Tuhan, Beri Aku Kekuatan

Tuhan, Beri Aku Kekuatan
Mengikuti arah kaki melangkah


__ADS_3

Kaira jalan lontang lantung sendirian dengan membawa sebuah tas besar. Dia tak tahu kemanakah dia akan pergi. Pulang ke rumah Ayahnya? Ayahnya bahkan saat itu mengusirnya dengan alasan yang tak jelas dan secara tiba-tiba memutuskan hubungan "Ayah-anak" dengan Kaira. Sedangkan, Kos-kosan Rayhan terlalu kecil untuk mereka berdua dan tidak enak bila dilihat oleh tetangga walau dia kakak kandungnya. Pergi kerumah mertua pun sepertinya ga mungkin.


Air matanya tak kunjung surut. Hujan pun tiba-tiba turun dengan lebatnya


Kenapa sih semua orang tega sama aku? Emang aku salah apa?


Kaira meneduh disebuah toko yang sedang tutup. Bagaimana pun dia tetap harus memikirkan kesehatan dirinya dan bayi yang ada dalam kandungannya


"Nak, maafin mama ya. Mungkin mulai sekarang dan seterusnya kamu akan berpisah dari Ayahmu. Tapi, ketahuilah satu hal, mama tidak akan pernah membiarkanmu hidup dalam rasa kurang kasih sayang. Kamu harus bertahan. Kamu harus temenin mama" Ucap Kaira sambil mengelus perutnya yang semakin membesar. Air mata menetes dan membasahi bajunya. Dia menatap kearah langit seraya berkata


Tuhan, cobaan apa lagi yang kau berikan? Aku bahkan tidak pernah melakukan kejahatan apapun dan tidak pernah melanggar laranganmu. Namun, mengapa nasibku mengenaskan seperti ini? Jika engkau tidak mau berbelas kasih kepadaku, setidaknya kepada bayi yang tidak berdosa ini. Tuhan, ku mohon beri aku kekuatan untuk menjalani semuanya. Kaira tertunduk dan tak lama kemudian, dia tertidur.


.................


Keesokan paginya...


"Mbak, mbak" Seseorang membangunkannya


"ahh ibu. Maaf maaf saya semalam ketiduran di toko ibu"


"Mbaknya kenapa? Kok bawa tas-tas segala. Mana lagi hamil lagi?" Tanya pemilik toko. Kaira menunduk dan meneteskan air matanya lagi. Dia tak tahu harus berkata apa. Jujur saja, dia malu jika dia mengungkapkan apa yang telah ia alami kemarin, karena pada dasarnya jika seorang wanita diselingkuhi oleh suaminya itu merupakan aib tersendiri baginya.


"Duduk dulu mbak" Ucap pemilik toko menuntun kaira masuk ke dalam tokonya.


"Mbak, silahkan minum" Kaira sangat beruntung dia bertemu orang yang baik seperti sang pemilik toko. Ibu-ibu paruh baya yang melihatnya dengan tatapan iba seolah ibu itu mengerti apa yang dirasakan olehnya


Kaira membuka botolnya dan meminumnya hanya satu tegukan.


"Saya..." Mata Kaira berkaca-kaca. Ibu toko itu duduk tepat disampingnya.

__ADS_1


"Saya diusir dari rumah oleh suami saya, Bu. Saya dituduh mencelakai bayi mantan pacarnya" Kaira akhirnya mengungkapkannya. Si ibu pemilik tokoh pun lantas memeluknya. Kaira menangis sesenggukan di pelukan ibu itu. Dia merasakan rasa hangat seorang ibu kepada anaknya. Dia merindukan seluruh perhatian itu. Ibu itu terdiam sejenak dan mencium kepalanya seakan kaira adalah anaknya yang hilang


"Lalu, dimanakah keluargamu?" Tanya ibu toko lebih lanjut.


"Ibu saya sudah meninggal. Adik saya sewa kos di daerah terpencil dan itu tidak cukup untuk ditinggali dua orang. Sedangkan Ayah..." Dia menyeka air matanya dan menarik nafas dalam-dalam.


"Ayah menikah lagi dan saya diusir dari rumahnya bahkan beberapa hari yang lalu dia mengatakan bila dia memutuskan hubungannya denganku" Kaira berusaha untuk tegar. Dia selalu menunduk saat membicarakan segalanya. Dia tak ingin orang lain melihat sisi lemahnya, saat dia menangis maupun saat dia jatuh. Dia hanya menginginkan untuk berbagi tawa pada orang lain.


Sekali lagi ibu itu memeluk Kaira erat. Dia ikut menangis saat mendengarkan kisah haru Kaira. Dia tak dapat membayangkan bila itu terjadi pada dirinya. Walau suaminya telah tiada, namun setidaknya dia masih memiliki rumah untuk tinggal, untuk berteduh dan untuk pulang. Dia masih memiliki sanak saudara yang akan selalu membantunya.


