
"Ga perlu. Saya sudah mengerti kinerja kamu. Lalu, jawab pertanyaan saya. Dimana Eren? Kenapa kamu melamar kerja disini?" Tanya Thomas untuk kedua kalinya.
Kaira membuka mulutnya, bersiap untuk menjawab pertanyaan yang diajukan pada Thomas.
"Mas Eren..."
Ucapannya terhenti saat sebuah pesan masuk ke dalam email Thomas. Perhatian pria itu teralihkan, begitu juga pesan yang diterima oleh Kaira.
Email? Siapa yang mengirimku email kali ini? ~Batin Kaira.
"Pak, mohon izin untuk membuka ponsel saya" Izin Kaira kepada pria dihadapannya.
Thomas tak bereaksi apa-apa. Dia terkejut mendapati isi sebuah pesan pada email-nya. Sebuah undangan pernikahan.
"Ga perlu. Saya sudah mengerti kinerja kamu. Lalu, jawab pertanyaan saya. Dimana Eren? Kenapa kamu melamar kerja disini?" Tanya Thomas untuk kedua kalinya.
Thomas membelalakkan mata seketika.
Brakkkk
Dia menggebrak meja kantornya. Sedangkan, Kaira yang juga tengah melihat isi pesan tersebut hanya dapat meneteskan air mata.
"Benar-benar pria kurang ajar!!!" Ucap Thomas menggemparkan seisi ruangan.
"Ka-kaira. Kamu gapapa kan?" Tanya Thomas saat mendapati wanita di hadapannya menangis meratapi nasibnya, menatap lurus ponsel yang dipegang olehnya.
"Saya gapapa tuan. Terimakasih telah baik kepada saya." Balas Kaira
Sekali lagi, Thomas peduli hanya karena dia tak sanggup melihat wanita disakiti oleh pria. Sama halnya dengan yang dia lihat dulu saat ibundanya menangis bahkan memohon-mohon kepada Ayahnya agar tak berpaling. Namun, kenyatannya ayahandanya menikah lagi dan sering melakukan KDRT pada ibunya. Mental Thomas terganggu kala itu, dia bertekad untuk melindungi wanita semampunya dan Lana, sebagai istrinya, menyetujui tindakan suaminya dan tak ambil pusing bahkan cemburu.
"Kalau kamu mau pulang, kamu pulang saja. Kamu mulai kerja kapanpun kamu siap." Ucap Thomas sambil mengelus lembut pundak Kaira
"Terimakasih bapak" Kaira tersenyum penuh kepedihan kepada Thomas. Bos idaman sepertinya, dimanakah lagi dapat ia dapatkan.
Kaira berjalan keluar dari ruangan Thomas. Beberapa karyawan terlihat berkumpul disana. Mereka berbisik lirih, bergosip tentang apa yang telah dilakukan tuan mudanya dengan wanita itu. Mengapa bergaduh dan mengapa wanita itu keluar dalam keadaan menangis? Kaira tidak memedulikannya. Hatinya sudah cukup hancur untuk mempedulikan masalah lain yang tak penting itu.
..............
Kaira menuju ke restoran atau lebih tepatnya disebut bar yang menjadi saksi bisu kenangan-kenangan indah bersama dengan Eren. Saksi dimana mereka berjanji untuk saling setia, saling percaya tak peduli apapun yang terjadi. Tempat yang menjadi saksi rasa percaya Kaira kepada Eren yang kala itu dijebak oleh Clara dan Wisnu. Namun, terbesit tanya di hatinya, mengapa Eren tidak mempercayainya dan lebih memilih mempercayai wanita yang jelas-jelas membuatnya berpaling, membuat pernikahan mereka yang masih seusia jagung itu harus kandas ditengah jalan.
"Mbak, sudah sampai" Ucap sopir taksi.
Kaira mengusap air matanya dan melakukan pembayaran.
"Terimakasih ya, Pak. Kembaliannya ambil saja" Ucap Kaira berusaha untuk mengontrol suaranya.
"Mbak, kalau ada masalah, sebaiknya diselesaikan. Jangan nangis melulu. Sayang sekali kalau wanita secantik mbaknya harus nangis mulu" Ucap sang sopir taksi berbasa-basi.
Kaira membalasnya dengan senyuman. Dia keluar dari taksi tersebut dan berjalan naik menuju rooftop restoran. Restoran Above Eleven menjadi pilihannya.
................
Suasana sore telah menyapanya. Pengunjung pun datang sili berganti. Dia tetap saja pada tempatnya, duduk dipojokan dan tak pergi setelah beberapa jam lamanya. Entah apa yang dilakukannya, dia selalu sibuk berkutat pada laptopnya, sesekali menangis dan sesekali mengetik sesuatu disana.
