
"Ingin kubunuh, huh? Cepat ambilkan semua barang-barang suamiku!" Maria berteriak murka di hadapan bodyguard bawahan Morevo yang saat ini menyimpan benda berharga milik pria itu yang ada di mobil. Seperti ponsel, laptop, dompet, serta beberapa berkas penting milik perusahaan.
"Maaf, Nona. Anda datang dan mengaku jika istri dari Tuan Morevo tanpa ada bukti kuat. Kami tidak bisa menyetujui semua keinginan Anda, begitu banyak wanita di luar sana yang mengaku-ngaku sebagai istri dari tuan kami," kata salah satu bodyguard yang kini menatap Maria datar.
"Sial, dia pintar sekali," umpat Maria dalam hati. Tetapi dia tidak menyerah begitu saja, dia menendang tulang kering pria itu dengan wajah pongah.
Dia bahkan tidak bergeming setelah kesakitan.
"Keparat! Beraninya kau denganku?! Aku akan meminta Morevo memecatmu setelah dia sadar," bentak Maria berusaha menjadi nyonya besar.
Mendengar ancaman itu, membuatnya sedikit takut, mungkin? Sebab, dia bertukar pandangan dengan para pria lain dan berbincang melalui tatapan seperti tengah telepati saja!
Maria menyeringai lebar, "Cepat ambilkan sebelum batas kesabaranku habis," tambahnya kemudian.
Bodyguard tersebut berdehem lalu mengangguk pelan, "Baik lah, Nona. Kami akan memberikan barang Tuan Morevo setelah Anda menunjukan kartu identitas," katanya.
"Sial," umpat Maria kembali dan lagi-lagi dalam hati. Dia memutar kedua bola matanya malas sambil meraih kartu identitas dari dalam tas yang dibawa. Untung saja, Oxanna telah menyiapkan semuanya.
Dia mengecek nama asli Maria lalu mencocokkan wajah antara yang asli dan di kartu. Kemudian, mengembalikan lagi kartu tersebut ke sang pemilik.
"Tunggu di sini sebentar, Nyonya. Saya akan mengambilkan barang Tuan Morevo," katanya yang telah merubah panggilan kepada Maria dengan lebih sopan.
Maria menyeringai lebar dan menunggu dengan sabar. Sampai kemudian, dia merampas barang tersebut kecuali berkas perusahaan dari tangan bodyguard. "Aku akan mengambil milik suamiku saja!"
Tanpa menunggu lama lagi, Maria segera pergi dari sana. Dia berjalan cepat tapi tetap anggun supaya tidak ada yang curiga. Dia menuju parkiran, di mana mobilnya berada. Baru saja masuk ke dalam kendaraan, Maria menghembuskan napas sekeras-kerasnya.
"Sial, aku berada lagi di hadapan hakim," umpatnya merutuki diri sendiri. Maria menggeleng beberapa kali sebelum mengambil sesuatu dari jok penumpang, laptop dan ponselnya Morevo.
Pertama, Maria mengambil ponsel Morevo. Dia berpikir keras untuk memecahkan sandi yang dipasang di benda elektronik tersebut. Tetapi ketika membukanya, Maria dibuat heran sebab tidak ada satupun keamanan yang dipasang di sana.
"Pria bodoh ini. Dia pelupa atau memang ceroboh?" Maria berdecak pelan tapi bahagia karena tidak perlu mengakali sesuatu.
__ADS_1
Hal pertama yang dilihat oleh Maria adalah daftar pesan milik Morevo. Terdapat ratusan pesan di sana, dia bahagia dan membuka satu persatu!
Sampai, tiga puluh menit berlalu. Mimik wajah Maria berubah menjadi masam setelah pesan terakhir telah dibuka.
"Morevo bedebah! Kenapa semua pesan berisi jadwal meeting, kontrak pertemuan, atau berdiskusi projek dengan karyawan!" Maria berteriak emosi. Dia menghabiskan waktu dengan sia-sia.
Saat membuka galeri pun, Maria tidak mendapatkan sesuatu. Tidak ada satupun foto di dalam sana. Ponsel ini seperti tong kosong nyaring bunyinya!
Maria melempar ponsel tersebut ke kursi kemudian mengambil laptop milik Morevo, "Aku berharap jika kau lebih banyak beraktivitas melalui benda ini," gumamnya penuh harap.
