
Sore yang sendu membuat suasana semakin mengharu biru. Segala persiapan mengenai pernikahan Maria dan Morevo telah mencapai puncaknya. Semua tamu undangan sudah memenuhi tempat perhelatan besar keluarga Jack, sang asisten ayah Aarav.
Maria terlihat sangat cantik dengan pakaian pengantinnya yang bernuansa gold dan perak. Ditambah senyum yang tidak pernah pudar dari bibit tipisnya membuat para tamu undangan sangat menikmati. Semakin malam tamu undangan semakin memadati tempat perhelatan tersebut.
Oxanna yang ikut hadir bersama suaminya pun juga terlihat elegan. Wanita yang sedang hamil muda itu selalu bergelayut pada lengan kekar sang suami. Aarav terlihat begitu memanjakan istrinya.
"Sayang, lihatlah kedua mempelai itu! Mereka terlihat begitu bahagia. Sepertinya cinta telah menyatukan hati keduanya," ucap Oxanna.
Aarav hanya mengikuti arah pandang sang istri tanpa berkomentar. Lelaki itu melihat sekitarnya, ada rasa khawatir dan was-was dalam hatinya. Dia berharap perhelatan ini berjalan dengan lancar tanpa ada halangan yang berarti. Bahkan jika perlu bersih tanpa ada keributan.
"Aku ke panggung dulu ya, Sayang. Ingin rasanya memeluk sahabatku itu!" pamit Oxanna.
Namun, wanita itu langsung berjalan meninggalkan suaminya tanpa menunggu jawaban dari Aarav. Lelaki itu sudah paham dengan sifat istrinya, jika dia sudah menginginkan sesuatu maka hatus terlaksana tanpa adanya penolakan. Aarav membiarkan saja istrinya berjalan menuku panggung kedua mempelai.
"Selamat ya, Maria, semoga kalian langgeng hingga kakek nenek!" ucap tulus Oxanna.
__ADS_1
"Terima kasih, Oxanna. Kamu adalah sahabat terbaikku, terima kasih sudah mempertemukan aku dengan pangeranku ini!" balas Maria sambil membalas pelukan Oxanna.
Kedua wanita itu pun semakin erat memeluk. Setelah dirasa cukup, akhirnya Oxanna mengurai pelukannya. Dia kemudian memberi selamat pada Morevo, lelaki dingin yang berdiri di samping Maria. Dia juga minta minta untuk semua hingga mereka menjadi jatuh cinta.
Namun, bukannya marah Morevo malah tertawa lirih atas semua yang dilakukan oleh Oxanna. Morevo berterima kasih akan usaha Oxanna pada mereka berdua hingga tahap pernikahan ini. Oxanna hanya tersenyum dan mengangguk, kemudian dia pamit untuk turun dari panggung untuk mencari suaminya.
Sedangkan Aarav sejak ditinggal oleh istrinya, tiba-tuba tubuhnya bergolak. Lelaki itu memcari ruang terbuka untuk melampiaskan segala rasa yang membelungu jiwanya. Di halaman belakang dengan sekuat tenaga, Aarav berteriak sekencangnya hingga membahana.
"Ah, sial! Mengapa rasa ini kembali hadir!" lirih Aarav.
Salah satu tawanan pria dibawa anak buahnya dan didudukkan pada kursi siksa khas Aarav. Aarav berjalan mendekat pada pria itu. Lalu menatap tajam pada manik mata tawanan itu, tetapi si tawanan terlihat tidak takut sedikitpun. Bahkan dia berani menantang tatapan Aarav.
"Kau, berani sekali kau lihat aku dengan tatapan seperti itu. Apa ingin nyawamu melayang!" hentak Aarav.
Pria tawanan itu malah menatap tajam dan menantang. Emosi Aarav makin naik, dengan cepat segera disambungkan kabel alat siksa tersebut dengan aliran listrik. Ijung besi yang terdapat aliran listrik pun disentuhkan pada kulit punggung tangan pria tersebut.
__ADS_1
"Aargh!" jerit tertahan lelaki itu.
Aarav terlihat puas, tetapi dia masih ingin menyiksa lebih parah lagi pada tubuh tawanan itu. Sehingga dia inginkan kematian yang sangat menyiksa pada tubuh tawanannya. Kini Aarav mengambil sebuah belati yang tajam, dengan ganas ditancapkan pada dada tawanan itu. Jerit kesakitan menggema diruangan itu.
Aarav tertawa terbahak lalu tangannya meraih pistol yang tergeletak begitu saja di meja. Sekali tekan sebuah peluru melesat dengan kecepatan angin menembus otak tawanan itu. Aarv bernapas dengan lega, semua kesakutannya dalam otak sudah terpenuhi setelah tawanan itu menjadi mayat.
Setelah semua selesai dan kepuasan dia dapatkan, maka Aarav segera membersihkan tubuhnya dan berganti kemeja yang sudah disiapkan oleh anak buahnya yang lain. Kemudian lelaki itu kembali ke ruang perhelatan acara pernikahan Morevo dan Maria. Pandangan Aarav langsung menangkap sosok Oxanna yang sedang menyapu seluruh ruangan seakan sedang mencari keberadaannya.
"Hai!" sapa Aarav.
"Dari mana saja?" tanya Oxanna.
Aarav hanya memberi isyarat dengan dagunya tanpa ada suara yang keluar dari bibirnya. Lelaki itu seakan sedang ada masalah hingga saat ini dia mendiamkan Oxanna. Wanita itu merasakan perbedaan pada aura suaminya saat awal kedatangan mereka dengan sekarang saat dia baru saja menemukan Aarav.
"Sepertinya ada sesuatu pada dirimu, entah apa itu," batin Oxanna sambil menatap intens.
__ADS_1
Aarav tidak memedulikan apa yang dilakukan oleh Oxanna. Suasana hatinya kini sedang tidak baik. Sehingga membuat lelaki itu kembali dingin dalam berinteraksi dengan istrinya.