
Sebulan Kemudian
Kaki Kaira perlahan mulai membaik. Walau dia belum lancar berjalan sepenuhnya, namun dia sudah bisa berjalan tanpa menggunakan tongkat nya. Kebetulan hari ini adalah hari Sabtu. Hampir seluruh kantor libur kecuali beberapa karyawan yang lembur demi mendapatkan uang tambahan. Jalanan di ibu kota sedikit lebih renggang dari biasanya mungkin karena banyak orang berlibur di akhir pekan. Namun anehnya, pagi-pagi sekali Eren Sudah berdandan rapi mengenakan kemejanya bewarna biru itu.
"Tuan, hari ini kan hari libur. Tuan mau kemana?"
"Harus berapa kali sih saya bilang ke kamu? Pergi kemanapun itu bukan urusan kamu"
Setelah mendapatkan bentakan dari Eren, Kaira pun hanya tertunduk diam.
"Udah lah saya paling tidak suka dengan wanita lemah. Jika kamu tidak ingin turun bersama, saya akan turun sendiri saja. Pusing saya lihat kamu"
Ibliss. Kutuk Kaira dalam hati.
Mereka pun turun bersama untuk sarapan bersama, setelahnya Eren kan berangkat entah kemana.
Setelah makan, Eren pun berangkat. Hingga selesai makan pun Eren tak mengaku kemana dia pergi. Kaira pun berusaha untuk berfikir positif terhadap suaminya itu. Dia lebih baik menghabiskan waktu dikamar untuk membaca novel dan membersihkan kamarnya. Saat membersihkan kamarnya, Terdapat bekas lipstik dan wangi parfum wanita di kemeja putih yang dikenakan Eren kemarin malam. Seperti biasa, Di hari-hari tertentu, Eren akan pulang hingga larut malam dengan alasan meeting dengan klien ataupun klien yang mengajaknya ke sebuah pesta atau hanya sekadar menemani mereka karaoke.
Bibir siapa ini? Lalu, wangi siapa juga ini? Sepertinya wanita penggoda. Pergi kemana dia kemarin? Apa sebaiknya aku ikuti? Kaira pun memutuskan untuk pergi mencari tahu keberadaan Eren sekarang.
Zul, ngel aku...(dihapus). Kaira pun merubah pikirannya.
sebaiknya aku tak meminta bantuan mereka. Ini urusan rumah tangga aku. Aib suamiku adalah aib ku. Aku tak mau orang lain mengetahui nya. Lantas, Kaira mengenakan sweater kesayangannya dan pergi mencari keberadaan Eren. Dia telah melacak dimana keberadaan Eren dalam mobil.
Tunggu tunggu, ini kan hotel bintang lima itu. Untuk apa dia pergi ke hotel itu. Kaira pun turun dari mobil. Dia pun segera menanyakan kamar yang mungkin dipesan Eren saat ini kepada resepsionis hotel tersebut.
"Permisi, saya ingin bertanya dengan tamu bernama Eren William ada dikamar nomor berapa ya?"
__ADS_1
"Mohon maaf ibu, kami harus melindungi privasi para tamu kami."
"Saya minta tolong sekali mbak. Saya istrinya. Kalau mbak perlu bukti saya tunjukkan" Kemanapun Kaira pergi, dia selalu membawa surat nikah yang ia miliki. Dia mengeluarkan surat nikah tersebut dan memberikan kepada resepsionis sebagai bukti.
"Baik nyonya Will, Tuan muda berada di VVIP hotel ini yang berada di kamar nomor 123".
"Tunggu, tuan muda? Jadi ini adalah hotel pemilik suami saya sendiri?"
"Betul nyonya"
Kan ga jujur lagi. Ah sudahlah itu ga penting yang penting sekarang aku mau menemui si iblis itu. Kaira pun beranjak menuju ruang VVIP. Sayangnya dia hanya bisa berjalan pelan, karena kakinya yang masih sakit. Kaira pun membuka pintu kamar dan betapa terkejutnya dia melihat Eren tidak mengenakan pakaian apapun begitu juga wanita diatasnya.
"WTF r u doing? Kaira pun melempar bantal yang ada disampingnya itu.
"Ara." betapa terkejutnya Eren melihat sosok Ara ada disana. Eren pun langsung bangun tanpa memedulikan dirinya yang tanpa busana itu. Ara pun menangis tanpa sadar.
"Ngapain kamu disini?"
"Sut Sut sut." Eren menutup mulut Kaira dengan satu jarinya.
"Udah ngomelnya?" Eren pun memojokkan Kaira yang diapit dengan dinding dan badan besarnya.
