Tuhan, Beri Aku Kekuatan

Tuhan, Beri Aku Kekuatan
Semua berubah...


__ADS_3

Sebulan berjalan begitu saja. Semakin lama wanita itu tinggal di rumah ayah, semakin benci pula ayahnya kepada Kaira. Kaira dan Rayhan telah mencoba berbagai cara untuk menjelaskan kepadanya, namun tetap saja berakhir nihil. Kaira benar-benar tak mengerti harus berbuat apalagi. Sedangkan itu, Eren sibuk dengan urusannya sendiri. Katanya, dia ingin bertemu dengan klien baru di luar negeri.


..........


...Disisi lain......


Eren berada disebuah kota besar yang berada di Amerika. Tanpa sengaja, ia bertemu dengan kekasih lamanya itu.


Bukankah itu Clara? Batin Eren.


Namun, saat akan mendekatinya, Seorang pria berjalan kearahnya dan langsung memeluknya dari belakang. Seketika itu, tubuh Eren mematung dan tak dapat berkata-kata. Eren hanya melihatnya saja dari kejauhan.


....


Rapat kali ini telah selesai, Eren yang dalam suasana hati buruk itu, memilih untuk kembali pulang.


Beberapa jam kemudian...


Krieekkk... Kaira membukakan pintu untuknya.


"Gimana Tuan sama meetingnya di Amerika? Lancar kan?" Tanya Kaira kepadanya


"Apaan sih kamu tanya-tanya. Saya capek. Ambilkan saya handuk. Saya ingin mandi sekarang" Bentak Eren kepadanya. Kaira yang dimarahi tanpa sebab akibat pun hanya bisa mengelus dada.


Sudahlah, mungkin dia lelah. Bagaimanapun, Amerika sini itu lumayan jauh. Apalagi, dia tidak menunggu keesokan harinya. ~Batin Kaira dalam hati.


.....


Hari demi hari telah dilalui olehnya. Hubungannya dengan Eren bukannya semakin membaik malah semakin memburuk. Entah ada apa dengannya, namun semenjak pulang dari Amerika, dia benar-benar bukan dirinya.


"Sudah malam. Kemana tuan muda pergi? Ga biasanya..."


Gledarrr Suara petir menggema disana. Hujan turun dengan derasnya membuatku semakin khawatir tentang keberadaan dirinya. Aku yang sedang sendiri dirumah pun langsung berinisiatif untuk pergi mencarinya. Namun, saat aku membuka pintu, dia telah datang dengan keadaan mabuk parah.


"Astaga tuan..." Ucap kaira yang langsung memapah suaminya itu untuk duduk di sofa.


"Tuan gapapa kan? Apa ada yang sakit? Saya bikinkan sup pereda mabuk saja ya?" Tanya Kaira yang bahkan tidak dijawab sepatah katapun olehnya. Sebagai istri yang sigap, Kaira dengan cekatan membuatkan sup penghilang mabuk untuk suaminya tercinta itu, membawakannya selagi hangat dan mencoba untuk menyuapinya.


Eren meliriknya dengan tatapan sinis dsn tak lama kemudian...


"Arghhhh. MENYINGKIRLAH DARIKU, WANITA JAL*NG" Teriak Eren kepada Kaira. Kaira seketika terjatuh dan sup panas yang ada ditangannya pun mengenainya. Namun, itu tidak cukup sakit dibandingkan dengan perasaannya yang bagaikan tersambar petir setelah dicap sebagai wanita jal*Ng oleh suaminya sendiri.


Tak lama kemudian, Kaira melihat Eren sedang tertidur pulas. Dia mendekatinya dan berencana untuk memberikan selimut itu kepadanya. Namun, Eren seketika bangun dan menghempaskannya


"APA KAMU TULI? SUDAH KUKATAKAN BUKAN, MENJAUHLAH DARI SAYA!!!" Teriaknya yang kedua kalinya.

__ADS_1


"Ahhh"


Brakkk.


