikan kode kepadanya untuk masuk saja ke dalam sedangkan bodyguard lain menghadapi anak buah Juan yang terbilang banyak juga.


Morevo benar-benar kebingungan, di satu sisi dia khawatir akan keadaan tuannya yang terluka, tetapi di sisi lain juga dia harus segera menyelamatkan Oxanna mumpung Juan dan sebagian besar anak buahnya sedang berada di luar markas.


Setelahnya berpikir beberapa saat, Morevo pun segera berlari ke dalam markas tatkala Aarav berduel dan menggiring Juan ke bagian sisi bangunan.


Di dalam bangunan kumuh itu, Morevo membuka satu per satu ruangan berharap salah satu dari ruangan tersebut adalah ruangan yang digunakan Juan untuk menyekap Oxanna.


Namun, sudah sekitar lima enam ruangan dia belum jua menemukan Oxanna. Entah di mana lelaki licik itu menyembunyikannya.


Tidak patah semangat, Morevo kembali mencari keberadaan istri tuannya ke ruangan lain, dia yakin sekali Oxanna pasti masih ditahan di sana.


Di luar Aarav terlihat kewalahan dengan serangan Juan, untungnya anak buah yang dia bawa cukup banyak sehingga beberapa dari mereka bisa membantunya.


Saat pasukannya mengalihkan perhatian Juan, Aarav dengan langkah tertatih berlari ke dalam ruangan untuk ikut mencari Oxanna. Dia khawatir karena Morevo masih belum jua keluar membawa wanita tercintanya.

__ADS_1


“Oxanna? Morevo?” teriak Aarav keras.


__ADS_2