TUAN MUDA MANJA DARI MILAN

TUAN MUDA MANJA DARI MILAN
Pria Lemah


__ADS_3

"Suamiku di mana?" tanya Oxanna kepada salah satu bodyguard yang menjaga pintu depan. Ini masih lagi, dia bahkan baru bangun tetapi tidak mendapati kehadiran Aarav yang biasanya akan selalu menunggu dia bangun. Sisi sebelahnya pun begitu dingin, seolah-olah tidak ada seseorang yang meniduri semalaman ini.


Bodyguard tersebut mengangguk pelan ke arah Oxanna. "Selamat pagi, Nyonya. Tuan Aarav sudah jalan ke kantor."


Oxanna terperangah. Dia tidak percaya dengan kalimat itu. Seorang Aarav ... si pemalas yang bahkan tidak ingin menggerakkan kakinya itu bangun pagi-pagi demi ke perusahaan?!


"Kau yakin? Dia bukan ke kelab malam melainkan ke kantor?" Oxanna kembali berkata untuk menyakinkan diri sendiri.


Dia mengangguk dan tidak berkata kembali. Kemudian, Oxanna berjalan masuk dengan benak yang tidak percaya. Dia memilih duduk di ruang tengah sambil bermain ponsel.


"Hm, aku harus berpura-pura khawatir," gumam Oxanna sambil mengetik pesan yang akan dikirimkan kepada Aarav.


"Kau di mana, Tuan Aarav yang Terhormat? Aku merasa terkejut saat mendengar jika kau ke kantor. Hell, apakah kau tak kedinginan di sana? Kulit sensitifmu pasti akan memerah jika terkena dingin, bukan? Lalu, kau akan ke dokter kulit sampai berhari-hari dan semakin malas bergerak di atas kasur, hahaha!" Kemudian, Oxanna mengirimkan pesan ini kepada Aarav.


Dia sangat menantikan balasan pesan kemarahan yang dikirimkan oleh Aarav.


Tak membutuhkan waktu lama, sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya.


"Aku akan membungkam mulutmu dengan miliki, Dokter Oxanna!" kata Aarav dalam pesannya.


Oxanna tidak bisa menahan lagi, tawanya meledak. Dia bahkan memeletkan lidah ke CCTV supaya Aarav melihatnya.


"Dasar pemalas," gumam Oxanna setelah beberapa saat berlalu. Dia berpikir sesaat. "Ouh! Bagaimana jika aku melakukan sesuatu, ya?!"


Tak ingin menunda-nunda waktu lebih banyak lagi, Oxanna segera menuju dapur. Tentu saja dia ingin membuatkan Aarav sesuatu dan juga sedikit hadiah!


Tangan terampilnya memegang pisau di ruang bedah, Oxanna aplikasikan kepada wortel, kentang, juga daging di dapur. Dia mengolah semua dengan baik tanpa bisa menjamin rasanya bagaimana setelah matang nanti.


Tiga puluh menit berlalu, Oxanna telah selesai walaupun keadaannya saat ini sudah berantakan. Tak lupa, dia menyiapkan dua porsi. Satu untuknya dan untuk Aarav.


Sandwich bacon, omelette telur, dan sup kentang telah jadi. Tetapi ada yang beda di sana, yaitu Oxanna diam-diam menambahkan bubuk cabai pedas ke dalam sandwich. Inilah tujuannya membuatkan sarapan untuk Aarav.


Aarav tidak suka pedas, perutnya begitu sensitif walaupun hanya makan sedikit saja. Dia terlalu pemilih makanan seperti sifatnya!

__ADS_1


"Untung saja di dapur tidak ada CCTV," kata Oxanna bahagia. Dia mengemas bekal sarapan tersebut ke tempat yang seharusnya lalu dia makan di meja makan supaya Aarav melihat jika dia sudah menghabiskan sarapan dan tidak kenapa-kenapa.


Setelah selesai, Oxanna berganti pakaian dengan gelamor dan segera pergi ke perusahaan Aarav!


***


Sebelum matahari terbit, Aarav sudah menuju ke perusahaan miliknya. Secara resmi, mulai dari kemarin, dia adalah CEO Skalov Holding Company yang menggantikan Morevo. Sebenarnya, dia bisa saja memerintahkan Jordan atau salah satu orang kepercayaan untuk memimpin, tetapi demi kelangsungan projek Skalov Castel dan permintaan dari dewan redaksi juga jajaran rekan, Aarav memutuskan untuk mengambil alih.