Kali ini, Eren menghempaskan Kaira dengan cukup keras membuat Kaira terhempas hingga kepalanya menatap ke dinding. Darah segar mengalir dari kepalanya itu. Namun, Eren malah acuh tak acuh kepadanya.


"Tolong... Tuan muda, tolong saya..." Ucapnya yang semakin lama semakin melemah dan pada akhirnya dia tak sadarkan diri.


"Ya Tuhan. Non..." Teriak bibi yang melihat Kaira sudah terkapar lemah tak berdaya di lantai rumahnya. Bibi membawa Kaira ke rumah sakit dengan segera.


Kaira dimasukkan ke ruang IGD dengan segera. Dokter mengatakan bila dirinya kehilangan banyak darah dan harus segera mendapatkan bantuan donor darah. Bibi semakin dibuat panik oleh Eren yang tak kunjung mengangkat teleponnya.


Non, anda orang baik. Saya mohon bertahanlah. Ucap bibi dalam hati. Lalu, bibi teringat akan perkataan ku waktu itu yang mengatakan jika aku memiliki seorang adik lelaki yang sangat menyayangiku. Tak butuh waktu lama, bibi langsung meneleponnya.


"Halo, ini siapa?" Tanya Rayhan di telepon


"Halo den. Ini bibi. Saya mau mengabari bila non Kaira masuk rumah sakit" Ucap bibi terbata-bata


"APA?!! BAGAIMANA BISA?" Rayhan terkejut dan menjerit seketika


"Baiklah bi. Tolong kirimkan alamat rumah sakit tersebut. Saya akan segera datang." Rayhan mengambil jaketnya dan kunci mobilnya. Dia melihat sebuah pesan masuk dan langsung memencetnya. Dia pergi dari rumah tanpa mengatakan sepatah katapun kepada orang rumah saat itu.


.............


"Permisi, pasien bernama Kaira Luna berada dimana ya?" Tanya Rayhan kepada bagian administrasi rumah sakit


"Apakah anda keluarga pasien yang baru saja tiba?" Tanya bagian administrasi itu kembali kepada Rayhan. Rayhan hanya menganggukkan kepala saja.


"Pasien masih berada di ruang IGD. Pasien kehilangan banyak darah dan membutuhkan golongan darah yang cocok dengannya" Ucap salah seorang dari mereka


"Kebetulan, darah saya cocok. Langsung saja lakukan tranfusi darah. Saya adik dari pasien" Ucap Rayhan


"Baiklah". Seorang perawat membawa Rayhan keruangan khusus untuk mengecek darahnya. Dan benar saja, darah mereka berdua benar-benar cocok. Tanpa berpikir lagi, dokter langsung melakukan transfusi darah sesuai dengan prosedur yang ada.


"Kapan ya dok, kakak saya akan bangun?" Tanya Rayhan kepada seorang dokter yang menangani kakaknya.


"Tidak akan lama lagi dia terbangun. Kalau tidak ada yang ditanyakan lagi, saya permisi dulu" Pamitnya.


Rayhan terlihat sangat cemas, namun juga lega setelah mendengar dari dokter jika kakaknya akan segera sadar. Entah bagaimana nasib kaira jika dia terlambat sedikit saja. Baginya, Kaira adalah hidupnya. Dia memang benar-benar sangat menyayangi kakaknya itu, karena didunia ini, dia hanya memiliki seorang ayah yang sama sekali tidak peduli dengannya dan seorang kakak yang selalu memperlakukannya dengan baik.


Perlahan, kaira mulai sadar, ditandai dengan gerakan jarinya hingga dia membuka mata. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah Rayhan yang sedang menangis.


"Kak, aku yakin walau kakak tidak bisa menjawab ku, tapi kakak pasti bisa mendengarku kan?" Keluhnya. Kaira hanya terdiam dan mendengarnya.


