Tuhan, Beri Aku Kekuatan

Tuhan, Beri Aku Kekuatan
Perpisahan


__ADS_3

Setiap manusia adalah sebuah perjalanan baru untuk manusia lainnya dan perjalanan itu terdiri dari dua hal, yaitu pertemuan dan perpisahan. Tak semua pertemuan itu sebuah awal yang manis, dan tak selamanya pula perpisahan adalah hal yang buruk. Namun, tak peduli semanis apapun dan seindah apapun itu, perpisahan tetaplah perpisahan, suatu kata yang hanya akan menyisakan luka bagi setiap kaum yang mengalaminya. Perpisahan bukanlah hal yang mudah, sama sekali tidak mudah, tapi bagaimana pun kita sebagai insan manusia, harus siap dan kuat untuk mengantarkannya pergi dengan senyuman dan do'a.


Tak banyak yang dapat Kaira perbuat. Dia hanya dapat menunggu hari itu tiba, hari dimana sidangnya dengan Eren akan dilaksanakan, hari dimana dia akan resmi menjadi orang asing baginya setelah sebelumnya saling menyinta. Ikhlas? Tentu saja tidak, namun keterpaksaan lah yang menyebabkannya harus tegar, harus kuat. Penyemangatnya selalu ada dalam genggamannya, Lauren, pria kecil imut yang selalu menemaninya kemanapun dia berada. Sumber kebahagiaan baru baginya.


...............


Sesuai dengan kesepakatan, hari ini adalah sidang perceraian diantara mereka berdua. Kedua pasangan itu menatap satu sama lain dengan penuh kebencian dalam ruangan persidangan. Tatapan berapi-api, kilatan emosi dan kebencian menambah suasana hening disana. Benar-benar tidak nyaman bagi setiap orang yang menghadirinya. Sidang dilaksanakan dengan keadaan tertutup agar tidak ada satupun wartawan yang masuk ke dalam.


Tak butuh waktu lama, sidang telah di mulai. Berbagai sidang telah mereka berdua lalui. Kedua orang tua Eren, Anna, Rangga dan lainnya pun turut serta dalam sidang, kecuali pihak dari Kaira. Dia bahkan tidak sempat memberitahukan hal tersebut kepada Rayhan. Pertanyaan demi pertanyaan pun diajukan, alasan mereka benar-benar telah kuat, bukti pun telah jelas. Harta gono gini telah diatur sedemikian rupa dan Eren sangat menyetujuinya.


Persidangan berjalan dengan lancar layaknya semesta memang telah menakdirkannya. Namun, di luar terjadi keramaian, seorang pria berusaha menerobos masuk ke dalam ruang persidangan


"Pak, biarkan saya masuk. Saya adik kandung dari Nyonya Kaira" Ucap Rayhan kepada kedua satpam yang berjaga di depan.


"Maaf pak. Kami diperintahkan untuk menutup persidangan ini" Jawab mereka.


Rayhan tak habis akal. Dia mengeluarkan KTP miliknya dan kartu keluarga yang lama. Dia berhasil diperbolehkan masuk ke dalam.


"Semua bukti dan alasan sudah jelas. Maka dari itu, dengan ini saya nyatakan Tuan Eren William dengan Nyonya Kaira Luna telah resmi berpisah"


Tok tok tok


Palu persidangan telah diketuk menandakan sidang telah usai. Kaira dan Eren telah resmi berpisah. Perkataan yang tak pernah dia pikirkan yang akan terlontarkan dari mulut sang hakim kini menjadi kenyataan. Ada perasaan sedih dan perih yang tertanam pada hati kaira seperti ditikam oleh seribu pisau di waktu yang bersamaan, namun tak dapat ia pungkiri bila hatinya pun juga menyisakan perasaan lega setelah semuanya usai. Dia telah terbebas dari pria yang menjeratnya, pria yang telah menghancurkan hidupnya dan pria yang telah menyakitinya, membuatnya merasa hidup segan matipun tak mau.


Rayhan hanya dapat melihatnya dari ambang pintu, melihat segalanya telah usai, menjadi saksi diketoknya palu sakral milik sang hakim.


Rayhan maju perlahan kedepan. Matanya berkaca-kaca seakan mengerti perasaan Kaira, pria itu langsung memeluk Kaira dari belakang.


"Kak, kenapa sih ga bilang sama aku? Kakak pasti telah melalui masa-masa sulit ya?" Tanya Rayhan.


Kaira menoleh kearah pria di belakangnya.

__ADS_1


"Kakak bukan bermaksud menutupinya, namun kakak sudah dewasa dan tidak baik jika mengumbarkan aib rumah tangga kakak sendiri,kan? Kakak tahu Rayhan pasti paham" Jawab Kaira lembut.


"Sudah yuk kita pulang."


Mereka semua telah berangsur-angsur pergi meninggalkan ruang persidangan. Kaira dan Eren berpas-pasan.


Kaira mendongakkan kepalanya dan menatap tajam kearah Eren. Tatapan yang hanya mengisyaratkan kebencian dan rasa sakit yang mendalam, namun juga rasa sayang yang luar biasa besarnya.


"Selamat ya. Keinginan kamu akhirnya terwujud. Semoga kamu bahagia dengan wanita pelakor ini(Menatap Clara tajam)" Ucap Kaira.


Eren terpaku untuk sesaat dan sekarang Kaira berdampingan dengan Clara


"Lihat. Kata siapa istri sah selalu menang? Buktinya apa? Aku menang sekarang" Ejek Clara di telinga Kaira


Kaira tersenyum tipis kepadanya dan berbisik


"Selamat ya. Aku kagum pada kemampuanmu. Aku akan memberikan hadiah secepatnya atas penghargaan pelakor paling sukses yang pernah aku tahu."