Pekerjaan yang ditinggalkan oleh Morevo begitu banyak! Dia sudah berkutat selama dua jam dan masih ada dua tumpuk berkas yang harus dicek, analisis, serta tanda tangani olehnya!


Sial, memang. Padahal, Aarav ingin mengerjai Oxanna di mansion. Oh ya, berbicara tentang sang istri! Sampai saat ini, dia belum mendapatkan informasi apapun mengenai wanita itu.


Morevo yang diperintahkan untuk menggali informasi pun tidak ingat satupun. Alhasil, Aarav harus mengulang dari awal dan meminta Jordan mencari seluk beluk Oxanna dulu.


Di tengah rasa lapar juga kantuk, tiba-tiba pintu ruangannya terbuka dari luar dengan dobrakan kuat tanpa permisi lebih dulu.


"Sial! Kau lancang sekali," teriak Aarav sambil mendongak. Tetapi, dia melebarkan kedua matanya ketika yang dikira sang sekretaris masuk melainkan Oxanna.


Aarav segera melarikan tatapan ke layar komputer yang menampilkan CCTV, di kamar, ruang tamu, dan seluruh mansion tidak menampilkan Oxanna. Padahal, terakhir Aarav lihat jika dia tengah makan. Berarti, wanita di hadapannya ini adalah nyata!


Aarav berdehem, "Hei, Pemberontak. Mengapa kau kemari, huh?" tanyanya ikut mendekati Oxanna lalu duduk di sebelah wanita itu.


Oxanna menaruh tempat makanan di meja dan mulai membukanya. "Taraa! Sarapan untuk pria bawel sepertimu!"


Walaupun kesal karena dicibir terus oleh Oxanna, Aarav berusaha menahan kekesalan itu dan berpikir positif karena dia telah membuatkan makan untuknya.


"Ini buatanmu atau pelayan?" Aarav bertanya meragukan.


"Kalau tak mau makan ya sudah," ketus Oxanna sambil ingin meraih makanan tersebut tetapi Aarav segera merebutnya.


"Iya, aku makan! Begitu saja marah, cih!" Aarav berdecih tak suka dan mulai menggigit sandwich tersebut. Hingga, seluruh makanan yang dibawa oleh Oxanna habis.


"Terima kasih, lain kali buatkan aku makanan jenis lain," kata Aarav tidak tahu malu sambil berjalan ke mejanya.

__ADS_1


Oxanna menyeringai karena baru berjalan beberapa langkah, Aarav berhenti dan mengaduh sambil memegangi perutnya.


"Arghh! Perutku," keluh Aarav kesakitan.


Tak ingin dicurigai, Oxanna mendekati Aarav dan memegangi lengan sang suami. "Kau kenapa?"


Aarav menatap Oxanna dengan kening berkerut. "Apa yang kau masukkan ke dalam makananku?!" bentaknya.


Namun, dia tidak menjawab pertanyaan Oxanna sebab Aarav segera berlari ke kamar mandi di dalam ruangan.


Oxanna berusaha keras menahan tawa dan membelakangi CCTV. Dia puas!


***


Total, ada 5 kali Aarav bolak-balik ke kamar mandi demi menghilangkan rasa mules akibat cabai yang diberikan oleh Oxanna. Dia begitu lelah sampai untuk berdiri pun gemetar. Aarav menatap Oxanna dengan wajah pucat.


Oxanna sedikit tidak tega. Dia membaluri perut Aarav menggunakan minyak pijat yang dipinjam dari cleaning servis. "Maaf, sepertinya makananmu tertukar denganku. Kau tahu bukan jika aku sangat menyukai pedas?"


Aarav tidak punya tenaga untuk menjawab. Oxanna memutuskan untuk membawa Aarav ke rumah sakit dibantu oleh Jordan. Sepanjang perjalanan pun, pria itu berubah menjadi hewan sakit dan selalu bersandar pada dirinya.


Sesampainya di sana, seluruh dokter segera menangani Aarav yang padahal hanya terkena diare!


"Mana Jordan," bisik Aarav begitu pelan.


"Apa?" Oxanna mendekatkan telinganya ke bibir Aarav.


"Jordan," bisik Aarav kembali.


"Ouh, Jordan! Akan kupanggilkan," kata Oxanna lalu bergegas memanggilkan ajudannya.


Jordan masuk. "Anda ingin bertemu dengan saya, Tuan?"


Aarav berdehem. "Pimpin rapat Skalov Castel," bisiknya.

__ADS_1


Jordan tidak mendengar itu, tetapi Oxanna, matanya membulat sempurna padahal suara AC lebih besar dibandingkan kalimat Aarav.


__ADS_2