"Kamu keluar" Suruh Eren kepada wanita penghibur itu.
"Kenapa? Mau protes? Suruh siapa waktu itu memin bantuan kepadaku. Aku sudaj mengatakan beberapa kali kemarin? Semua yang aku lakukan itu bukanlah urusanmu."
Kaira pun hanya menangis sesenggukan. Antara menyesal dan tidak dia melakukan hal ini. Lalu, Eren menciumnya dengan paksa.
__ADS_1
"Inilah akibat dari kelancangan yang kamu perbuat hari ini."
Lalu, Eren menggendong Kaira dan membantingny atas kasur.
"Kamu tak memperbolehkan ku melakukan ini kepada orang lain kan? Lalu, aku akan melakukannya denganmu" Eren semakin brutal seperti singa yang lepas dari kandangnya. Kaira hanya merintih kesakitan.
"Tuan, lepaskan saya. Tolong jangan sakiti saya." Tak lama kemudian, Kaira pun jatuh pingsan. Saat Eren menyadarinya, dia langsung bangkit dan melihatnya.
"Ara, Ara? Kamu kenapa?" Eren sangat merasa bersalah terhadap nya.
"Maafkan aku Ara maaf." Eren pun langsung mengenakan pakaian nya dan menonton tv di sofa hotel.
Beberapa jam kemudian.
Ughh kamu jahat sekali tuan.. Huhu.. Menyesal aku menikahimu... Kaira pun bangkit dan berencana langsung pulang. Saat dia akan pulang, dia menangkap sosok Eren yang sedang termenung di sofa. Jelas sekali bahwa dia merasa sangat bersalah. Tak tega melihatnya, Kaira pun menghampiri nya.
"Tuan" Sadar Kaira ada disampingnya, Eren pun membuyarkan lamunannya.
"Ara, maafkan atas perbuatan saya tadi. Saya hanya terpancing emosi." Kaira pun hanya bisa tersenyum, namun hatinya menjerit dan menangis atas apa yang dilakukan Eren kepadanya hari ini.
"Tuan, Saya pamit pulang dulu."
"Hmmm"
Kaira pun pulang dengan perasaan hati yang teriris-iris. Bagaimana tidak? Disaat dia sudah mulai nyaman dan terbiasa dengan kehadiran Eren disampingnya, Eren malah berbuat hal diluar dugaannya. Cemburu dan marah jelas itu yang dia rasakan saat ini. Dia hanya ingin diperlakukan baik oleh Eren walaupun tidak mendapatkan cintanya.
Kaira menuliskan apa yang ia rasakan hari ini. Inilah kebiasaannya saat dia berada dalam masalah dan kesedihan. Mungkin jika dibuatkan novel, kisahnya ini takkan ada habisnya
__ADS_1
Dear diary,
Hari ini aku mengalami kejadian buruk lagi. Hiks sampai kapan ini akan terjadi? air matanya pun menetes dan membasahi buku diarynya. Dia yang aku anggap hanya dingin kepadaku, namun setia, nyatanya dia tega mengkhianati pernikahan kami ini. Bahkan setelah aku memergokinya dia hanya marah padaku dan menyiksaku. Aku hanya ingin hidup layaknya orang normal lainnya. Tanpa tekanan atau rasa sakit yang luar biasa. Dirumah Ayah, ada ibu tiri yang selalu mengancamku menggunakan Ayah ataupun adik. Disini aku harus setiap hari menghadapi sikap dinginnya dan kenyataan bahwa dia adalah pria kaya yang playboynya sudah mencapai kelas kakap. Mungkin lebih baik aku tidak ikut campur lagi masalah nya dan tidak usah memedulikan dia seperti dulu. Mungkin mulai sekarang aku harus bersiap untuk segala hal yang akan dia lakukan padaku. Sekitar 10 bulan lagi, aku akan bercerai dengannya. Aku harus kuat dan tahan atas sikapnya. Yaahh Setidaknya aku masih bisa merasakan kehidupan layak dan kebebasan untuk melakukan apapun yang aku inginkan. Juga aku tak perlu khawatir tentang keadaan ayah jika aku tetap mengirim uang pada ibu tiri. Okay aku harus semangat walau sakit, yang penting Ayah dan adik bisa hidup normal dan bahagia. Aku rela mengorbankan kebahagiaan demi mereka. Aku yakin semua pasti akan indah pada waktunya. Kaira pun menyeka air matanya dan bangun untuk melanjutkan pekerjaannya yaitu membersihkan kamarnya dan berolahraga santai dengan berjalan ataupun berlari kecil agar kakinya pulih seperti sedia kala.