Berbeda dengan ponsel, laptop Morevo dipasang kata sandi rumit! Maria menyeringai lebar, dia yakin jika ada sesuatu di sana sebab pria itu memberikan sebuah pengaman.
"Okey. Let's get it!" Maria menaruh laptop Morevo ke sisi lain setelah itu mengambil laptop miliknya sendiri dan menyambungkan keduanya menggunakan kabel data. Setelah itu, dia mulai memecahkan kata sandi tersebut dengan cara meretas!
Selain jago meracik alkohol, Maria begitu ahli meretas sesuatu. Apalagi CCTV.
Dalam waktu lima menit, Maria sudah mendapatkan kata sandi laptop milik Morevo. 123455678910. Dia segera memasukkannya dan berhasil!
Maria menutup kembali laptop milik Morevo dan menyimpannya baik-baik. Dia memilih untung melihat data-data dari sana menggunakan miliknya.
Awal mula, Maria begitu fokus untuk mencari sesuatu. Tetapi, ada sebuah file yang bertuliskan '2030' di daftar paling atas. Dia menjadi penasaran dan membukanya!
Ada satu berkas di sana, dia segera membacanya.
"Sial. Mereka menakutkan," gumam Maria terperangah saat membaca tulisan bagian atas dari berkas tersebut.
Setelah sampai habis, tawa mengerikan lolos dari mulut Maria. Dia menyeringai sinis. "Kumpulan keparat ini benar-benar tidak memiliki hati," gumamnya.
Maria segera mengirimkan berkas tersebut kepada Oxanna.
***
__ADS_1
Di kamar mandi, Oxanna menutup mulutnya dengan kedua tangan demi menahan jeritan terkejut setelah mendapatkan informasi dari Maria.
"Bajingan ini. Kau memang harus membunuh Aarav, Ox. Dia tidak memiliki hati nurani, pria ini sudah mati!" Maria kemudian mengirimkannya pesan ini.
Pasalnya, berkas tersebut adalah projek masa depan yang tengah digarap oleh Skalov Holding Company dan pasti akan mencari incaran para pejabat di seluruh dunia mengingat reputasi perusahaan keluarga Skalov yang merajai dunia bisnis di dunia.
Perusahaan Skalov akan meratakan sebagian besar kota di Negeri seberang dan menjadikannya sebuah perumahaan elit. Juga, akan membuat tempat wisata terbesar di dunia dan menjadikan tempat itu sebagai Skalov Castel kedua setelah di sini.
Hal yang menjadi permasalahannya adalah tempat tersebut! Pinggiran kota yang kini dihuni oleh rakyat rendah dan bergantung pada ekonomi negara. Adapun beberapa panti menampung tunawisma ataupun anak ditelantarkan.
Aarav tega untuk mengusir mereka dari satu-satunya tempat berlindung.
Bagaimana Oxanna tidak terkejut setengah mati? Dia pun menjadi deja vu!
Apakah dulu orang tuanya dimusnahkan seperti ini oleh orang tua Aarav? Karena mereka mendahulukan bisnis dibandingkan dengan kemanusiaan?!
Lamunan Oxanna terpaksa terpecah karena suara ketukan pintu yang brutal dari Aarav.
"Hei, kau tidak bunuh diri, kan? Apa yang kau lakukan di dalam sana, Oxanna?!" Aarav berteriak nyaring dan hampir menyaingi suara pintu yang dia pukul begitu kuat.
Oxanna segera menghapus pesan tersebut kemudian menyembunyikan ponselnya di saku. Dia mencuci wajah lalu keluar dari sana, "Berisik sekali," ketusnya.
Aarav menatap Oxanna dengan tajam. "Apa yang kau lakukan di dalam sana? Ingin kabur, huh?"
"Jika ingin kabur, aku tak akan mengikuti kau sampai sini, Tuan Aarav!" Oxanna mendengkus.
Ketika Aarav ingin berbicara kembali, sebuah dering ponsel menghentikan kalimatnya. Dia berbicara dengan sang penelepon lalu setelah selesai, dia menatap Oxanna dengan tajam.
"Ada yang kau sembunyikan dariku?" desis Aarav murka.
Oxanna menelan ludah gugup tapi berusaha mungkin menyembunyikannya. "Apa?"
__ADS_1
"Kau tidak bilang jika Morevo hampir mati!!"