"Lagipula, kebahagiaan diatas penderitaan orang lain hanyalah kebahagiaan semu. Semoga karma menghampirimu bukan anakmu(mempertegas)" Imbuh Kaira dengan nada tegas.


"Kaira, Tante, om, gimana perceraiannya? Semua lancar kan?" Tanya Wisnu


"Lancar. Thanks ya, Wisnu. Kalau bukan karena mu, mungkin aku sekarang masih terpuruk" Jawab Kaira


Mama Eren menepuk pelan pundak Kaira, kaira dengan spontan melirik kearahnya.


"Sayang, bagaimana rencanamu selanjutnya?" Tanya mama Eren


"Kai masih belum tau... yang terpenting Kai mau membesarkan Lauren dulu, Kai mau fokus ke Lauren dan bisnis. Mungkin Kai mau pindah ke Bali" Jawab Kaira mengejutkan semua orang


"Kak, kenapa? Apa kakak sudah ga sayang lagi sama Rayhan sampai-sampai kakak mau menjauh dari Rayhan?" Protes Rayhan

__ADS_1


Kaira hanya tersenyum menjawabnya.


"Kaira, bolehkah aku menawarkan diri untuk menjagamu? Maksudku, aku akan mengikutimu ke Bali dan menjalankan restoku yang ada disana. Bolehkah?" Wisnu menawarkan dirinya.


Kaira menyetujuinya. Dia telah memutuskan segalanya. Dia sudah muak disini, bertemu dengan dia lagi hanya akan membuatnya lemah. Lebih baik menjauh dari jangkauannya.


..................


Kaira telah melewati masa Iddahnya, dia memutuskan untuk sesegera mungkin pindah, menjual rumahnya yang merupakan mahar nikahnya dengan Eren. Dia sebenarnya benar-benar tak rela untuk melepaskannya, namun dia harus melakukannya.


Suasana mendadak menjadi mellow, sedih, mereka akan kehilangan satu sama lain untuk waktu yang lama. Tak ada lagi canda tawa Kaira, tak ada lagi celoteh manja Kaira kepada kedua mertuanya. Kaira telah berubah, kaira yang dulu telah tiada. Semua ini terjadi akibat Eren dan Clara, semua berubah.


"Kaira, jangan lupa ya sering-sering hubungi mama. Nanti kalau mama sama papa ada waktu, Kami akan mengunjungi tempatmu. Kamu masih mau kan berhubungan dengan kami?" Ucap Mama Eren dengan nada mellow.


"Mau dong. Kai sudah anggap kalian seperti orang tua Kai sendiri." Ucap Kaira.


Mereka berpelukan untuk yang terakhir kalinya, atau mungkin itu benar-benar pelukan terakhirnya. Lama, sangat lama. Mama Eren benar-benar tidak mampu melepasnya pergi. Perpisahan kali ini sungguh begitu memilukan, menyayat hati. Sejuta air mata telah terluapkan. Mereka semua hanyut dalam kesedihan hingga suara seorang pria yang diduga sekretaris pribadi Wisnu membuyarkan suasana.


"Tuan, nyonya, maaf mengganggu suasananya. Namun, sekarang sudah pukul setengah sepuluh dan keberangkatan pesawat tepat pada pukul sepuluh tepat" Ucap Sekretaris Wisnu.


"Ma, pa. Kaira harus pergi dulu. Kapan-kapan kalau Kaira sudah siap, Kaira akan kemari untuk beberapa bulan tinggal disini. Kalian doakan saja semoga Kaira bisa selamat dan bahagia" Pamit Kaira.


"Hati-hati ya Kaira"


Kaira telah pergi menjauh dari rumah itu. Dia benar-benar tak rela meninggalkan rumahnya, rumah dengan sejuta cerita, sejuta kenangan. Rumah yang selama ini memberikan kehangatan, tempat untuk berteduh, namun juga perasaan seperti di neraka, semua telah dilaluinya disini selama satu setengah tahun lamanya. Pernikahan yang masih seusia jagung itu pun harus kandas di tengah jalan. Sedih rasanya, tapi apa yang bisa dia perbuat? Asalkan Eren bahagia, dia akan melakukan segalanya.


Kaira memasuki mobil yang terparkir tepat di depan pagar rumahnya. Dia menoleh lama sekali, menatap lekat rumah megah dan mewah itu untuk waktu yang lama. Dia tersenyum tipis dan menempatkan dirinya dalam mobil, duduk tepat di sebelah Wisnu.


"Ma, Pa, Kaira berangkat dulu" Pamit Kaira kesekian kalinya. Wanita itu melambaikan tangan ke semua orang yang berdiri disana, melepaskannya pergi.


"Pa, Mama merasa bersalah sama Kaira. Kasihan, dia anak yang begitu baik dan tulus. Tapi, nasibnya sungguh malang. Ga ada orang tua yang mendampinginya, suami pun tidak menyayanginya. Aku merasa gagal jadi seorang ibu" Ucap Mama Eren yang menangis di pelukan suaminya.

__ADS_1


"Nak, maafin Tante ya. Karena anak tante kakak kamu jadi begitu" Ucap Mama Eren kepada Rayhan


Rayhan hanya tersenyum dan mengangguk. Dia tidak bisa menyalahkan wanita itu sepenuhnya. Bagaimanapun, ini adalah pilihan kakaknya.


__ADS_2