__ADS_1
Sinar Surya perlahan kian tenggelam di balik birunya pantai. Langit orange kemerahan serta sedikit samar-samar warna biru menghiasi indahnya langit di Bali. Kaira menutup sejenak laptopnya, berjalan menuju ke tepi gedung dan melihat sunset disana.
Kaira merasa sesuatu tengah menyentuh rambutnya, menyibakkannya dan memeluknya mesra dari belakang. Bayangan kenangan manis kala itu kembali berlarian di depan matanya. Dia merasakan kenangan itu bagaikan nyata. Namun, dia disadarkan kembali akan kenyataan bila semua itu hanyalah khayalan semata. Dia memeluk dirinya sendiri erat sambil menjerit nama Eren dengan kerasnya dalam hati.
Kenapa kamu sejahat ini sama aku sih mas? Baru sebulan lebih kita resmi bercerai, kamu sudah mengadakan pernikahan yang meriah? Atau semua ini memang sudah direncanakan sebelumnya? Kamu jahat mas, jahat. Aku udah berikan semuanya, aku percaya kamu, tapi kenapa kamu tidak memberikan kepercayaan itu padaku?~Batin Kaira dalam hati
Waktu tak terasa berlalu begitu cepat. Beberapa bulan sebelumnya, dia kemari, ketempat ini bersenda gurau dengan Eren. Bergandengan tangan, mencium, memeluk serta bermanja-manja mesra kepada suaminya. Sekarang? Dia sendirian ditemani angin sepoi-sepoi yang berhembus segar serta suara deburan ombak yang menyejukkan. Kesepianlah yang menjadi temannya saat ini. Teman setianya, teman yang takkan pernah meninggalkannya. Sunset yang Kesepian adalah judul yang tepat untuk suasana kali ini. Dia mendapatkan ide baru untuk mencurahkan segala perasaannya kali ini.
Disisi lain...
Eren dan Clara tengah sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk mereka dua hari lagi. Mereka terlihat tengah berbahagia. Kedua orang tua Clara telah meninggal, sedangkan kedua orang tua Eren sama sekali tak merestui hubungan mereka. Mereka enggan untuk datang. Resepsi akan diselenggarakan dengan adat barat mengingat mereka berdua tidak memiliki pihak orang yang lebih pengalaman tentang masalah tersebut. Namun, tetap saja mereka mematuhi peraturan untuk tidak bertemu hingga mereka resmi bersama
"Clar, lu terlihat sangat cantik. Padahal perutnya udah mulai buncit tuh" Ucap seorang penata rias Clara yang tak lain adalah temannya sendiri.
"Tch, iyalah. Kalau gue ga cantik, mana mungkin gue menang dari si wanita jal*ng itu" Balas Clara sombong tak sadar diri.
"Eh, lu ga takut kena karma? Ngeri lho"
"Ngapain takut? Bukannya dia yang ngerebut Eren duluan dari gue? Harusnya ya gue udah nikah sama Eren dari dulu. Tapi, karena dia, gue jadi harus tersiksa. Tch, menyebalkan"
Si penata rias hanya menggelengkan kepala saat mendengarkan jawaban dari Clara. Dia pun pamit pergi dari sana. Dia tak sanggup membayangkan betapa sakitnya mantan istri Eren.
................
Kaira masih saja terdiam memaku disana. Pandangannya tertahan di gambaran hamparan pantai di depan mata, menatapnya dengan tatapan kosong.
Seorang pria tampan melihatnya dari kejauhan seperti sedang menerka-nerka jika dia mengenal wanita yang bersandar di railing yang terpasang di restoran tersebut.
Ehh, apakah itu.. Kaira?~Batin pria itu
Pria itu memberanikan diri berjalan mendekatinya.
Tapi, gimana kalau salah?
Ahh sudahlah. Coba saja dulu. Kalau salah tinggal pergi,kan?
Pria itu memberanikan dirinya untuk mendekati Kaira. Awalnya, dia melihat-lihat dari samping.
Bener dia Kaira. Tapi, kenapa dia nangis ya?~Batin pria itu.
Pria tampan itu menepuk pundak Kaira pelan. Kaira terpelonjak kaget dibuatnya.
"Ahh" Teriak Kaira lirih. Suaranya bahkan nyaris tak terdengar.
Sebelum membalikkan badannya, dia menyeka air matanya, menghapus agar tidak dilihat orang lain
"Ya? Siapa ya?" Tanya Kaira linglung
"Kamu kaira kan?" Tanya pria itu balik.