Ibu itu menyeka air matanya.


"Lalu, apa rencanamu selanjutnya? Dimanakah kamu akan tinggal?"


Kaira menjawabnya dengan gelengan singkat


"Bagaimana jika kamu tinggal didalam toko ibu saja? Toh toko ini kosong setiap malamnya. Nanti ibu akan menyuruh anak ibu mengirimkan kasur untukmu. Maaf ya, rumah ibu sempit jadi ibu hanya bisa membantumu untuk tidur ditoko ini. Ibu percaya kamu bukanlah orang jahat." Ucap sang ibu. Kaira mengangkat kepalanya dan menatap ibu itu dengan mata berbinar. Dia senang sekali, setidaknya dia ada tempat untuk berteduh.


..............


Kedua orang tua Eren bersiap untuk menengok keadaan Kaira dan cucu mereka yang belum lahir itu. Mereka sengaja tidak memberitahukan kabar tersebut agar kaira tidak capek-capek memasak untuk mereka, karena itu akan mempengaruhi kehamilannya


"Ma, sudah siap belum sih? Lama banget" Sang papa mertua menanti istrinya didepan pintu. Sedangkan,mamanya Eren memiliki kebiasaan berdandan dalam waktu yang lama, membuat semua orang lelah menunggunya.


"Tunggu bentar Napa sih pa? Kalau aku terpeleset gimana?" Pekiknya


Dalam penantian yang panjang, mereka pun akhirnya berangkat.


Sesampainya disana...

__ADS_1


Kedua orang tua Eren langsung masuk tanpa permisi, karena itu sudah menjadi kebiasaan bagi mereka. Mereka berdua syok melihat Eren menyuapi seorang perempuan yang terduduk lemah diruang tamunya.


"Eren, kemana Kaira? Kenapa kamu malah bermesraan dengan wanita jal*ng ini lagi? Apakah kamu lupa dengan apa yang telah dia perbuat kepadamu dulu?" Papa Eren mulai marah. Dia benar-benar tak habis pikir dengan tingkah anaknya.


"Kenapa memangnya? Menantu kesayangan kalian telah pergi dari sini. Dia telah mencelakai bayinya. Tentu saja, aku harus bertanggung jawab atas kesalahannya" Jawab Eren dengan entengnya.


PLAKKK


Mama Eren yang sedari tadi hanya terdiam akhirnya tak kuasa menahan emosi


"Eren, apa kamu tidak berpikir apa yang telah kamu lakukan? Dia mengandung anak kamu dan kamu membiarkannya pergi. Ohh atau bahkan kamu mengusirnya?" Ucap mama Eren. Eren berdiri dan menatap mamanya


"Ya, aku telah mengusirnya. Aku tidak akan menerima wanita licik seperti dia lagi" Jawabnya tegas.


"Kupikir setelah kau bersamanya selama hampir satu tahun bahkan menghamilinya maka kau bisa mengerti perasaannya, bagaimana sifat dan karakter yang sesungguhnya. Tapi ternyata aku salah. Aku mendidik seorang putra yang bahkan tak tahu berterima kasih."


Mama Eren meneteskan air mata.


"Apa kau sudah lupa apa yang dia korbankan untukmu? Apakah kau sudah lupa bagaimana dia terus bersabar bahkan tak pernah menyeretmu secara hukum atas apa saja yang telah kau perbuat padanya? lalu, apa yang wanita ini telah perbuat kepadamu?" Ucap mama Eren. Dia benar-benar sudah kecewa.


"Ayo pa kita pergi. Aku sudah tidak mengenali siapakah yang ada dihadapanku ini. Aku bahkan tak pernah mengajarinya seperti itu" Mama Eren menarik tangan suaminya dan berlalu pergi. Eren meraih tangan ibundanya dan mencegahnya pergi.


"Ma, kenapa kamu lebih memilih kaira ketimbang aku anakmu? Sadar ma, dia bukanlah wanita baik-baik..." Mama Eren menarik tangannya kasar


"Sadar, sadar apanya!!! Entah apa yang wanita itu katakan padamu dan campurkan pada tehmu setiap pagi." Pekik mamanya


"Oh ya satu lagi. Jangan pernah memanggilku mama. Aku jijik memiliki anak sepertimu"


Brakkk

__ADS_1


Mama Eren menutup pintu dengan kencangnya.


"Sudah ya sayang. Ga usah dipedulikan. Kamu kan masih ada aku" Ucap Clara yang mencoba menghiburnya. Eren menurutinya dan mereka melanjutkan aktivitas mereka seakan tidak terjadi apapun saat ini.


__ADS_2