"Kak, kakak tahu kan kalau aku hanya memilikimu dan Ayah. Tapi, ayah sama sekali tidak peduli dengan kita. Hanya kakak yang peduli denganku. Aku pernah berjanji kepada kakak untuk mencari banyak uang dan membawa kakak untuk tinggal bahagia bersamaku. Ku pikir, kakak akan bahagia bersama pria baj*ngan itu. Tapi apa nyatanya? Dia tidak datang saat kakak membutuhkannya. Apa pekerjaannya sepenting itu? Dimana janjinya kemarin?" Rayhan mengomel sepanjang waktu.

__ADS_1


"Sudahlah adikku sayang. Berhentilah menangis. Jangan membicarakan seseorang sembarangan dirumah sakit" Ucap Kaira kepada adiknya tercinta itu. Dia menekup wajahnya yang bahkan lebih besar dari kedua telapak tangannya itu dan menghapus air matanya


"Kakak. Akhirnya kakak sadar juga" Spontan, Rayhan berdiri dan memeluk Kaira erat.


"Kak, kakak kenapa bisa seperti ini? Apakah karena kakak ipar? Kakak gapapa kan? Ada yang sakit tidak?" Tanya Rayhan yang langsung menghujaniku dengan banyak sekali pertanyaan


Aku tidak boleh memberitahunya masalah ini. Dia akan sangat mengamuk nanti. Aku tidak menginginkan ada perkelahian antara kakak ipar dengan adik iparnya sendiri.~ Batin Kaira dalam hati


"Kakak gapapa. Kakak juga kuat kok. Kamu lihat kan?" Ucap Kaira yang bergaya layaknya dia super hero


"Lalu, kenapa bisa terjadi seperti ini?" Tanya Rayhan.


Aku harus jawab apa?


Kaira nampak bingung... Tapi, saat dia melihat bibi akan buka mulut dia pun langsung menjawab


"Aku..."


"Nona kaira dan..." Ucap bibi yang dipotong olehnya


"A-aku terjatuh... Ya, aku terjatuh dari lantai tangga rumahku karena tidak berhati-hati." Jawab Kaira berbohong.


Bohong demi kebaikan boleh kan?


Rayhan nampak ragu dengan jawaban kaira dan bibi yang hampir saja berlawanan saat itu.


"Lalu, kemana kakak ipar?" Tanya Rayhan lebih lanjut


"Uhmmm..." Kaira melirik kearah bibi dan mengodenya agar tidak membicarakan yang sebenarnya terjadi kepada Rayhan. Bibi yang mengerti pun akhirnya bungkam.


"Mungkin kakak iparmu sedang berada di kantor dan perjalanan pulang, makanya dia tidak mengangkat telepon dari bibi" Lagi dan lagi, kaira membohongi adiknya.


Kata "Mungkin" pada kalimat Kaira membuat Rayhan semakin yakin jika sesuatu terjadi kepada rumah tangga kakaknya ini.


Entah mengapa aku merasakan kakak berbohong kepadaku. Tapi, aku tidak bisa memaksanya untuk mengaku. Sudahlah. Aku berharap itu yang sebenarnya terjadi dan semoga kakak bahagia bersamanya. Aku akan selalu mendukung kakak dan aku akan mendapatkan kuasaku dengan segera hingga aku bisa menyelidikinya dan melindungi kakak dari pria brengs*k manapun. Batin Rayhan


"Ray? Kamu kenapa?" Rayhan yang nampak melamun pun tersadar seketika.


"Ahh tak apa. Kak, aku lapar. Mau aku belikan sesuatu?" Rayhan berdiri dan melepaskan pelukannya.


"Uhmm sepertinya yang pedas dan kecut enak nihh... Kakak mau pempek aja. Jangan lupa sama bumbunya ya. Minta cukanya agak banyakin"


Tumben. Biasanya kakak tidak menyukai asam dan pedas. Bukankah kedua rasa ini dibenci olehnya? Ahh sudahlah mungkin karena sakit dia jadi menginginkannya.


Tanpa berpikir lebih lama lagi, Rayhan beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju kantin rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2