Kaira hanya meresponnya dengan anggukan pelan. Kaira menatap lekat pria itu. Mencoba mengingat-ingat kembali siapakah dia, namun tetap saja dalam benaknya hanya ada kenangan-kenangan yang telah berlalu. Kenangannya bersama dengan Eren. Apakah itu adalah sebuah kesalahan saat dia datang ke bar itu?
"Maaf, saya tidak mengingat siapa kamu..." Ucap Kaira
"Astaga Kaira. Ini aku,Kai. Ida Bagus Made Mahendra. Gue Mahen, Ra." Ucap Mahen dengan nada sedikit meninggi kesal.
__ADS_1
"Ohh Mahen. Kamu kelihatan beda ya. Dulu, kamu tinggi besar, gendut. Sekarang , tch tch tch. Perfect" Puji Kaira.
"Iya dong. Kan aku selalu ngejim. Nih liat liat ototku. Atau mau lihat roti sobek?" Tanya Mahen menggoda
"Gak gak. Makasih." Tolak Kaira.
Kaira melupakan masalahnya untuk sesaat. Dia terhanyut dalam suasana, melupakan segalanya.
"Ehh Kai, kamu ngapain kesini? Duduk yuk duduk" Ucap Mahen
Kaira menurutinya. Dia duduk tepat didepan Mahendra.
"kamu belum jawab pertanyaan aku lho" Ucap Mahendra
"Untuk kerja. Apalagi? Lha kamu sendiri? Oh ya, mana istri kamu?" Tanya Kaira berbasa-basi
"Aku kan memang berasal dari sini." Jawab Mahen
"Dan Yap, aku masih belum beristri. Masih jomblo sampai sekarang" Imbuhnya.
"Jomblo? Yang benar saja. Kamu tampan, cool, tinggi, perfect lah pokoknya. Kenapa masih jomblo?" Tanya Kaira
"Ya gatau. Tahu sendiri kan aku dari keluarga kerajaan. Mana boleh nikah sembarangan." Balas Mahen
"Mungkin kalau sama kamu boleh kali ya apalagi kamu cantik, seksi dan wanita karir" Gumam Mahen lirih
"Apa?"
"Gak gak. Gapapa. Terus kamu sendiri gimana? Udah punya suami belum? Sudah lah pastinya. Orang kamu kan idola kampus. Cewek tercantik sekampus" Puji Mahendra melebih-lebihkan.
Suasana kembali hening untuk sesaat. Kaira memainkan jarinya dan tak tahu harus menjawab bagaimana. Jujur, dia bingung. Tak terasa air matanya menetes,namun Mahen masih tak dapat jelas melihatnya.
"Hey, kok diam? Kamu gapapa kan?" Tanya Mahen sambil melambaikan tangannya ke arah Kaira.
Kaira mendongakkan kepalanya sedikit, mempertemukan kedua bola matanya dengan kedua bola mata pria itu. Pria itu terkejut saat melihat Kaira lagi dan lagi mengeluarkan air matanya
"Kai, kok nangis? Kamu bener-bener gapapa kan? Apa ada kata-kata ku yang menyinggung?" Tanya Mahen panik
"enggak gak, Mahen. Kamu ga salah. Aku hanya teringat masa lalu. Aku..." Kaira menarik nafasnya dalam-dalam.
"Kalau kamu ga mau cerita juga gapapa. Jangan maksain"
"Aku baru saja cerai dari suamiku." Ucap Kaira membuat Mahen tersadar jika ucapannya membuat perasaan wanita itu bersedih.
"Maaf ya. Aku.. Aku gatau." Ucap Mahen merasa bersalah
"Gapapa kok. Aku juga belum pernah mempublikasi secara resmi di website sekolah atau website alumni tentang pernikahan ini." Balas Kaira
Percakapan mereka terus berlanjut hingga mereka tak sadar akan waktu.
.................
Ida Bagus Made Mahendra, seorang tuan muda keturunan bangsawan asal Bali. Pria tampan berusia sekitar 28 tahun kali ini(lebih tua satu tahun dari Kaira), merupakan seorang pria paling tampan dan populer di kampus mereka. Namum, hingga detik ini, wanita yang paling dia cintai adalah Kaira Luna. Sayangnya, Keluarganya memiliki peraturan untuk tidak menikahi wanita biasa. Ya, seperti semua kaum bangsawan dan kerajaan lainnya.
__ADS_1
.........
Tokoh pria tampan sudah muncul. Menurut kalian, apakah pria itu pantas untuk Kaira? Silahkan komen dibawah iniπππ